
"Ah iya aku lupa jika kita belum makan" ucap Ryhan yang baru ingat akan hal tersebut.
"Setelah mendapatkan keinginan mu kau lupa dengan ku" ketus Nana dengan nada rendah dan membalikkan tubuh nya membelakangi suami nya.
"Bukan seperti itu, Aku benar benar lupa" jawab Ryhan dan mengangkat tubuh istri nya hingga kembali menatap nya. Nana tidak menjawab dan masih saja memasang wajah kesal nya akibat suami nya melupakan perut nya yang lapar.
"Jangan cemberut seperti ini sangat jelek" ucap Ryhan dengan mencubit pipi istri nya.
"Seperti kau tampan saja" balas Nana yang masih saja kesal.
"Jangan marah lagi, Kita akan mencari makanan yang sama" ucap Ryhan dan menyalakan kembali mesin mobil nya.
"Tubuh ku kotor, Tidak mungkin aku keluar dalam keadaan seperti ini" ketus Nana yang masih saja kesal.
"Jadi?" tanya Ryhan.
Dritttt
Ponsel Nana berbunyi menandakan ada yang menghubungi nya. Nana langsung mengambil tas nya dan mengambil ponsel nya yang ada di dalam nya. "Hah nomor mu?" ucap Nana saat melihat nama suami nya yang tertera di layar ponsel.
"Hah?" ucap Ryhan yang ikut bingung dan mengecek kantong dan juga tas kerja nya dan dia tidak menemukan ponsel ataupun dompet.
"Astaga dompet dan ponsel ku tertinggal di restoran tadi" ucap Ryhan dan memukul dahi nya.
"Cih ceroboh sekali, Siapa ini yang menelpon?" teriak Nana.
"Coba angkat, Kemungkinan itu adalah Jony" ucap Ryhan.
"Kau saja yang angkat" ketus Nana dan memberikan ponsel nya kepada suami nya.
"Jika Ryhan mengangkat akan tau pak Jony aku benar benar bersama nya" guman Nana.
"Tidak usah, Biar aku saja yang angkat" ucap Nana dan kembali mengambil ponsel nya dan langsung mengangkat telpon dari Jony itu.
"Halo pak" ucap Nana dengan sopan saat telpon sudah terhubung.
"Halo nona, Ini saya Jony, Ponsel pak Ryhan tertinggal begitupun dengan dompet nya" ucap Jony.
"Oh, Ingin berbicara dengan nya?" tanya Nana.
"Boleh" jawab Jony. Nana memberikan ponsel nya kepada Ryhan.
"Bawa saja ponsel dan dompet ku ke tempatku sekarang" ucap Ryhan yang sudah bisa menebak apa yang ingin di katakan Jony kepada nya.
"Ke apartemen anda tuan?" tanya Jony.
"Apartemen cukup jauh dari tempat kau tinggal, Nanti saat kau hendak pulang dan melewati jalan sepi hentikan kendaraan mu dan berhenti di dekat mobilku" ucap Ryhan.
"Baik tuan. Makanan nona saya bungkus apa tidak apa apa tuan?" tanya Jony.
"Tidak apa apa, Cepatlah" ucap Ryhan dan langsung mematikan telpon nya.
Jony yang sudah berada di bawah pun langsung menghentikan taxi yang melintas di hadapan nya dan taxi mulai melaju dengan kecepatan sedang menuju ke tempat yang di inginkan Jony.
"Em" Nana kembali memasukkan ponsel nya ke dalam tas nya dan menyenderkan tubuh nya yang cukup kelelahan itu kembali ke sandaran.
"Sayang kenapa kau begitu murung dari tadi?" tanya Ryhan dan memutarkan telunjuk nya di wajah istri nya memainkan wajah wanita nya yang nampak tidak berselera untuk bergurau itu.
"Ryhan sakit" ucap Nana dan menepis tangan suami nya yang mengganggu nya.
"Kau sakit hingga dari tadi murung?" tanya Ryhan dengan menatap lekat wajah istri nya tersebut.
Tok..tok..tok
"Pak" teriak Jony dari luar mobil dengan mengetuk jaca mobil. Ryhan langsung membuka pintu mobil sedangkan Nana membuang pandang nya dari kedua lelaki itu.
"Terima kasih banyak ya" ucap Ryhan dengan senyum nya menatap Jony dan menerima makanan dan juga barang barang nya yang di berikan Jony.
"Sama sama pak, Saya permisi" pamit Jony dengan membalas senyum nya menatap Ryhan. Ryhan menganggukkan kepala nya dan Jony kembali masuk ke dalam taxi dan kembali melanjutkan perjalanan.
"Ini makanan mu" ucap Ryhan dan memberikan makanan yang di berikan Jony tadi kepada istri nya. Nana menerima nya dengan senang hati akibat lapar dia langsung membuka makanan itu dan melahap nya.
Ryhan tidak mengeluarkan suara nya lagi dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang untuk kembali ke apartemen nya. "Apa itu enak?" tanya Ryhan saat melihat istri nya memakan makanan tersebut dengan sangat lahap.
"Em" jawab Nana dengan mulut yang penuh dan tangan yang melepaskan kulit lobster yang cukup susah di lepaskan itu. Ryhan tidak bertanya lagi dan kembali pokus ke kemudi hingga sampai di lampu merah dia langsung menurunkan tangan nya dan menatap istri nya kembali.
"Kau tidak ada niat memberikan ku menyipi nya atau mengajakku ikut makan bersama?" tanya Ryhan dengan tangan yang mengambil tisyu dan membersihkan saos yang terkena istri nya.
"Tidak, Aku saja kekurangan bagaimana bisa aku berbagi dengan mu" jawab Nana dan menghabiskan seluruh lobster yang tersisa.
"Hah? Kau yang benar saja kekurangan?" tanya Ryhan yang cukup kaget saat mendengar ucapan istri nya.
"Em, Ini terlalu sedikit" jawab Nana.
"Ini empat kilo loh, Kau benar benar kekurangan?" tanya Ryhan yang masih saja tidak percaya jika istri nya kekurangan makan.
"Em, Jika bisa kita membeli nya lagi malam ini, Tapi ini sudah sangat larut meskipun besok minggu kita juga harus cepat sampai di rumah, Kau sedari tadi juga belum makan" jawab Nana dan membungkus bekas makan nya di dalam kresek dan mengikat nya agar nanti sesampai di dekat tempat sampah dia akan langsung membuang nya.
"Hah?" Ryhan nampak masih bingung dan kaget akan istri nya yang kekurangan makan lobster seberat empat kilo tadi.
"Cepatlah lampu sudah hijau" ucap Nana saat melihat lampu sudah hijau dan mobil di depan sudah melaju seperti biasa. Ryhan tidak menjawab nya dan kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke apartemen mereka.
"Aneh sekali dia hari ini, Tidak biasa nya dia makan banyak seperti tadi. Ikan seekor saja jarang dia habiskan dan aku yang membantu nya menghabiskan tapi saat ini? Dia menghabiskan lobster sebesar itu sendiri tanpa berbagi dengan ku?" guman Ryhan dan menatap sekilas ke arah istri nya yang nampak aneh hari ini.
"Ryhan" panggil Nana dengan mata yang menatap ke luar jendela. Ryhan kembali menoleh ke arah istri nya yang memanggil nama nya itu.
"Iya? Ada apa sayang?" tanya Ryhan dengan nada lemah lembut menjawab panggilan istri nya.
Nana membalikkan tubuh nya dan menatap ke arah suami nya. "Aku merindukan rumah, Aku sudah lama tidak pulang ke rumah" ucap Nana dengan menatap dengan tatapan menginginkan hal tersebut yakni kembali ke rumah nya.
.
.
.