Dear D

Dear D
19. Nonton konser



Dear D


Entah bodoh atau bagaimana, hingga saat ini aku masih saja mengharapkan kehadiranmu.


"Lo ngapain disini?" Ujar seorang pria bermata sipit pada wanita cantik yang tengah memandangi lukisan-lukisan karya pria tersebut.


Wanita bernama Rena itu sedikit terkejut, kemudian detik selanjutnya ia tersenyum, "cuma mampir, gimana kabar lo?


"Baik," singkat Kris, seraya kembali menutup pintu galeri lukisannya.


Kris menjatuhkan bokongnya di atas sofa berwarna putih, lalu diikuti oleh Rena tanpa disuruh. "Lo kemarin ketemu Vey?"


Andai Rena adalah seorang pria mungkin Kris sudah memukul Rena hingga patah tulang. Namun sayangnya Rena adalah seorang wanita, dan Kris tak ingin mengotori tangannya hanya untuk menyakiti wanita.


Kris tidak mau menjadi pecundang bodoh.


Rena membohongi Kris, ya... Rena berbohong bahwa ia telah mengirim orang suruhan ke Korea untuk menyakiti Vey.


Rena juga mengatakan bahwa Vey pergi berlibur sendiri ke Korea tanpa Dean.


Kris yang sedang dalam kondisi tidak baik, otomatis langsung mempercayai ucapan Rena, dan tanpa pikir panjang Kris langsung menyusul Vey ke Korea.


Dan Kris juga tidak tau, jika Vey sedang honeymoon, ah rasanya raga dan jiwa Kris hancur ketika tau gadis yang sangat ia cintai tengah honeymoon bersama pria lain.


"Maksud lo bohongin gue apa?" Cecer Kris tidak terima.


Rena tertawa melengking, dengan sebelah tangannya membekap mulut. Tidak ada rasa penyesalan yang Rena tunjukkan karena berhasil membohongi seorang seniman terkenal. "Gue cuma pengin lo ngancurin honeymoon mereka."


"Gue gak se-tega itu..." Desis Kris, ia tidak ingin menghancurkan hidup Vey lagi.


"Tapi gue rasa, gue masih ingin memiliki Vey lagi..." Lanjutnya.


***


Vey mengeratkan genggaman tangannya pada tangan kekar milik Dean, lalu menariknya kasar menerobos ratusan bahkan mungkin ribuan orang, "kak ayo cepet!"


Dean hanya mengikuti langkah kecil Vey, sembari meluruskan sebelah tangannya ke depan, seperti membentuk dinding pembatas agar Vey tidak menabrak orang-orang yang ia lewati.


Malam ini mereka akan menonton konser EXO, konser baru akan dimulai pukul 9 waktu Korea, namun Vey sudah sangat tidak sabar, sampai-sampai sekarang mereka sudah berada di depan gerbang masuk, padahal jam masih menunjukkan pukul 7.


"We are Eksohhhh!!!" Teriak Vey sambil menggoncangkan lightstick pemberian mama Hana.


"Lo apaan sih Vey?" Ketus Dean, heran dengan tingkah sang istri.


"Gue gak sabar pengin ketemu Jongin, Chanyeol, Sehun, Xiumin, Baekyun, DO, Chen, Lay... Suamiquhh" Ucap Vey sambil mengedip-kedipkan matanya, bibirnya terbuka, tanda ia sedang berhalu-ria dengan bias-biasnya.


Dean bergidik jijik, "gantengan juga gue."


"Kak lo ikut nonton konsernya kan?"


"Enggak, males." Dean menyumpalkan headset ke telinga, memutar klip musik dari group band legendaris A7X.


"Kak kan tiketnya ada 2, masa lo kagak ikut," protes Vey.


Dean menghela napas, "iya gue ikut."


Vey tertawa senang, "unchh makasih kak Dean."


"Takutnya bocil kayak lo ilang lagi kalo pergi sendirian," ejek Dean dengan menekankan kata bocil.


"Gue bukan bocil lagi, gue udah de la pan be las ta hun" Balas Vey dengan bibir yang dimayunkan.


Kenapa sih Dean selalu menyebut Vey bocil? Padahal kan Vey sudah cukup dewasa.


"Halah bocil ngambek," Dean menoel nakal hidung Vey.


"Bocil gini juga udah bisa bikin bocil!"


Dean tertawa geli mendengar ucapan Vey, "yaudah ayok gue bantu bikin bocil."


"Ihh paan sih!" Vey memukul keras lengan Dean.


"Sakit ****!"


"Bodo!!"


.


.


"Is the love shoot! Nananananana...." Mendengar teriakan Vey dan juga para penonton lainnya, Dean rasanya ingin sekali menjadi batu dijalan.


Agar bisa menyumpal mulut mereka yang sangat menganggu pendengarannya.


Dean tidak mengerti apa yang mereka kagumi dari EKO ehhh maksudnya EXO, yang hanya sekumpulan pria berwajah tampan. Yang menari-nari tidak jelas sambil menyanyi.


Tapi, bagi Dean tetap dialah sendiri yang paling tampan. Sumpah! Tingkat ke pede an Dean kini sudah sampai ujung alam semesta.


Vey berjingkrak penuh semangat, "bang Kai I love youuu."


"Omaygad Yeol!! Saksehh banget! Duh napah lo mirip kak Dean sih," gumam Vey.


Untung mama Hana membelikan tiket konser VVIP, jadi Vey bisa dengan jelas dan dekat melihat bias-biasnya secara langsung.


Ngomong-ngomong Vey lupa selama seminggu ini tidak memberi kabar pada mama Hana, Vey berjanji akan mengabari sang mertua setelah pulang dari konser, semoga saja mama Hana tidak marah.


Konser telah berakhir, dengan wajah sumringah Vey keluar dari gedung konser. Tidak lupa Vey juga menggandeng Dean, takut jika suaminya itu diambil orang, kan repot jika ia harus jadi janda diusia muda.


Sebelum benar-benar keluar dari gedung konser, Vey meminta Dean untuk menemaninya ke toilet.


"Ngrepotin aja sih," sinis Dean. Namun tetap menemani Vey ke toilet, Dean tidak mau nantinya Vey mengompol dijalan.


"Kyaaaaa!!!! Omaygaddd cintahkuhh" Lagi-lagi teriakan Vey membuat Dean hampir tuli.


Dean yang sudah berjalan 2 meter di depan Vey, langsung menoleh kebelakang, mencari tau apa yang menyebabkan sang istri berteriak tak jelas seperti itu.


"Kak Dean sini..." Panggil Vey.


"Paan?"


"Tuh liat," Vey menunjuk sesuatu dengan jemari telunjuknya.


Lalu terperangah, "Ada eksoh..."


Dean menatap ke arah yang Vey tunjukkan, disana nampak 9 orang pria yang tidak Dean tau, menurut Dean wajah mereka semua sama.


Serius!!! Dean menyebut setiap artis pria Korea saja dengan nama "Siwon".


"Ya terus?" Dean menautkan sebelah alisnya.


"Gue mau foto, boleh yaa?" Pinta Vey dengan wajah bagai pengemis yang biasa Dean lihat dipinggiran jalan.


"Yaudah sana, gue tunggu disini." Vey pun langsung berlari menghampiri idolanya, ah dia bahkan tidak peduli dengan beberapa pengawal yang berusaha menghalanginya.


Tak selang lama Vey kembali, tentunya dengan wajah super cerah, ia tidak pernah sebahagia ini sebelumnya.


"Udah fotonya?" Tanya Dean.


"Udah dong, mau liat gak?" Tawar Vey seraya bergelantungan di lengan Dean.


"Ogah, ayo cepet balik... Gue cape," Dean menepis tangan vey lalu mengcepatkan langkah kakinya menuju mobil.


"Kak tungguin!"


.


.


.


"Vey juga kangen mama Hana..." Vey menatap layar ponselnya. Ia sedang melakukan video call dengan mama Hana.


Mertuanya itu sangat cerewet, belum juga apa-apa eh sudah main pesen dibuatin cucu. Dikira membuat anak itu mudah seperti membuat adonan roti mungkin.


Disisi lain terdengar teriakan Dean yang bersumber dari kamar mandi, "woyy Vey ambilin handuk!!! Buruan!"


"Iya ma, udah dulu ya ma... Kak Dean ribut tuh minta di ambilin handuk," titah Vey, terpaksa mengakhiri video call dari mertuanya.


Vey mengetuk pintu kamar mandi, "kak... Ini handuknya."


Tidak ada sautan dari Dean, Vey pun kembali mengetuk pintu kamar mandi, mungkin saja tadi Dean tidak dengar. "Kak De-/..."


Vey tercekat kaget saat tiba-tiba Dean menarik tangannya, membawanya  masuk kedalam kamar mandi yang bernuansa serba putih.


Dean memeluk dari belakang tubuh kecil Vey, dan seperti biasa ia mengendusi leher jenjang milik Vey.


"Kak..." Vey merintih pelan saat Dean tengah membuat tanda kepemilikan di lehernya.


"Diem dulu."


Semakin merasa tidak nyaman. Vey merasa ada yang mengganjal di belakangnya, seperti ada benda kenyal yang menempel di punggungnya.


"Kak lo kenapa sih?" Tanya Vey, dan berhasil menghentikan aksi Dean.


"Gue butuh lo, plis bantu gue." Jawab Dean, dengan nada memohon.


"Bantu apa?"