
"Apa Nana di butik?" tanya Yura.
"Kita lihat saja, Jika tidak ada di butik di rumah nya, Ayo" ajak Weny dan melewati Febri yang masih berdiri tepat di depan butik tersebut.
"Maaf ibu Nana nya ada?" tanya Weny dengan sopan nya kepada pekerja di sana.
"Ibu Nana sudah tidak diizinkan lagi untuk bekerja di butik oleh pak Ryhan" jawab pekerja tersebut dengan sopan pula.
"Ah baiklah terima kasih informasi nya" ucap Yura dan berlalu dari sana bersama dengan Weny.
"Menghabiskan waktu berdua saja terus mereka" ketus Weny yang sudah lama tidak melihat Nana dan berjalan kembali melintasi Febri yang masih ada di luar dan menuju ke rumah Ryhan.
"Kedua wanita itu seperti nya juga tidak asing" ucap Febri dengan nada rendah melihat Weny dan Yura yang menuju ke tujuan Nana tadi.
"Kau mau?" tanya Nana dengan menyodorkan eskrim yang baru saja di buka oleh nya kepada Ryhan.
"Iya" jawab Ryhan.
"Sedikit saja" ucap Nana. Ryhan tidak menjawab nya dan mendekatkan mulut nya ke eskrim istri nya dan setelah itu menatap istri nya yang melihat eskrim bukan dia. Ryhan langsung mengangakan dengan besar mulut nya dan menghabiskan seluruh coklat atas eskrim tersebut.
"Kau ini" ketus Nana saat melihat eskrim hampir separuh di makan oleh suami nya. Ryhan tidak menjawab nya dan menjilat sudut bibir nya yang terkena eskrim dan dengan perlahan menghabiskan nya.
"Kau bilang cuma sedikit, Ini hampir semua nya kau makan" ucap Nana kembali dengan wajah kesal akibat suami nya yang menghabiskan makanan nya.
Ryhan tidak menjawab nya dan membuang pandang dari wanita nya tersebut. Nana nampak semakin kesal dan menatap eskrim nya. "Kenapa hanya di lihat? Tidak mau memakan nya lagi?" tanya Ryhan kepada istri nya yang termenung.
"Coklat nya kau habiskan" jawab Nana yang masih memasang wajah merajuk nya.
"Di bawah nya masih ada sedikit, Jika tidak mau sini berikan kepada ku" ucap Ryhan yang hendak melahap kembali eskrim tersebut tapi Nana dengan segera melahap nya terlebih dahulu.
"Aku hanya membelikan nya satu tadi" guman Nana yang ingat jika hanya membelikan satu eskrim saja.
"Na" teriak Weny. Nana tidak menjawab nya dan pokus dengan mulut yang makanan eskrim sedangkan Ryhan menoleh ke dekat pintu.
"Jangan berteriak di rumahku" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan menyalakan levisi yang ada di hadapan nya sedangkan Nana menoleh ke arah suara dan melihat siapa yang datang.
"Kalian" ucap Nana dengan wajah datar nya dan segera menghabiskan eskrim nya.
"Em, Kau bilang ingin ke rumah, Kenapa belum juga kerumah? Mama dan papa menunggu mu di rumah" ucap Yura dengan wajah sedih akibat Nana yang belum bisa menemui orang tua nya.
"Iya, Mama dan papa ku juga, Mereka sangat ingin bertemu dengan mu dan mengusap perut besar ini" ucap Weny pula dengan mengusap perut Nana yang membuncit itu.
"Shit sangat tidak nyaman di kelilingi wanita" umpat Ryhan dan berdiri dari duduk nya dan berpindah tempat di kursi single hingga membuat Yura berpindah duduk di tempat nya tadi.
"Kapan akan main ke rumah?" tanya Yura kembali memasang wajah iba nya.
"Besok aku ada kelas yoga ibu hamil jadi tidak bisa, Kalian kan juga tau beberapa bulan ini sebelum perut ku membesar aku selalu sibuk dengan butik" jawab Nana dengan mengusap perut nya.
"Kelas yoga? Aku mau ikut" ucap Yura.
"Untuk apa kau ikut? Kau juga hamil?" tanya Weny dengan wajah datar nya.
"Hanya ingin melihat saja dan menjaga mu nanti" jawab Yura dengan menatap Nana.
"Dia memiliki suami yang akan menjaga nya dan tidak membutuhkan mu" ucap Weny dengan sedikit kesal.
"Lusa atau minggu mungkin aku bisa berkunjung ke rumah kalian bersama dengan Ryhan" ucap Nana.
"Benar na?" tanya Weny memastikan akibat tidak mau lagi di tipu oleh Nana.
"Jika kau pergi aku juga akan pergi jika tidak ya tidak" jawab Ryhan dengan wajah datar nya tanpa menatap wanita nya tersebut.
"Baiklah ini benar benar pasti ya Na, Awas saja berani kau berbohong lagi" ucap Weny dengan nada mengancam.
"Tidak akan berbohong" jawab Nana dengan senyum nya.
"Em, Tadi aku melihat ada lelaki tampan di depan butik mu, Apa dia pelanggan mu?" bisik Weny kepada Nana agar tidak terdengar oleh Ryhan.
"Siapa? Aku tidak melihat lelaki di depan butik hari ini" jawab Nana.
"Shit kecilkan suara mu" ketus Weny dengan meletakkan telunjuk nya di bibir nya.
"Mustahil mau tidak tau Na, Kau ingat bos mu sewaktu kau bekerja di cafe? Itu dia, Padahal tadi Weny berpura pura acuh, Aku pikir dia memang acuh dengan lelaki itu eh tau tau nya memperhatikan nya, Cih" ucap Yura yang ingat betul tadi jika Weny sama sekali tidak menatap ke arah Febri dan hanya dia yang menatap ke Febri saat hendak masuk ke butik.
"Oh, Pak Febri?" tanya Nana dengan nada meninggi membuat Ryhan menatap ke arah mereka dengan tatapan datar nya.
Weny tersenyum menatap Ryhan dan setelah itu menatap kembali ke arah Nana. "Sudah aku bilang kecilkan suara mu" ketus Weny dengan melototkan mata nya menatap Nana.
"Kau menyukai nya?" tanya Nana.
"Shit" umpat Weny saat Nana sama sekali tidak mendengarkan ucapan nya dan malah tambah berisik.
"Aku pamit pulang dulu, Selamat atas ramai nya butik mu" ucap Weny dengan wajah kesal nya akan Nana yang sama sekali tidak berbicara pelan hingga Ryhan mendengar nya dan langsung berlalu dari sana kembali masuk ke dalam mobil.
"Kau sih, Sudah di bilang jangan berbicara kencang masih saja, Kau tau bukan jika dia susah untuk dekat dengan lelaki?" ketus Yura pula.
"Berani nya kau memarahi istriku" ketus Ryhan pula akan Yura yang memarahi wanita nya.
"Apa kau?" ketus Yura dengan melototkan mata nya menatap Ryhan. Ryhan membalas pelototan mata tersebut.
"Kau...."
"Sudahlah, Aku sengaja ingin memancing marah nya agar dia keluar dan melihat reaksi nya apa benar itu pak Febri yang di katakan nya atau tidak, Ayo ikut keluar" ajak Nana dan keluar dari rumah bersamaan dengan Yura di ikuti oleh Ryhan dari belakang.
Nana mencari cari keberadaan Weny dan terlihat Weny berada di dalam mobil sedangkan Febri duduk di tempat duduk yang ada di depan butik itu.
"Ah lelaki itu benar benar tampan" ucap Weny dengan senyum nya menatap lekat wajah Febri.
"Benar, Dia benar benar melihat pak Febri" ucap Nana.
"Sudahlah kau perlu istirahat ayo kembali masuk dan kau pergi nanti aku dan istriku akan berkunjung ke rumah kalian" ucap Ryhan dengan menarik perlahan istri nya dan mendorong Yura agar pergi dari rumah nya.
"Kau mengusir ku Ryhan?" teriak Yura hingga membuat Weny bisa mendengarkan nya dan menoleh ke arah mereka.
"Shit berani nya berteriak di hadapan ku" umpat Ryhan dengan wajah kesal nya dan menatap tajam ke arah Yura.
.
.
.
.
.