
"Baik Tuan," jawab Judy.
Bella mendekati Angga yang sekarang jadi sangat cemas dan kesal, tapi walaupun kesal dia tidak bisa marah pada Bella.
"Percayalah, aku tidak akan tergoda dengan kak Daihan." kata Bella kembali mendekati Angga.
"Aku percaya padamu, tapi tak percaya dengan Daihan," kata Angga.
"Dia sahabatmu,"
"Kita pulang saja, besok aku akan mengantarmu kembali ke sini."
"Bukannya kita sudah berdikusi tentang ini?"
"Kalau gitu, biarkan aku batalkan pertemuan ini."
"Sudah, lagi pula hanya malam ini kan? besok kau bisa langsung datang ke sini lagi," kata Bella, kenapa sekarang Angga jadi begitu sulit di yakinkan, padahal dulu, dia pergi begitu saja walaupun tak ada pekerjaan.
Angga hanya menatap Bella. lalu dia berjalan ke arah Bella, menatapnya dalam-dalam, tak lama dia lalu memeluk Bella dengan erat. Bella sedikit kaget, namun segera membalas pelukan Angga.
"Baiklah," kata Angga akhirnya pasrah.
Bella tersenyum tipis, dia tahu bagaimana perasaan Angga yang sebenarnya, pasti dia tidak rela sama sekali.
"Bersiaplah," kata Bella melepaskan pelukan dari Angga.
"Baiklah, nanti aku akan menyuruh seseorang untuk membawakan barang-barangmu, jangan pergi dari sini jika tidak perlu,"
"Iya tenang lah, aku akan menghubungi terus menerus." kata Bella yang merasa sikap Angga makin tak masuk akal.
Angga menunggu Daihan di dekat Halipad hotel itu, Bella juga sudah ada di sana, wajah Angga masih tak enak di lihat, walaupun dia bilang 'Baiklah' tapi hatinya benar-benar tidak rela. Dia tidak punya pilihan lain, kalau dia membiarkan Bella sendiri, Aksa akan dengan mudah mendapatkan Bella, dan satu-satunya yang akan menjaga Bella sama seperti dia menjaga Bella hanya Daihan.
Tak lama helikopter datang, wajah Angga makin tegang. Saat Daihan turun, Angga langsung mendekatinya, Bella memutuskan untuk tidak menyambut Daihan, karna kalau dia melakukannya, bisa-bisa Angga akan membatalkan semuanya.
Daihan turun dari heli itu, matanya langsung menatap jauh pada Bella yang berdiri dengan Anggun. Angga yang mendatanginya tak membuat perhatian Daihan teralihkan.
"Jaga dia," kata Angga tanpa basa basi.
"Baik lah," kata Daihan sedikit tersenyum hangat, Daihan segera melangkah menuju ke arah Bella. namun baru satu langkah dia melewati Angga, Angga langsung mengatakan sesuatu yang membuat Daihan berhenti.
"Aku sudah tidur dengannya, kami sudah sering melakukannya," kata Angga jelas dan tegas.
Daihan terdiam, senyumnya sedikit memudar, namun karna memang wajahnya selalu ramah, wajah tetap saja tampak tersenyum. Bella melihat mereka sedang berbicara, sedikit penasaran, tapi dia tidak punya minat untuk ke sana.
"Kami akan punya anak, " kata Angga lagi membalikkan badannya menatap Daihan.
Daihan terdiam, benar-benar tak bisa mengatakan apapun, senyumnya hilang tak berbekas, padahal dia sangat senang bisa bertemu dengan Bella, tapi ... ternyata dia langsung di sambut dengan sakit hati.
"Kami akan menikah secepatnya, maka aku mau kau menjaganya, jangan sampai dia kenapa-kenapa selama aku pergi, tapi ingat, dia ibu dari anakku yang sekarang di kandungnya," kata Angga tampak begitu serius, dagunya sedikit di naikkannya.
Daihan mengertakkan giginya, tak tahu harus marah atau bagaimana? tapi mendengar itu semua, rasanya benar-benar sakit, Daihan menatap Bella dari jauh, tampak begitu kecewa dan nanar, Bella yang menangkap itu, hanya mengerutkan dahi, apa yang sudah di katakan Angga.
Angga lalu kembali ke arah Bella, Bella yang melihat Daihan terpaku tak bisa bergerak jadi bingung.
"Kenapa dengan kak Daihan?" kata Bella bertanya pada Angga yany sudah ada di depannya.
"Tidak apa-apa, hanya memberitahu agar tak menganggumu, aku pergi dulu ya. kabarkan semua padaku, " kata Angga mencium dahi Bella. Membuat Bella terpana, sepertinya Angga tak pernah melakukan hal ini.
"Jangan lupa makan ya," kata Angga tersenyum manis dan mengelus perut Bella. Bella heran, kenapa dengan Angga? tadi dia begitu tegang, sekarang dia malah begitu sumringah, dan untuk apa mengelus perutnya kalau hanya ingin mengingatkan dia makan, pikir Bella bingung.
"Baiklah, hati-hati ya." kata Bella lagi, mencoba tidak bertanya pada Angga, takut dia akan berubah pikiran lagi.
"Ya," kata Angga berbalik lalu berjalan menuju ke helikopter itu, Daihan yang masih menatap mereka dari jauh, akhirnya sadar, dia lalu berjalan menuju ke arah Bella, berpapasan dengan Angga, Angga melirik Daihan yang kesusahan untuk tersenyum, dan Angga merasa puas sekarang.
"Kak, terima kasih sudah datang," kata Bella menyambut Daihan.
Daihan menatap Bella, lalu tersenyum sedikit, menatap Bella dengan dalam-dalam, tak ada harapan lagi kah dia dengan Bella?, pikir Daihan, Karna tak mungkin dia merebutkan calon istri dan calon ibu dari sahabatnya sendiri, entah kenapa Daihan merasa Dejavu atas keadaan ini.
"Apa kabarmu?" Kata Daihan.
"Baik kak," kata Bella.
Heli itu kemudian pergi dari sana, Bella menatap heli itu hingga hilang dari pandangannya.
"Ayo masuk, di sini panas, tidak baik untuk keadaanmu," kata Daihan peduli, tak bisa tak peduli, apa lagi orang yang di cintainya ini sedang mengandung.
"Baiklah," kata Bella
Bella berjalan, Daihan yang berjalan di sampingnya dari tadi hanya menatap wajah cantik Bella, di dahinya masih ada plaster karna luka kemarin. Baru kemarin dia di tolak, sekarang dia tahu kenapa wanita ini menolaknya, bayangan Bella dan Angga bersama benar-benar menyesakkan.
"Tuan Daihan, ini adalah kamar Anda, tepat berhadapan dengan kamar Tuan dan Nona," kata Judy memberi tahu.
"Baiklah," Kata Daihan ingin masuk ke dalam ruangannya.
"Kak ... " kata Bella lagi.
"Ya?"
"Sudah makan? ayo makan dulu di kamar kami, pasti tak enak jika makan sendirian," kata Bella ramah
"Baiklah, "kata Daihan tersenyum mendapatkan tawaran itu, walaupun sekarang hatinya sakit, mendapatkan kesempatan bisa dekat dengan Bella rasanya juga sudah cukup.
Setelah makan Daihan dan Bella duduk canggung di ruang makan. Bella mengigit bibirnya, dia bingung harus mengatakan apa, Daihan pun hanya diam saja, mungkin dia masih sakit hati karna kata-kata Bella kemarin, pikir Bella.
"Ada apa sampai Angga rela menyuruhku menjagamu di sini? apakah ada hal yang penting?" tanya Daihan memecahkan ke cangungan.
"Iya, aku sudah menemukan ibuku," kata Bella menatap lurus ke mata Daihan, Daihan menekukkan sedikit dahinya.
"Benarkah? ada di mana beliau," kata Daihan
Bella mengigit sedikit bibirnya, dia ragu menceritakan keadaan ibunya.
"Tak apa jika tidak ingin mengatakannya padaku," kata Daihan tersenyum manis.
"Oh, bukan begitu kak, kondisi ibuku tak baik, dia memiliki kelainan mental, dia juga tak mengenaliku, dan lagi, kami menemukan Mika di sini," kata Bella mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan keadaan rumit itu pada Daihan.
"Apa? Mika?" Kata Daihan tampak tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Ya, dia muncul dan tiba-tiba saja dia mengaku namanya Nakesha, padahal itu nama asliku, dia juga mengatakan Ibu ku adalah Ibunya, dan melarang aku mendekati Ibuku, bisa kakak bayangkan bagaimana perasaanku sekarang kan? aku sangat sedih," kata Bella yang ternyata hanya bisa bicara tentang perasaannya hanya pada Daihan.
Daihan yang mendengar itu hanya menatap tak percaya, wajahnya terlihat sangat syok, tak bisa di tutup-tutupinya.
"Itu tak mungkin Mika, karena ... " kata Daihan ragu-ragu.
Bella mendengar itu langsung merasa ada sesuatu yang di tutup-tutupi oleh Daihan.
"Kak, ada apa lagi?" kata Bella, menatap Daihan dengan sangat penasaran