Dear D

Dear D
Episode 139



"Yasudah apa saja yang bisa di makan" jawab Nana yang nampak pasrah dengan menu apapun yang di buat oleh suami nya nanti.


"Eh tapi biar aku saja yang memasak" ucap Nana dengan senyum nya menatap suami nya yang hendak berdiri itu.


"Jangan, Kau duduk saja" jawab Ryhan dan kembali melanjutkan niat nya berdiri dan hendak memasak.


"Baik" Nana nampak pasrah dia tidak berminat lagi untuk memaksa kehendak suami nya dan memilih duduk diam di tempat nya dan menatap ke luar jendela dari dapur apartemen.


"Aku tidak pernah melihat pemandangan dari apartemen selama tinggal di apartemen" ucap Nana sambil melangkahkan kaki nya mendekat ke jendela dapur untuk melihat pemandangan lebih indah.


"Jangan membuka jendela nya" ucap Ryhan dengan mata yang sekejap menatap istri nya dan setelah itu kembali pokus ke makanan.


Nana tidak menjawab nya dan menatap ke luar, Pemandangan indah yang selalu ingin di lihat nya tapi dia takut ketinggian. Nana yang penasaran menatap ke bawah langsung membuka jendela. "Mengerikan sekali" ucap Nana saat melihat ke bawah yang sangat tinggi.


"Sudah aku bilang jangan membuka nya" ketus Ryhan dan mematikan kompor dan meletakkan makanan ke atas meja makan. Ryhan langsung berjalan mendekat ke arah istri nya dan menutupkan mata istri nya menggunakan telapak tangan nya dan kembali menutup jendela yang di buka oleh istri nya.


"Degil kau ini, Sudah di bilang tidak usah membuka masih saja berminat untuk membuka, Sudah tau takut ketinggian masih saja tidak menurut" ketus Ryhan dan membawa istri nya itu mundur dari jendela dan mendudukkan tubuh istri nya di atas kursi yang sama kembali.


Ryhan mendekatkan kursi nya ke kursi istri nya dan memegang tangan istri nya. Tangan istri nya berair akibat takut dengan tinggian. Ryhan langsung mengusap dan menggenggam tangan itu hingga air yang keluar dari nya kering. "Makanya jika orang berbicara dengar, Hampir saja kau terjun dari lantai dua belas" ketus Ryhan dengan kesal nya akan istri nya hampir bunuh diri.


"Aku kan penasaran" jawab Nana dengan bibir manyun nya terhadap suami nya yang sedari tadi mengomel.


"Makan, Jangan berani lagi kau membuka jendela manapun kecuali jendela menuju balkon" ucap Ryhan dan melototkan mata nya menatap istri nya yang nampak menatap nya.


Nana mengeluarkan raut wajah mengejek suami nya yang nampak tidak menatap nya lagi dan menyiapkan makanan untuk nya itu. "Ini makan, Tidak usah mengejekku, Wajah mu yang seperti itu sangatlah jelek" ucap Ryhan dengan menyodorkan makanan yang ada di piring kepada suami nya.


"Shit" umpat Nana dan mengambil piring yang di berikan suami nya dan mencicipi makanan yang di buat oleh suami nya. Ryhan yang melihat istri nya mulai makan pun ikut mencoba masakan nya dengan lahap dia memakan makanan nya tersebut.


Nana nampak memelankan kunyahan nya, Merasa aneh akan masakan yang di makan nya saat ini membuat nya langsung berdiri dan berlari menuju ke tong sampah. Nana langsung mengeluarkan seluruh makanan yang ada di mulut nya hingga hal tersebut membuat Ryhan ikut berdiri dan mendekat ke arah istri nya.


"Kau kenapa?" tanya Ryhan dengan mengusap punggung istri nya. Nana kembali tegak seperti semula dan menuju ke dekat temat cuci piring dan membersihkan mulut nya.


"Masakan mu tidak enak" ucap Nana dan setelah itu membersihkan mulut nya yang basah itu.


"Hah? Tidak enak?" tanya Ryhan yang nampak bingung.


"Em, Sangat tidak enak, Aku tidak mau makan itu" jawab Nana dan menuju ke kulkas mencari makanan apa yang ingin ia makan.


"Spageti seperti nya enak" ucap Nana dan mengambil spageti yang belum di masak yang ia beli tadi.


"Kau belum makan nasi" ucap Ryhan saat melihat istri nya mengambil spageti. Nana tidak menjawab nya dan menyalakan kompor dan memasak air terlebih dahulu hingga mendidih setelah itu baru dia memasukkan spageti yang ia ambil tadi.


"Aku hanya makan sedikit" jawab Nana dan meniriskan spageti yang sudah lembut itu. Nana menaburkan saus di atas spageti yang sudah berada di piring tadi dan memgambil keju yang ada di dalam kulkas dan di tabur nya di atas spageti yang sudah ada soas nya.


"Kau makan makanan itu? Apa rasa nya?" tanya Ryhan yang nampak bingung dan menatap aneh ke arah makanan yang di buat istri nya.


Nana mencoba nya. "Em, Enak" ucap Nana dengan senyum yang mengembang merasa enak dengan makanan yang di buat nya itu.


"Spageti memang enak jika di campur dengan keju mozarella dan sediki saus, Tapi kau...."


"Ini terlalu banyak saos nya sayang, Ini juga saos pedas lagi" ucap Ryhan yang terhenti awal nya dengan mata yang melihat tempat saos tadi dan setelah itu langsung mengambil piring makanan istri nya.


"Tidak boleh makan makanan ini jika belum makan nasi" ucap Ryhan dengan wajah datar nya menatap istri nya.


"Kembalikan itu makanan ku" ketus Nana dengan wajah kesal nya saat suami nya menganggu makan nya.


"Tidak, Makan nasi sedikit baru aku berikan ini" jawab Ryhan dan menjauh dari istri nya. Nana nampak memasang wajah kesal nya dan membuka kulkas kembali hendak mengambil spageti dan membuat yang lain tapi dengan segera Ryhan mendekat dan menutup kembalu pintu kulkas dan menatap tajam ke arah istri nya.


"Aku lapar, Aku mau makan" ucap Nana saat melihat suami nya yang menahan pintu kulkas.


"Sudah aku bilang makan nasi sedikit baru aku berikan kembali makanan mu ini" jawab Ryhan dengan wajah datar nya dan menyandarkan tubuh nya di kulkas yang ingin di buka oleh istri nya.


Nana yang kesal dan hanya mau spageti terpaksa memakan beberapa suap nasi yang ada di atas meja tapi hanya nasi nya saja dan setelah itu kembali berdiri dan menengadahkan tangan nya ke arah suami nya meminta kembali makanan nya. "Jika menurut seperti ini kau nampak menggemaskan sekali" ucap Ryhan dan mencium wajah istri nya dengan tangan yang memberikan kembali makanan istri nya.


Nana tidak menjawab nya dan kembali mendudukkan tubuh nya dan kembali melahap dengan lahap makanan milik nya yang di sita oleh suami nya tadi dengan sangat lahap dan wajah yang tersenyum lebar. "Bukankah dia tidak menyukai pedas?" guman Ryhan yang sadar akan hal tersebut.


"Ah biarkan saja dari pada perut nya kosong" guman nya kembali dan kembali melahap makanan nya yang tersisa.


"Enak ya hingga kau makan dengan lahap?" tanya Ryhan dengan menatap lekat wajah istri nya tersebut.


.


.


.


.


.