
Dean tidak menyangka akan terjebak di situasi menjengkelkan begini. Ia ingin marah, tapi ia tak mau membuat gadis kecil di sampingnya menangis.
Gadis kecil, Dean rasa ia tidak salah menyematkan sebutan itu pada Vey. Padahal ia sudah tampil maksimal, dengan setelan jas hitam dan rambut super klimis yang ujungnya bagai sebuah piramida mesir.
Ah itu terlalu berlebihan, yang jelas sekarang Dean ingin terlihat se perfect mungkin di acara reuni SMA.
Tapi lihatlah penampilan Vey, ia mengenakan gaun selutut berwarna pink dengan bandana kupu-kupu tersampir di atas kepala.
Mungkin orang-orang akan mengira Dean sedang jalan bersama adiknya atau bahkan mungkin ia akan dikira pedofil karena mengencani gadis SMP.
"Ganti baju Vey, gue tuh mau ngajak lu ke acara reuni bukan ke acara ulang tahun anak SD"
"Model baju gue kayak gini semua kak, udahlah yuk berangkat" Vey menepuk lengan Dean agar suaminya itu segera menjalankan mobil.
"Ganti baju dulu, gue gak mau dikira bawa bocah ingusan kayak lu. Hih jijik banget tau gak? Entar gue dikira om-om pedofil" Cerocos Dean.
"Kan tadi gue dah bilang, model baju gue kayak gini semua" Sahut Vey.
"Ya beli dong, lu gak punya duit? Mintalah sama gue, punya suami kaya dimanfaatin dong" Ucap Dean dengan penekanan saat ngucapkan kata 'Kaya'.
Vey memutar jengah bola matanya. Usianya sudah 18 tahun, dan bulan Juni nanti tepat 19 tahun. Ia sudah dewasa, tapi kenapa Dean selalu menyebutnya bocah? Memang apa salahnya ia mengenakan gaun berwarna pink itu? Bukankah ia akan terlihat cute dan muda?
Harusnya Dean senang jika istrinya tampil muda, tapi entahlah mungkin Dean lebih suka wanita yang berpenampilan dewasa. Wanita Sexy dengan lekuk tubuh yang sensual mungkin?
Untung kali ini suasana hati Vey sedang baik, jadi ia tidak terlalu menanggapi ocehan suaminya itu. "Jangan banyak bacot kakak, cepet jalan" Sahut Vey dengan nada bicara yang dibuat selembut mungkin, ia sedang tidak ingin berdebat.
take a breath
breathe out
Dean mengatur nafasnya dan menetralkan emosinya kembali, gadis kecil di sampingnya ini benar-benar membuatnya geram, gemas dan kesal. Untungnya Dean masih punya belas kasihan, kalau tidak mungkin nasib gadis kecil itu sudah berakhir di ranjang, huh ingin rasanya Dean mendengar tangisan dan desahan gadis keras kepala itu di bawah dekapannya.
Dean menggelengkan cepat kepalanya, menyingkirkan pikiran kotor yang tiba-tiba meracuni otaknya. Sejak kapan Dean menjadi mesum?
Vey sedikit bingung karena mobil Dean malah memasuki pelataran salon Evara, salon milik Evara Saraswati, ia salah satu model terkenal tanah air yang tentunya tidak kalah cantik dari Yori. "Kak, bukannya kita mau ke acara reuni?" Tanya Vey.
"Turun" Singkat Dean.
Sadar sang suami tengah dalam mode ngambek, Vey pun hanya bisa pasrah dan mengikuti ucapan Dean.
Sampai di depan salon, mereka sudah disambut oleh sosok wanita cantik, berperawakan body goals, dengan rambut panjang sebatas siku yang di curly, terlihat begitu elegan dan dewasa. Siapa lagi kalau bukan Evara Saraswati, ia adalah teman Dean sewaktu kuliah dan hingga saat ini hubungan pertemanan mereka masih bisa dibilang baik.
"Ada apa lu hubungin gue malem-malem gini? Mau minta balikan?" Tanya Evara, seraya menggandeng lengan Dean dan menuntunnya masuk kedalam salon. Sedangkan Vey, mengekori langkah mereka berdua.
Serasa seperti nyamuk penganggu.
"Idih ngarep lu hahaha" Kekeh Dean.
"Eh btw tuh bocah istri lu?" Bisik Evara, namun dapat Vey dengar dengan jelas.
Vey menggerutu kesal dalam hati, "Gue bukan bocah!"
"Ya begitulah" Jawab Dean, santai.
"Gue gak nyangka ternyata lu normal, gue kira lu gak lurus"
"Gue dari dulu emang normal kali" Ketus Dean.
Semenjak putus dari Rena, Dean memang tidak pernah dekat dengan wanita lagi. Ia selalu menolak semua wanita yang mendekatinya.
Termasuk menolak secara terang-terangan seorang aktris cantik bernama Bella, di hadapan teman-temannya saat acara pesta di rumah Evara 1 tahun yang lalu.
"Dean gue cinta sama lu, gue yakin kalau lu juga cinta sama gue. Gue mau hubungan kita bisa lebih dari sebatas teman"
"Sorry, gue gak tertarik sama lu"
Setelah kejadian itu, Dean kerap di anggap tidak normal atau Gay oleh teman-temannya. Secara Bella adalah wanita yang nyaris sempurna, dan menolak Bella? Mungkin hanya lelaki tidak normal yang akan melakukannya.
"Udah lu apain aja tuh bocah?"
"Tanpa gue beritahu pasti lu udah tau lah" Dean menyeringai.
Padahal kenyataannya Dean belum berani menyentuh Vey lebih intim. Bukan karena Dean tidak normal, hanya saja ia takut jika Vey hamil, mengingat usia Vey yang masih sangat muda.
Menurut artikel-artikel yang pernah Dean baca, wanita yang hamil dibawah usia 20 tahun, dapat terkena pre-eklamsi dan gangguan kandungan lainnya.
Dean tidak ingin mengambil resiko nantinya, jadi lebih baik ia menunggu Vey hingga berusia 20 tahun
Tunggu...
Big NO! Pemikiran Dean terlalu jauh. Ia saja belum mencintai Vey, jadi belum sepantasnya ia memikirkan anak. Oke? Dean tidak akan melakukan hubungan seksual sebelum ia mencintai Vey.
Evara terkekeh, "gue tunggu kabar dedek bayi"
"Gue tunggu kabar nikahan lu" Timpal Dean.
Balikan? Mendengar kata itu membuat mata dan hati Vey memanas. Oh God! Are you kidding?
Istri mana yang tidak kesal jika suaminya dekat-dekat dengan wanita lain? Apalagi dengan wanita sejenis mantan? Vey meraih kemeja bagian belakang yang dikenakan oleh Dean, membuat langkah Dean terhenti. "Kenapa Vey?"
"Jangan deket-deket mantan, gue gak suka" Ucap Vey. Terdengar seperti pengakuan, bahwa ia cemburu.
Dean mengulum bibirnya, menahan tawa. Sedangkan Evara sudah tertawa terpingkal-pingkal karena ucapan Vey. "Ya ampun, istri lu jujur banget".
"Gue cuma becanda kali, gue sama Dean bukan mantan kok, jadian aja gak pernah ckck"
Vey menggigit bibir bawahnya, apa dia baru saja salah paham?
"Maklum masih bocah, jadi bawaannya serius mulu" Dean menatap Vey dengan tatapan mengejek.
"Cemburu kayaknya deh" Timbrung Evara.
"Apaan sih?! Siapa juga yang cemburu" Vey menangkup wajahnya. Salting.
Dean tertawa geli karena tingkah sang istri yang begitu menggemaskan."Eh iya, gue minta tolong make up in istri gue biar gak kayak bocah gini, kasih dia baju yang paling mahal. Awas aja kalo sampai mengecewakan" Titah Dean pada Evara.
"Siap! Sini bayar dulu..." Kekeh Evara seraya menyedongkan tangan.
"Gampang lah nanti gue transfer" Tukas Dean.
***
"Gimana Dean?" Tanya Evara, seraya membubuhkan bedak di wajah Vey.
"Gimana maksudnya?"
Evara meminta Vey untuk menutup mata, lalu mempoles mata Vey dengan eyelener. "Sifat dia sayang"
"Kadang baik, seringnya nyebelin, tapi gue suka" Perkataan Vey sontak membuat tawaan Evara pecah. Benar-benar tidak menyangka, jika teman dekatnya akan mendapatkan gadis se lugu ini.
"Lu beruntung banget bisa nikah sama Dean, dia tuh cowok yang baik, ya walaupun emang agak ngeselin sih ckck. Tapi dia tuh tipe cowok yang setia, dia gak suka mainin cewek, dan dia rela nglakuin apapun buat orang yang dia sayang".
"Tapi gue herannya, bisa-bisanya si Rena ninggalin Dean, ****** banget Gila" Lanjutnya lagi, disela-sela kegiatan menyisir dan meng curly bagian ujung rambut Vey.
Vey menautkan satu alis matanya, memandang Evara yang tengah sibuk dengan rambutnya dari pantulan cermin. "Rena?"
"Yaa, Rena itu mantan pacar Dean. Mereka udah pacaran selama 3 tahun. Gue harap lu jangan ninggalin Dean yah"
Vey mendengus, "yang ada dia yang ninggalin gue". Lagian Vey juga tidak mau menjadi janda muda, menjadi janda itu tidak enak.
Meninggalkan Dean? Sungguh demi apapun, hal itu tidak pernah terlintas di otak Vey. Baginya pernikahan itu adalah sesuatu yang sangat sakral, dan ia akan berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya.
Tidak perduli meskipun ia harus berjuang sendirian.
"Itu gak akan terjadi kalau Dean udah cinta sama lu. Yang gue takutin.... Lu yang akan ninggalin Dean nantinya". Desis Evara, cemas.
"Gue bukan tipe orang yang suka meninggalkan seseorang kak, btw bisa ceritain tentang Rena?"
"Baguslah, lain kali aja gue ceritain. Sekarang keluar yuk, kasihan Dean udah nunggu lama" Evara menyentuh kedua bahu Vey.
Vey mengangguk, "oke deh"
.
.
Mata Dean berbinar terang saking terpukaunya dengan penampilan istrinya sekarang. Vey nampak begitu cantik dan elegan dengan balutan dress panjang berwarna hitam yang berukuran press body sehingga mencetak beberapa lekuk tubuhnya.
Sapuan make up yang sedikit tebal, dengan lipstik berwarna merah darah membuat tampilan Vey terlihat lebih dewasa. Belum lagi rambut panjangnya yang di curly dibagian ujung dibiarkan tergerai, berjatuhan di atas dua pundak mulus miliknya.
Sangat cantik!
Sekaligus elegan, benar-benar layak disapa sebagai nyonya Geraldo.
Dean tersenyum tipis, sangat tipis dan mungkin hanya ia dan Tuhan yang tau jika ia saat ini sedang tersenyum. "Lama amat sih, acaranya udah mau dimulai nih"
"Sorry... Gimana penampilan Vey? Cantik kan?" Tanya Evara.
"Biasa aja sih, kayak emak-emak mau kondangan" Jawab Dean, berbohong. Padahal ia sempat terpesona dengan Vey, dan sampai sekarang pandangan matanya juga masih terpusat pada Vey.
Vey memayunkan bibir marunnya, "kak Eva, gue mau ganti baju gue yang tadi".
"Gak usah, lama-lamain aja... Gue udah telat nih" Dean menggenggam tangan Vey dan membawanya menuju mobil.
"Thanks Va, bayaran lu entar gue transfer" Ucap Dean sebelum keluar dari salon.
"Okee!" Evara mengancungkan jari jempolnya.
.
.
Mobil Dean sudah terparkir di parkiran SMA Internasional Froody. Vey menahan nafasnya saat tiba-tiba Dean membantunya melepaskan safe belt yang melintang di depan dada.
Cukup lama, karena safe beltnya sangat susah dilepaskan. Vey dapat melihat secara jelas pahatan wajah tampan Dean, dan merasakan harumnya aroma maskulin yang keluar dari tubuh Dean.
"Udah" Dean memalingkan wajahnya, membuat wajahnya berhadapan dengan wajah Vey. Sangat dekat.
Di jarak yang sedekat ini mereka dapat saling merasakan hembusan nafas masing-masing. Seperti sudah terbawa suasana, Dean mamajukan wajahnya, menautkan bibirnya pada bibir berwarna merah darah milik Vey yang nampak begitu menggoda.
Bibir mereka sudah menempel sempurna, hingga detik selanjutnya terdengar ketukan kaca mobil dari luar.
Tuk tuk tuk
"****!" Dean melepaskan tautan bibirnya dari bibir Vey.