Dear D

Dear D
Episode 207



Ryhan membalas senyuman tersebut dan mencium pucuk kepala wanita nya. "Jelas saja aku mengerti, Sedikit tidak nyaman untukku memanggil nama ku kepada anak kita, Devan lebih nyaman" jawab Ryhan dengan senyum tulus nya merasa berhasil mengalihkan percakapan dengan hal kecil itu.


"Semoga butik nya dalam keadaan normal" guman Ryhan yang tidak terlalu mengurus butik beberapa hari ini akibat menemani istri nya di rumah sakit.


Beberapa saat akhir nya mobil terparkir tepat di halaman rumah Ryhan. Nana langsung menatap ke arah butik dan terlihat butik sangat sepi pengunjung dan bisa di bilang tidak ada satupun pengunjung. "Ayo turun" ajak Ryhan saat melihat raut wajah itu menjadi sedih.


Nana menganggukkan kepala nya dan turun dari mobil itu begitupun dengan Ryhan. "Ya tuhan" guman Nana saat melihat banyak nya pekerja yang berdiri di depan butik tersebut.


"Sayang ayo kita masuk" ajak Ryhan saat istri nya hanya termenung di dekat mobil.


"Aku ingin ke butik sebentar boleh?" tanya Nana kepada suami nya dengan Devan yang masih berada di gendongan nya.


"Kau baru saja keluar dari rumah sakit tidak boleh kemana mana, Dokter mengizinkan mu pulang cepat agar kau istirahat di rumah" jawab Ryhan dengan senyum nya mencoba nampak baik baik saja dalam keadaan seperti ini.


"Kau...."


"Nana" panggil Anggi yang terus saja bersama Nana beberapa hari lalu di rumah sakit.


Nana dan juga Ryhan menoleh ke arah Anggi dan terlihat Anggi bersama Ferisa dan juga Febri ke kediaman mereka. "Pantas saja kami ke rumah sakit tidak menemukan kalian ternyata kalian sudah pulang" ucap Ferisa dengan mengambil keponakan nya tersebut dari Nana.


"Cepat masuk, Anakku akan kepanasan jika terus di sini" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan tangan yang berada di pinggang istri nya.


Ferisa ikut masuk ke dalam rumah dengan saat kedatangan pemilik rumah itu di sambut oleh seluruh pekerja di sana. "Selamat atas kelahiran tuan muda tuan, Nona" ucap bodyguard kepada Ryhan dan juga Nana.


"Terima kasih" ucap Ryhan dengan senyum nya sedangkan Nana hanya diam saja. Namun diam nya wanita itu di mengerti oleh bodyguard yang mengucapkan selamat tadi dan membalas senyuman dari Ryhan.


Pikiran yang di penuhi oleh butik dan juga kejadian satu minggu lalu membuat kaki Nana melangkah masuk ke dalam rumah. Dengan tatapan kosong wanita itu langsung duduk di atas ranjang.


"Delina akan istirahat di dalam, Kemarikan Devan dan kalian pulanglah" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan mengambil bayi nya dari kakak nya dan membawa nya masuk ke dalam kamar menyusul istri nya.


"Aku tidak akan pulang, Aku akan menunggu nya di sini kalian berdua pulanglah" ucap Anggi yang juga cukup hawatir akan kesehatan adik nya yang baru saja keluar dari rumah sakit.


"Kau pikir aku mau pulang ke rumah dengan keadaan Nana seperti ini hah? Jelas saja tidak aku akan ikut tinggal di sini" ucap Ferisa dengan melototkan mata nya dan membukakan pintu kamar yang sering di gunakan nya dahulu saat menginap di rumah nenek nya itu.


Devan yang tidak rewel mudah untuk Ryhan meninggalkan nya. Dia meletakkan anak nya di dalam ranjang bayi yang ada di dalam kamar itu. "Papa tinggal sebentar, Kau istirahatlah dengan tenang ya sayang" ucap Ryhan dengan senyum nya dan mencium dahi bayi nya.


Ryhan kembali berdiri seperti semula dan berjalan mendekat ke arah istri nya. Dia mendudukkan tubuh nya perlahan di samping wanita itu dengan di tatap lekat wajah wanita nya yang nampak menatap ke depan dengan tatapan kosong. "Sayang" panggil Ryhan dengan tangan yang merapikan rambut yang tidak berantakan itu.


"Jelas saja tidak, Kau tidak gagal" jawab Ryhan dengan senyum nya. Nana langsung menoleh ke arah suami nya saat mendapatkan jawaban tersebut.


"Butik terlihat sangat sepi, Pekerja di sana juga hampir seluruh nya sudah nampak tidak bersemangat" ucap Nana dengan menatap sedih ke arah suami nya.


"Jika mereka tidak semangat kau yang harus semangat, Kau adalah bos nya, Kau harus menunjukkan betapa berharga nya usaha mu, Kau tidak boleh menjadi sedih seperti ini hanya karna masalah kecil itu. Semua nya bisa di mulai dari awal, Memulai kembalu promosi mu, Anggap saja kejadian beberapa hari lalu itu adalah cobaan untuk kau menuju puncak nya" jelas Ryhan dengan senyuman nya.


"Tapi butik sangat sepi dan....."


"Butik sepi bukan berarti kau gagal, Kau masih banyak memiliki karya dan ide lain untuk kau kembangkan, Aku akan selalu membantu mu dan selalu menemani mu asalkan kau selalu semangat dan tidak bersedih seperti ini" potong Ryhan saat wanita nya hendak mencari celah untuk mengatakan bahwa dia gagal.


Nana masih diam, Mata yang berbinar hendak sekali menangis saat ini sangat terlihat jelas oleh Ryhan. Mata Ryhan juga tidak bisa berbohong, Hati nya sedikit sakit saat melihat wanita nya bersedih namun dia tidak boleh bersedih jika dia bersedih siapa yang akan menghibur wanita nya dan membantu nya bangkit kembali. "Menangislah sebentar saja, Aku mengizinkan nya" ucap Ryhan dengan senyum nya dan ibu jari yang mengusap sudut mata itu.


"Kemari menangis di sini, Tidak masalah ingin menangis" ucap Ryhan dengan mengusap bahu nya.


"Tidak, Aku tidak ingin menangis, Aku wanita kuat" jawab Nana dan menghapus sudut mata yang sedikit berair.


"Tuhan tau jika kau itu kuat makanya memberi sedikit cobaan di hidup mu agar kau mengambil pelajaran dari sana, Jadi jangan menyerah ya, Semangat" ucap Ryhan dengan sedikit tawa nya dan tangan yang membentuk semangat memberikan semangat kepada istri nya yang nampak tengah tidak bersemangat.


"Em, Demi Devan" jawab Nana dengan anggukan kepala dan balasan senyum menatap suami nya tersebut.


"Nah jika sudah tersenyum seperti inikan nampak cantik" ucap Ryhan dengan kembali mengusap sudut mata istri nya yang sedikit berair itu.


"Kau bisa" bisik nya dan memeluk erat tubuh kecil wanita nya itu dengan menghujani banyak nya ciuman di pucuk kepala nya membuat Nana merasa nyaman dan tersenyum lebar.


Merasa beban pikiran nya sudah hilang akibat sedikit ucapan semangat dari suami nya. "Em" Nana membalas pelukan tersebut dengan bibir yang masih saja membentuk sebuah senyuman.


.


.


.


.