Dear D

Dear D
Episode 209



"Memang nya tidak apa apa?" tanya Merri yang nampak sangat ingin menginap di rumah itu.


"Jelas saja tidak apa apa, Ini adalah rumah Ryhan jadi sesuka hati mama mau menginap atau tidak" jawab Nana dengan senyum nya menatap ibu mertua nya tersebut.


"Kakak tidur di sana?" tanya Nana kepada Ferisa. Ferisa menganggukkan kepala nya mengiyakan pertanyaan Nana.


"Kamar di bawah tidak ada yang tersisa lagi jadi tidak apa apa mama tidur di atas?" tanya Nana kepada Merri.


"Iya tidak....."


"Mama biarkan tidur bersama kakak saja, Kau kembalilah masuk ke kamar dan istirahat" potong Ferisa dan mendorong Nana untuk kembali masuk ke dalam kamar.


"Tapi kak...."


"Tidak apa apa, Mama akan tidur bersama Ferisa saja" jawb Merri dengan senyum nya menatap Nana.


"Sudah cepat kembalilah istirahat" ucap Ferisa kembali dan mendorong Nana lagi agar masuk.


"Baiklah, Selamat malam" ucap Nana dan menutup pintu kamar nya untuk kembali melanjutkan istirahat nya.


"Ayo ma masuk istirahat" ajak Ferisa akan ibu nya itu.


"Baik" jawab Merri dan masuk ke dalam kamar tadi. Ferisa membaringkan tubuh nya di atas ranjang begitupun dengan Merri namun kedua saling membelakangi.


"Aneh sekali, Apa mama dan papa bertengkar sampai mama tidak bersama dengan papa kemari?" guman Ferisa yang sangat sangat kebingungan akan ibu nya yang tiba tiba berada di rumah Ryhan.


"Atau mungkinkah ibu memiliki maksud lain kemari dan tidak ingin bertemu dengan Devan melainkan ingin mencelakai nya?" guman Ferisa yang masih saja kebingungan dan sedikit hawatir mendengar percakapan yang seharus nya tidak ia dengar dari telinga ayah nya.


"Ah perhatikan saja gerak gerik nya, Ryhan pasti juga lebih berhati hati dari ku" guman nya kembali dan menutup mata nya untuk melanjutkan tidur nya.


Oeekkkk


Terdengar tangisan bayi membuat Nana mengurungkan niat nya untuk berbaring dan mengambil anak nya tersebut. "Sayang kenapa menangis? Kau pipis?" tanya Nana dengan membuka celana anak nya tersebut namun tidak ada apa apa.


Devan terus saja menangis hingga membuat Nana membawa nya menjauh dari Ryhan. "Jangan menngis lagi ya, Kau akan membangunkan papa jika terus menangis" ucap Nana dengan mencium dan sedikit menggoyangkan tubuh kecil bayi nya agar kembali tenang namun Devan belum juga berhenti menangis.


"Pasti lapar ya, Maafkan mama" ucap Nana dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang ada di dalam kamar nya dan memberikan asi kepada anak nya.


"Jika tenang seperti inikan bagus tidak membangun papa mu yang kelelahan" ucap Nana dengan senyum nya saat anak nya sudah diam.


Ryhan nampak masih tertidur nyenyak tanpa sadar akan anak nya yang menangis. Setelah satu jam membiarkan anak nya diam Nana kembali berdiri dari duduk nya dan membawa bayi kecil itu menuju ke ranjang milik nya sendiri. "Anak mama tidur di ranjang sendiri tidak apa apa kan?" tanya Nana dengan tersenyum menatap bayi nya yang masih terjaga itu.


Terdengar sedikit gelak tawa dari mulut anak kecil itu yang mengira ibu nya tengah mengajak nya bermain. "Heh kau sudah pintar tertawa?" tanya Nana yang ikut tersenyum bahagia saat anak nya yang baru berumur beberapa minggu sudah bisa tertawa.


"Kau ini menggemaskan sekali, Mama sangat ingin bermain dengan mu tapi ini sudah sangat larut, Kau harus istirahat" ucap Nana dengan senyum nya.


"Selamat malam putra kecil mama" bisik Nana dengan mencium dahi anak nya tersebut dan berlalu dari sana.


Oeeekkk


Belum juga berbaring Devan kembali menangis membuat Nana kembali mengurungkan niat nya untuk beristirahat. Nana membuang nafas panjang saat mendengar tangisan anak nya tersebut dan kembali mendekat ke arah ranjang nya.


"Kau tidak ingin tidur berpisah dari papa?" tanya Nana yang kembali mengambil anak nya yang ada di dalam ranjang tersebut.


"Jangan menangis lagi ya, Papa sedang istirahat, Dia sangat kelelahan" bisik Nana dengan mencium anak kecil nya dan perlahan memejamkan mata nya juga akibat cukup kelelahan.


Jam empat tepat.


Oeekkkk


Devan kembali menangis tepat pada jam empat pagi membuat Nana yang baru tidur beberapa jam langsung terbangun begitupun dengan Ryhan yang merasa sudah puas dengan tidur nya. "Hey kenapa menangis?" tanya Ryhan kepada anak kecil nya tersebut.


Nana langsung duduk dari baring nya dan membuka celana anak nya. "Pantas saja kau menangis" ucap Nana dan menggendong anak nya tersebut dan membawa nya menuju ke ranjang nya sendiri.


Ryhan ikut bangkit dari duduk nya dan mendekat ke dekat istri nya untuk membantu mengurus anak nya. Tanpa di suruh ataupun di perintah Ryhan mengambil tisyu basah dan juga pakaian lain milik anak nya dengan Nana yang namak melepaskan celana kotor yang di kenakan bayi itu. "Shut, Shut jangan menangis lagi, Ini mama sedang mengganti nya" ucap Nana dengan senyum nya.


Kring, Kring


Ryhan memainkan mainan milik anak nya mencoba membuat anak nya diam dengan tersenyum mencoba menghibur. "Anak pintar papa tidak boleh menangis" ucap Ryhan dengan menggelengkan kepala dan wajah yang terus tersenyum.


Nana ikut tersenyum akan hiburan garing itu, Meskipun garing bagi nya namun itu membuat anak nya berhenti menangis. "Sudah selesai, Ingin bermain dengan papa lagi sayang?" tanya Nana dengan tersenyum kepada anak nya tersebut.


"Boleh, Sini kita bermain lagi nanti saat siang kau akan tidur" jawab Ryhan dan menggendong bayi tersebut dan membawa nya ke ranjang.


"Aku akan keluar sebentar menyiapkan susu dan sarapan untuk kita semua" ucap Nana dengan mengusapkan tisyu basah ke tangan nya.


"Kita berdua?" tanya Ryhan yang mengira kita itu adalah dia dan juga istri nya.


"Mama Merri, Kak Ferisa, Kak Anggi dan juga pak Febri ada di sini" jawab Nana.


"Hah? Mama ada di sini?" tanya Ryhan dengan sedikit bingung saat mendengar nama mama nya.


"Em, Tadi malam saat aku berniat ingin ke dapur aku melihat mama di depan kamar yang di tempati kak Ferisa dan...."


"Papa juga ada di sini?" tanya Ryhan dengan memotong ucapan istri nya tersebut.


"Tidak ada" jawab Nana.


"Kau tidak boleh keluar" ucap Ryhan yang berdiri dari duduk nya dan berjalan ke arah istri nya tersebut.


"Kau tunggu di dalam saja, Biarkan pelayan yang menyiapkan makanan" ucap Ryhan kembali saat melihat wajah bingung wanita nya.


.


.


.


.


.


.