
Hanah membuang nafas panjang mencoba menenangkan diri yang masih hendak berteriak saat ini. "Sayang, Kau kapan menikah dengan lelaki ini? Apa dia lelaki baik dan apa kalian menjalin hubungan dahulu hingga bisa menikah?" tanya Hanah dengan senyum yang mengembang dan nada bicara yang sangat lembut.
"Mama mereka menyembunyikan semua nya dari kita beberapa bulan sampai aku dan Yura sendiri yang mengetahui nya dengan sendiri" jawab Weny akan pertanyaan yang tidak di tanyakan kepada diri nya.
"Mama tidak bertanya kepada mu" ucap Hanah dengan melototkan mata nya menatap anak nya tersebut.
"Kami menikah sudah hampir satu tahun ma" jawab Nana.
"Hah? Lama sekali" teriak Hanah kembali dan kembali pula membuat semua nya menutup telinga nya.
"Mama" ketus Wuqi yang sedikit geram dan juga hampir jantungan hidup bersama istri nya selama ini akibat teriakan tersebut.
Ryhan menatap ke Wuqi, Tatapan yang tidak bisa di artikan di berikan nya menatap Wuqi saat ini. "Hah, Bagaimana jika istriku menjadi seperti ini? Apa aku akan tahan?" guman Ryhan dengan menatap ngeri ke arah Wuqi.
"Semenjak kak Rendi meninggal, Tepat di hari meninggal nya kak Rendi itulah kami menikah" ucap Nana.
"Kenapa tidak mengundang mama sayang?" tanya Hanah.
"Tidak di adakan pesta ma, Kami menikah di rumah sakit karna permintaan kak Rendi waktu itu" jawab Nana dengan senyum nya membuat Ryhan langsung menoleh ke arah nya.
"Shit selalu saja membahas hal ini, Apa mereka orang terdekat nya tidak tau bagaimana perasaan nya saat membahas hal ini?" guman Ryhan yang geram sedari kemarin membahas masalah Rendi terus menerus hingga membuat Hanah yang menatap nya mengerti akan raut wajah jengkel tersebut.
"Ah baiklah, Jadi kapan kalian akan mengadakan pesta pernikahan?" tanya Hanah yang mengalihkan pembicaraan dari Rendi namun tidak dengan pikiran Nana yang masih saja ke Rendi kakak lelaki nya.
"Setelah kelahiran putra kami" jawab Ryhan dengan wajah datar nya dan setelah itu langsung melebarkan senyum paksa saat semua nya menatap nya.
"Putra? Apa cucu ku lelaki?" teriak Hanah kembali yang kembali pula membuat orang di sekitar nya menutup telinga.
"Shit, Mama" teriak Weny pula yang geram sudah beberapa kali di tegur masih saja berteriak ibu nya itu.
"Maaf, Maaf mama kelepasan, Maafkan nenek ya sayang" ucap Hanah dengan mengusap perut Nana saat mengatakan maafkan nenek.
"Mama sedikit kecewa saat mendengar jenis kelamin nya lelaki padahal mama sangat berharap cucu ketiga mama ini akan perempuan agar menemani Insyani bermain, Jika Abraham dia mempunyai keponakan lelaki jadi tidak hawatir dengan teman bermain nya" jelas Hanah dengan senyum nya mengucapkan cucu cucu nya kepada Nana.
"Ah iya anak kak Yongki sepasang ya ma, Tapi Abraham paling tua kan?" tanya Nana.
"Iya sayang" jawab Hanah dengan mengusap kepala wanita itu.
"Mereka sudah jarang kemari ya?" tanya Nana.
"Kemarin mereka kemari sayang" jawab Wuqi dengan senyum nya menatap Nana.
"Mama dan papa tidak ada niat untuk menambah anak?" tanya Nana hingga membuat Wuqi dan juga Hanah membulatkan mata nya.
Weny sedikit menganga mendengar ucapan tersebut, Kehendak hati nya yang belum di penuhi adalah memiliki adik namun tidak di perdulikan nya lagi saat meliki beberapa keponakan. Weny menatap ayah dan ibu nya secara bergantian, Wajah yang nampak memerah di pipi ibu nya membuat Weny menahan senyum nya. "Weny kira mama tidak bisa malu saat di tanya oleh Nana seperti ini" ucap Weny yang meledek ibu nya.
"Shit anak durhaka kau ini, Berani nya meledek ibu mu" ketus Hanah yang pandangan nya teralih kepada Ryhan.
"Nama mu Ryhan kan?" tanya Hanah.
"Iya tante" jawab Ryhan.
"Tau dari mana ma?" tanya Weny.
"Kau tidak ingat jika aku mengatakan nya kepada mama?" tanya balik Hanah dan kembali tersenyum menatap Ryhan.
"Kau tampan sekali sayang" ucap Hanah dengan senyum nya.
"Ehem" Wuqi berdehem dan meminum minuman yang ada di hadapan nya hingga membuat Hanah menatap tajam ke belakang.
"Dasar" guman Hanah dengan wajah kesal dan kembali menatap Ryhan.
Dia memegang kedua tangan Ryhan tersebut. "Nak, Apa kau benar benar menjaga Nana dengan baik? Apa kau benar benar sudah menikah dengan anakku? Apa kau tidak menyiksa nya? Bagaimana bisa dia hamil di atas pernikahan kalian yang di jodohkan? Kau memanfaatkan dia Ryhan? Ryhan mama mohon kepada mu, Jangan menyakiti nya ataupun menyiksa nya, Mama benar benar menyayangi nya, Dia adalah anak mama nak, Kau jangan melampiaskan....."
"Hey berbicara apa kau itu?" ketus Wuqi yang memotong ucapan istri nya hingga membuat Hanah menatap ke suami nya tersebut.
"A-aku...."
"Jangan berbicara macam macam kepada nya, Apa Nana terlihat seperti orang habis di siksa? Aku lihat Nana baik baik saja dan nampak bahagia belakangan ini" potong Wuqi kembali.
"Hampir saja aku kelepasan tuhan" guman Hanah yang masih belum yakin akan cerita dari mulut Weny di tambah dia mengetahui latar belakang Ryhan yang tersembunyi dengan sangat rapat itu.
"Ah iya sayang, Mama sebenar nya ingin mengajak mu ke suatu tempat yang akan membuat mu senang" ucap Hanah dengan menatap ke arah Ryhan dan juga Nana secara bergantian.
"Kemana?" tanya Nana sedangkan Ryhan hanya menatap lekat wajah ibu Weny itu dengan wajah bingung nya.
"Hanah, Hanah, Kau itukan sudah melihat sendiri bagaimana perlakuan Ryhan ke Nana masih saja berbicara seperti tadi" guman Wuqi daat bisa melihat raut wajah kebingungan dari Ryhan.
"Ayo ikut saja, Kita pergi semua nya sekalian kita makan siang" ucap Hanah dan berdiri dari duduk nya.
"Bi kami tidak makan di rumah jadi tidak usah memasak" teriak Hanah.
"Ayo sayang" ajak Hanah kembali dan kembali menggenadeng tangan Nana dan membawa nya keluar.
"Kita ikut?" tanya Weny.
.
.
.
.