
Mendengarkan godaan Angga, Bella langsung salah tingkah, wajahnya langsung bertambah merah.
"Tidak, bukan itu maksudku, hanya memberitahukan saja, bukan ingin melakukannya di sini," kata Bella langsung duduk di samping Angga.
"Jadi kau tidak mau melakukannya dengan ku?" kata Angga yang sebenarnya memang sengaja mengoda Bella.
"Ha? bukan? bukan begitu, aku ... " kata Bella bingung menjelaskannya pada Angga.
Angga segera mencium bibir Bella, membiarkan Bella agar diam. Setelah itu Angga melepaskan bibirnya.
"Tenang saja, aku hanya mengodamu, aku tidak akan memaksamu melakukan hal itu, apalagi melakukannya di sini," kata Angga lembut
"Ehm, iya," kata Bella salah tingkah
"Ingin bulan madu ke mana?" kata Angga.
"Entahlah, belum terpikirkan olehku, sekarang hanya ingin keluar dari sini," kata Bella bersandar pada Angga.
"Ya, setelah itu baru kita akan pergi, aku janji kita akan selalu bersama-sama," kata Angga mengelus kepala istrinya.
"Angga, kau masih ingin berurusan dengan Aksa? bagaimana kalau kita pergi saja dari sini, dia tidak akan bisa mengganggu kita lagi, jika kita pindah dari sini," kata Bella yang tak tahu apalagi yang direncanakan Aksa dan yang bisa dilakukannya, karena menurutnya kejadian hari ini saja sudah cukup parah.
Angga melihat Bella yang di matanya menampakkan ketakutan, dia tak menjawab, hanya mengelus kembali kepala Bella, ntah...apa dia bisa hidup tenang dengan hanya melepaskan Aksa, terlalu banyak hal yang membuatnya dendam dengan kerajaan dan dia belum bisa berkompromi dengannya.
Bella yang tak mendapat jawaban, hanya bisa menunduk, dia tahu, Angga masih tak bisa melepaskan dendamnya.
Jam berlalu, hujan semakin deras, kilat dan guntur saling bersautan, udara di sana lembab dan dingin, angin berhembus serasa memenuhi semua ruangan gua yang gelap dan sesekali remang oleh cahaya kilat, Angga dan Bella sudah kembali tertidur, Jas Angga di kenakan oleh Bella, Bella pun tidur di dalam pelukan Angga.
Namun udara di sana semakin malam semakin dingin, menusuk kulit hingga tembus ke tulang, membuat Angga gemetaran karena memang tubuhnya yang di gunakan untuk melindungi Bella, Bella merasakan tubuh Angga yang gemetar, dia langsung terbangun.
Bella menatap Angga yang masih tertidur, matanya tertutup rapat, namun tubuhnya gemetar hebat, karena di sana gelap, Bella tidak bisa melihat wajah Angga dengan jelas.
"Angga?" kata Bella mencoba membangunkan Angga, mengoyangkan bahunya, namun Angga masih gemetar.
"Angga, Angga?" kata Bella lagi sedikit mulai panik, Angga masih belum memberikan respon.
Bella bingung dia membuka jas Angga, dia memberikan Angga Jasnya kembali dan memeluk Angga, namun Angga tetap saja masih merasa kedinginan.
Bella ingat, dia pernah membaca untuk menghangatkan tubuh salah satunya adalah membagi suhu tubuh, Bella lalu membuka kemeja Angga dan Bella juga langsung membuka gaun bagian atasnya, dan tanpa menunggu lama, dia langsung memeluk Angga, Bella sedikit merinding saat tubuhnya menyentuh kulit Angga yang dingin, baru kali ini tubuh Bella bersentuhan langsung dengan kulit seorang pria, membuat dirinya merasa tersengat listrik di sekujur tubuhnya, tapi dia langsung mengabaikannya, sekarang lebih fokus untuk membuat Angga hangat, Bella pun menutup tubuh mereka dengan jas Angga.
Bella terus mencoba menghangatkan Angga, hingga akhirnya Angga bisa sedikit tenang, membuat Bella bisa sedikit bisa bernapas lega dan tak lama kembali tertidur.
Angga membuka matanya yang silau karena terkana cahaya matahari, dia langsung melihat Bella yang tertidur di atas tubuh Angga, dia tidak ingat Bella tidur di atasnya, dia hanya ingat Bella ada di sampingnya.
Angga hanya bisa berbaring, tidak ingin membangunkan Bella yang masih tampak nyaman tidur di atas Angga. Memperhatikan wajah malaikat istrinya yang tertutup banyak bercak-bercak kotor, Angga hanya tersenyum, dia akan biasa menatap wanita ini seumur hidupnya. Tak lama, Bella pun terbangun.
"Selamat pagi," kata Angga yang melihat Bella yang matanya tampak kesilauan, lalu Bella menatap Angga, sedikit kaget dan langsung menarik dirinya, untungnya tubuhnya tertutup Jas Angga, Angga yang baru menyadari mereka sama-sama bertelanjang dada juga agak kaget melihatnya.
Angga yang pagi-pagi disuguhkan pemandangan indah, hanya bisa terdiam, di matanya tersirat nafsu, mungkin jika tak ingat sekarang mereka ada di gua beralaskan tanah, dia sudah menerkam isrinya ini, tapi dia cukup punya akal sehat, tak mungkin membuat kenangan Bella tentang pertama kalinya memalukan itu di sana.
Angga menarik napas panjang berusah tenang, 27 tahun dia bisa menahannya, hanya tinggal sebentar lagi tidak mungkin dia tidak bisa menahannya.
"Iya, terima kasih, sudah pagi, kita harus cepat, mudah-mudahan Jofan sudah menemukan posisi kita," kata Angga berdiri, mencoba mengalihkan pandangannya pada pemandangan indah yang seharusnya sudah sah jadi haknya.
"Iya," kata Bella berdiri, membalikkan tubuhnya, melepaskan jas Angga dan mencoba memakai gaunnya lagi, membuat Angga kembali gagal fokus melihat punggung putih dan mulus dari Bella, Angga mendekati Bella yang mulai mengancingkan gaunnya, Angga lalu membantu Bella mengancingkannya, setelah itu Bella menatap Angga yang memandang Bella penuh dengan nafsu, bahkan napasnya memburu.
"Kita harus pergi?" kata Bella.
"Ya, kita pergi, " kata Angga berusaha untuk kembali menggapai akal sehatnya.
"Ya, baiklah, " kata Bella.
Angga kembali memimpin jalan, keluar dari gua itu, udaranya masih lembab dan dingin, bau dedaunan pagi menyerebak di sana, suara-suara hening hutan terdengar, tanahnya becek berlumpur.
"Hati-hati, sangat licin," kata Angga yang terus memegang tangan Bella, menuntun Bella hati-hati.
"Ya," kata Bella memperhatikan jalan, kakinya bahkan terbenam dengan lumpur.
Mereka terus berjalan, hingga sampai di bibir sungai yang tak terlalu besar, namun airnya cukup jernih.
"Kita istirahat sebentar," kata Angga kembali memperhatikan sekitar.
"Ya, air ini bisa diminum tidak ya? aku haus," kata Bella. Angga melihat air sungai yang mengalir, tidak tahu bisa atau tidak.
"Entahlah, lebih baik jangan, jika hanya ingin mencuci muka, cucilah."
"Baik," kata Bella lalu berjalan ke tepian sungai, memasukkan tangannya ke dalam air yang jernih itu, rasanya segar saat dia meraup air itu dan membersihkan wajahnya, juga membersihkan tangan dan kakinya.
Angga mengukuti Bella, dia membersihkan sedikit wajahnya yang sudah terasa lengket, saat itu pula sayup-sayup terdengar suara teriakan.
"Tuan Xavier!"
Bella dan Angga langsung awas, mendengar nama tengahnya, Angga tahu pasti mereka orang-orang Jofan, karna dia jarang sekali menggunakan nama tengahnya, hanya orang terdekatnya yang tahu nama tengahnya. Bella menatap Angga.
"Ayo, aku yakin itu orang Jofan," kata Angga mencoba mendengarkan ke mana dia harus melangkah.
Setelah mendengarkannya lagi mereka segera berjalan ke arah suara itu, Angga menarik Bella dengan cepat namun tetap hati-hati, mencoba menemukan asal suara itu, hanya itu harapan mereka agar bisa keluar dari sini.
Setelah berputar dan terus mencoba mendengarkan, akhirnya Angga melihat seseorang.
"Hei! Kami di sini," kata Angga.
Orang itu langsung mendatangi mereka dengan cepat. Angga menatapnya ragu-ragu, baru dia sadar, bisa saja orang ini bukan orang-orangnya Jofan. Dia mengarahkan Bella ke belakangnya, Bella yang tadinya sudah senang, mendadak langsung bingung dan takut. Pria itu mendekati mereka dengan cepat.