Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
76



Aku menikmati wangi hujan yang menumbuk tanah, berdebu dan sedikit menyesakkan, anehnya itu pula yang ku rindukan, dan hal itu sama seperti yang ku rasa sekarang, tentangmu yang sekarang memenuhi pikiran.


____________________________________________


Bella yang mendengar itu langsung bingung lagi, apa sih maksud dari Angga ini, bikin orang penasaran dan bingung saja, pikirnya.


Angga membuka pintu, dokter yang ada di depannya langsung gugup, karena dia kaget yang membukakan pintu untuknya adalah Angga. Angga segera minggir, menandakan dia mempersilahkan dokter itu untuk masuk.


Bella bergegas untuk kembali ke ranjangnya, tidak tidur, hanya duduk di samping ranjangnya.


"Apakah dia sudah boleh pulang?" kata Angga dengan suaranya yang berat dan sedikit serak karena dia baru bangun tidur.


"Melihat keadaan Anda dari tadi pagi hingga siang ini, semuanya baik dan stabil, saya rasa Anda sudah boleh pulang." kata dokter itu dengan perlahan.


"Baiklah, kami akan pulang sekarang." Kata Angga lagi.


"Ya, saya akan menyuruh suster untuk mencabut infus Anda." Kata dokter itu lagi.


"Terima kasih dokter." Kata Bella tersenyum manis, membuat dokter itu juga membalas senyuman Bella.


"Sama-sama Nona." Kata dokter itu kembali.


Angga yang melihat interaksi keduanya hanya memandang mereka, ketika Bella tersenyum pada dokter itu, tatapan Angga menajam, saat dokter itu juga membalasnya, dia lalu menatap dokter itu, dokter yang mendapatkan tatapan tajam Angga langsung gugup dan sesegera mungkin keluar dari sana. Bella yang melihat itu hanya mengerutkan dahinya lagi.


"Kenapa wajahnya ketat seperti itu?" kata Bella saat Angga menatapnya tajam.


"Jangan terlalu suka tersenyum pada orang-orang." kata Angga lagi, dia kesal, kenapa juga Bella senyum-senyum dengan dokter itu, apa karena dokter itu masih muda? Pikirnya. Hal kecil seperti ini saja dia bisa cemburu.


"Kau aneh." Kata Bella tersenyum tak percaya.


Angga diam saja dan duduk di salah satu sofa yang ada di sana, tak lama dua orang perawat datang bersama dokter yang tadi.


Karena tadi dilarang oleh Angga untuk tersenyum, Bella malah makin tersenyum manis pada dokter itu, membuat Angga sampai kesal melihatnya, wanita ini segaja menguji kesabarannya sepertinya, Angga menatap dokter yang tak berani membalas senyuman Bella lagi dan untungnya Angga ingat dokter ini yang menangani Bella, kalau saja dia bukan dokter yang menangani Bella, dia pasti sudah marah-marah sekarang pada dokter itu.


Bella sengaja melakukannya, soalnya dari tadi Angga sudah membuat dia merasa bodoh karena tak mengerti apa maksudnya, melihat reaksi Angga yang kesal hingga berdiri di samping dokter yang tampak gugup itu, Bella tertawa kecil.


Suster melepaskan infus Bella dengan hati-hati, tapi mungkin karena gugup, saat mencabut alat infus itu, darah Bella keluar lumayan banyak, membuatnya Bella menyeringai sedikit ngeri.


Angga yang melihat itu langsung kaget.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa tidak bisa lebih hati-hati lagi?" kata Angga sedikit marah karena melihat keadaan Bella.


"Hei, sudah lah, aku tidak apa-apa, tidak sakit sama sekali." Kata Bella tersenyum menenangkan Angga. Suster di sana secepat bisa melakukan tugasnya, setelah mereka selesai mereka buru-buru pergi dengan menunduk. Setelah pintu tertutup, Angga lalu melihat Bella yang melihat plaster yang ada di tangannya.


"Mencoba menjadi pembaca pikiran orang ya?" kata Angga tersenyum sedikit sinis.


"Pokoknya jangan pecat mereka." Kata Bella dengan wajah serius.


"Baiklah, aku sudah lapar, kita pergi sekarang."


"Ya, tapi aku ingin ganti baju boleh, masa aku pakai baju tidur seperti ini?" kata Bella berdiri melihat dirinya yang tampak kucel, dia gadis yang suka terlihat cantik, suka kerapian makanya melihat dirinya sendiri sekarang dia merasa sangat tidak percaya diri.


"Tidak apa-apa, mau pakai baju tidur pun kau tetap cantik."


"Wah, kau belajar mengoda dari mana?" kata Bella mengejek, kan biasanya Angga orang yang kaku. Angga melirik Bella sedikit.


"Memangnya aku terlihat seperti orang yang suka mengoda?" kata Angga lalu dia pergi keluar dari ruangan itu, membuat Bella terpaku, artinya dia serius?, Aduh…jantung Bella kembali berdetak keras, Angga ini memang gampang sekali membuat jantung Bella tidak tenang, kalau begini Bella pasti tak tahan.


Angga membawa Bella ke salah satu tempat makan yang sangat ramai pengunjungnya, bahkan banyak orang yang mengantri panjang untuk bisa masuk ke sana, mungkin ada sekitar 20-30 orang yang mengantri di luar tempat makan itu, Bella mengamatinya dari mobil mereka sebelum mobil itu berhenti di depan restoran. Gaya restoran itu juga keren, dengan warna hitam dan kaca yang hitam, menampilakan kesan elegan tapi sederhana dari restoran itu.


"Aku tidak ingin keluar." Kata Bella pada Angga yang sudah bersiap ingin keluar karena pintunya sudah di bukakan oleh Asisten Jang.


"Kenapa?" kata Angga terhenti sejenak.


"Ehm, lihatlah semua orang itu, mereka ramai sekali, dan aku cuma pakai baju tidur, ya tidak mungkin aku keluar." Kata Bella lagi.


Angga menatap Bella sedikit, lalu menghembuskan napas berat, dia keluar dari mobilnya. Bella yang melihat Angga keluar langsung menunjukkan wajah leganya, untung saja Angga tidak memaksanya keluar, di luar begitu ramai orang, dan mereka memakai baju yang tampak formal semua, apa kata orang jika Bella keluar hanya dengan piyama tidurnya?.


Pintu mobil di samping Bella terbuka, membuat dia kaget, Angga sendiri yang membukanya. Angga tanpa berkata apa-apa dengan wajahnya yang datar, langsung membungkuk, ingin menyelipkan tangannya di bawah lutut Bella.


"Apa yang kau lakukan?" kata Bella kaget, bergeser sedikit agar Angga tak jadi meletakkan tangannya.


"Kau tak ingin keluar, biar aku yang mengendongmu ke dalam." kata Angga begitu serius, seolah tidak bisa di bantah, Bella merasa tak punya pilihan, dari pada dia di gendong ke dalam oleh Angga, lebih baik dia jalan sendiri.


"Baik, baik, aku akan keluar." Kata Bella kesal sekali, bibirnya saja sampai maju.


Angga tak menjawab, wajahnya dingin, mungkin karena lapar dia jadi begitu, lagi pula kenapa sih sifatnya pemaksa sekali?, pikir Bella melihat Angga yang tampak dingin itu. Bella benar-benar tak berkutik di depan Angga.


Bella lalu keluar, dia menapakkan kakinya yang hanya mengunakan sendal rumah sakit, keluar dengan baju piyamanya, dan rambut yang di ikat cepol ke atas. Tanpa bedak, tanpa lipstick sedikitpun, Angga sudah berjalan duluan ciri khasnya. Bella berjalan di belakangnya, lalu di belakang Bella ada Asisten Jang.


Angga berhenti sebentar, melihat pemilik restoran, seorang cheft terkenal yang masakannya tidak lagi diragukan lagi keluar menyambut mereka. Orang-orang yang sedang menunggu itu langsung terkaget-kaget, menerka-nerka kira-kira siapa yang datang?.


" Tuan Angga, senang sekali Anda datang. Saya tidak menyangka Anda benar-benar menerima undangan untuk makan di restoran saya." Kata koki yang bertubuh sedikit tambun itu sangat sumringah, Angga hanya mengangkat sedikit ujung bibirnya, mereka lalu bersalaman