
Ryhan perllahan langsung menggendong wanita nya tersebut untuk menuju ke ranjang. Dengan sangat perlahan dia membaringkan tubuh kecil yang kelelahan itu di atas ranjang.
"Sayang aku akan menemukan pelaku pembakaran butik yang sudah kau bangun dengan susah payah ini" bisik Ryhan dengan mata berbinar menyaksikan betul kesedihan dan tangisan dari wanita nya.
Lelaki manaa yang tidak sedih melihat wanita nya menangis histeris di pelukan nya. "Aku juga bukan lelaki kuat yang bisa menahan sedih ku, Namun di saat kau sedih seperti ini tidak mungkin aku ikut bersedih, Jika aku ikut bersedih nanti tidak ada yang mendengarkan isi hati mu, Kau harus bahagia selalu" bisik nya kembali dengan tangan yang mengusap kepala wanita nya dengan sangat lembut agar wanita itu tidak terbangun.
Ryhan mengambil ponsel nya yang ada di dalam saku nya dan membuka pesan.
"Kau tau harus apa?" isi pesan yang di kirimkan oleh Ryhan kepada Jony.
"Tau tuan, Saya akan mencari pelaku hingga ketemu" balas Jony yang berada di tempat kejadian perkara yakni butik.
Ryhan mematikan ponsel nya kembali dan kembali menatap wanita nya. Hanah menutup perlahan pintu kamar itu agar Ryhan tidak sadar akan kehadiran nya dan berjalan mendekat ke kursi yang ada di ruang utama. Weny menatap ke arah ibu nya dengan mata yang menyipit melihat rautwajah ibu nya itu bersedih. "Apa yang terjadi?" tanya Weny dengan sedikit bingung hingga membuat Anggi dan juga Febri yang ada di ruang utama langsung menoleh ke arah nya.
Hanah tidak menjawab nya dan menatap ke sembarang arah dengan membuang nafas kasar. Weny yang tidak mendapatkan jawaban berjalan ke arah kamar Nana dan tangan nya membuka pintu kamar itu namun di hentikan oleh Hanah. "Hey jangan lancang membuka pintu kamar mereka" ucap Hanah dengan wajah datar nya membuat Weny mengurungkan niat nya dan menoleh ke arah ibu nya.
"Makanya jawab pertanyaan Weny tadi, Apa yang terjadi sampai mama sedih seperti itu?" tanya Weny kembali.
"Tidak apa apa, Hanya sedih saja melihat keadaan Nana yang akhir akhir ini tidak luput dengan ujian, Padahal dulu hidup nya lancar lancar saja bersama Ryhan" jawab Hanah dan berjalan mendekat ke arah Febri.
Dia langsung mengambil Devan dari Febri tanpa meminta dengan baik namun cara dia mengambil nya sangat lembut. "Sayang nenek sangat mencintai mu lebih dari tante Weny" ucap Hanah.
"Memang nya mama pernah menyayangi ku?" tanya Weny dengan memasang wajah sedikit menjijikkan nya menatap ibu namun hati nya bukanlah jijik terhadap ibu nya.
"Tidak" jawab Hanah dan mencium dalam dalam wajah anak yang baru berumur satu tahun itu.
Ckleek
Pintu kamar terbuka dan keluarlah Ryhan hingga membaut semua nya yang ada di ruang utama menoleh ke sana. "Kenapa Devan bisa bangun?" tanya Ryhan yang sediki kaget melihat anak nya di gendongan Hanah dengan mata terbuka dan bibir tersenyum.
"Jelas saja dia terbangun karna sudah selesai tidur bodoh sekali pertanyaan ayah mu sayang" jawab Hanah dengan kembali mencium anak itu.
Ryhan tidak menjawab nya dan berjalan mendekat ke arah Hanah dan langsung mengambil putra nya itu. "Kalian ada perlu apa kemari?" tanya Ryhan dengan Devan.yang sudah berada di gendongan nya.
"Memang nya tidak boleh kami kemari?" tanya Anggi dengan wajah datar nya.
"Bukan, Hanya saja aku dan juga Delina tidak akan memperdulikan kalian yang datang di saat seperti ini" jawab Ryhan dengan wajah datar nya juga.
"Memang nya kami meminta perhatian mu?" tanya Hanah pula.
"Sayang ini sudah malam, Kita tidur ya bersama mama di dalam" ucap Ryhan dengan senyum nya kepada anak nya yang baru aktif itu.
"Kalian jika ingin menginap di sini carikan kamar yang kosong dan kalian bereskan kamar yang kosong untuk mereka tempati, Aku akan masuk untuk menidurkan Devan kembali" ucap Ryhan langsung kepada Anggi, Hanah, Weny, Febri dan juga pelayan dan setelah itu dia kembali membuka pintu kamar nya dan masuk ke dalam kamar nya untuk beristirahat juga.
"Mau tidur bersama mama dan papa atau di ranjang mu sendiri?" tanya Ryhan kepada anak nya. Devan tidak menjawab namun tubuh nya bergerak ke arah Nana layak nya menjawab pertanyaan ayah nya dengan gerakan tersebut.
"Iya iya tidur bersama papa dan mama" ucap Ryhan saat melihat anak nya yang terus saja berusaha ke dekat Nana. Ryhan membaringkan putra nya di samping wanita nya dan setelah itu dia pula ikut berbaring dengan tangan yang memegang pinggang wanita nya tersebut.
Keesokan pagi nya.
Nana terbangun terlebih dahulu dari tidur nya dan langsung mendapati suami dan anak nya di hadapan nya. "Kau tidur bersama mama?" tanya Nana dengan mengusap wajah anak nya tersebut yang tengah tertidur nyenyak dengan memeluk tangan Ryhan sebagai guling.
Nna perlahan turun dari ranjang tersebut dan meletakkan bantal di belakang anak nya agar tidak terjatuh ke bawah dan langsung keluar dari kamar itu.
Tujuan awal nya yaitu butik, Pagi pagi ini dia langsung menuju ke butik yang sudah menjadi abu itu. "Ah tuhan" guman nya dengan membuang nafas panjang saat melihat keadaan butik nya.
"Bukan tentang butik yang aku sedihkan namun......"
"Ini adalah rumah ayah, Kenangan yang begitu banyak bersama kak Rendi dan juga ayah itu hal paling utama membuat ku sedikit sedih, Nanti jika rumah ini benar benar hancur dan tidak di bangun kembali bagaimana ibu akan menemui ku?" tanya Nana dengan menatap puing puing bangunan tersebut.
"Kau masih berharap ibu mu akan datang menemui mu?" suara terdengar sangat familiat menggema di telinga Nana membuat nya menoleh ke arah suara.
"Kakak" ucap nya saat melihat Anggi lah yang bertanya itu.
"Adik kecil tidak boleh duduk di tanah seperti ini, Ayo berdiri" ucap Anggi dan memegang bahu adik nya hingga berdiri kembali.
"Sayang" teriak Ryhan yang sedari tadi kehilangan wanita nya dan menemukan nya di depan butik yang sudah terbakar bersama dengan Anggi.
Ryhan langsung berjalan mendekat ke arah wanita nya dengan Devan yang masih tertidur di dalam kamar. "Aku mencari mu kemana mana tadi" ucap Ryhan yang sedikit hawatir dengan wanita nya tersebut.
"Aku tidak akan kemana mana" jawab Nana.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ryhan dengan tatapan mata hawatir dan tangan yang merapikan rambut wanita nya yang tidak berantakan itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.