
Malam menyingsing, meninggalkan suasana temaram nan indah di sana, semua orang berkumpul di pantai di depan rumah Angga dan Bella, Suri tampak bermain dengan Archie, terlihat Archie sangat senang memiliki teman lain selain William.
"Kak, bagaimana kau bisa pindah ke mari? " kata Nakesha yang sesekali mengawasi William yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di pasir, mungkin merasa tak nyaman, dia berulang kali ingin agar kakinya di bersihkan oleh ibunya.
"Ehm, aku suka suasana di sini, tenang dan nyaman, setiap hari melihat pemandangan matahari tebenam, suara ombak yang menentramkan, suara sunyi, kau pasti tahu, bukannya dulu kau tinggal di pantai?" kata Bella pada Nakesha.
"Ya, terkadang aku merindukan suasana seperti ini." kata Nakesha lagi.
"Bagaimana kabar ibu? Maaf aku meninggalkannya lagi padamu," kata Bella lembut pada Nakesha.
"Ibu, baik, namun keadaannya tetap tidak mengalami kemajuan, tapi secara keseluruhan dia sangat baik, kakak, tidak rindu ingin pulang ke kota? " kata Nakesha menatap Bella dalam.
Bella menarik napas panjang, pandangannya jatuh pada suaminya yang sedang berkumpul dengan Daihan dan Jofan, tentu terlihat sangat menikmati obrolan mereka, dan yang paling bersemangat tentu Jofan. Bella lalu melihat Suri yang perlahan-lahan mendekati Jofan, seperti sudah terbiasa dengan candaan Jofan yang membuat Suri tertawa.
"Akan aku bicarakan dengan Angga nanti," kata Bella menatap wajah manis Nakesha.
"Bibi!" kata William yang mengacungkan tangannya ke arah Bella, seolah ingin Bella mengedongnya.
"Mau di gendong oleh Bibi?" kata Bella senang, William mengangguk lucu. Bella tentu senang, dia segera menggendong William.
"Haha, kakak, sepertinya kau boleh menambah momongan, Suri sudah cukup besar untuk punya Adik," kata Nakesha menggoda Bella.
"Haha, masalahnya Angga trauma melihat aku melahirkan, sekarang dia tidak mengizinkan aku hamil lagi," kata Bella.
"Benarkah? apa kak Angga tidak ingin punya anak laki-laki? "
"Laki-laki dan perempuan sama saja, itu yang dikatakannya," kata Bella sambil mencium pipi gendut William.
"Kalian membicarakan ku?" kata Angga tiba-tiba muncul di dekat Bella, Daihan juga mendekati istrinya, merangkul pundak Nakesha agar masuk dalam pelukannya.
"Lihatlah, bukankah William lucu?" kata Bella semacam memberikan kode untuk Angga.
"Ya," kata Angga seadanya, tidak terlalu menanggapi istrinya.
"Ayo, buat satu lagi," kata Bella menggoda Angga.
"Suri masih kecil," kata Angga mencari alasan.
"Ah, bilang saja kau tidak ingin ada saingan, ingin menjadi yang paling tampan di rumah,"kata Bella menyindir Angga, mendengar sindiran Bella, Daihan dan Nakesha tertawa.
"Kau masih mencari dan menunggu Iva?" kata Ratu Ayana tiba-tiba bertanya pada Jofan.
"Ehm, maaf, kenapa Ratu?" kata Jofan kaget, namun dia bisa mendengarkan semuanya.
"Aku rasa kau sebenarnya mendengar apa yang aku katakan Jofan," kata Ratu Ayana melirik ke arah Jofan, Jofan sebentar terdiam, lalu dia tersenyum dan meminum birnya.
"Setelah tahu anakku meninggal, aku sangat sedih, tapi sekarang aku sangat bahagia karena setelah anakku meninggal, aku malah memiliki 3 anak yang bisa menjagaku, cucu-cucu ku juga sangat cantik dan tampan, mereka sudah bisa bahagia, tinggal hanya dirimu yang masih terjebak di masa lalu," kata Ratu Ayana, berhenti sebentar untuk melirik Jofan yang ternyata juga melihat dirinya, " Apa yang kau pikirkan? semua wanita akan mau denganmu, seorang Presiden tanpa cinta, terdengar menyedihkan."
"Masalahnya ada padaku Ratu, Semua wanita mau denganku karena kedudukan ku, jika aku bukan siapa-siapa, mereka tidak akan mau padaku, karena itu aku tidak tertarik dengan hubungan seperti itu," kata Jofan.
"Ya, dan kau tergila - gila dengan wanita yang malah pergi karena tahu kedudukanmu? Pikirkanlah Jofan, setiap detik, umurmu bertambah, jika kau tetap terjebak dengan hal itu, kau akan menyesal hidup sendiri nantinya," kata Ratu Ayana melirik Jofan lagi. Perkataan Ratu Ayana cukup menusuk jantungnya, hampir 7 tahun dia sudah mencari Sania, mencoba menemukan wanita itu, bahkan cukup mengetahui bagaimana keadaannya saja itu sudah cukup bagi Jofan, namun dia tidak pernah bisa menemukannya, bahkan Jofan rasa, Sania sudah tidak ada lagi di dunia, tapi hatinya tetap saja tak bisa lepas dari wanita itu, inikah karmanya?.
"Aku akan memikirkannya lagi," kata Jofan tersenyum pada Ratu Ayana, dia memberikan salam sebelum dia pergi bergabung dengan sahabatnya. Ratu Ayana hanya tersenyum melihat kepergian Jofan.
----***---
"Apa itu?" kata Suri dengan suaranya yang lucu pada Archie yang berdiri di depannya. Menunjuk kalung dengan mainan berbentuk simbol ‘Hakuna matata’.
"Ini, ini kalung milik ibuku," kata Archie menjelaskan dengan gaya khas anak-anaknya.
"Bentuknya aneh," kata Suri lagi memegang liontin itu dengan jari-jemarinya yang lentik dan mungil, tak lama melepaskannya, Archie hanya melihat apa yang di lakukan oleh Suri.
"Papa bilang ini artinya ‘Tak perlu ada yang di khawatirkan untuk setiap hari-hari ku’, Ini kalung kesukaan Ibuku, dia sudah meninggal," kata Archie lagi memegang kalung itu sambil melihatnya.
"Bukannya ibumu ada di sana?" kata Suri dengan celotehannya, merasa selalu ingin tahu.
"Ibu kandung ku sudah meninggal, ayah ku juga," kata Archie tampak dewasa dari pada umurnya, matanya yang indah tampak sendu.
"Oh," kata Suri singkat.
"Maukah kau jadi adikku? Aku punya adik laki-laki, kau bisa jadi adik perempuanku, aku akan menjagamu selamanya," kata Archie menatap Suri yang wajahnya tampak begitu cantik di bawah sinaran lampu-lampu yang ada di sana.
Suri mendengar itu tersenyum lebar, menunjukkan lesung pipinya yang seketika membuat wajahnya yang cantik berubah sangat manis, dengan sangat bersemangat dia mengangguk, tentu dia ingin memiliki seorang Kakak, apalagi seorang Kakak yang sebaik Archie, Archie tersenyum melihat jawaban yang di berikan oleh Suri, dia lalu mengelus kepala Suri dengan begitu lembut.
"Suri, Archie, ayo masuk, sudah malam, anginnya terlalu kencang," kata Bella mendekati Archie dan Suri, Archie dan Suri langsung melihat ke arah Bella, Suri yang sedang senang, langsung memegang tangan Archie dan segera menariknya, tentu hal itu membuat Archie kaget, namun dia hanya mengikuti Suri yang menggenggam tangannya dengan sangat erat, Suri tak bisa lepas tersenyum karena mendapatkan Kakak malam ini. mereka berjalan menuju Bella yang menyambut keduanya dengan hangat.