
"Ah sudahlah tidak usah di jelaskan yang jelas kita akan ke apartemen siang ini" ucap Ryhan yang hendak mengayuh sepeda tapi suara Nana menghentikan nya.
"Ke apartemen siapa?" tanya Nana yanh membuat Ryhan mengurungkan niat nya untuk mengayuh kembali sepeda nya.
"Apartemen siapa?" tanya balik Ryhan yang nampak kebingungan ingin menjawab apa.
"Em" Nana mengangguk mengiyakan pertanyaan balik dari suami nya tersebut.
"Em, Apartemen yang dahulu nenek tempati sebelum aku tinggal bersama nya" jawab Ryhan berbohong.
"Tapikan nenek sudah tinggal sejak lama di sana dan kau..."
"Maksud nya sebelum aku tinggal bersama dengan mereka aku tinggal di apartemen bersama kak Ferisa dan sekarang apartemen itu sudah tidak di huni, Sudahlah" Ryhan langsung memotong pertanyaan yang takut nanti nya tidak akan bisa di jawab oleh nya dan setelah itu langsung mengayuh kembali sepeda nya dengan kencang dan mengeluarkan tenaga banyak hingga sampai ke apartemen.
"Huh, Huh" Ryhan langsung turun dari sepeda dan nampak dia berkeringat sangat banyak akibat kayak yang cukup jauh dari apartemen dan tempat nya tadi. Nana ikut turun dari sepeda.
"Makanya jangan memaksa jika tidak kuat" ucap Nana dan menghapus keringat yang membasahi wajah suami nya menggunakan tangan nya.
Deg
Lelaki itu terdiam membatu tepat di hadapan wanita nya. Jantung yang berdetak jauh lebih cepat dari biasa nya, Wajah yang sedikit memerah tapi tidak di ketahui oleh Nana. Nana belum sadar akan Ryhan yang nampak gugup di hadapan nya dan terus saja mengusap dahi lelaki itu hingga seluruh keringat yang bercucuran tadi hilang. Nana baru sadar akan apa yang di lakukan nya saat melihat Ryhan menatap tajam ke arah nya.
Tangan wanita itu langsung turun dari dahi nya. "M-maaf" ucap Nana dan sedikit menjauhkan tubuh nya dari Ryhan. Ryhan langsung menggelengkan kepala nya dan kembali seperti semula.
"Ayo" Ryhan menarik tangan wnita itu dan dengan cepat dia langsung berjalan masuk ke dalam apartemen dan menaiki lift. Dia memencet tombol denah apartemen nya hingga lift membawa kedua nya naik ke atas.
"Kenapa aku merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini?" guman Ryhan dan memegang dada nya.
"Jantung tenanglah jangan senam saat saat seperti ini" guman nya kembali dan menarik dan setelah itu membuang nafas dengan perlahan.
"Dada mu sesak?" tanya Nana dengan wajah polos nya menatap Ryhan. Ryhan yang mendengar itu langsung menatap ke arah nya dengan tatapan bingung.
"Hah?" tanya nya.
"Dada mu sesak?" tanya Nana kembali dengan memegang dada yang di tutupi tangan Ryhan.
"Ah tuhan" guman Ryhan saat tangan Nana menyentuh tangan nya.
"T-tidak" Ryhan menjauh dan melepaskan tangan nya hingga tangan Nana juga ikut terlepas.
Ting.
Lift berhenti. Kedua orang itu langsung keluar dan Ryhan langsung berjalan mendahului Nana dan berhenti tepat di depan salah satu apartemen di lantai paling atas. Ryhan mengambil dompet nya yang ada di dalam tas dan mengambil kartu. Dia langsung membukakan apartemen nya menggunakan kartu tersebut hingga apartemen nya terbuka.
Apartemen yang nampak berdebu akibat sudah lama tidak di huni dan tidak di bersihkan. Barang barang yang nampak tidak asing di mata nya tapi dia tidak tau itu barang barang apa. "Sedikit kotor, Aku akan memanggil orang untuk membersihkan nya" ucap Ryhan yang hendak menghubungi seseorang tapi dengan segera Nana menarik tangan lelaki itu hingga Ryhan tidak jadi menelpon.
"Biar aku saja yang membersihkan nya" ucap Nana.
"Memang nya kau mau? Ah bukan maksud ku memangnya kau kuat dan tidak apa apa?" tanya Ryhan. Dia tidak mau wanita nya kelelahan makanya bertanya seperti itu.
"Iya tidak apa" jawab Nana dan mulai membereskan apa yang harus di bereskan. Dia melepaskan tas dan juga almamater nya dan meletakkan nya di atas ranjang dan mulai mengambil alat alat untuk membersihkan Ryhan.
Satu jam berlalu akhirnya dia selesai membereskan apartemen dengan di bantu oleh Ryhan. "Hah, Cukup melelahkan" ucap Nana yang langsung menghempaskan tubuh nya di atas sofa.
Ryhan menoleh ke arah nya dan nampak Nana kelelahan. "Bawakan pakaian untukku dan juga Delina ke apartemen" ucap Ryhan dengan nada rendah kepada seseorang di sebrang telpon dan langsung mematikan ponsel nya setelah itu dia berjalan ke arah Nana dengan membawakan minuman.
"Jangan menunggu untuk di suruh minum baru kau mau minum" ucap Ryhan dan mengambil satu gelas air dan meminum nya. Nana tidak menjawab nya akibat kelelahan dia langsung mengambil gelas tersebut dan dengan cepat dia menghabiskan air di dalam nya.
"Kau benar benar kehausan?" tanya Ryhan dengan wajah bingung nya.
"Cukup kehausan" jawab Nana dan meletakkan kembali gelas di tempat nya. Tubuh wanita itu langsung membalik akibat tadi saat membersihkan jendela dia melihat pemandangan cukup bagus di bawah.
"Wah, Kau dari kecil sudah tinggal di sini?" tanya Nana yang kagum akan keindahakan kota dari atas.
"Hem" jawab Ryhan tanpa menatap ke arah wanita itu.
"Ini lantai berapa?" tanya Nana.
"Lantai 35" jawab Ryhan.
"Pantas saja bisa melihat seluruh nya dari atas" ucap Nana.
"Kau menyukai nya?" tanya Ryhan.
"Hem, Aku tidak pernah melihat kota dari atas gedung setinggi ini, Apa aku bisa menemukan ibu dari sini?" tanya Nana dengan membalikkan tubuh nya menatap lekat wajah Ryhan.
Ryhan terdiam saat mendengar pertanyaan wanita itu dan menatap wajah yang malah tersenyum melihat nya. "Kau merindukan ibu mu?" tanya Ryhan.
"Entahlah apa aku merindukan nya atau hanya penasaran dengan nya aku tidak tau itu" jawab Nana dan kembali membalikkan tubuh nya menatap banyak nya gendung gendung dari apartemen Ryhan.
"Jika pun benar ibuku masih hidup apa dia ingat dengan ku? Dengan ayah dan kakak saja dia tidak ingat apa lagi dengan ku yang tidak tau bagaimana bentuk nya. Poto saja tidak di tinggalkan oleh ayah untukku melihat nya, Apa ibu bahagia jika dia bertemu ayah di syurga atau ibu sudah bahagia dengan keluarga baru nya di dunia?" tanya Nana.
"Tidak berharap akan ibu masih ada tapi sedikit mau bertemu dengan nya, Bagaimana wajah ibu? Apa dia mirip dengan ku atau tidak? Apa kau mengenali ibuku?" tanya Nana dengan menatap lekat wajah Ryhan.
"Untuk apa mengenali wanita yang sudah menyakiti mu? Jika bukan karna dia meninggalkan kalian mungkin ayah mu masih ada hingga saat ini begitupun dengan kak Rendi" guman Ryhan dengan wajah dan hati yang kesal.