
"T-tidak ma" jawab Devan dari balik selimut.
"Jika tidak ayo buka selimut nya" ucap Nana kembali dengan nada bicara sangat lembut. Devan yang awal nya takut menyingkap perlahan selimut yang membalut seluruh tubuh nya. Mata nya pertama kali melihat ibu nya yang tersenyum lebar menatap nya.
"Nah jika seperti ini mama bisa melihat apakah kau takut terhadap mama atau tidak" ucap Nana dengan senyum nya dan membaringkan tubuh nya di atas ranjang itu.
"Geser sedikit nanti jika papa pulang dia akan langsung berbaring di samping mu" ucap Nana dengan senyum nya kembali dan menggeserkan tubuh nya sedikit ke tepi dan anak nya di tengah.
"Tapi mamakan tidak pernah mengizinkan papa tidur bersama" ucap Devan yang masih mengira papa yang di katakan oleh Nana itu adalah Febri.
"Tidak, Mama tidak pernah seperti itu, Mama selalu mengizinkan papa tidur bersama kita" jawab Nana yang malah mengira Devan mengatakan Ryhan.
"Tapi kenapa aku tidak pernah merasa tidur bersama bertiga dengan papa?" tanya Devan dengan wajah bingung nya menatap Nana.
"Itu karna papa belum kembali dan....."
"Bolehkah aku mencium nya juga?"
"Silahkan sayang"
"Istirahatlah dengan tenang dan tidur dengan nyenyak"
Pemakaman beberapa tahun lalu yang di saksikan nya secara nyata membuat wanita itu terdiam saat waktu pemakaman itu teringat di benak nya. Mencium suami nya yang di kira nya adalah orang lain saat itu membuat mata yang memhulat meneteskan air mata, Tanpa berkedip sedikitpun mata itu terus meneteskan air menandakan jika wanita itu sedang tidak baik baik saja hati nya. "Mama kau kenapa menangis?" tanya Devan dengan tangan yang menghapus air mata yang menetes di wajah ibu nya itu.
"Sayang, Papamu....." Dada yang sesak saat hendak mengatakan dan mengingat kenyataan yang terjadi membuat ucapan wanita itu terpotong, Tangan yang langsung memegang dada yang sedikit sesak membuat mata itu terpejam dan air mata malah mengalir dengan sangat deras di wajah cantik nya.
"Mama" panggil Devan saat melihat air mata yang terus terusan mengalir di wajah ibu nya tanpa ibu nya bersuara sedikitpun.
Devan yang hawatir langsung turun dari ranjang itu. Dia membukakan kembali pintu yang sudah di kunci oleh ibu nya dan mendekat ke arah tangga. "Paman pasti masih ada di bawah" ucap Devan dan berlari ke bawah.
"Paman, Paman" teriak Devan dengan kaki yang melangkah perlahan menuruni anak tangga.
Anggi, Bi Ana dan juga pak Beny yang sama sekali tidak meninggalkan rumah itu menoleh ke arah tangga dan terlihat Devan turun dengan berlari tergesa gesa. "Paman" teriak Devan kembali.
Anggi langsung berdiri dari duduk nya dan berlari mendekat ke arah keponakan nya dan langsung menangkap nya agar tidak terjatuh. "Sayang kenapa kau berlari? Kau tidak tau jika berlari di tangga sangat berbahaya?" tanya Anggi. Bi Ana dan juga pak Beny ikut berdiri dan mendekat ke arah Devan.
"Paman, Mama di atas menangis, Saat dia mengatakan papa akan kembali dia langsung menangis dan memegang dada nya, Tolong mama paman" ucap Devan yang sangat menghawatirkan ibu nya.
"Hah?" Anggi nampak terkejut mendengar ucapan Devan.
"Tuan...." bi Ana yang hendak berbicara langsung terpotong saat Anggi sudah langsung berlari naik ke lantai atas.
"Tuhan dia sudah berjanji kepada ku untuk menemaniku dan tidak akan meninggalkan ku, Dia baik baik saja, Hikssss" kepala yang langsung menunduk akibat hati yang sakit dan tidak terima akan suami nya yang sudah tiada.
"Ryhan baik baik saja, Dia tidak meninggalkan ku dan Devan" ucap nya yang terus saja terisak dengan wajaha yang berada di lutut nya.
"Nana" panggil Anggi. Nana langsung menoleh ke arah suara sangat berharap yang memanggil nya adalah suami nya namun harapan nya hancur saat melihat yang datang adalah kakak nya dan dua pekerja rumah nya.
Anggi yang tidak mendapatkan jawaban ataupun mendengar isakan dari Nana perlahan melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kamar itu. Mata yang berbinar dan belum menumpahkan air mata yang seharusnya di keluarkan menatap kakak nya yang berjalan mendekat ke arah nya.
"Rumah tidak di kunci?" ucap Andra yang datang bersama anak nya Ferisa dan tidak mengizinkan Merri untuk ikut namun Merri yang keras kepala mengikuti mereka diam diam.
Kaki lelaki paruh baya itu perlahan melangkah masuk ke dalam dan tidak menemukan siapapun di dalam saat membuka pintu awal.
"Sayang..."
"Hikssss kakak" wanita itu langsung menangis histeris dan memeluk Anggi dengan sangat erat hingga membuat Devan yang ada di gendongan Anggi saat ini berada di antara ibu nya dan juga paman nya.
"Iya kakak di sini sayang" ucap Anggi dengan mengusap kepala adik nya dan menurunkan Devan.
"Ryhan tidak benar benar meninggalkan ku kan kak? Aku saat ini sedang tidak sehat makanya pikiran ku kemana mana, Aku hanya sedikit merindukan nya makanya aku terus terusan memikirkan nya, Dia baik baik saja kan kak?" tanya Nana dengan tangis yang semakin kencang dan pelukan yang semakin mengerat kepada Anggi.
"Ada suara di atas" ucap Andra dan langsung menaiki anak tangga naik ke atas.
"Nana" ucap Andra saat melihat Nana yang terisak di pelukan Anggi.
"Salah Nana apa kak sampai semua orang meninggalkan Nana? Mereka yang meninggalkan Nana sudah berjanji akan bersama Nana sendiri tapi kenyataan nya...... Hiksss" Nana kembali terisak, Pelukan yang semakin mengerat dan genggaman tangan yang semakin kuat kepada Anggi.
Anggi yang mendengar jeritan tangis itu memejamkan mata nya, Tidak tau ingin berbuat apa dalan kesedihan adik nya. Kesedihan yang bisa di rasakan oleh orang yang mendengar ucapan dan isakan wanita itu. Hati yang sakit dan dada yang sesak saat mendengar adik nya menangis membuat Anggi berusaha agar tidak ikut menangis untuk menenangkan nya.
"Mama Devan ada di sini, Devan tidak meninggalkan mama" ucap Devan saat mendengar ucapan ibu nya membuat tangisan Nana terhenti dan melonggarkan pelukan nya dan menatap anak nya.
Nana terdiam, Termenung menatap anak bayi yang di rawat nya saat suami nya masih ada saat ini sudah tumbuh besar. "Ini salah mama membuatmu tidak dapat bertemu papa" ucap Nana dan langsung memeluk anak kecil nya itu.
"Tapi papakan ada di rumah nya ma, Devan tumbuh besar bersama dengan nya" jawab Devan yang masih belum mengetahui siapa ayah nya yang sebenarnya.
"Kau masih mengira jika pak Febri adalah papa mu sayang?" tanya Nana dengan mengusap pipi anak nya tersebut.
"Dia memang papa Devan kan?" tanya balik Devan kepada ibu nya tersebut.