Dear D

Dear D
2. Cewek Alay



"Gila, ternyata masih bocah bau kencur..." Gerutu Dean dalam hati saat melihat Vey.


"Ma, Dean mau ke kamar" Ujar Dean. Alih-alih mencari alasan untuk menghindari Vey.


"Eh jangan, hari ini kamu harus temenin Vey ke butik buat fitting baju" Cegah Hana.


"Tapi Dean sore ini ada rapat klien ma"


"Batalin, pokoknya kamu harus nemenin Vey" Tegas Hana yang terdengar seperti paksaan.


Dean mendekus kesal, ucapan Hana itu hukumannya mutlak jadi mau bagaimanapun ia tetap tidak bisa menolaknya. "Iya ma, Dean ganti baju dulu", Dean melangkah menaiki tangga menuju kamarnya yang ada dilantai dua, tentunya dengan perasaan yang begitu dongkol.


Vey meletakkan tangan kanannya didepan dada, merasakan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat, senyuman lelaki itu selalu terngiang di otak Vey. Apa Vey mulai menyukai Dean? Segitu cepatkah Dean membuat Vey jatuh cinta?


Vey menggelengkan cepat kepalanya, menepis perasaan aneh yang sekarang muncul di hatinya. "Jangan suka dulu, jangan"


"Kalo suka jangan di tahan Vey ckck" Celetuk Hana, yang tidak sengaja mendengar perkataan Vey tadi.


Pipi Vey memerah, "ah..mama" , rengek Vey dengan kedua telapak tangan ia telungkupkan didepan wajah. Malu, itulah yang Vey rasakan, tapi ya sudahlah Vey kan memang sudah biasa malu-maluin.


"Dean emang ganteng, jadi wajar kalau kamu suka, tapi asal kamu tau Vey...Dean tuh agak ngeselin lho" Hana mempelankan nada bicaranya.


Vey mendekat, sadar jika mertuanya itu akan berbagi sedikit informasi penting tentang Dean. "Ngeselin gimana ma?"


"Dean itu irit banget ngomong, jadi jangan heran kalau dia nanti sering ngacangin kamu"


Vey menelan salivanya, di kacangin? Tidak ada orang yang suka di kacangin termasuk Vey. Kalau martabak di kacangin itu enak, tapi kalau di kacangin calon suami tuh miris, "tenang ma, Vey udah biasa di kacangin kok ckck. Martabak spesial aja di kacangin, jadi kalau Vey di kacangin itu artinya Vey spesial"


Hana tertawa kecil karena candaan Vey, "aduh Vey kamu lucu banget sih. Dan kamu harus tau, Dean itu punya sifat manja, apalagi kalau lagi sakit.... uh manja nya kebangetan"


"Ekhm..." Dean berdeham, Vey dan Hana pun sontak menoleh. "Ayo berangkat" Dengus Dean lagi, sembari berjalan menuruni tangga.


Dean mengenakan celana hitam biasa, dipadukan dengan hem berwarna biru langit yang di tekuk sebatas siku. Tampan sekali, belum lagi rambut coklatnya yang dibiarkan berantakan menambah sisi manly Dean.


"Kita berangkat dulu ya ma" Ijin Vey, meraih telapak tangan Hana, lalu menciumnya.


"Hati-hati ya sayang" Hana mengelus lembut pipi chubby milik Vey, kemudian mengecup singkat kening Vey.


Vey berjalan mengikuti langkah lebar kaki Dean menuju mobil. Sesekali Vey menengadahkan kepalanya, menatap puncak kepala Dean yang terlihat begitu tinggi. Sebetulnya disini Dean yang terlalu tinggi atau Vey yang terlalu pendek?


***


Vey dan Dean sudah berada didalam mobil. Vey mengamati Dean yang sedang memasang safety belt, lebih tepatnya mengamati wajah tampan Dean.


"Kak... Lu makan apa sih? Kok bisa tinggi banget" Cicit Vey, mencoba mencairkan suasana.


Dean hanya melontarkan tatapan dingin, "pasang safety belt nya"


Vey melentangkan safety belt nya di depan dada. "Iyaa deh"


Vey menggigit bibir bagian bawahnya, sungguh rasanya ia tidak bisa terus-terusan berada di situasi canggung begini. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Dean, lelaki itu sudah bagaikan patung hidup.


"Kak, dulu mama Hana nyidam apa sih? Kok lu ganteng banget" Cerocos Vey, namun tidak mendapat respon dari Dean, lelaki itu tetap fokus menyetir.


Vey masih mencoba mengajak Dean mengobrol, walau Vey tau ia akan terkesan sok kenal-sok dekat, tapi Vey tidak mempedulikan hal itu, toh Dean juga akan menjadi suaminya jadi Vey pikir ia tidak perlu jaim.


"Hobi lu apa? nge gym ya? Ya pastilah nge gym, buktinya aja ada abs abs nya gitu" Kekeh Vey. Vey sekarang memang sudah seperti orang gila, dia bicara sendiri dan menjawabnya sendiri.


"Diem" Ketus Dean, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan kota Jakarta yang lumayan macet.


Keadaan mood Dean saat ini sedang buruk, jadi wajar saja kalau dia ketus, bagaimana bisa mood yang akan baik-baik saja, jika ia harus menikahi gadis ABG? Ayolah, Dean membutuhkan wanita untuk dijadikan istri bukan gadis ABG bau kencur yang bisanya cuma menyusahkan dan kalau ada masalah langsung bikin story di medsos.


"Yeee akhirnya lu ngomong" Vey bertepuk tangan, senang. Namun beberapa detik selanjutnya ekspresi wajahnya berubah menjadi kesal karena lagi-lagi Dean tidak menanggapinya, Vey mengerucutkan bibir marunnya, "iya deh, gue diem"


Akhirnya Vey menyerah, dia sudah cukup lelah mengajak si patung hidup itu berbicara. Tapi percayalah Vey akan mencobanya lagi nanti.


"Nih cewek ternyata cerewet, gue kira kalem" Dean melirik sebentar ke arah Vey, gadis itu tengah ngambek dengan tangan bersedekap di depan perut dan wajah yang menghadap ke luar jendela. Ekspresi yang menurut Dean sangat menggemaskan.


Sudah hampir satu jam mereka mengarungi lautan Jakarta yang penuh sesak dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang... yaaa mereka terjebak macet.


Padahal jarak rumah Dean dengan butik cukup dekat, hanya sekitar 4 km. Kalau tidak macet, mungkin mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke butik.


Bosan... ya kata itu cukup menggambarkan bagaimana keadaan Vey saat ini. Vey merasa sangat bosan, Vey memutuskan untuk menyalakan ponselnya lalu ia membuka aplikasi yang sering ia gunakan yaitu instagram. Setidaknya ini mampu sedikit menghilangkan rasa bosannya, mata Vey melotot karena saking terkejutnya, ia mendapatkan 20K notifikasi dari para fans nya.


Tanpa pikir panjang, Vey memilih untuk melakukan siaran langsung. Kebiasaan Vey saat bosan memang begini, dan tak main-main sekitar 32K orang sekarang sedang menonton siaran langsung yang Vey lakukan.


"Halo guys, apa kabar? Maaf ya sekarang gue jarang live IG, akhir-akhir ini aku sibuk hehe, oh God... sumpah deh gue gak boong. Eh tau gak sekarang gue lagi kejebak macet lho....ngeselin banget kan? Huft" Vey menatap layar ponselnya.


"Iya gue sabar kok" Sembari membaca beberapa komentar yang berikan oleh fans nya.


"Haii Palembang" Vey melambaikan tangannya.


"Jadi gue mau ke butik nih" Ucap Vey, menjawab salah satu pertanyaan dari fans nya.


Dean bergidik jijik melihat kelakukan calon istrinya itu, alay.... sangat alay itulah satu kata yang cocok untuk Vey. Vey membalik kamera ponselnya dan mengarahkannya pada Dean, dengan ibu jari dan jari telunjuk yang ia satukan membentuk lambang 'saranghae'.


"Gue ke butik bareng calon suami nih namanya Dean, umurnya 26 tahun hobinya mencintai Vey ckck, dia ganteng banget ya... saranghae oppa"


"Say hello sama fans gue dong kak..." Pinta Vey. Dean hanya menggeleng dan tetap memfokuskan pandangannya ke arah jalanan yang berada didepannya, tanda bahwa ia tidak mau melakukan itu.


Vey berdecih sebal, ia pun kembali membalik kamera ponselnya sehingga kembali menampilkan wajahnya lagi, wajah kesal Vey mendadak berubah menjadi ceria.


"Maklumin aja ya guys, dia tuh emang agak cuek-cuek gimana itu orangnya. Eh btw minggu depan gue nikah loh...dateng yaa, jangan lupa." Ucap Vey sembari menunjukkan cengiran kudanya.


Vey membaca satu persatu komentar para fans nya, kebanyakan dari mereka mengungkapkan perasaan sedih dan kecewa, terutama para kaum adam yang belum bisa menerima gadis idamannya menikah.


Dean yang ikut mendengarkan Vey membaca komentar para fans nya, hanya bisa tertawa dalam hati. Dean merasa seolah-olah menjadi cowok paling beruntung di dunia karena berhasil menikahi Vey, tapi pada kenyataannya? Tidak demikian.


Vey melanjutkan kembali aktivitas membaca komentar-komentar lain dari para fans nya.


"Sekarang dari @Arthaantara23, jadi dedek Vey...bakalan jadi kakak ipar gue?" Vey mengerutkan keningnya tanda dia sedang memikirkan sesuatu.


"Masa sih?" Jawab Vey dengan entengnya seakan dia tidak memikirkan jawabannya sama sekali. Lalu ia kembali membaca komentar dari fans nya yang lain.


Dean terkejut dan sontak langsung mengalihkan pandangannya ke arah Vey sepersekian detik saat Vey membaca komentar dari akun @Arthaantara23. Tak salah lagi, itu adalah akun milik adiknya.


drrt drrt


Ponsel Dean bergetar, ia pun buru-buru membukanya. SHIT! Ternyata itu notifikasi pesan dari Artha.


Adik laknat


Lo tega nikung gue bang!


Tanpa membalas, Dean memasukkan kembali ponselnya kedalam saku baju. Lagi pula Dean juga tidak merasa telah menikung Artha, memang sebelumnya Vey berpacaran dengan Artha? Tidak kan, jadi Dean mencoba untuk tidak mempedulikan hal itu. Dan satu lagi, dari awal ia tidak menginginkan pernikahan ini sama sekali.


Vey buru-buru mengakhiri siaran langsung nya, saat tahu bahwa mobil yang dikendarai Dean telah memasuki area parkir Butik Hana Beauty's, yang tak lain adalah butik milik calon mertuanya.


"Sana" Ucap Dean tiba-tiba, Ya... singkat padat dan tidak jelas.


Vey mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud kalimat Dean, ah... bahkan itu lebih cocok di sebut dengan 'kata' dibanding dengan kalimat. "Sana apa kak?" Jawab Vey polos.


"Turun, gue tunggu disini" Dean melepas safety belt yang melentang di tubuh Vey.


"Gue sendiri?"


Dean mengangguk. "Gue gak mau kak, pokoknya lu harus nemenin gue....kak temenin" Vey merengek layaknya anak 5 tahun meminta es krim pada ibunya. Vey menarik-narik lengang kekar Dean, "temenin... Lu gak mau nemenin, gue gak mau ke butik"


"Ter- se- rah" Jawab Dean santai dengan penekanan di setiap kata yang dia ucapkan, lalu memejamkan mata dan menyadarkan kepalanya di jok mobil.