
"Tapi kau bilang......"
Ucapan Nana terpotong saat Ryhan langsung ******* bibir nya. Dengan nafsu yang sudah di ubun ubun dia tidak melepaskan istri nya malam ini. Dia membawa naik istri nya dan membawa nya ke ranjang kamar vila mereka dan akhirnya mereka melakukan malam pertama mereka di vila tersebut.
Keesokan pagi nya jam 03:00
Nana terbangun dari tidur nya, Mata yang terbuka pelan. "Aku lapar" ucap Nana dengan memegang perut nya yang berbunyi akibat kelaparan. Nana menatap ke atas dan terlihat suami nya tengah memeluk nya tanpa mengenakan baju.
"A..."
"Shit aku lupa, Tadi malam dia meminta hak nya" ucap Nana dengan memukul pelan dahi nya akibat lupa akan apa yang terjadi tadi malam. Nana memindahkan tangan Ryhan dari pinggang nya dan berusaha bangkit.
"Ah" Nana merengek kesakitan di pangkal paha nya dan tubuh nya kembali terhempas di ranjang hingga itu menganggu Ryhan yang sedang tertidur.
"Ada apa Del?" tanya Ryhan yang berusaha membuka pelan mata nya. Saat mata terbuka sempurna nampak wajah istri nya yang kesakitan.
"Kau kenapa?" tanya Ryhan dengan suara serak dan mata yang masih sangat mengantuk.
"A-aku lapar tapi tidak kuat untuk mencari makan" jawab Nana dengan jujur dan wajah polos nya.
"Kenapa? Apa kau kelelahan karna ku tadi? Atau...."
"Jangan bertanya aneh aneh, Hanya sedikit nyeri di angkal pahaku" potong Nana dengan wajah kesal nya saat melihat Ryhan menatap ke bawah.
"Itu karna ku? Benar benar sakit?" tanya Ryhan dengan memasang wajah bersalah menatap istri nya.
"Sudah tau masih saja bertanya, Aku kelaparan kau tidak memberiku makan dari kita berada di sini" ketus Nana akan suami nya yang malah banyak bertanya. Bukan nya bergerak dan beranjak mencari makanan untuk istri nya Ryhan malah tersenyum menatap wanita nya.
"Kenapa kau malah tersenyum?" ketus Nana dengan membuang wajah suami nya agar tidak menatap nya. Ryhan masih tersenyum dan kembali menatap istri nya.
"Shit percuma saja aku minta tolong kepada mu" ketus Nana dan menarik selimut hendak berlalu tapi dengan segera Ryhan menarik kembali tubuh wanita nya dan kembali berbaring di samping nya.
"Nanti saja sarapan, Kau...."
"Kau mau membunuhku? Sudah menyiksaku tadi malam dan pagi ini kau tidak memberikan ku sarapan?" ketus Nana dengan wajah kesal nya dan berusaha mengangkat tangan Ryhan supaya menjauh dari nya.
"Ryhan" rengek Nana yang berharap Ryhan melepaskan nya.
Ryhan belum menjawab nya dan mencium dari wanita nya. "Baiklah kau tunggu disini aku akan mengambilkan makanan sebentar" jawab Ryhan dan mengenakan celana nya.
"Aku mau ikut" balas Nana.
"Kau masih kelelahan jadi kau tunggu di sana biarkan aku yang mengurus mu" jawab Ryhan.
"Baiklah dengan senang hati" jawab Nana dan menyenderkan tubuh nya. Ryhan tidak menjawab nya dan berjalan ke arah pintu dan mengambil makanan yang ada di atas meja di dekat pintu. Nana menarik baju handuk nya yang ada di gantungan samping ranjang dan langsung mengenakan nya dengan cepat agar suami nya tidak melihat nya lagi.
Ryhan berjalan kembali ke ranjang dengan membawa banyak makanan dan mendudukkan tubuh nya di hadapan istri nya. "Ini semua makanan untuk mu" ucap Ryhan dengan tersenyum lebar menatap istri nya.
"Kau?" tanya Nana.
"Bersama" jawab Ryhan dan mulai melahap salah satu makanan di dalam piring. Nana tidak menjawab nya dan ikut melahap makanan bersama suami nya.
"Tadi malam yang cukup panjang ya, Menghabiskan waktu benar benar berdua, Kau sekarang sudah menjadi milikku seutuh nya" ucap Ryhan.
Uhukk
Nana terbatuk membuat Ryhan langsung mengambil minum. "Hati hati Del" ucap Ryhan dengan membantu istri nya untuk minum.
"Kenapa menjadi memalukan? Bukankah itu adalah momen bersejarah bagi seluruh suami istri? Mereka melakukan malam pertama mereka dan merasakan bagaimana nikmarnya hal tersebut, Mungkin jika aku tau akan seperti ini rasa nya sudah dari dulu aku lakukan" jelas Ryhan membuat Nana bertambah malu dan menundukkan kepala nya.
"Bodoh" ketus Nana dan kembali melahap makanan nya.
"Hal seperti ini bukankah harus di biasakan agar kita tidak canggung terhadap satu sama lain? Kita masih harus menjalankan hidup yang panjang apa lagi nanti bersama anak anak kita, Jadi ini bukan bodoh" jawab Ryhan. Nana tidak menjawab nya dan membenarkan ucapan suami nya tanpa mengeluarkan suara nya dan hanya diam saja mematung dengan mulut yang mengunyah.
"Lebih baik aku tidak membicarakan hal ini" guman Ryhan yang tau akan ketidak nyamanan istri nya membicarakan tentang gal tersebut.
"Teman teman mu jadi berlibur ke sini?" tanya Ryhan kepada istri nya membuat suasana yang hening sekejap kembali seperti biasa.
"Entahlah, Mereka tidak menghubungiku" jawab Nana.
"Baiklah, Makan hingga kenyang setelah itu akan mengajakmu kemana pun kau mau" balas Ryhan.
"Kau tidak memberi imbalan terhadap apa yang aku berikan tadi malam bukan?" tanya Nana yang takut Ryhan memperlakukan nya layaknya wanita malam.
"Untuk apa? Bukankah itu hakku? Untuk apa aku memberikan mu imbalan? Kau bukan wanita malam bagiku melainkan kau istriku" jawab Ryhan dengan tersenyum mengusap wajah istri nya.
"Syukurlah kau masih berpikir seperti itu" balas Nana dengan membalas senyuman suami nya.
"Rasanya aneh, Ryhan seperti bukan Ryhan yang dulu, Dia berubah menjadi lembut, Baik dan suka tersenyum sekarang" guman Nana saat menatap lekat wajah suami nya dengan sama sama tersenyum.
"Aku mencintai mu, Tidak akan aku biarkan siapapun merebutmu dari ku makanya aku harus melakukan hal lebih dengan memiliki anak darimu kau tidak bisa pergi dari ku" guman Ryhan dan mencium dahi wanita nya.
"Kau ini aku sedang makan" ketus Nana.
"Cepat selesaikan makan mu, Setelah itu mandi dan baru kita pergi" ucap Ryhan.
"Em" Nana menjawab dengan wajah datar dan dengan segera menghabiskan makanan nya.
Ryhan menunggu wanita nya menyelesaikan makan nya hanya memerlukan waktu dua menit untuk Nana menghabiskan seluruh makanan. "Sudah?" tanya Ryhan dengan mengusap bekas makan yang ada di sudut bibir istri nya.
"Em" jawab Nana dengan mulut penuh. Ryhan menyodorkan air dan Nana menerima nya dengan senang hati dan langsung meneguk habis minuman tersebut.
"Kau kuat berdiri?" tanya Ryhan yang sedang berdiri sambil menyingkirkan piring bekas makan dari ranjang.
"Entahlah" jawab Nana dan mencoba menurunkan kaki nya. Nyeri di pangkal paha nya masih sngat terasa dan di buka nya selimut dengan lebar hingga menampakkan kaki nya.
.
.
.
.
.
.
.
.