Dear D

Dear D
Episode 43



Febri terus mengikuti wanita itu karna takut terjadi apa apa dan Nana berbelok ke kuburan. "Apa yang ingin dia lakukan di sini?" guman Febri yang belum mengetahui di mana letak kuburan Rendi kakak Nana. Nana masuk ke dalam sana tanpa mengeluarkan suara apapun dia langsung mendudukkan tubuh nya di hadapan salah satu makam. Nana menundukkan kepala nya seperti berdoa di sana dengan banyak nya lumpur di sana itu yang ia duduki tanpa merasa risih ataupun apa.


"Amin" ucap Nana dengan mengusapkan kedua telapak tangan nya ke wajah nya.


"Kakak apa kabar? sudah menemui ayah?" tanya Nana dengan mengusap makam sang kakak sedangkan makam ayah nya tidak ada karna mayat ayah nya menghilang.


"Jika sudah bertemu dengan ayah, Katakan kepada ayah bahwa aku merindukan nya datang lah untuk menjengukku begitu pun dengan mu, Aku sangat merindukan kalian" jelas Nana lagi dengan tersenyum menatap makam itu.


"Ibu di mana? apa benar aku anak jalang seperti yang di katakan ibu Ryhan?" tanya Nana lagi dengan menatap lekat makam itu.


"Jika memang benar pantas saja ibu Ryhan tidak merestui Ryhan dengan ku padahal aku sangat mencintai nya" ucap Nana lagi dengan tersenyum lebar dan setelah itu langsung menundukkan kepala nya.


"Adik mu ini bodohkan? mencintai orang yang tidak mencintai nya" ucap Nana dengan kembali tersenyum lebar menatap makam kakak nya itu.


"Kenapa aku kepikiran Nana?" guman Qori yang masih memiliki perasaan kepada Nana meskipun tidak sebesar dulu.


"Memang nya ibu di mana kak?" tanya Nana kepada makam itu.


"Apa aku harus sukses terlebih dahulu supaya ibu menemui ku? apa itu alasan mu menyuruh ku belajar dengan giat supaya menjadi orang sukses?" tanya Nana dengan menatap lekat makam itu.


"Jika memang iya aku berjanji kepada mu, Aku akan sukses supaya tidak ada orang yang meremehkan keluarga kita, Tapi aku membutuhkan semangatmu dan ayah, Datanglah menemui ku kapan kau mempunyai waktu aku merindukan mu" jelas Nana lagi yang langsung meneteskan air mata nya. Nana dengan segera menghapus air mata nya itu dan kembali tersenyum lebar menatap makam kakak nya itu.


"Aku akan kembali ke rumah, Kak Anggi ada di rumah bersama pak Febri, Mereka selalu menjaga ku dengan baik kau harus berterima kasih kepada mereka karna sudah menjaga adik kecil mu ini, Ryhan juga menjaga ku dengan baik, Berterima kasihlah Nanti kepada mereka ya, Aku pamit" ucap Nana dan mencium batu nisan itu cukup lama dengan air mata yang menetes satu persatu.


"Di saat seperti ini dia masih membanggakan Ryhan kepada makam kakak nya" guman Febri dengan menggelengkan kepala merasa bodoh akan Nana yang malah membela Ryhan di makam kakak nya. Nana berjalan keluar dari makam itu.


"Ah" ucap Febri yang berada tepat di samping Nana. Febri terkena lemparan batu yang cukup tajam dan itu seharus nya mengenai Nana tapi dia yang dekat dengan Nana bisa melindungi wanita itu hingga Wanita itu tidak kenapa kenapa. Mata Nana membulat saat mendengar itu dan menatap Febri yang berada tepat di hadapan nya.


"Ah" ucap Febri yang kesakitan akan itu.


"Pak..." ucap Nana terpotong dan langsung membalikkan tubuh Febri ke belakang, Mata Nana membulat saat melihat banyak darah yang keluar dari punggung Febri di tambah lagi Febri menggunakan baju putih.


"Astaga, Ayo pak kita ke rumah sakit" ajak Nana dan membantu Febri untuk berjalan.


"Tidak usah, Bawa aku kembali ke rumah mu saja" jawab Febri dengan wajah merah akibat menahan sakit.


"Tapi pak..." ucap Nana yang terpotong oleh Febri.


"Ah" teriak Febri yang kesakitan akan itu.


"Ayo kita kembali ke rumah'' ajak Nana dan membantu Febri untuk berjalan, Nana menghentikan salah satu taxi yang melintas di hadapan nya dan langsung masuk bersama Febri. Sopir taxi langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman Nana hingga akhirnya dia sampai di sana.


"Shht kenapa malah tidak wanita jalang itu yang kena?" guman wanita yang melempar batu tadi dan melihat Nana dan Febri masuk ke dalam taxi.


Nana langsung turun dengan membimbing Febri untuk turun juga dari taxi itu. "Terima kasih" ucap Nana saat sudah membayar taxi tadi. Nana langsung masuk ke dalam rumah dengan membimbing kembali Febri masuk ke dalam rumah itu.


"Sudah kembali?" tanya Anggi yang baru saja selesai memasak makan siang.


"Kak tolong ak Febri" ucap Nana kepada Anggi.


"Kenapa dengan Febri?" tanya Anggi dan langsung menghentikan aktivitas nya dan menuju ke ruang tengah. Nana mendudukkan tubuh Febri di atas kursi yang ada di sana, Nana langsung berlalu ke dalam kamar nya untuk mengambil kotak obat dan setelah itu dia kembali ke luar.


"Ah perih" teriak Febri kesakitan saat Nana meletakkan entah apa di luka nya.


"Tahanlah" jawab Nana dan kembali membersihkan luka itu dan meneteskan obat ke kapas dan kembali mengusap nya ke punggung Febri.


"Ah" teriak Febri yang sangat kesakitan. Nana tidak menjawab nya dan meneruskan apa yang ia lakukan begitupun dengan Anggi yang hanya bisa menahan Febri supaya tidak banyak gerak karna dia takut dengan darah banyak.


Di rumah Ryhan.


"Masuk" bentak Merri dan mendorong anak nya itu ke dalam kamar nya.


"Aku tidak mau berada di sini, Aku ingin kembali ke rumah nenek" jawab Ryhan yang juga dengan nada tinggi.


"Kau bukan tinggal di rumah nenek melainkan kau tinggal di rumah wanita jalang itu" bentak Merri lagi.


"Dia istri ku makanya aku tinggal bersama nya" jawab Ryhan dengan nada tinggi dan itu membuat Merri terdiam.


"Apa maksud mu?" tanya Merri dengan wajah datar nya.


"Aku sudah menikah dengan nya" jawab Ryhan dengan wajah yang tak kalah datar.


"Kau sudah menikah dengan wanita jalang itu?" tanya Dira yang tiba tiba datang. Ryhan dan Merri menoleh ke arah nya dan namak Dira mengeluarkan air mata cukup deras.


"Jaga ucapan mu" bentak Ryhan karna tak suka akan ucapan Dira tadi.


"Apa kau membentak nya?" ketus Merri kepada Ryhan.


"Dia mengatakan istri ku jalang" jawab Ryhan dengan wajah kesal nya.


"Wanita itu Memang jalang bukti nya dia merebutmu dari Dira padahal kau dan Dira akan menikah dan sudah di jodohkan sejak dahulu" bentak Merri kepada anak nya itu.


"Aku tidak mau dengan nya, Aku tidak menyukai nya, Dia hanya menyukai ku karna harta Coba saja keluarga ini bangkrut tidak akan dia mau dengan ku" bentak Ryhan dan langsung membanting pintu kamar nya sungguh dia sangat emosi akan perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut ibu nya dan juga Dira.


"Hikss" Dira menngis dan membuat Merri langsung menghampiri nya.


"Sayang kau tidak perlu menangis, mama akan membuat Ryhan menikah dengan mu kau tenang saja" ucap Merri dan langsung memeluk tubuh Dira itu.


"Shhht dari mana dia tau aku hanya menginginkan harta keluarga ini?" guman Dira dengan wajah kesal nya dan itu bisa di lihat oleh Ferisa yang mendengar seluruh pertengkaran tadi.


"Untung saja Merri bodoh ini selalu di posisi ku jika tidak aku tidak akan ada kesempatan sedikit pun untuk masuk ke keluarga ini" guman Dira dengan tersenyum menang akibat Merri yang berada di posisi nya.


"Shht wanita itu dia pikir dia bisa merebut Ryhan dari Nana?" umpat Ferisa kesal saat melihat wajah wanita itu yang tersenyum lebar.


Ryhan mendudukkan tubuh nya di atas ranjang yang ada di dalam kamar itu. "Huh, Aku tidak ingin kehilangan nya" guman Ryhan.


"Ah aku harus pergi secepat nya dari sini, Aku harus menemui istri ku dan mengajak nya pergi dari kota ini supaya tidak ada yang mengganggu kami" guman Ryhan yang berpikir terlalu pendek dan terlalu cepat mengambil keputusan.


"Tapi apa Del mau?" guman Ryhan yang ragu akan Nana yang ingin pergi karna dia yakin Nana tidak akan mau karna dia menyayangi kota ini.


"Aku harus keluar saja terlebih dahulu dari sini" ucap Ryhan yang membuang niat nya untuk membawa Nana pergi dan mencari cara untuk keluar dari rumah itu tanpa di ketahui oleh siapapun.