Dear D

Dear D
Episode 152



"Ayo, Dokter sudah sampai" ajak Nana dan mematikan keran air dengan bekas makanan yang masih berserakan. Nana membawa suami nya tersebut keluar menuju ke dekat ruang utama sedangkan Ryhan dia hanya diam saja dan mengikuti istri nya tersebut.


Nana mendudukkan tubuh suami nya di samping dokter yang sudah siap memeriksa sedangkan dia baru sadar akan suami nya yang bertelanjang dada dan untung nya yang memeriksa adalah dokter lelaki bukan perempuan. "Agar tidak menggelembung oleskan saja ini, Jika masih panas tidak apa apa di siram menggunakan air biasa, Ini tidak terlalu parah" ucap dokter dengan menyodorkan obat oles kepada Nana.


"Ini benar benar tidak terlalu parah?" tanya Nana yang belum terlalu yakin.


"Iya ibu ini tidak terlalu parah, Untung anda meletakkan tangan ini ke air sebelum obat datang" jawab dokter dengan senyum nya.


"Baiklah, Terima kasih banyak" ucap Nana yang nampak cukup lega mendengar jawaban dari dokter yang ada di hadapan nya saat ini.


"Jika begitu saya permisi" pamit dokter dan mengemasi barang barang nya. Nana berdiri dari duduk nya dengan menganggukkan kepala dan mengantarkan dokter tadi hingga pintu.


"Sekali lagi terima kasih dok" ucap Nana.


"Sama sama, Saya permisi" pamit dokter itu lagi dan langsung berlalu dari sana.


Nana masuk kembali ke dalam apartemen dan mengunci pintu nya. Nana membuang nafas panjang akibat lega akan suami nya yang tidak apa apa. Dia menatap ke arah suami nya dan terlihat lelaki itu tengah berusaha mengoleskan obat ke tangan yang masih memerah itu. "Eh" Nana langsung berlari dan langsung duduk di samping suami nya.


"Kau ini sok mandiri" ketus Nana dan mengambil alih obat oles tadi.


Nana mengambil tisyu terlebih dahulu untuk mengeringkan tangan yang masih basah itu. Setelah kering dia mulai mengobati tangan itu dengan perlahan dan sangat hati hati, Dengan sangat lembut dia mengusapkan nya hingga Ryhan tidak merasa sakit sedikit pun dan nyaman akan usapan tersebut.


Sesambil dia mengoleskan obat oles tadi Nana juga meniup nya hingga Ryhan yang merasa tidak sakit lagi menatap lekat wajah wanita yang sedang mengobati nya itu. Kepala lelaki itu langsung maju dan tangan sebelah nya lagi langsung menarik kepala istri nya.


Ryhan mencium dalam pucuk kepala istri tercinta nya itu dengan mata yang terpejam. Nana yang sedang mengobati nya langsung terdiam dan menghentikan tangan nya yang sedang mengoles saat mendapatkan ciuman di pucuk kepala oleh suami nya."Aku benar benar mencintai mu, Aku tidak mau kehilangan mu, Sungguh" guman Ryhan dengan bibir yang masih menempel di kepala istri nya dan mata yang masih terpejam.


"Ryhan kau kenapa?" tanya Nana dengan nada lembut saat suami nya yang masih bbelum melepaskan ciuman nya.


Ryhan langsung menatap istri nya tersebut dengan tangan yang masih memegang kepala istri nya tersebut. "Aku tidak apa apa" jawab Ryhan dengan senyum yang mengembang tulus di bibir nya.


Nana masih diam dan tidak mengeluarkan ekpresi apapun saat mendengar jawaban tersebut. Ryhan yang melihat istri nya hanya diam mencium dahi nya pula dengan tangan nya yang sudah baik baik saja dan tidak sepanas tadi yang memegang kepala berlawanan hingga kedua tangan nya memegang kepala istri nya.


Ryhan terus saja menghujani dahi itu dengan ciuman bertubi tubi dengan sedikit mengeluarkan bunyi. "Aku menyayangi mu" ucap nya dan kembali mencium dahi itu.


"Sudah sudah, Penuh dengan air liur mu dahi ku" ketus Nana saat sudah beberapa puluh kali Ryhan mencium dahi nya. Ryhan yang geram akibat gemas dengan wajah wanita yang sedang berada di hadapan nya langsung mencium bibir milik Nana.


Nana yang menyadari hal itu langsung melepaskan ciuman nya dan menatap tajam ke arah suami nya itu. "Kau ini masih sakit, Berani nya kau macam macam" ketus Nana dan mengancing kembali kancing baju yang terbuka.


"Hanya kulit luar saja yang panas dan itu tadi, Sekarang sudah sembuh. Bolehkan aku meminta nya?" tanya Ryhan yang mengeluarkan wajah memelas nya berharap istri nya itu memberikan kemauan nya.


"Kau ini masih sakit, Ayo kita kembali ke dalam dan kau istirahat" ajak Nana. Ryhan menarik tangan yang memegang tangan nya itu dan kembali melanjutkan aksi nya yang sempat tertunda.


Mencium bagian leher yang paling membuat istri nya itu lemah itulah yang di lakukan nya saat ini. Nana yang tidak terima berusaha mengangkat tubuh kekar itu untuk menjauh dari nya tapi malah tangan Ryhan langsung menggenggam tangan nya dan mengunci nya hingga beberapa saat permainan Ryhan yang tidak bisa di tolak oleh tubuh Nana membuat kedua nya menghabiskan waktu sore itu dengan bercinta.


"Bagaimana dengan tangan mu?" tanya Nana yang baru saja selesai mandi begitupun dengan Ryhan dan kedua nya masih sama sama menggunakan handuk tapi berbeda tipe.


"Sudah lebih baik, Kau tidak perlu hawatir" jawab Ryhan dengan mencium pucuk kepala istri nya kkembali.


"Aku masak sebentar, Kasihan kau dari siang tadi tidak makan" ucap Nana dan berlalu kekuar dari kamar menuju ke dapur untuk memasak makan malam sekaligus makan siang.


Ryhan memilih mengganti handuk yang melingkar di pinggang nya dengan menggunakan baju handuk dan setelah itu keluar dari kamar mengikuti istri nya. Nana nampak membersihkan bekas makanan yang tumpah tadi. "Biar aku saja yang membersihkan nya" ucap Ryhan yang hendak mengambil alih pel dari tangan istri nya.


"Tidak usah, Kau duduk saja tunggu makanan masak" jawab Nana dengan senyum nya.


Memiliki sifat dan kepribadian yang tidak memaksa kehendak orang lain membuat kedua nya hanya memerlukan satu jawaban dan tidak perlu bujuk membujuk, Jika di bilang tidak ya tidak dan tidak akan di tentang jawaban tersebut begitupun dengan sebalik nya di tambah kedua nya saling mengerti satu sama lain.


Nana meletakkan pel tadi ke pinggir dan menyiapkan makanan yang sudah masak untuk suami nya. "Aku menemukan saos yang kau sembunyikan" ucao Nana dengan membuka pintu lemari yang di kunci dan mengambil saos dan menunjukkan nya kepada Ryhan dengan wajah sombong nya dia kembali berdiri dan mendudukkan tubuh nya di hadapan suami nya.


"Hah? Bagaimana bisa kau menemukan nya?" tanya Ryhan yang nampak bingung dengan tatapan tajam menatap istri nya yang dapat mengambil saos yang sudah di sembunyikan nya di dalam lemari dan kunci lemari sudah ia sembunyikan menurut nya.


.


.


.


.


.