
Sebuah peluru panas melesat cepat, membuat semua orang di sana terpekik, seolah waktu lambat, Bella yang mendengar suara tembakan itu langsung kaget dan tak percaya, melihat Angga yang ada di depannya berlutut tegak.
Angga sudah pasrah, matanya bahkan hanya menatap Aksa, namun peluru itu bukan mengarah ke Angga, melainkan menembus dada Aksa, tembus hingga memecahkan kaca yang ada di belakang Aksa, Angga langsung bingung, dia segera melihat ke arah suara asal tembakan, melihat Jofan berdiri di belakang sana sambil memegang pistol.
Tubuh Aksa terhuyung karena timah panas yang menembus dada kirinya, Angga yang melihat Jofan hanya sejenak, dia langsung melihat ke arah Aksa yang terdorong ke belakang, Angga segera bangkit, Berlari sekuat tenaga untuk mengambil anaknya dari gendongan Aksa, sebelum tubuh Aksa jatuh terlempar dari lantai 4 ke dasar, Untungnya Angga cepat tanggap dan berhasil mengambil anaknya sebelum Aksa jatuh.
Namun, saat Angga mengambil Anaknya, Aksa yang masih punya kekuatan, malah menarik pakaian Angga, menyeret Angga ikut jatuh bersamanya.
Semua orang yang melihat itu berteriak, sedangkan Bella yang melihat tubuh Angga jatuh bersama anaknya sudah tak sanggup lagi, dia tidak bisa lagi apa-apa, dan jatuh pingsan.
Jofan dan para penjaga, juga keamanan di sana langsung melihat ke arah jatuhnya Aksa dan Angga, tapi yang mereka lihat hanya tubuh Aksa yang sudah tergeletak di lantai dasar. Mereka mencari tubuh Angga, menemukkan Angga sedang bertahan bergelantungan pagar pembatas di lantai 2 yang memang hanya sebatas pagar, bukan dinding kaca keseluruhan.
Jofan yang melihat itu segera berlari, mencoba secepat mungkin berlari ke arah sahabatnya, jangan sampai Angga kehabisan tenaga, dan dia melepaskan peganggnya itu, karena dia hanya bertumpu dengan satu tangan, tangannya yang lain mengendong anaknya.
Angga berusaha sekuat tenaga bertahan, walau pun tangannya terasa sangat nyeri dan pegal, apalagi pagar pembatas yang terbuat dari stainlis steel itu terasa mulai licin di tangannya, dia tidak boleh jatuh, dia harus bertahan sebentar lagi, dia tidak peduli dirinya jatuh atau tidak, yang penting anaknya selamat.
Tangan Angga mulai tak sanggup, apa lagi pagar itu benar-benar licin karena tanganya mulai berkeingat, dia terus berusaha mengenggam, namun malah tangannya tergelincir, lepas.
Jofan berlari dengan sekencang mungkin, sekuat tenaganya, kalau terjadi apa-apa dengan Angga dan anaknya, Jofan pasti akan menyesal seumur hidupnya, Jofan sudah melihat tubuh Angga, di segera menangkap tangan Angga yang sudah terlepas.
Angga yang awalnya merasa sudah pasrah dan putus asa, ketika melihat Jofan mengenggam tangannya, Angga langsung kaget dan seketika dia langsung sadar.
"Aku memegangmu,"kata Jofan.
Orang-orang yang melihat Angga dan Jofan segera membantu, mereka membantu menarik Angga dan juga langsung mengamankan anak Angga.
"Kau tidak apa-apa?" kata Jofan melihat ke arah Angga yang hampir saja bertemu dengan kematiannya.
Angga mengagguk, dia lalu melihat ke lantai dasar, melihat tubuh Aksa yang tergeletak, simbahan darah terlihat di sekitar kepalanya.
"Kau datang ke sini untuk ini?" kata Angga pada Jofan.
"Ya, awalnya aku ingin memberitahukanmu kalau Aksa kabur dari penjara karena dia bekerja sama dengan seseorang di sana, tapi melihat keadaan Bella, aku tidak bisa mengatakannya, dia akan cemas, dan aku takut akan menganggu persalinannya, maafkan aku," kata Jofan.
Angga melihat Jofan, dia hanya menepuk pundak Jofan.
"Terima kasih," kata Angga, Jofan hanya tersenyum sedikit.
"Anakmu akan dijaga 24 jam, aku sudah memerintahkan pengawal, lebih baik kau periksa keadaanmu,"kata Jofan.
"Aku tidak apa-apa, bagaimana keadaan Bella? "kata Angga yang sudah mulai berjalan, memijit tangannya yang terasa pegal dan sakit, mengikuti perawat yang membawa anaknya.
"Dia pingsan, mungkin sudah di tangani," kata Jofan lagi.
Angga hanya bisa diam, tidak menyangka kelahiran putrinya harus melalui hal seperti ini lagi, padahal dia pikir mereka akan hidup tenang seterusnya.
----***----
Bella baru sadar, kepalanya pusing, seluruh tubuhnya terasa sangat nyeri, tapi saat dia ingat kejadian terakhir yang dia lihat.
"Angga!" teriak Bella langsung teduduk, dia ingat Angga jatuh dari lantai 4 bersama anaknya.
"Srtt!"kata Angga yang ternyata ada di samping Bella, sedang mengendong putri kecil mereka, Bella kaget melihat Angga yang ada di sana. Apakah sekarang dia mimpi? Dia benar-benar ingat Angga jatuh dari lantai 4 itu, tapi kenapa dia dan anaknya ada di sini? apakah dia juga sudah mati? Mereka berkumpul bersama di alam lain, kalau begini? kenapa tidak dari dulu saja mereka mati bersama.
Bella menangis melihat wajah Angga, juga melihat anaknya yang ada di gendongan Angga.
"Jangan berisik, Suri baru saja tidur," kata Angga berbisik pada Angga, Angga menyerahkan anak mereka pada Bella dengan perlahan, Bella langsung mengambilnya, melihat wajah anaknya dengan seksama, benar-benar tidur dengan tentram. "Jangan menangis," kata Angga mengusap air mata yang mengalir deras di pipi Bella, dia masih terlihat cukup pucat. Bella hanya mengangguk, tidak ingin menangis, tapi rasa harunya tidak bisa berhenti.
"Apa kita sudah mati? " kata Bella pada Angga, Angga mengerutkan dahinya.
"Siapa yang mati, kita semua masih hidup, aku sudah berjanji saat Suri lahir, bagaimana pun akan melindunginya," kata Angga lagi dengan lembut menatap kedua mata indah Bella.
"Benarkah?"kata Bella masih saja tak bisa membendung air matanya.
Tak lama pintu kamar mereka terbuka, memunculkan sosok Jofan yang melihat ke arah keluarga bahagia ini, dia hanya tersenyum.
"Maaf aku menggangu kalian,"kata Jofan.
"Tidak apa-apa, Jofan Terima kasih," kata Bella langsung melihat Jofan.
"Haha, sebenarnya aku hampir membuat Angga tewas, maafkan aku," kata Jofan membungkukkan badannya meminta maaf.
"Tenang saja, kalau bukan karenamu, aku juga sudah mati di tangan Aksa," kata Angga berdiri, menyambut Jofan, Jofan hanya tertawa, dia langsung melihat anak Angga dan Bella.
"Wah, Selamat ya Bro, Selamat ya Bella, aku sampai lupa mengatakannya, Maafkan aku tidak membawa apa pun, dia laki-laki atau perempuan?" kata Jofan mendekati Suri.
"Perempuan," kata Bella menunjukkan Suri yang ada di gendongannya, tidur dengan sangat tenang dan cantik.
"Baiklah, aku akan membawa kado untuknya, siapa namanya?" kata Jofan lagi.
"Suri Oceana Xavier," kata Angga.
"Wah, apa artinya, nama seperti itu pasti ada artinya," kata Jofan lagi penasaran.
"Suri artinya putri, Oceana artinya lautan, Xavier nama keluarga," kata Bella menjelaskan.
"Oh, sesuai sekali dengan dia, tapi, bukannya nama keluargamu Huxley? "kata Jofan melirik ke arah Angga.
"Aku tidak ingin memakai nama itu, itu juga nama belakang Aksa," Kata Angga.
"Oh, iya, benar juga," kata Jofan.
Angga dan Bella tersenyum, Suri mengeliat sedikit mungkin terganggu dengan suara-suara mereka, Angga yang sigap langsung mengambil Suri dari Bella, dan segera mengendong dan menimang Suri dalam dekapannya.
"Haha, Angga, kau memang sudah cocok jadi ayah," kata Jofan lucu melihat tingkah Angga, Angga hanya tersenyum, Bella juga merasa juga begitu, Angga benar-benar ayah yang baik untuk anaknya.
"Berjanjilah menjaganya dengan baik, kau sudah setuju untuk membiarkan dia menikah denganku," canda Jofan.
"Dia hanya boleh menikah dengan pria yang di pilihnya nanti,"kata Angga serius menanggapi Jofan.
"Masih saja sekaku itu, aku becanda bro, tapi kalau dia mau denganku, aku juga tidak menolak," kata Jofan lagi.
"Aku yang menolak," kata Angga.
"Kau jahat sekali, baiklah, aku harus mengerus semuanya, akan ada kehebohan sebentar lagi karena kematian Aksa, aku harus mengatur semuanya lagi," kata Jofan pada Angga dan Bella, Bella yang mendengar itu langsung kaget.
"Aksa meninggal?" kata Bella.
"Ya, kalian bisa hidup tenang sekarang, dia sudah dipastikan tewas seketika setelah jatuh dari lantai 4 tadi, " kata Jofan menjelaskannya pada Bella.
"Begitu yah,"kata Bella seadannya, dia memang pantas mendapatkannya.
"Jadi, Aksa sudah tidak ada, apa kalian tetap akan tinggal di sini?" tanya Jofan melirik Angga dan Bella.
"Aku akan tinggal di mana keluargaku ada," kata Angga tegas, Bella hanya tersenyum.
"Baiklah, aku hargai keputusan kalian, kalau begitu aku pergi dulu ya," kata Jofan.
"Hati-hati, kirim salamku pada kak Daihan dan Nakesha ya," kata Bella.
"Ya, aku akan sampaikan," kata Jofan, dia segera bergegas keluar dari sana.
Bella melihat suaminya yang masih sibuk menimang Suri, kali ini hidup mereka kembali bermula, bermula menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia.