Dear D

Dear D
Episode 74



Brakk


"Ah" Akibat Ryhan yang menendangkan kaki tadi dan tendangan itu terkena Nana yang berada di bawah. Ryhan yang mendengar suara pun langsung membuka wajah nya yang tertutup boneka dan sontak langsung duduk.


"Del?" ucap nya dengan wajah bingung saat melihat istri nya yang mengeluarkan suara tadi.


"Ah" Nana berusaha bangkit dari duduk nya tersebut.


Ryhan langsung berdiri dan langsung membungkuk dan membantu wanita nya untuk berdiri kembali. "Kenapa kau bisa jatuh?" tanya Ryhan dengan tangan yang memegang pergelangan tangan istri nya dan juga punggung. Nana belum menjawab nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi sedangkan Ryhan duduk di hadapan nya di atas ranjang.


"Kau yang kenapa menendang nendang tidak jelas seperti tadi?" tanya balik Nana dengan nada sedikit meninggi dengan tangan yang memegang perut nya.


"Kau kenapa di dekat kaki ku?" tanya balik Ryhan yang tidak mau mengalah untuk saling menyalahkan.


"Mengambil ponsel" jawab Nana dengan wajah kesal nya dan memegang perut nya.


"Perut mu yang aku tendang tadi?" tanya Ryhan dengan memegang tangan yang berada di perut itu.


"Em" Nana mengangguk mengiyakan pertanyaan Ryhan tanpa sadar akan tangan Ryhan di atas tangan nya.


"Sakit?" tanya Ryhan dengan wajah hawatir nya.


"Sedikit" jawab Nana dengan wajah kesakitan nya.


"Ke rumah sakit saja jika memang sakit" ajak Ryhan.


"Tidak usah, Ini akan hilang dengan sendiri nya nanti" tolak Nana dan menunduk. Dia menjangkau ponsel nya yang tergeletak di atas lantai dan langsung mematikan nya takut jika Ryhan tau apa yang di lakukan nya tadi dan setelah itu langsung meletakkan ponsel nya itu di atas meja belajar nya.


Ryhan berdiri dari duduk nya di atas ranjang. "Kau istirahat saja" ucap Ryhan dengan membantu wanita itu untuk duduk di atas ranjang. Nana tidak menjawab nya dan mengistirahatkan tubuh nya di atas ranjang kamar nya.


"Rambutmu sedikit kotor" Ryhan membersihkan debu yang melekat di rambut wanita nya akibat kamar belum di bersihkan dari kemarin.


"Dia memang selalu memperhatikan ku meskipun tentang hal kecil dia tetap memperhatikan nya" guman Nana dengan tersenyum lebar menatap lekat wajah suami nya.


"Jatuh cinta untuk pertama kali nya dengan orang selalu ada untuk ku, Itu tidak apa bukan? Apa aku tulus? Apa aku hanya mencintai nya karna ketampanan atau karna amanah kak Rendi yang menyuruhnya menjaga ku?"


Wanita itu terdiam dan menatap lekat wajah lelaki yang sedang membereskan rambut nya. "Dia tidak terlalu tampan, Aku? Kenapa aku bisa mencintai nya? Apa karna dia kaya?. Ah tidak keluarga nya saja aku tidak tau kaya atau tidak bagaimana bisa aku mencintai nya karna kekayaan nya?. Apa karna dia tampan?." Mata wanita itu beralih ke depan dan menatap poto semasa kecil nya bersama dengan lelaki siapa lagi jika bukan Ryhan.


"Dia kecil tidak terlalu tampan" Nana langsung menatap ke Ryhan dewasa.


"Saat besar dia sangat tampan, Apa benar aku mencintai nya karna dia tampan? Jika benar kenapa tidak dari dahulu? Akukan tumbuh bersama nya kenapa aku baru mencintai nya saat ini?"


"Apa yang kau lihat?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya dan itu menyadarkan Nana akan lamunan nya. Nana langsung mengalihkan pandang nya dari Ryhan dan menatap ke sembarang arah.


"Membosankan di kamar" ucap Nana yang tidak betah sedari malam tadi hanya di kamar dan kekuar hanya menemui Yura dan Weny yang berkunjung hanya beberapa menit. Ryhan menatap lekat wajah wanita yang tidak menatap nya.


"Ke luar?" Ryhan mengangguk mengiyakan nya.


"Kemana?" tanya Nana.


"Belajar di taman atau di cafe?" tanya Ryhan.


Nana diam dan menatap lekat wajah lelaki nya yang nampak tulus mengajak nya. "Di taman seperti nya bagus, Aku sudah biasa melihat cafe" jawab Nana.


"Kau kan bekerja di cafe bodoh" ucap Ryhan dengan wajah datar nya.


Nana memasang wajah datar nya. "Kau kuat untuk bergerak? Jika kuat ayo jika tidak, Kita tidak jadi pergi" ucap Ryhan.


"Aku kuat" Nana beranjak bangkit dari baring nya dan tersenyum menatap Ryhan.


"Aku akan menyiapkan buku apa saja yang harus di pelajari" ucap Ryhan. Nana mengangguk mengiyakan nya dan memilih untuk berdiri dari duduk nya dan memperhatikan Ryhan yang tengah mencari buku apa saja yang harus di bawa oleh nya. Mata Nana melihat ke luar dan di lihat nya rumah Ryhan cukup tinggi.


"Di atap rumah mu seperti nya pemandangan indah" ucap Nana.


"Dari mana kau tau?" tanya Ryhan yang masih membungkuk mencari buku.


"Aku kan sering masuk ke dalam kamar mu, Aku lihat dari sana sudah bisa melihat separuh perumahan di sini dan itu nampak indah dan pasti di atap rumah lebih indah, Kita belajar di situ saja?" tawar Nana.


Ryhan kembali berdiri seperti semula dan menatap lekat wajah wanita itu. "Kau tidak ingat jika kau itu takut dengan ketinggian?" tanya Ryhan.


"Kita tidak di sudut melainkan di tengah" jawab Nana.


"Tapi tetap saja kau takut dengan ketinggian" ucap Ryhan.


"Tidak, Aku sudah berani, Bermalaman di atas juga tidak apa" jawab Nana dengan percaya diri nya. Ryhan menatap bingung akan wanita itu dan tidak percaya akan ucapan yang keluar dari mulut nya.


"Kau yakin? Jika kau menyusahkan nanti....."


"Kau tinggalkan saja aku jika aku menyusahkan mu nanti, Aku berjanji tidak akan menyusahkan mu" Nana memotong ucapan Ryhan yang belum sampai ke ujung dan mengangkat tangan nya menandakan dia berjanji. Ryhan menatap datar wanita itu dan belum menjawab ucapan nya.


"Aku berjanji" Nana berusaha meyakinkan lelaki itu atas janji nya.


"Aku tidak memerlukan janji, Aku memerlukan bukti jika memang nanti kau tidak akan menyusahkan, Ayo" Ryhan berjalan keluar terlebih dahulu dari kamar itu. Nana tersenyum lebar dan mengikuti lelaki itu dari belakang.


Kedua nya berjalan keluar rumah dan setelah itu berjalan keluar pekarangan rumah dan mendekat ke pekarangan rumah Ryhan. Ryhan membuka kunci pagar dan membuka pintu untuk diri nya dan juga istri nya. Nana dengan senang hati melangkahkan kaki masuk ke dalam pekarangan rumah itu dan berhenti sejenak untuk menunggu suami nya. Saat Ryhan sudah menutup pagar mereka kembali melanjutkan langkah kaki mereka masuk ke dalam rumah dan menaiki anak tangga karna di rumah itu tidak menggunakan lift makanya ingin ke atas menaiki tangga.


"Sudah lama tidak melihat isi rumah nenek" ucap Nana. Ryhan menatap ke samping seperti menatap wanita itu dan tersenyum lebar mendengarkan nya dan terus saja melangkahkan kaki nya menaiki anak tangga.


"Berapa tingkat rumah nenek ini Ryhan?" tanya Nana yang baru saja menginjakkan kaki di lantai dua dan sudah kelelahan.