
Angga berusaha untuk tetap tenang dengan para penjaga mengerumuninya, dia berjalan dengan gayanya yang biasa, walau pun sebenarnya hatinya cukup gentar di antara hidup dan mati begini.
Tentara yang menjaganya tiba-tiba merapat, mungkin mendapatkan instruksi, dan benar saja, seperkian detik, sebuah peluru bersarang di salah satu tentara, menembus langsung dan merobek arteri di lehernya, darah segar menyembur bagaikan keran, peluru tajam itu juga menyerempet lengan atas Angga, membuatnya terhuyung, untungnya dia segera dipegangi oleh tentara yang menjaganya, tubuh tentara yang menjadi tameng Angga jatuh, matanya menatap Angga, napasnya tersengal, darahnya mengalir deras, dia segera menujuk mobil, semua orang segera tersadar dari momen itu, semuanya segera kembali ke posisi mereka yang semula.
"Tembakan dari Gedung 3, lantai 8, cepat bergerak, dan panggilkan ambulans, utamakan keselamatan warga sipil! "kata Ketua itu segera, dia tampak cemas, apa lagi seorang bawahannya mengatakan satu anak buahnya tewas. Pengamanan ini tidak main-main.
"Tuan, Anda harus masuk kembali ke mobil, Anda belum aman,"kata Tentara yang lain yang melihat Angga terluka di bagian lengan atasnya, dia meringis kesakitan, dengan tertunduk, dia berlalri sebisa mungkin ke arah mobilnya, untungya peluru itu hanya menyerempetnya, jadi lukanya tetap lebih baik dari pada peluru tajam itu menembus dadanya dan merobek paru-parunya, bisa-bisa dia tercekik oleh darahnya sendiri, dan keadaan itu bisa berakibat fatal, sebagian tentara membawa dan mengamankan Angga yang di suruh merunduk terus menerus, sedangkan yang lain mengurusi tentara yang langsung tewas di tempat itu.
"Sial," kata penembak jitu itu, dia segera berdiri. “ Kami gagal, Angga hanya mengelami luka biasa. "
"Pergi dari sana, jangan sampai tertangkap, "kata Asisten Wan langsung.
Penembak jitu B langsung segera melarikan diri dari tempat persembunyiannya, dia turun dari sana, namun dia berhasil disergap sebelum keluar dari gedung itu.
Asisten Wan langsung melihat ke arah Aksa yang sedang ada di ruang tengahnya, menatap ke arah jendela yang sering sekali di tatapnya jika memikirkan sesuatu.
"Pangeran, operasi kita gagal lagi, "kata Asisten Wan menunduk melaporkan keadaannya.
"Bagaimana bisa gagal lagi? " kata Aksa terlihat santai, tidak ada rasa kecewa atau pun emosi di matanya, suaranya begitu tenang, membuat Asisten Wan merasa sedikit tidak nyaman, dia tahu bagaimana sifat Aksa, jika dia begini, biasanya selalu ada hal yang lebih mengerikan yang akan terjadi. Asisten Wan diam, dia hanya menunduk.
"Aku rasa di antara kita ada mata-mata Pangeran,"kata Asisten Wan tetap menunduk.
"Ya, aku merasa juga begitu, untungnya aku selalu mengerti bagaimana menangani mata-mata seperti dirimu,"kata Aksa mengacungkan pistol, belum sempat Asisten Wan menaikkan kepalanya, peluru panas sudah bersarang di dadanya, 3 kali tembakan terdengar mengelegar, memekikan telinga, tubuh Asisten Wan segera rubuh, sebelum dia memejamkan mata, Asisten Wan menatap Aksa dengan sangat tajam, seolah dia ingin juga menyeret Aksa dalam neraka.
"Bersihkan tubuhnya, " kata Aksa yang memandang jijik pada Asisten Wan, 2 penjaga di sana segera menyeret tubuh Asisten Wan, meninggalkan jejak darah di lantai marmernya.
"Kalian cari wanita itu pelayan itu, aku ingin dia ada di sini sekarang! "kata Aksa pada penjaga yang lain.
"Baik Pangeran! "kata mereka, seolah pemandangan yang baru itu sudah terlalu biasa mereka lihat, hingga mereka sama sekali tidak terkejut melihatnya.
Handphone Aksa berdering, dia lalu segera mengangkatnya, mendengar suara dari pangilan itu, dia langsung tersenyum, senyumnya sangat manis hingga membuat bulu kuduk siapa pun yang melihat itu akan segera berdiri. Tak lama dia segera menutup handphonenya.
"Permainan baru saja di mulai sayang ... "kata Aksa memegang jendelanya sambil tersenyum lebar.
---***---
"Yang Mulia Raja, Rencana Tuan Aksa gagal, 2 penembak jitu dan 1 orang suruhan mereka sudah tertangkap,"kata Asisten Raja Leonal melapor padanya.
Raja Leonal menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya mengepul di dekat wajahnya, lalu dia menekan rokok itu dalam asbak kristal dengan sangat keras, matanya yang tajam itu menatap ke arah Asistennya.
"Sudah ku duga, aku juga yang harus membereskan semua kelakukannya, lakukan rencananya, jangan biarkan Angga lolos, aku tak mau lagi bermain lembut dengannya, untuk wanitanya, bawa dia ke mari, " kata Raja Leonal dengan suaranya yang berat, pembawaannya terlihat tenang, namun itu pula yang menakutkan darinya.
"Baik, Yang Mulia," kata Asisten, sambil memberikan salam, Asisten itu segera berjalan keluar, mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang.
---***---
Angga segera dibawa masuk ke dalam mobil, supir dengan cepat langsung membawa mobil itu pergi dari sana, Angga memegangi lengan atasnya yang terkoyak, terlihat tulang putih yang mencuat di sana, dia meringis kesakitan, Asisten Jang langsung mengambil perban di kotak P3K yang segaja di siapkan di sana untuk keadaan darurat, Asisten Jang menekan luka itu agar darahnya yang mengucur tidak lagi keluar, dia juga menyerahkan obat penahan sakit untuk Angga, Angga buru-buru memakannya, keringat dingin mengucur deras dari wajah dan dahinya, terlihat sangat kesakitan.
"Argggg … "kata Angga berteriak, karena nyeri yang sangat di tangan kanannya ketika Asisten Jang menekan lukanya.
"Kau tidak apa-apa? " kata Jofan dari alat telekomunikasi, suaranya cemas.
"Tidak, aku rasa ini ada yang aneh, ini terlalu mudah, "kata Angga yang merasa ada yang tidak sesuai, walau pun memang tadi keadaanya sangat berbahaya, namun dia sempat melihat kamera wartawan, bagaimana mereka dengan cepat bisa tahu apa yang akan terjadi di sana?, dan perasaannya tidak enak, Aksa tidak mungkin melakukan hal seceroboh ini.
"Apa maksudmu? "kata Jofan kembali tegang.
" Asisten Jang, hubungi Judy, "kata Angga sambil terus menahan sakit yang amat sangat di lengannya.
Asisten Jang mengangguk, dengan jari yang bergetar dan bersimbah darah dia segera menghubungi Judy, namun nomor handphonenya tidak bisa di hubungi.
"Tidak ada jawaban Tuan,"kata Asisten Jang menatap Angga.
Angga terdiam, diantara ringis ke sakitan, wajahnya langsung berubah ketakutan, dia lalu mengambil handphonenya, menelepon kepala penjaga di rumahnya. Asisten Jang mengambil alih untuk memegang handphone Angga, men-loudspeaker-kannya tepat di depan Angga.
"Selamat malam Tuan,"kata Penjaga di rumahnya itu mengangkat telepon dari Angga.
"Di mana Nyonya dan Judy? " kata Angga dengan penuh emosi, sesekali meringis kesakitan.
"Mereka di jemput oleh 3 tentara, mereka menunjukkan lencana Tuan Jofan, mereka bilang ini protokol," kata Penjaga itu segera, Angga kaget, dia belum mati, tidak mungkin Jofan melakukan protokol itu, protokol yang mana?.
"Protokol?, Jofan?!" kata Angga beralih ke alat telekomunikasinya.
"Aku tidak memerintahkan protokol apapun! " kata Jofan lagi kaget mendengarkan percakapan Angga, dari tadi dia sibuk mengurusi urusan Angga, mana mungkin sempat mengurus protokol lain.
"Sial! Temukan Bella, aku rasa di antara kita pasti juga ada mata-mata kalau tidak dia tidak akan mungkin tahu lencanamu, "kata Angga geram.
"Tuan! Merunduk!" teriak Supir itu.
Angga tak sempat melakukan apa pun, dia hanya melihat lampu yang sangat silau mengarah ke arahnya, Dan tiba-tiba sebuah mobil menghantam sisi mobil Angga saat mereka melewati perempatan, menghantam sangat keras dari arah Asisten Jang duduk, membuat mobil mereka terseret bebarapa meter dari sana.
Suara seretan dan hantaman besi dengan aspal itu terdengar menakutkan, mobil mereka bagaikan mobil mainan yang terguling dan berputar beberapa kali sebelum semuanya tiba-tiba hening.
Jofan bisa mendegar semuanya dari sana, dia terdiam, matanya membesar, tercengang mendengar suara dari alat telekomunikasinya, dia bahkan terpaku saja, hanya mendengarnya saja dia sudah sangat ketakutan, kengerian terpancar jelas di wajahnya, jantungnya berdetak begitu keras.
"Angga, Angga, kau mendengarku? "kata Jofan panik ketika dia sudah sadar apa yang harus dilakukanya, " Angga!! " Teriak Jofan keras, membuat ruang kontrol itu menjadi hening. " Cari di mana lokasinya sekarang! Aku mau kalian lakukan semuanya secepatnya!" kata Jofan dengan wajah cemas dan takutnya, tidak menyangka mereka terjebak seperti ini.