
Jika balas dendam bisa menyelesaikan masalah, maka untuk apa tercipta kata maaf dan penyesalan.
____________________________________________
Bella sedang duduk di ruangannya, karena dia di jadikan pengawas di yayasan milik Angga, ada beberapa hal yang harus di lakukannya.
Bella melihat jam yang ada di ruangannya yang tampak sangat rapi, tidak luas, namun cukup nyaman dengan konsep minimalis dengan dominasi warna putih. Detak jam benar-benar seperti terhenti, dia sudah cukup bosan ada di sana, dari tadi kerjanya hanya menandatangani banyak surat-surat.
"Judy, jam berapa aku bisa pulang dari sini?" kata Bella.
"Kita bisa pulang sekarang jika Anda ingin, sepertinya pekerajaan di sini juga sudah selesai." kata Judy.
"Wah benarkah? baik, aku ingin pulang sekarang. Ehm… apakah ada kabar dari Angga?" kata Bella yang dari tadi menunggu Angga memberi kabar untuknya, tapi nihil, Angga jika sudah bekerja memang lupa segalanya.
"Tidak ada Nona, Tuan Angga hari ini menurut Asisten Jang memang memiliki jadwal yang padat Nona." Kata Judy.
"Oh, baiklah, ehm… Judy sebelum kita pulang, boleh aku berkeliling sebentar, aku ingin melihat keadaan di sini." kata Bella.
"Tentu."
Bella tersenyum senang, menyambar handphone dan tasnya lalu dengan cepat keluar dari ruangan itu, Bella sedikit bingung dengan orang-orang yang bisa bekerja dan duduk lama di ruangan seperti itu, bahkan dia yang hanya bertahan di sana 3 jam saja sudah sangat tidak nyaman.
Bella berjalan dan turun ke ruangan-ruangan yang ada di sana, melihat keadaan yang ada di sana. Anak-anak di sana tersenyum ceria, ada yang sudah remaja, ada juga yang masih kecil, rata-rata anak-anak di sana adalah penyandang tuna rungu, tuna wicara, dan tunanetra, namun ada beberapa anak yang menyadang tuna daksa. Bella menatap mereka yang tampak begitu ceria, ada yang menari-nari, ada yang belajar bagaimana membaca huruf braille.
Bella terhenti mendengar suara merdu dengan alunan musik yang lembut, seorang guru sedang memainkan piano sedangkan seorang anak perempuan penyandang tunanetra ada di sampingnya, wajahnya tampak sangat imut, usianya mungkin sekitar 10 tahunan, suara anak itu begitu merdu, bahkan membuat Bella terpaku mendengarkannya. Anak dengan bakat yang luar biasa, pikirnya.
Bella yang tadinya hanya melihat dari luar, tanpa sadar masuk ke dalam ruangan itu, pengajar yang mengenali Bella hampir menghentikan permainan pianonya, namun Bella melarangnya, Bella terduduk di kursi yang ada di sana, menatap hingga tak berkedip pada anak itu, dia benar-benar menghayati lagu ‘Jealous - Labrinth’ yang di nyanyikannya, membuat siapapun yang mendengarnya langsung merinding.
"Cause I wished you the best of all this world could give… It’s hard to me to say… I’m jealous of the way you happy without me."
Sepenggal lirik lagunya yang begitu mengena bagi Bella. Entah mengapa perasaannya di penuhi kesedihan, mungkin pembawaan dari anak itu dan pengahayatannya yang luar biasa membuat Bella begitu tersentuh, lagi pula arti lagu itu, benar-benar sangat indah, mengundang rasa sendu bagi siapapun yang mendengarkanya apa lagi mengingat siapa yang sekarang sedang menyanyikannya. Sekarang Bella tahu kenapa Mika mau menjadi guru di sini, mereka adalah orang-orang spesial. Wanita itu pasti sangat sempurna, cantik, pintar, punya rasa empati yang kuat untuk semua, hidup yang sempurna, tapi kenapa? lagi-lagi kenapa? malaikat seindah itu harus mengakhiri hidupnya.
Setelah lantunan lagu itu selesai, Bella sedikit tersadar, dia langsung bertempuk tangan dengan semangat, sangat kagum dengan apa yang dia lihat dan di dengarnya. Hal itu membuat anak perempuan yang menyanyi itu tampak malu-malu. Bella mendekatinya.
"Kau sangat hebat, siapa namamu?" kata Bella lembut.
"Namaku Kyle, artinya anugrah dari Tuhan." Kata Kyle tersenyum sangat senang.
"Ya, kau memang anugrah dari Tuhan." Kata Bella tersenyum sangat manis, sayangnya anak itu tidak bisa melihatnya. Bella mengelus sedikit pipinya, Kyle kembali tersenyum.
"Kyle akan mengikuti lomba untuk penyanyi pemula, dia mendapatkan undangan khusus, padahal itu bukan lomba untuk penyandang disabilitas." Kata guru itu menjelaskan.
"Wah benarkah? kau hebat sekali." Kata Bella lagi dengan senyum cerianya.
"Terima kasih kakak." Kata Kyle.
"Baiklah, aku tidak akan menganggu lagi, silahkan kembali berlatih. " kata Bella pada guru itu , guru itu hanya mengangguk tersenyum dan kembali duduk.
Senyumannya tiba-tiba pupus ketika melihat sosok yang berjalan ke arahnya. Aksa dan Asisten berjalan mendekatinya, mengapa Aksa datang ke mari? Pikir Bella, Bella lalu melihat ke arah Judy, seolah mengerti tanpa perlu di ucapkan, Judy langsung melaporkan pada Angga.
Bella saat ini sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Aksa, namun dia sudah tertangkap basah di sana, ingin kabur akan menjadi hal yang aneh nantinya.
"Selamat pagi Nona Mika." kata Aksa tersenyum seperti biasanya.
"Selamat pagi, ada apa Anda datang ke mari?" kata Bella sedikit ketus. Aksa yang menangkap nada bicara Bella sedikit mengerutkan dahinya.
"Sepertinya Anda tak menyukai ke datanganku hari ini Nona Mika, aku hanya ingin tahu keadaanmu." Kata Aksa tampak sedikit peduli, dia menatap mata indah Bella.
"Pertama ini adalah tempat kerja saya, saya tidak suka diganggu saat saya harus bekerja, kedua, mengingat apa yang terjadi pada saya terakhir kali kita bertemu, saya rasa saya harus berhati-hati dengan Anda." kata Bella dengan sorot mata tajam menatap Aksa, Aksa hanya memperhatikannya, Bella segera berbalik ingin pergi menjauh, namun Aksa berhasil menangkap tangan Bella, membuat Bella terhenti seketika.
"Tuan Aksa jaga sikap Anda, saat ini Anda sedang di sekolah." Kata Bella dengan nada sedikit marah.
"Nona Mika saya hanya ingin berbicara dengan Anda." kata Angga mencoba meredam emosinya.
Bella menatap lurus ke arah Aksa, dia lalu terdiam sejenak.
"Baiklah, tapi saya tidak akan ikut Anda keluar, jika ingin berbicara, kita bicara di kantor saya saja." Kata Bella lagi.
"Baiklah kalau begitu." Kata Aksa menurut dengan permintaan Bella, dia melepaskan tangan Bella, Bella segera berjalan menuju kantornya.
Bella duduk di salah satu sofa yang ada di kantornya, Angga juga duduk di sana, Judy dengan setia berdiri di belakang Bella, sedangkan Asisten Aksa berada di luar.
"Ada apa Tuan Aksa?" kata Bella dengan nadanya yang dingin.
"Saya hanya ingin tahu bagaimana kabar Anda, Anda begitu karena saya, maka dari itu saya ingin tahu bagaimana kabar Anda." kata Aksa lagi.
"Seperti yang Anda lihat, saya sehat sekarang." Kata Bella seadanya saja.
"Baguslah begitu. saya juga ingin memberitahukan Anda bahwa Anda tak perlu takut lagi, Sania sudah diadili."
"Benarkah? kabar yang menyenangkan. Apa hukuman yang akan dia dapatkan?"
"Dia akan mendapatkan hukuman mati." Kata Aksa begitu tenang mengabarkannya.
Bella yang awalnya ingin mengambil minumannya yang ada di meja tiba-tiba terhenti mendengar hukuman untuk Sania, sebenarnya dia tidak terkejut, dia sudah tahu dia akan mendapatkan hukuman itu, tapi entah kenapa mendengar itu dia bukannya senang, tapi ada perasaan tak enak yang muncul, tiba-tiba saja dia merasa ada yang salah.
Bella dulu berpikir dengan membalaskan dendamnya, dia akan merasakan puas, dia pikir dengan membuat Sania merasakan apa yang dia rasakan dulu, hatinya akan tenang. Tapi mendengar hukuman itu untuk Sania, kenapa dia malah gusar? Dia sudah membuat seseorang kehilangan nyawanya, dia akan menjadi pembunuh. Jadi apa bedanya dia dengan Aksa?.
"Ada apa?" kata Aksa yang melihat Bella terpatung. Bella langsung sadar, dia lalu segera kembali duduk, batal mengambil minumannya.
"Apa itu tidak terlalu keterlaluan? Dia hanya memberiku racun, dan aku tidak sampai kenapa-kenapa? kenapa dia harus di hukum mati?" kata Bella sedikit kesusahan, ada rasa sesak di tenggorokannya.