
Ryhan menatap tajam wanita nya dan nampak wanita nya menghentikan perdebatan kedua nya. "Sudahlah, Ayo ikut dengan ku" ajak Ryhan yang langsung berdiri dari duduk nya dan menarik tangan istri nya.
Nana mengangkat kepala nya menatap suami nya dengan tatapan bingung nya. "Mau kemana?" tanya Nana.
"Ikut saja, Ayo berdiri" jawab nya lagi. Nana mengikuti nya dan berdiri dari duduk nya. Ryhan membuka pintu kamar tersebut dan keluar bersama dengan istri nya dan tangan nya yang sama sekali tidak terlepas dari tangan istri nya.
"Ryhan mau kemana kita?" tanya Nana dengan langkah kaki yang normal sama seperti Ryhan. Ryhan memencet tombol buka lift dan memundurkan kembali tubuh nya.
"Jangan banyak bertanya, Ikuti saja aku" jawab Ryhan dengan tersenyum menatap istri nya dan kembali memasang wajah datar nya saat lift terbuka. Kedua nya masuk ke dalam lift dengan wajah Ryhan yang datar dan Nana yang bingung.
Tingg
Kedua nya keluar dari lift dan berhenti tepat di salah satu ruangan yang ada di sana. "Bawa dia" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan melepaskan tangan nya dari tangan istri nya.
"Hah? Kau mau menjualku?" tanya Nana dengan nada sedikit meninggi dengan wajah kesal nya. Ryhan membungkukkan sedikit tubuh nya dan tersenyum tulus menatap istri nya dan hanya boleh di lihat oleh istri nya.
"Kau istriku tidak mungkin aku menjualmu" ucap Ryhan dengan tersenyum lebar dan kembali berdiri tegak seperti semula dengan wajah yang masih datar.
"Cepat bawa dia" perintah Ryhan kembali dengan memasang wajah datar nya. Kedua pelayan perempuan mengangiyakan nya dan membawa Nana menjauh dari Ryhan tapi Nana tidak mau dan berusaha lepas tapi kedua pelayan tidak mau melepaskan nya.
"Ryhan apa yang ingin kau lakukan?" tanya Nana yang sangat takut jika Ryhan benar benar menjual nya. Ryhan yang baru saja hendak masuk ke dalam ruangan sebelah menghentikan langkah nya dan menatap kembali istri nya.
"Tidak ingin melakukan apa apa, Kau jangan hawatir ikuti saja apa yang mereka mau, Aku di ruangan ini" ucap Ryhan dan langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Mari nona" ajak pelayan.
"Ryhan, Hikssss" Nana menangis akibat ketakutan tapi pelayan malah menyeret nya masuk ke dalam ruangan itu.
"Hiksss, Kalian mau apa?" teriak Nana saat pintu telah tertutup.
"Nona jangan menangis, Kami hanya ingin merias nona" jawab salah satu pelayan wanita. Nana membuka mata nya dan menatap sekeliling yang di penuhi oleh make up dan gaun yang cantik.
"U-untuk apa aku di rias?" tanya Nana.
"Nona sekarang tidak usah takut, Nona duduk dan pejamkan mata nanti saat nona membuka mata semua selesai" ucap pelayan.
"Tidak akan" jawab Nana dengan wajah kesal nya.
"Ini nona pakailah" ucap pelayan lain dengan menyodorkan gaun berwarna merah kepada Nana.
"Apa ini?" tanya Nana dengan wajah bingung nya menatap gaun tersebut.
"Jika nona tidak ingin mengenakan nya biarkan kami yang mengenakan nya di tubuh nona" ucap salah satu pelayan lain saat Nana yang cukup banyak bertanya.
"Enak saja kau berbicara" ketus Nana dengan wajah kesal nya.
"Aku tidak suka gaun ini, Ini terlalu terbuka dan cerah untukku" jawab Nana yang cukup tidak menyukai warna merah.
Kedua pelayan menatap satu sama lain hingga salah satu nya menganggukkan kepala. "Baik nona sebentar" jawab pelayan dan berlalu mencari gaun untuk Nana.
"Susah sekali, Marah marah lagi" ucap Ryhan saat melihat cctv yang terhubung ke ruangan tersebut.
"Ini atau yang ini nona?" tanya pelayan dengan membawa baju abu abu yang cukup berkilau dan baju hitam polos.
"Nona memang pintar memilih mana yang mahal" ucap salah satu pelayan. Meskipun polos bahan dari baju itu sangatlah berkualitas.
"Tidak terlalu buruk" ucap Nana yang sudah menggunakan gaun yang menampakkan lekuk tubuh nya dan juga salah satu bahu dan dada nya.
Nana melangkahkan kaki nya keluar dari ruang ganti. "Wah cantik sekali" ucap pelayan yang berbisik.
"Menggunakan pakaian biasa saja cantik apa lagi mengenakan gaun" bisik salah satu nya pula.
"Sudah di bolehkan keluar?" tanya Nana.
"Eh nona, Anda belum mengenakan riasan sedikitpun" cegah pelayan.
Tiga puluh menit berlalu.
"Waktu habis menunggu nya berdandan saja, Biasa nya tidak pernah seperti ini" ucap Ryhan yang menunggu di depan ruangan yang di masuki istri nya tadi.
Ckleeek
Pintu terbuka dan keluarlah kedua pelayan yang merias istri nya. "Istriku di mana? Kenapa kalian yang keluar?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya.
"Sebegitu merindukan ku hingga mencariku?" tanya Nana yang berjalan keluar di antara kedua pelayan. Mata Ryhan beralih menatap suara dan terlihat istri nya yang sangat cantik sudah keluar. Rambut yang di kita bundar dengan kedua sudut yang di tinggalkan sedikit rambut menjuntai di kedua tempat hingga hal tersebut menampakkan dengan jelas leher putih istri nya.
Klek
"Ah" hampir saja terjatuh wanita itu akibat menggunakan hak terlalu tinggi dan untung saja Ryhan dengan sigap menangkap nya.
"Hati hati" ucap Ryhan.
"Ini terlalu tinggi" balas wanita itu dengan wajah kesal nya dan kembali berdiri seperti semula.
"Kami permisi tuan" ucap kedua pelayan yang menjadi nyamuk di antara kedua nya.
Ryhan meletakkan tangan nya di pinggang agar Nana menggandeng nya. "Ayo, Mau kemana kau mengajakku" ajak Nana yang melangkahkan kaki nya terlebih dahulu tanpa tau kode yang di berikan Ryhan dengan membuka bagian tangan nya.
"Kau ini tidak peka sekali Delina" ketus Ryhan dengan kesal nya hingga hal tersebut membuat Nana menghentikan langkah kaki nya dan membalikkan tubuh nya.
"Peka apa?" tanya Nana. Ryhan berjalan mendekat dengan menghentakkan kaki nya dan kembali memposisikan tangan nya seperti tadi.
"Hah?" Nana menatap tangan dan wajah suami nya secara bergantian dengan wajah bingung nya.
"Sini" Ryhan yang kesal menarik tangan istri nya dan meletakkan nya di tangan nya.
"Oh" Nana baru mengerti akan hal tersebut.
"Ah oh ah oh" ketus Ryhan dengan kesal nya dan melangkahkan kaki nya ke belakang bukan keluar.
"Kenapa kau malah marah?" ketus Nana pula.
"Diamlah sayang" balas Ryhan dengan wajah datar nya. Nana yang kesal tidak memperdulikan nya dan mengikuti suami nya saja.
Tempat yang indah di hiasi dengan lilin yang ada di setiap sudut jalan. Tempat yang terbuka tanpa atap dan tidak ada yang menghalangi mata kedua nya memandang keluar akibat kaca yang membatasi. "Wah" Nana nampak kagum dengan tempat tersebut.