
Ryhan belum terlalu memikirkan tentang kebakaran itu karna istri nyalah yang terpenting saat ini. Ryhan langsung menyusul nya dan menghampiri wanita nya tersebut. "Sudah sore ya? Aku akan mandi dahulu" ucap Nana dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya tanpa menangis sedikit pun.
Ryhan tidak menjawab nya dan mengambil Devan yang tengah menangis dengan pelayan yang tidak bisa menenangkan nya. Ryhan menenangkan nya hingga anak itu tertidur dengan jam saat ini menunjuk pukul enam sore dan istri nya belum keluar juga.
Ryhan meletakkan anak nya di dalam ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi untuk memastikan istri baik baik saja namun dia hanya mendengar suara air saja tidak mendengarkan yang lain lagi.
"Yatuhan apa lagi yang terjadi ke kehidupan ku?" guman Nana dengan menatap langit langit kamar mandi itu dengan mata yang berbinar.
Mata yang berbinar itu terpejam hingga air air mata yang tertahan di kelopak mata nya langsung terjatuh sendiri. "Astaga tidak boleh menangis" ucap Nana dan menguapus air mata nya itu.
"Sayang buka pintu nya" teriak Ryhan dari kamar mencoba membuka pintu kamar mandi yang terkunci saat ini.
Nana menghentikan tangis nya. "Aku sedang mandi bodoh" ketus Nana.
Ryhan membuang nafas panjang saat mendengar jawaban dari istri nya tersebut dan memundurkan tubuh nya dan kembali mendekat ke arah anak nya yang tengah berada di dalam ranjang. "Kau tidur dengan nyenyak ya sayang, Papa akan mencoba menenangkan mama mu" bisik Ryhan dan mencium dahi putra nya tersebut.
Keinginan akan anak nya yang hanya tidur malah tidak di kabulkan melainkan Devan malah terbangun dan menangis histeris. Ryhan kembali mendekat ke arah anak nya dan kembali menggendong anak kecil nya itu. "Shut shut sayang sudah ya jangan menangis lagi" ucap Ryhan dengan mencoba menenangkan anak nya yang menangis itu.
Nana yang mendengar tangisan anak nya langsung mencuci wajah nya di kamar mandi itu dan langsung keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju handuk dan juga hidung yang memerah. "Kau menganggu Devan terus" ketus Nana dan mengambil alih putra kecil nya tersebut dari suami nya.
"Dia mengetahui isi hati mu" jawab Ryhan saat bisa melihat jelas istri nya itu baru selesai menangis. Nana terdiam dan menggoyangkan anak nya mencoba menenangkan nya.
Saat merasa anak nya sudah tenang Nana kembali meletakkan nya di dalam ranjang. "Jangan menangis ya tampan" ucap Nana dengan mengusap wajah bayi nya tersebut.
"Aku akan mengganti bajuku dahulu" ucap Nana yanh masih mengenakan baju handuk nya.
Ryhan tidak menjawab nya dan melihat kepergian suami nya dan setelah itu langsung mengambil anak nya dan turun ke bawah. "Bi tolong jaga Devan dan bawa dia ke kamar nya" ucap Ryhan dengan memberikan anak nya kepada pembantu karna alasan tertentu.
"Baik tuan" jawab bibi dan mengambil alih Devan dari Ryhan.
"Terima kasih bi" balas Ryhan dan kembali naik ke atas dan kembali masuk ke dalam kamar nya.
"Huh" Nana membuang nafas panjang dan mendudukkan tubuh nya di sudut jendela dan menatap puing puing rumah yang dulu di tempati nya sekarang sudah hangus terbakar beserta seluruh usaha yang ia jalankan dari dulu.
Mata nya terpejam dan menengadah mencoba menenangkan diri nya sendiri agar tidak menangis dan menganggu anak nya yang sedang tidur di dalam kamar itu pikir nya. Ryhan masuk perlahan saat melihat istri nya tengah duduk di jendela dengan wajah yang di pangku oleh lutut nya.
Lelaki itu paham dengan apa yang di pikirkan dan di rasakan istri nya. Kaki nya perlahan melangkah mendekat ke arah wanita nya tersebut dan berlutut menatap lekat wajah yang masih semabab itu. "Kenapa tidak menangis?" tanya Ryhan dengan senyum nya.
Nana langsung membuka mata nya dan langsung menatap ke arah suami nya tersebut. "Bodoh sekali pertanyaan itu" ketus Nana dan menurunkan kaki dan duduk seperti pada umum nya.
"Jika ingin menangis menangislah" ucap Ryhan dan duduk sama seperti Nana di samping nya.
"Kenapa? Aku tidak akan melarang mu jika memang ingin menangis, Jika menangis di tahan akan membuat dada mu sesak dan sakit, Selama ini kau tidak pernah menangisi apaoun setelah melahirkan Devan entah itu memang kau yang tidak mau menangis karna selalu bahagia atau kau selalu menyembunyikan tangis mu dengan wajah baik baik saja aku tidak tau, Yang jelas jika kau menangis aku tidak akan membujuk mu untuk berhenti" jelas Ryhan dengan senyum menatap istri nya tersebut.
"Kenapa? Kau suka melihat ku menangis?" tanya Nana dengan wajah kesal nya.
"tidak ada orang yang suka melihat orang yang di cintai nya menangis" jawab Ryhan. Nana diam dan menatap tajam lelaki nya tersebut.
"Aku membiarkan mu menangis karna dengan menangis kau bisa meluapkan seluruh kesedihan yang kau pendam, Aku yakin kau saat ini tengah merasakan sesak di dada mu akibat menahan tangis, Usaha yang kau bangun dari saat kau mengandung Devan saat ini terhenti sebentar karna dia tau jika kau lelah makanya dia berhenti. Jika terus saja berlanjut mungkin akan menyiksa mu lebih lagi, Jadi jika kau mau menangis menangislah tidak usah di tahan aku tidak akan mengejek mu" jelas Ryhan.
"Balikkan tubuh mu" ucap Nana.
"Baik" jawab Ryhan dan membalikkan tubuh nya membelakangi istri nya.
"Jangan mendengar" ucap Nana kembali.
"Em" Ryhan menutup telinga nya menggunakan tangan nya.
"Aku gagal, Semua yang aku bangun dari satu tahun lalu hancur dengan begitu saja, Usaha mu sudah aku sia siakan dan aku belum bisa menjadi yang terbaik untuk mu dan juga kak Rendi. Hati ku sakit saat melihat rumah terbakar, Di rumah itu aku memulai semua nya, Mulai mengenal mu, Mulai hidup bersama papa dan kak Rendi, Memulai usaha ku dan mengasah bakat ku di sana hingga akhir nya aku bsia menambah besarkan rumah tersebut dan merobak nya menajdi butik, Tapi semua nya hancur, Aku gagal, Hikssss" Nana langsung menangis saat mengatakan hal tersebut.
Air mata yang sempat terhenti tadi kembalu lagi menetes membasahi wajah cantik wanita itu. "Aku sudah gagal" ucap Nana yang semakin histeris menangis hingga membuat Ryhan membalikkan kembali tubuh nya menatap istri nya.
"Kau tidak gagal, Hanya saja kau membutuhkan sedikit istirahat dari penat mu hingga nanti kau selesai istirahat kau memulai semua nya kembali dari awal" jawab Ryhan.
"Namun ini sudah yang kedua kali nya aku mengalami kegagalan, Ini tidak akan mungkin bangkit lagi" ucap Nana.
"Aku sudah gagal, Hikssss" Nana semakin histeris dengan tangis nya hingga membuat Ryhan ikut sedih dan langsung memeluk tubuh istri nya tersebut.
"Aku gagal Ryhan, Aku gagal, Hiksss" Nana menangis tepat di dalam pelukan suami nya sedangkan Ryhan memeluk erat wanita yang tengah membutuhkan nya itu.
.
.
.
.
.