Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
86



Biarkan saja karma berjalan...


Aku sudah ikhlas menerimanya...


Tentang semua kesalahan..


Tentang semua dosa...


____________________________________________


Bella bangun pukul 9 secara alami, dia membuka matanya perlahan, melihat ke sekelilingnya, bola matanya yang biru itu seolah bersinar, sedangkan yang satunya tampak meredup, dia lalu berusaha untuk duduk, membiarkan nyawanya sedikit demi sedikit berkumpul di raganya, lalu dia turun dari ranjangnya. Kepalanya terasa berat, bukan hanya kepalanya, badannya juga rasanya sangat berat. Mungkin karena tidur terlalu pagi kemarin, efeknya jadi begini.


Bella langsung mengarah ke kamar mandinya, mandi sebentar, setelah selesai dia membuka pintunya. Dia berjalan ke ruang tengah, sepi, tidak ada siapa-siapa.


"Selamat pagi Nona." kata Judy menyapa.


"Selamat pagi Judy."


"Tuan Angga sudah pergi ke kantor seperti biasanya Nona, apakah Anda ingin sarapan sekarang?"


"Ya."


Bella lalu berjalan ke arah ruang makan, setelah sampai di sana dia segera makan, perutnya terasa tidak enak, mungkin karena tadi malam sudah kosong, diisi makanan malah menjadi lebih tidak enak, apa lagi dia makan sendiri.


Bella sebenarnya benci suasana seperti ini, suasana sepi dan sendiri seperti ini mengingatkannya akan kehidupan yang di habiskannya di kastil, menghabiskan begitu banyak waktu yang akhirnya tidak menghasilkan apapun.


Setelah selesai makan, dia kembali duduk di ruang tengah, kali ini duduk di kursi kecil di pinggir jendela kaca yang menapakkan hijaunya tanaman, Bella melihat sebuah daun yang putus dari tangkainya, terbawa air yang mengalir dari sela-sela tembok yang tinggi itu, dia pasrah mengikuti kemana air itu membawanya, hingga jatuh tertampung di bawah, bukannya daun itu diam, arus air yang lebih kuat menyapunya menjauh dari sana.  Kenapa sekarang Bella merasa seperti itu, dirinya bagaikan daun yang putus dari tangkainya itu, pasrah terombang ambing arus yang membawanya.


"Nona Bella sedang apa?" suara Daihan mengema di ruangan itu, membuat tatapan kosong Bella teralihkan.


"Kakak? " kata Bella lemah, senyumnya juga hanya sedikit tersungging.


Daihan yang melihat itu mengerutkan dahi, dia kenal Bella adalah orang yang ceria, saat melihat wajahnya hanya sedikit terhiasi senyumannya yang indah, dia jadi merasa ada yang tidak beres.


Daihan mendekati Bella, duduk di salah satu kursi yang juga mengarah ke jendela itu, Daihan memperhatikan jendela itu dari atas hingga ke bawah, sebelum pandangannya jatuh pada Bella yang kembali menatap lurus.


"Ada apa?"  kata Daihan begitu lembut, senyuman hangatnya muncul kembali, Bella yang melihat itu tampak hanya tersenyum kecil, lalu kembali membuang padangannya jauh ke daun-daun hijau di sana.


"Kakak benar, membalas dendam itu tidak membuat hati tenang. Yang ada sekarang aku merasa sangat cemas." Kata Bella tanpa memalingkan wajahnya sama sekali, menatap kosong.


"Memangnya apa yang sudah kau lakukan?"


"Aku akan menyebabkan kematian Sania."


Daihan diam sejenak sambil memandang wajah cantik Bella yang hanya bisa dilihat setengahnya, lengkukan wajahnya sungguh sempurna, namun bukan itu yang mengalihkan Daihan, raut wajahnya yang sedih itu yang mengusiknya.


"Terkadang memang kita harus diberikan pelajaran dulu, baru tahu bagaimana seharusnya menjalani kehidupan, jika memang dia harus di hukum seperti itu, itu bukan salahmu, itu adalah ganjaran perbuatannya dulu." Kata Daihan pelan dan lembut, membuat siapapun yang mendengar nada bicaranya akan nyaman.


Bella menatap Daihan sejenak, melihat Daihan hanya tersenyum sedikit.


"Dia membunuhku, dia di hukum mati, aku yang menyebabkan dia di hukum mati, jadi apa ganjaranku nanti?" kata Bella tersenyum prihatin, prihatin akan dirinya sendiri.


Daihan terdiam, dia tidak ingin mengatakan apapun, dia tidak ingin apapun terjadi pada Bella, gadis ini sudah cukup menderita bukan?.


"Aku hanya tinggal menunggu ganjaranku datang, hidup dengan mengingat itu sangat menyakitkan." Kata Bella lagi.


"Tidak, kau sudah menyesal, aku rasa tidak akan ada ganjaran bagi yang sudah menyadarinya."


"Haha, aku rasa bukan begitu cara kerjanya kan kak?" kata Bella menertawakan dirinya sendiri.


Daihan kembali terdiam, tawa Bella walaupun terlihat lepas, namun nadanya tersembuyi luka yang dalam.


"Aku akan ada di sisimu, jika memang ada ganjarannya, kita lalui bersama." Kata Daihan dengan sorot mata yang begitu tulus.


Bella lalu melihat ke arah Daihan, kata-kata itu cukup terdengar gombal, tapi entah kenapa mendengar itu Bella malah merasa sedikit tenang, sebenarnya ini yang dia ingin dengar keluar dari bibir Angga, namun Angga bukan orang yang pintar mengutarakan keperduliannya, dia tipe orang yang hanya menunjukkan, tidak berbicara.


Hal itu sebenarnya bagus, namun kadang-kadang wanita juga butuh kata-kata yang bisa membuat mereka tenang, walaupun banyak kata-kata itu hanya sebatas kata-kata.


"Terima kasih kakak." Kata Bella mulai menunjukkan senyuman manisnya.


"Ayo, aku ingin membawamu ke suatu tempat." Kata Daihan berdiri, dia menjulurkan tangannya dengan senyumannya yang mengembang.


"Kenapa? takut Angga akan marah?" kata Daihan.


"Ehm…" kata Bella tak menjawab jelas.


"Judy, katakan pada Angga, aku mengajak Nona Bella untuk pergi memenangkan diri. " kata Daihan pada Judy.


"Ehm, tidak perlu Judy, aku akan pergi." Kata Bella


Dia lalu tersenyum sedikit,  mengenggam tangan Daihan lalu Daihan langsung membawa Bella keluar, mereka segera pergi meninggalkan rumah itu, Judy juga ikut bersama mereka.


Daihan membawa mereka cukup jauh, hingga melewati batas kota dan berjalan ke pesisir laut, Daihan menepikan mobilnya, di sana tidak ada apa-apa, bahkan gedung pun tidak ada, hanya ada jalan raya di sebelah kanan yang langsung berbatasan dengan laut, sedangkan di sebelah kirinya terlihat tanah tinggi seperti perbukitan. Bella mengerutkan dahinya.


"Sudah sampai?" tanya Bella.


"Ya. ayo turun." Kata Daihan yang sudah membuka seatbeltnya, Bella yang masih bingung hanya menurut, saat Bella turun Daihan sudah menunggunya.


Daihan kembali memberikan tangannya, Bella hanya mengikutinya, Daihan membawa Bella sedikit menaiki bukit, menaiki tangga-tangga kecil yang sedikit sudah berlumut.


Setelah cukup jauh, mereka sampai di sebuah taman bermain kecil yang sederhana, mainannya pun tak banyak, hanya beberapa ayunan, jungkat-jungkit, bar besi, dan permainan yang dapat berputar dan hanya ada mereka saja di sana. Tempatnya tampak teduh dengan banyak pohon-pohon rindang yang menaungi. Semilir angin khas tepian laut menerpa wajah Bella, membawa wangi asin laut.


"Kemari, aku akan mendorongmu,"kata Daihan menyuruh Bella untuk duduk di salah satu ayunan.


Bella menurut, dia duduk di ayunan itu, terakhir kali dia main ayunan, mungkin saat usianya masih 10 tahun. Dia ingat, di belakang kastil dulu ada ayunan yang sudah tua, digunakan untuk para Putri Alexandrite kecil bermain-main. Bella juga merasakannya, sebelum pohon itu tumbang dan dia tidak bisa lagi main di sana.


Bella baru tahu karena mereka ada di atas bukit, pemandangan dari tempat itu terlihat indah saat duduk di ayunan itu, warna air laut yang tampak biru dengan pantulan matahari tampak berkilauan karena gelombang-gelombang air laut yang tertiup angin. Sangat indah dan memenangkan.


"Indah bukan? "kata Daihan sedikit berbisik pada Bella.


"Ya." kata Bella masih kagum dengan deretan-deretan keindahan yang di suguhkan dari sana.


"Aku akan mendorongmu sekarang. " kata Daihan. Daihan mulai mendorong Bella perlahan-lahan, tidak terlalu kuat, hanya membuat Bella nyaman sambil melihat pemandangannya.


"Dari mana kakak tahu tempat seperti ini?"


"Ini tempat bermain aku dan Mika sejak kecil, jika dia sedih aku akan membawanya ke sini, sekarang kau sedih, aku membawamu ke sini."


"Benarkah? jadi Angga tahu tempat ini juga?" kata Bella melirik ke belakang, melihat Daihan yang dengan sabar mendorongnya.


"Tidak, ini tempat rahasia kami berdua, sekarang rahasia kita."


"Begitu yah… " kata Bella kembali melihat ke arah pemandangan di depannya.


"Ya, aku akan mendorong lebih keras ya. pegangan yang erat." Kata Daihan kali ini mendorong lebih keras, membuat Bella terdorong lebih kencang.


Bella yang diperlakukan seperti itu sedikit berteriak, rasanya ada rasa geli di perutnya, karena semakin lama dia, semakin jauh terdorong, Bella menutup matanya.


"Jangan menutup mata, nikmati saja.“ teriak Daihan


"Enggak mau, aku takut. Nanti jatuh " kata Bella juga berteriak-teriak.


"Tidak akan, pegangan yang erat, aku di sini, kalau jatuh, aku akan mengankapmu." teriak Daihan lagi sembil tertawa lucu dengan tingkah laku Bella yang berteriak ketakutan.


Bella yang mendengar itu tak percaya, ya kalau dia jatuh, mana mungkin Daihan sempat menangkapnya, logika Bella.


"Bukalah matamu, pemandangannya akan sangat indah." teriak Daihan lagi.


Bella tak menjawab, tapi dia berusaha untuk mempercayai Daihan. Dia membuka matanya perlahan-lahan sambil mengetatkan pegangannya. Bella ternyata sudah di ayun sangat tinggi, dia berayun dengan cepat, saat dia berayun ke depan, rasanya jantungnya juga ikut terayun, membuat dia harus menahan napas, tapi entah kenapa hal ini malah membuatnya senang, jantungnya berdegub kencang, mungkin karena adrenalinenya cukup terpacu dengan ini semua.


"Bagaimana?" teriak Daihan lagi.


"Menyenangkan." Kata Bella lagi.


"Jika sudah pusing, katakan padaku."


"Haha, sudah cukup kak. Aku takut mual."


"Baiklah." Kata Daihan berhenti mendorong Bella.


Bella menikmati sisa-sisa ayunan  yang semakin lama semakin memelan, sampai akhirnya berhenti dengan sempurna, dia tersenyum ceria.