Dear D

Dear D
8. Dean manja



"Lu kasih gue makan bubur, emang lu pikir gue bayi?!" Dean menangkis tangan Vey hingga sendok yang Vey pegang terjatuh ke lantai.


Vey menggerutu kesal dalam hati. Padahal ia sudah susah payah membuatkan bubur untuk Dean, sampai-sampai ia harus menunda siaran langsungnya di instagram.


Tapi respon yang Dean berikan jauh dari harapan Vey, tidak ada ucapan terimakasih yang keluar dari bibir Dean. Lelaki itu malah mencemoohnya seakan usaha Vey tidak ada nilainya.


Vey mendekus kesal,"Kan lu lagi sakit, jadi harus makan bubur biar cepet sembuh"


"Gue gak mau makan bubur" Tolak Dean, keras kepala. Dean kini terlihat seperti anak kecil yang sedang ngambek karena tidak di penuhi keinginannya oleh sang mama.


"Terus maunya makan apa? Lu tau gak?! Di dapur tuh cuma ada 1 sachet bubur sama dua butir telur. Lu mau gue masakin TV, hah?!" Sarkas Vey menggebu-gebu. Vey benar-benar merasa jengkel, kesal dan marah.


"Gue mau makan lu aja" Pinta Dean yang membuat bulu kuduk Vey merinding. Pikiran Vey sudah menjelajah hingga adegan +++ yang sering ia baca di *******.


"Maksudnya? Dah ah makan aja seadanya" Cerocos Vey seraya bangkit dari posisi duduknya. Dean yang merasa keinginannya tidak mendapatkan respon langsung menarik pergelangan tangan Vey hingga Vey kembali terduduk.


Dean melingkarkan kedua tangannya di pinggang kecil milik Vey. Hidungnya mengendus-endus leher jenjang Vey yang beraroma lavender. Aroma yang begitu Dean sukai.


"Lepasin ogeb... Lu mau ngapain gue?"


"Sebentar aja Vey" Dean memejamkan matanya.


Padahal dalam hati Vey berkata,"Yang lama aja kak hehe"


Satu jam berlalu, Vey mulai merasa tidak nyaman, karena yang sekarang Dean lakukan bukan hanya mengendus, Dean juga menciumi leher Vey dan sesekali membuat Vey merasakan sakit pada lehernya seperti digigit semut.


Vey menyadari jika sang suami sedang membuat kissmark di lehernya, Vey ingin berteriak, namun disisi lain ada perasaan nikmat yang ia rasakan.


Setelah puas mengendus dan menciumi leher Vey, Dean kembali merebahkan dirinya di sofa, menarik tubuh Vey hingga gadis itu tengkurap di atasnya.


Vey menggeliat dan berusaha bangun namun tangan kekar Dean menahannya. Seolah Dean tengah menjadikan Vey sebagai bantal gulingnya.


Detakkan jantung Dean dapat Vey dengar dengan jelas. Detakkan yang teratur, berbeda dengan detakkan jantungnya sendiri yang kini bergemuruh tak karuan.


Vey menidurkan kepalanya diatas dada bidang Dean. Dengan tangan yang disilangkan di depan dada, agar aset berharganya tetap terjaga.


Hembusan nafas Dean, membuat Vey terusik. Pasalnya lelaki itu membuat kening Vey terasa mendingin, dan membuat poni rambut Vey berterbangan tiap kali Dean menghembuskan nafas.


"Kak... Lepasin" Rintih Vey seraya mencoba melepaskan tubuhnya dari dekapan Dean.


Dean membuka sebelah matanya, "jangan ganggu gue tidur Vey". Kemudian mendorong kepala Vey agar kembali bersandar di dadanya.


"Ya makannya lepasin. Biar lu gak ke ganggu"


"Diem" Ketus Dean. Mengeratkan pelukannya.


"Iya deh" Vey memejamkan matanya, menikmati momen langka ini yang mungkin akan jarang terjadi. Intinya Vey tidak mau menyia-nyiakan momen langka ini. Kapan lagi ia bisa di peluk cogan?


Sejenis malu-malu kucing?


***


"Vey.... Bangun" Dean mengguncang-guncangkan pelan bahu Vey.


"Apa sih kak?" Jawabnya lesu dengan mata yang masih terpejam.


"Ada mama, cepet bangun!" Dean menarik paksa tangan Vey dan membawanya ke depan untuk menyambut kedatangan Hana.


Kamar berantakkan, ruang tamu berantakkan, dapur berantakkan. Semua terlihat berantakkan, Hana mengelus dadanya sendiri saat melihat keadaan apartement Dean yang lebih cocok dijadikam gudang tersebut. "Kalian ngapain aja seharian? Kok apartement sampai gak keurus gini?"


"Tadi Dean sakit ma" Desis Dean.


"Kok kamu gak menghubungi mama?"


"Tadi Vey mau nelfon mama, tapi ke kak Dean gak di bolehin. Terus ya ma.  Seharian ini kak Dean melukkin Vey terus, Vey gak bisa kemana-kemana, Vey ke kamar mandi aja kak Dean udah kayak bayi yang gak di kasih susu, gitu deh ma. Vey jadi gak sempet bersihin rumah" Tutur Vey, sangat jujur. Vey ingin membuat Dean malu.


Dean sekarang butuh baskom untuk menutupi wajahnya. Atau ia harus menceburkan diri lagi ke kolam renang, untuk menutupi rasa malunya? Ah... Mengapa gadis bau kencur itu sangat jujur? Andai semua pejabat seperti Vey, mungkin negara ini bisa terbebas dari kasus korupsi. "Gak sampe segitunya kok ma"


"Gatau ma, tadi pas kak Dean nyiumin leher Vey, Vey ngrasa kayak digigit semut. Apa ini karena digigit semut ya?" Sahut Vey, pura-pura tidak tau.


"Bukan sayang. Itu namanya kissmark" Hana menahan tawanya.


"Kissmark itu apa ma?"


"Sok polos lu bocah!" Umpat Dean dalam hati.


"Udah ah. Jangan di bahas, Dean juga gak sengaja huh" Gerutu Dean. Ia memang tidak sengaja atau lebih tepatnya tidak bermaksud membuat kissmark di leher Vey.


Awalnya Dean hanya mau mengendusi leher Vey karena ia suka dengan aroma tubuh gadis itu. Tapi....Ah sudahlah jangan di bahas lagi.


Hana terkekeh, "Tanpa kissmark, Vey juga udah jadi milik kamu kok De"


"Ma... Udah jangan dibahas lagi"


"Vey, dulu Dean kalau lagi sakit emang jadi suka manja. Tapi kok sekarang jadi horny an ya?" Titah Hana sembari mengeluarkan kotak makanan dari tas dan menatanya diatas meja makan.


"Horny? Apa tuh ma?" Tanya Vey, kali ini ia benar-benar tau arti kata Horny. Mungkin setelah ini Vey akan mencari artinya di kamus.


"Aduh Dean... Istri kamu polos banget sih, mama aja jadi gemes. Apalagi kamu ya?" Goda Hana.


"Biasa aja ma" Sahut Dean, datar. Lalu ia duduk di depan meja makan, bersiap untuk makan.


Berbeda dengan Dean, Vey malah sibuk dengan ponselnya, ia seperti sedang mengetik sesuatu.


"Di meja makan jangan main HP" Sindir Dean. Seraya memasukkan makanan ke dalam mulut.


"Bentar kak, mumpung ide lagi ngalir nih" Vey kembali fokus mengetik cerita di aplikasi *******.


Vey memang seorang penulis aktif di *******, ia senang membuat cerita bergenre fantasy, sayangnya keahlian Vey dalam menulis masih sangat buruk. Lapak ceritanya tidak kalah sepi dari kuburan, atau malah bahkan lebih sepi.


"Vey jadi penulis di *******?" Hana nampak tabjuk dengan menantunya itu.


Vey mengangguk, "iya ma... Tapi masih amatir ckck"


"Gak papa, mama yakin Vey bakal jadi penulis yang hebat. Vey makan dulu, ngetik ceritanya di lanjut nanti. Oke?"


Vey meletakkan ponselnya diatas meja, "Oke ma"


Jam 1 malam, Vey belum bisa tertidur. Mungkin karena tadi ia sudah tidur begitu lama di atas tubuh Dean. Oh ya.. Lelaki itu sekarang sudah tertidur pulas di atas sofa. Wajahnya tampak berkali-kali lipat lebih tampan ketika sedang tertidur.


Vey turun dari ranjang dan berjalan menuju Dean. Telapak tangannya ia letakkan diatas kening Dean untuk mengecek suhu badan Dean. "Kok masih anget sih?"Desis Vey.


"Namanya orang hidup ya anget lah", Vey terperanjat kaget karena tiba-tiba Dean memegang pergelangan tangannya.


"Kenapa belum tidur?"


"Enggak bisa tidur, kak bangun dong. Temenin gue, gue kesepian tau" Rengek Vey.


"Gue ngantuk" Dean kembali memejamkan matanya. Dengan posisi tubuhnya yang miring, membelakangi Vey.


"Yaudah. Kalau gitu tidur di ranjang, gue takut sendirian".


"Ogah, lu mesum! Gue takut" Cibir Dean.


Bukan Vey namanya kalau tidak nekat dan keras kepala. Bukannya pergi, Vey malah ikut-ikutan tidur di sofa yang sempit. Ia memeluk erat tubuh Dean. "Kalo gitu gue ikut tidur disini".


Dean merasa gelenyar-gelenyar panas mengalir di tubuhnya, seperti ada dua punukan kecil mengganjal di punggungnya, terasa hangat dan lembut. Shit! Dean tidak habis pikir, bagaimana bisa dada mungil milik Vey membangkitkan juniornya?


"Tidur di ranjang, gue temenin" Ucap Dean. Ia tidak mau berlama-lama berada di posisi ini. Posisi ini dapat membagkitkan juniornya dan tentunya membahayakan Vey.


"Tunggu istri gue umur 20 tahun dulu ya my brother" Dean melirik bagian bawahnya yang mulai sesak.