Dear D

Dear D
Episode 149



"R-Ryhan jangan berbicara seperti itu..."


"Kau itu takut, Tidah usah berpura pura di hadapan mereka bahwa kau baik baik saja saat bertemu mereka" potong Ryhan yang cukup kesal akan istri nya yang mencoba membela ibu dan ayah nya.


"A-aku tidak takut" jawab Nana dengan masih belum berani menatap Merri.


"Tidak takut apa nya? Tangan mu gemetar seperti ini itu menandakan jika kau takut" balas Ryhan dengan menatap tajam ke arah ibu nya.


"Ryhan kau kenapa berbicara seperti itu kepada mama mu?" tanya Andra yang sudah tidak enak di telinga saat mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut anak nya tersebut.


"Kenapa? Apa aku salah melindungi istriku? Jika ada yang ingin menganggu istri papa apa papa akan membiarkan nya?" tanya Ryhan dengan wajah datar dan menatap tajam ke arah ibu nya.


Merri nampak memasang wajah sedih nya akibat anak nya yang sama sekali tidak menerima nya. "Seandainya istri papa takut terhadap sesuatu apa papa akan menunjukkan sesuatu itu kepada nya?" tanya Ryhan kembali saat tidak mendapatkan jawaban dari ayah nya tersebut.


Nana memejamkan mata nya merasa bersalah akibat tidak bisa melawan rasa takut nya hingga membuat Ryhan menjadi durhaka seperti ini. Andra menatap tajam anak nya tersebut dan setelah itu menatap pula ke arah Nana yang memang nampak sangat takut, Mata yang terpejam dan tangan yang meremas tangan satu sama lain menandakan jika wanita itu benar benar takut.


"Nak mama benar benar ingin meminta maaf kepada kalian, Mama ingin menebus kesalahan mama terhadap Nana istri mu" ucap Merri dengan memegang tangan anak nya sangat berharap anak nya memberikan nya kesempatan hingga air mata terjatuh di wajah nya.


"Hah?" Ryhan membuang wajah nya dengan tertawa kecil saat mendengar ucapan mama nya tersebut.


"Ucapan seperti ini sudah sangat sering di dengar saat orang ingin meminta maaf dan orang itu akan melakukan hal yang sama seperti dahulu mungkin akan lebih maka dari itu aku tidak akan mengizinkan mama untuk dekat dengan istri ku" ucap Ryhan dengan wajah datar nya menatap ibu nya tersebut.


Merri langsung berlutut di hadapan anak nya saat ini hingga membuat Nana kaget sedangkan Ryhan tidak memperdulikan nya. "Tapi nak mama benar benar ingin meminta maaf dan memperbaiki semua nya, Kita mulai dari awal ya sayang, Mama merestui hubungan kalian dan mama benar benar ingin menjadi mama dan mertua yang baik untuk kalian" ucap Merri yang memohon mohon kepada anak nya tersebut.


"Berdirilah, Berlutut layak nya orang benar benar ingin meminta maaf seperti mama tidak akan merubah pikiran ku" ucap Ryhan dengan memegang kedua bahu ibu nya dan membantu nya berdiri hingga ibu nya kembali berdiri seperti semula.


"Sudahlah tidak ada guna nya berdebat mengatakan hal yang tidak akan kalian mengerti, Lebih baik papa dan mama pulang saja" ucap Ryhan dengan nada rendah saat melihat ibu nya menangis. Wajah yang datar awal nya langsung menjadi sedikit sedih meskipun tidak terlalu terlihat saat dia melihat ibu nya yang menangis hingga berlutut di hadapan nya.


"Sayang kau masuk ke kamar dahulu ya nanti aku akan menyusul mu" ucap Ryhan dengan senyum nya menatap istri nya yang nampak masih ketakutan itu dengan mencium pucuk kepala nya.


"Tapi..."


"Sudahlah sana masuk, Aku sudah menyuruh mu masuk" potong Ryhan saat istri nya hendak berbicara.


"Baiklah"


"T-tante, O-om s-saya p-permisi" pamit Nana yang gelagapan akibat masih saja takut.


Ryhan langsung menurunkan tangan ibu nya dan kembali melindungi pandang istri nya agar tidak bisa melihat ibu nya. "Aku sudah menyuruh mu masuk tadi" ucap Ryhan dengan wajah datar nya.


"Baik" Nana langsung berlalu dari sana dan masuk ke dalam kamar.


"Kunci pintu kamar" teriak Ryhan. Nana tidak menjawab nya dan langsung mengunci pintu kamar tersebut.


"Masuklah" ucap Ryhan mempersilahkan kedua orang tua nya itu masuk ke dalam apartemen nya.


Nana membuang nafas panjang saat perasaan nya sudah baik baik saja. Hati yang ketakutan tadi juga sudah baik baik saja begitupun suhu tubuh nya yang juga kembali normal. "Ah tuhan karna aku Ryhan menjadi durhaka kepada kedua orang tua nya" ucap Nana yang langsung terduduk dengan mata yang terpejam dan nafas naik turun dengan cepat.


"Bagaimana bisa aku takut dengan ibu mertua ku sendiri? Bagaimana bisa aku membiarkan Ryhan berbicara seperti itu kepada orang tua nya? Kenapa aku tidak bisa menegah nya tadi? Kenapa aku bisa takut sekali tadi tuhan?" tanya Nana dengan menengadahkan pandang nya dan setelah menunduk.


"Duduklah" Ryhan kembali mempersilahkan kedua orang tua nya itu untuk duduk di atas kursi dengan dia yang juga duduk setelah kedua orang tua nya menandakan jika anak itu adalah anak yang sangat mengerti sopan santun hanya saja emosi dan ketakutan nya membuat nya menjadi seperti tadi terhadap kedua orang tua nya.


"Mama ingin membujuk Delina dengan cara bertatapan wajah langsung saat awal seperti ini tidak akan berhasil sampai kapan pun, Delina yang sudah takut terhadap sesuatu akan sangat sudah untuk kembali tidak takut lagi, Ryhan sebenar nya tidak ingin berbicara tentang ini dan tentang apa yang bisa membuat Delina tidak takut lagi terhadap mama. Karna mama yang sudah berlutut di hadapan Ryhan membuat hati Ryhan sedikit yakin dengan niat mama, Ryhan sedikit yakin akan mama yang benar benar berubah, Sudah beberapa kali mencoba menghubungkan kembali hubungan mama dan juga Delina membuat aku berpikir untuk memberikan mama kesempatan kedua" jelas Ryhan.


"Mama benar benar ingin menebus kesalahan mama di masa lampau nak, Mama benar benar menyetujui kalian" balas Merri dengan air mata yang sedikit demi sedikit menetes di wajah nya.


"Entah itu benar atau tidak tapi wajah mama nampak begitu tulus, Saat Delina memberikan kesempatan kedua aku harap mama benar benar tidak akan pernah mengulangi perbuatan lalu dan menyakiti hati nya, Sebab nanti jika kesempatan kedua yang di berikan nya kalian hancurkan kembali dia tidak akan pernah mau memberikan kesempatan apapun untuk kalian begitupun dengan Ryhan" jelas Ryhan.kembali.


"Bagaimana menurut mu tentang Nana yang takut terhadap mama? Apa dia bisa tidak takut lagi?" tanya Andra yang sedari tadi memikirkan hal tersebut.


"Mulailah mencoba menghubungi nya melalui ponsel, Seperti videocall, mengirim pesan dan mengajak nya tertawa bersama, Bertelpon seperti biasa, Jika sudah terbiasa dengan itu dia perlahan akan melupakan seluruh hal buruk yang pernah terjadi......"


"Dia pernah mengalami hal buruk lainnya sebelum nya?" tanya Andra dengan memotong ucapan anak nya tersebut.


.


.


.


.


.