Dear D

Dear D
Episode 208



Merasa beban pikiran nya sudah hilang akibat sedikit ucapan semangat dari suami nya. "Em" Nana membalas pelukan tersebut dengan bibir yang masih saja membentuk sebuah senyuman.


"Kak Anggi dan yang lain masih di luar?" tanya Nana kepada suami nya tersebut.


"Entahlah, Tadi sudah aku suruh untuk pulang tapi tidak tau apa sekarang masih di luar atau tidak" jawab Ryhan yang masih memeluk wanita nya tersebut.


"Tidak masalah kau menyuruh mereka pulang, Jikapun mereka akan terus di sini tidak ada yang mengajak mereka mengobrol atau sebagai nya" ucap Nana dan melepaskan pelukan nya. Nana berdiri dari duduk nya dan berjalan ke arah ranjang anak nya dan mengambil bayi yang tengah tidur itu.


"Kau kelelahan ya sayang hem" ucap Nana dengan mencium pipi itu dan membawa nya menuju ke dekat shani nya.


Nana mendudukkan tubuh nya kembali di samping suami nya dengan Devan yang ada di dalam gendongan nya. "Menggemaskan sekali kau ini" ucap Ryhan dan mencium anak nya itu.


"Jika nanti kau besar kau akan menjaga adik adik mu kelak, Jadilah lelaki baik dan bertanggung jawab ya sayang" ucap Nana dengan senyum nya.


"Iya mama aku akan menjaga adik nanti jadi mama buatlah bersama papa sekarang" ucap Ryhan dengan memperagakan suara anak kecil dan tangan anak nya yang di goyangkan perlahan.


Nana menatap tajam ke arah suami nya yang bisa bisa nya berbicara seperti itu. "Sayang ucapan seperti itu seharus nya belum boleh kau dengar dari ayah mu yang sudah sangat hebat berbicara ini, Kau baru saja berumur beberapa hari" ucap Nana dan membaringkan anak nya di atas ranjang dan setelah itu dia pula yang ikut berbaring.


"Seharus nya mereka berdua baik baik saja bukan meskipun Devan lahir terlalu cepat?" guman Ryhan yang ingat akan hal tersebut.


"Sayang, Mama mu selalu memarahi papa dahulu apa lagi saat mengandung mu" ucap Ryhan yang menelungkup memainkan hidung anak nya.


"Hey tangan mu ini liar sekali" ketus Nana dengan menepis tangan suami nya yang menganggu tidur Devan.


"Lihat sayang mama marah lagi kepada papa, Kau cepatlah tumbuh besar agar bisa menahan mama yang hendak memarahi papa" ucap Ryhan kembali.


"Semenjak mengethui isi hati nya yang sebenar nya Ryhan sangat ke anak anakan, Dia juga lebih sering memancing emosi ku tapi kadang dengan terpancing nya emosi seluruh masalahku langsung hilang, Apakah semua lelaki akan bersikap seperti itu kepada wanita nya?" guman Nana dengan wajah sedikit bingung membandingkan suami nya yang dahulu dan yang sekarang.


"Aku sedikit mengantuk" ucap Ryhan dan meletakkan tangan nya pinggang wanita nya.


"Tidurlah, Kau dari semalam tidak tidur menemani ku menjaga Devan" ucap Nana dengan mengusap kepala suami nya besar nya.


"Kau juga tidak tidur tadi malam, Ayo istirahat nanti malam pasti berjaga juga menjaga bayi kelelawar ini" ucap Ryhan dengan memainkan wajah anak nya pula.


"Mulut mu ini semakin di biarkan semakin menjadi jadi, Seenak nya saja kau mengatakan bayi ku bayi kelelawar, Bayi yang tampan ini adalah anakku" jawab Nana yang kembali menepis tangan suami nya hingga lepas dari wajah anak nya namun tangan itu kembali memegang pinggang nya.


"Dia memang tampan sama seperti ayah nya yang juga tampan baik hati dan tidak sombong ini" ucap Ryhan dengan mata sangat sayup akibat sangat mengantuk. Nana diam dan tidak menjawab ucapan lelaki itu hingga mata lelaki tersebut perlahan terpejam saat tidak mendapatkan teman bicara.


"Pasti sangat melelahkan untuk mu berjaga sepanjang malam membantu ku" guman Nana dengan mengusap kepala suami nya tersebut.


"Sayang ayo istirahat" ucap Ryhan dengan suara serak akibat merasakan usapan dari tangan kecil wanita nya tersebut.


"Iya, Kau tidur juga" jawab Nana yang ikut mengusap kepala lelaki nya tersebut.


"Nana dan juga Ryhan mana?" tanya Merri yang datang sendiri tanpa di temani oleh Andra.


"Nona dan tuan seperti nya tengah istirahat nyonya, Sedari balik dari rumah sakit mereka langsung masuk ke dalam kamar dan tidak keluar lagi" jelas pelayan kepada Merri.


Merri menatap ke sekeliling rumah itu dan terlihat ada dua lelaki yang tidak asing di mata nya. "Dia bukan nya yang waktu itu?" guman Merri saat melihat Anggi namun tidak mengingat Febri.


Pelayan menatap kemana tatapan Merri. "Mereka adalah kaka nona Nana nyonya" ucap pelayan saat melihat Merri yang nampak sedikit bingung.


"Kedua nya?" tanya Merri dengan wajah sedikit bingung.


"Jadi kenapa kau mengatakan mereka?" ketus Merri dengan melototkan mata nya.


"Apa yang terjadi di sini? Kenapa ribut sekali?" tanya Ferisa yang terbangun akibat suara ribut di luar. Merri dan juga pelayan langsung menatap ke arah suara dan terlihat Ferisa yang nampak baru bangun tidur keluar dari ruangan tersebut.


"Mama?" ucap Ferisa dengan nada rendah saat melihat ibu nya tersebut.


"Ferisa? Kau sedang apa di sini?" tanya Merri dengan wajah sedikit bingung nya saat melihat Ferisa berada di rumah Ryhan.


"Ferisa yang seharus nya bertanya, Mama kenapa bisa di sini?" tanya balik Ferisa.


"Mama ingin bertemu dengan cucu mama" jawab Merri.


Ferisa menoleh ke arah jam dan terlihat jam sudah menunjuk pukul sepuluh malam. "Ini sudah sangat larut bagaimana bisa mama keluar rumah tanpa papa?" tanya Ferisa yang masih memasang wajah bingung nya menatap ibu nya tersebut.


"Papa sedang istirahat makanya mama tidak datang bersama dengan nya" jawab Merri.


Ckleek


Pintu kamar Ryhan terbuka hingga membuat Merri dan juga Ferisa menoleh ke arah kamar itu dan terlihat Nana keluar dari kamar tersebut. "Nana" sapa Merri dengan senyum nya dan berjalan mendekat ke arah Nana.


"Mama kenapa ada di sini? Apa tidak pulang?" tanya Nana dengan wajah sedikit bingung memegang tangan Merri.


"Mama baru saja sampai sayang" jawab Merri.


"Hah? Selarut ini mama kemari?" tanya Nana dengan sedikit membulatkan mata nya akibat sebelum keluar dia melihat jam dinding.


Merri ikut menatap ke jam dan benar saja sekarang sudah sangat larut. "Ah mama baru sadar jika sekarang sudah larut" jawab Merri dengan menyengir menatap Nana.


"Papa tidak ikut?" tanya Nana.


"Tidak" jawab Merri.


"Jadi mama sendiri kemari? Menaiki apa? Apa papa tau?" tanya Nana dengan sedikit kebingungan.


"Iya mama sendiri kemari" jawab Merri yang hanya menjawab salah satu pertanyaan dari Nana.


"Mama menginap di sini saja, Tidak baik untuk mama pulang sendiri ke rumah di malam hari ini seperti ini" ucap Nana.


"Memang nya tidak apa apa?" tanya Merri yang nampak sangat ingin menginap di rumah itu.


"Jelas saja tidak apa apa, Ini adalah rumah Ryhan jadi sesuka hati mama mau menginap atau tidak" jawab Nana dengan senyum nya menatap ibu mertua nya tersebut.


.


.


.


.


.