Dear D

Dear D
Episode 30



"Kau ingin mengintip ku?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya kepada istri nya itu. Nana langsung tersadar akan apa yang ia pikirkan dan menggelengkan kepala nya supaya sadar.


"Aku hanya ingin memberikan ini" ucap Nana dengan menyodorkan baju handuk yang ia kenakan tadi kepada Ryhan. Ryhan menatap benda itu dan setelah itu menatap istri nya yang masih menatap tubuh nya.


"Tubuh nya bagus sekali" guman Nana dengan mengigit bibir bawah nya saat melihat tubuh suami nya itu.


"Sedang melihat apa hem?" tanya Ryhan dan mendekatkan tubuh nya kepada istri nya itu. Nana kembali tersadar akan pikiran nya dan memundurkan tubuh nya, Ryhan terus berjalan mendekat ke arah wanita nya itu dan Nana sedari tadi memundurkan tubuh nya hingga kaki wanita itu menabrak sesuatu dan hampir saja terjatuh dan untung nya Ryhan dengan sigap menangkap pinggang ramping itu sedangkan baju handuk yang di pegang Nana tadi terlempar menutupi wajah wanita itu.


"Astaga jantung ku" guman Nana saat bisa merasakan tangan Ryhan yang memegang pinggang nya. Ryhan membuka baju handuk yang ada di wajah wanita nya itu dan menatap lekat wajah wanita nya itu.


"Astaga tatapan nya" guman Nana saat melihat jelas mata lelaki nya itu.


"Lepaskan" ucap Nana kepada Ryhan, Ryhan pun melepaskan pinggang sang istri dan Nana kembali berdiri tegak seperti semula. Nana langsung berlalu dari sana tapi langkah kaki nya terhenti saat sadar akan handuk Ryhan yang masih dengan nya. Nana pun kembali menatap ke belakang dan langsung melempar handuk itu kepada Ryhan dan setelah itu langsung berlalu dari sana.


"Astaga" guman Nana dan langsung keluar dari rumah itu.


"Hey kau tidak sarapan terlebih dahulu?" teriak Ryhan kepada istri nya itu.


"Tidak" teriak Nana balik, Ryhan tidak menjawab nya dan langsung mengganti baju nya menggunakan seragam sekolah nya sedangkan Nana dia sudah berangkat ke sekolah terlebih dahulu dengan jalan kaki tanpa membawa sepeda nya. Ryhan pun langsung mengambil seragam sekolah nya dan langsung mengenakan seragam itu. Setelah selesai mengenakan seragam nya Ryhan langsung beranjak keluar dari rumah dan dia melihat sepeda Nana masih terparkir rapi di halaman rumah.


"Apa dia berjalan ke sekolah?" guman Ryhan dan mencari keberadaan wanita nya itu tapi dia tidak menemukan nya. Ryhan pun langsung menaiki sepeda dan mengayuh nya hingga menuju ke sekolah milik keluarga nya itu.


Di perusahaan A grup


Tok..tok..tok


Terdengar suara ketukan di luar ruang direktur dan itu menandakan jika ada yang bertamu. Andra langsung melihat siapa yang bertamu dari cctv yang memang ada di pintu itu dan terlihat jika Opia pengawal yang ia suruh untuk menjaga Ryhan dia pun langsung memencet tombol otomatis pembuka pintu ruangan itu dan Opia pun masuk ke dalam ruangan itu. "Ada info apa?" tanya Andra dengan wajah datar nya kepada Opia.


"Tuan muda dan juga nona Delina seperti nya tinggal bersama tuan" ucap Opia yang sudah mengenali Nana begitupun dengan Andra yang juga sudah mengenal Nana semenjak Ryhan berpindah sekolah ke sekolah yang sama dengan Nana dan dia tau akan hal itu.


"Kau yang benar saja?" tanya Andra yang tidak percaya akan itu.


"Iya tuan, Semalam saat anda dan nyonya pulang tuan muda langsung keluar dari pekarangan rumah almarhum nyonya besar dan masuk ke dalam pekarangan rumah nona Delina dan memanggil nona Delina, Nona Delina membuka pintu rumah nya dan tuan Ryhan masuk ke dalam rumah itu dan pagi tadi sebelum saya ke sini saya sudah melihat nona Delina keluar dari rumah begitupun dengan tuan Ryhan yang juga saya lihat dan saya dengar meneriaki nona Delina dari dekat pintu" jelas Opia dengan teliti apa saja yang di lakukan Ryhan dari tadi malam hingga pagi ini.


Andra nampak berpikir akan Ryhan yang tinggal di rumah Nana karna dia tidak tau akan apa yang terjadi kepada mereka berdua. "Kenapa mereka berdua tinggal serumah?" tanya Andra kepada Opia karna dia juga tau akan Rendi yang sudah tiada dan saat Rendi meninggal dunia dia tidak di indonesia tapi saat diri nya kembali ke indonesia dia langsung mengunjungi makam Rendi itu tanpa di ketahui oleh siapapun.


"Saya belum mengetahui nya tuan, Tapi mungkin tuan Ryhan tinggal di rumah nona Delina sudah lama karna seminggu lalu saya juga melihat tuan Ryhan keluar dari rumah nona Delina" jelas Opia lagi kepada Andra. Dahi Andra kembali mengerut mendengar penjelasan itu sungguh dia bingung akan penjelasan Opia bukan karna kurang jelas tapi alasan Ryhan tinggal di rumah Nana yang membuat nya bingung.


"Baiklah kau cari tau kenapa Ryhan dan Delina bisa tinggal bersama jika kau sudah mendapatkan kabar langsung kabari aku" ucap Andra.


"Baik tuan" jawab Opia akan ucapan itu.


"Kau boleh pergi" ucap Andra kepada Opia, Opia mengangguk mengiyakan nya dan setelah itu dia pun langsung berlalu dari sana dan keluar dari ruangan itu.


"Ada hubungan apa mereka ya?" guman Andra.


Di sekolah.


Ryhan sudah sampai dan dia langsung memarkirkan sepeda nya dan setelah itu dia langsung naik ke lantai dua di mana kelas nya terletak, Saat masuk ke dalam kelas dia melihat Nana sedang membaca buku dan wanita itu sama sekali tidak menatap nya. Ryhan berjalan ke arah nya dan berhenti sebentar untuk melihat apa yang di baca oleh wanita nya dan ternyata itu adalah buku belajar, Setelah melihat buku itu Ryhan kembali melanjutkan langkah kaki nya menuju ke belakang sedangkan Nana sama sekali tidak menoleh ataupun memperdulikan lelaki itu.


"Eh itu ada yang naik ke atas gedung" ucap salah satu murid di kelas Nana dan itu terdengar jelas oleh Nana dan juga Weny dan Yura yang baru saja sampai.


"Na kamu harus turun tangan masalah ini" ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelas itu dengan sedikit ngos ngosan.


"Kenapa harus aku?" tanya Nana karna dia takut akan ketinggian.


"Ini tanggung jawab mu" jawab lelaki itu dan kembali berlari pergi dari sana untuk menyelamatkan orang yang ada di gedung atas.


"Shht" umpat Nana dan langsung beranjak berdiri dari duduk nya dan langsung berlari menuju ke atas.


"Na" teriak Yura kepada Nana tapi Nana tidak mendengar nya dan menerus kan larian nya. Ryhan menoleh ke depan dan melihat Yura dan juga Weny sudah berlari keluar dan mata nya kembali teralih ke tempat duduk istri nya yang tidak ada siapapun.


"Ayo" ajak lelaki yang duduk di hadapan Ryhan.


"Mau kemana?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya.


''Ada orang yang mencoba bunuh diri di gedung atas" jawab lelaki itu dan langsung berlalu. Qori baru saja sampai di kelas dan melihat orang sedari tadi berlari ke sana kemari dn membuat nya heran.


"Huh, Aku harus berani" guman Nana dan langsung membuka pintu yang menutup untuk menuju ke atas gedung besar itu.


"Ah tangan ku" guman Nana yang tangan dan kaki nya sudah berair akibat baru saja naik ke atas gedung atas.


"Aisya?" ucap Nana saat melihat orang yang berada di atas gedung dan mencoba membunuh diri adlah Aisya. Aisya menoleh ke arah Nana dengan diri nya yang sudah berdiri tegak di ujung gedung itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" teriak Aisya dengan tangis nya kepada Nana.


"Kau apa yang kau lakukan di sini? turun lah dan kemari" ucap Nana dengan tangan yang gemetaran akibat takut dan tangan itu menyodor kepada Aisya.


"Tidak akan, Lebih baik aku mati dari pada hidup dengan keadaan seperti ini" teriak Aisya dengan tangis yang pecah. Nana berjalan mendekat ke arah Aisya dan mencoba menggapai tangan wanita itu.


"Hey semua masalah pasti ada jalan keluar, Ayo kemari lah" ucap Nana yang sangat takut saat dia bisa melihat ketinggian yang sangat tinggi itu. Aisya kembali menatap ke arah Nana dengan isakan nya dan dia melihat jelas wajah pucat Nana itu.


"Eh kau lihat tidak? Nana berada di atas gedung" ucap salah satu lelaki dan itu terdengar jelas oleh Ryhan dan juga Qori.


"Benarkah? bukankah wanita itu takut akan ketinggian?" tanya lelaki lain.


"Iya..." ucap lelaki satu lagi yang terpotong oleh Weny.


"Qori tolong, Nana di atas gedung bersama dengan Aisya" ucap Weny dengan ngos ngosan saat masuk ke dalam kelas dan melihat Qori terlebih dahulu.


"Apa yang dia lakukan di atas?" tanya Qori dengan menatap wanita itu.


"Nanti saja bertanya, Ayo cepat" ucap Weny, Ryhan yang mendengar itu langsung berlari keluar dari kelas begitupun dengan Qori yang tak mau kalah dan ikut berlari ke luar kelas dan naik ke gedung atas sedangkan banyaknya murid dan guru sudah menunggu di bawah dan ada juga beberapa yang menyusul ke atas tapi mereka lambat dan di dahului oleh Ryhan dan juga Qori.


"Aku tidak mau, Lebih baik aku mati sekarang" ucap Aisya yang ingin meloncat.


"Aisya" teriak salah satu lelaki dan langsung meraih tangan wanita itu dan menarik nya hingga Aisya terjatuh di atas tubuh lelaki itu. Nana menoleh ke samping dan melihat Aisya sudah selamat dan senyum nya mengembang melihat itu.


Nana menatap ke depan dan melihat pandangan nya gelap dan sedikit buram, Nana menutup mata nya dan kembali membuka supaya penglihatan nya kembali sempurna tapi sama sekali tidak berpengaruh sedikit pun, Kepala pusing dan tatapan yang buram, Tangan wanita itu nampak memegang kepala nya dan sedari tadi mencoba seimbang tapi hasil nya tidak ada, Nana langsung tak sadarkan diri.