Dear D

Dear D
Episode 220



Nana menoleh ke arah Andra yang baru saja keluar bersamaan dengan Devan dan juga Febri sedangkan Ferisa masih meratapi jasad adik nya dan Merri yang terus saja menangis. "Nana benar benar tidak ingat apapun" guman Febri saat melihat Nana yang masih saja memasang wajah bingung.


"Nana kau tidak ingin masuk?" tanya Anggi.


"Untuk apa aku masuk? Apa aku keluarga nya?" tanya Nana dengan wajah bingung menatap Anggi.


Andra langsung menatap ke arah Nana membuat Anggi dan yang lainnya terdiam akan pertanyaan Nana itu. Merri dan Ferisa keluar dari ruangan tersebut hingga membuat semua orang menatap ke mereka pula.


Ambulance langsung membawa jenazah Ryhan menuju ke pemakaman dengan Nana yang masih duduk di kursi roda dan di dorong oleh Anggi. Febri membantu membawa keranda jenazah itu dengan Kevin dan beberapa orang terdekat nya hingga sampai di tempat pemakaman nya keranda langsung di turunkan.


Kevin dan Andra turun ke makam itu dengan Nana berada sangat dekat dengan jenazah suami nya. Merri memberikan ciuman terakhir kepada anak lelaki nya begitupun dengan Ferisa dan juga Devan yang memberontak saat Ferisa memberikan nya mencium almarhum ayah nya. Setelah semua nya selesai memberikan ciuman terakhir mereka jenazah itu di berikan kepada Andra da juga Kevin yang ada di bawah. "Bolehkah aku mencium nya juga?" tanya Nana yang sedari tadi hanya termenung menyaksikan pemakaman itu.


Kevin dan seluruh orang yang ada di sana menatap ke arah Nana. Nana yang tidak mendapatkan jawaban menundukkan kepala nya. "Silahkan sayang" jawab Merri dengan senyum nya menatap Nana.


Anggi membantu Nana mendekat ke arah jenazah itu. Nana membungkukkan tubuh nya dan mencium dalam dalam dahi lelaki itu. Mata yang terpejam mencium dahi itu hingga akhir nya kembali membuka mata nya. "Istirahatlah dengan tenang dan tidur dengan nyenyak" ucap Nana dengan senyum nya dan mengusap dahi lelaki itu.


"Ah" Febri langsung mengalihkan pandang nya saat mendengar hal tersebut. Seluruh orang yang ada di sana juga ikut menangis saat melihat dan mendengar ucapan dari Nana.


Andra dan Kevin meneteskan air mata mereka dan menurunkan jenazah itu untuk di makam kan. "Maafkan papa sayang" guman Andra dan langsung keluar dari makam itu saat orang hendak menimbun nya menggunakan tanah.


"Kau pulang bersama kakak?" tanya Anggi.


"Dia adalah istriku jadi harus pulang bersama ku" ucap Febri pula dan hal tersebut membuat seluruh orang yang tidak mengetahui keinginan Ryhan menatap ke arah nya.


Febri mengambil Devan dari Andra. "Kita pulang ke rumah papa ya sayang" ucap Febri dengan senyum nya menatap Devan sedangkan Nana masih saja memasang wajah bingung nya.


"Dia akan pulang bersama ku" ucap Anggi dengan menarik kursi roda yang di duduki oleh Nana.


"Anggi biarkan" ucap Andra dengan wajah datar nya saat melihat Anggi menghentikan Febri.


"Tapi dia bukan....."


"Nak kau pulang bersama Febri dan juga keluarga nya" ucap Andra dengan tersenyum sedang yang lain nya yang ada di sana nampak masih kebingungan begitupun dengan Nana sendiri.


"Kau tidak usah bingung, Besok papa akan jelaskan semua nya kepada mu dan kenalkan kembali seluruh orang yang ada di sini, Malam ini pulang dahulu untuk istirahat ya sayang" ucap Andra kembali saat melihat wajah kebingungan dari Nana.


"Yasudah sayang ayo" ajak Febri dan mendorong kursi roda Nana menuju ke mobil. Nana yang duduk di kursi roda dan belum mengetahui apa apa tidak mengeluarkan suara sedari tadi dan mengikuti Febri saja.


"Mamma" ucap Devan dengan memberontak dari pangkuan Febri hendak berada di gendongan ibu nya.


"Iya sayang" jawab Nana yang mencoba mengalihkan kebingungan nya dan mengambil anak nya dari lelaki yang saat ini di ketahui nya adalah suami nya.


"Kenapa papa membiarkan Nana pergi bersama Febri? Febri bukan suami nya" ketus Merri yang sedari tadi menahan kesal nya terhadap suami nya.


"Jika di biarkan sendiri di dalam keadaan ingatan nya tidak baik baik saja kau akan mencelakai nya begitupun jika di dia tinggal di rumah kita" jawab Andra dengan wajah datar nya dan berjalan ke arah mobil nya.


"Jalan" ucap Andra dengan wajah datar nya kepada sopir.


"Nyonya dan nona...."


"Jalan" tegas Andra kembali.


Zea ibu Febri nampak tersenyum menatap spion mobil. "Menantu yang aku inginkan sudah aku dapatkan" guman nya dengan tersenyum lebar menatap Nana yang duduk di samping anak nya.


"Baik tidak baik nya ini adalah amanah Ryhan dan juga....." Febri langsung menatap ke arah Nana.


"Dan juga aku mencintai nya, Jadi tidak masalah sedikit berbohong dalam keadaan ini" sambung nya dengan tersenyum lebar menatap Nana dan juga anak nya.


"Akhir nya sampai, Ayo turun sayang" ajak Zea kepada Nana. Nana menganggukkan kepala nya dan Zea mengambil Devan dari Nana dan Febri dia mengambil kursi roda dan menggendong Nana ke atas nya dan mendorong kursi roda tersebut masuk ke dalam rumah dengan Syahrul ayah Febri yang hanya mengikuti mereka dari belakang.


"Di bilang senang aku cukup senang mendapatkan menantu idaman ku, Namun...." Syahrul menatap ke arah Devan yang nampak tidak terlalu nyaman di pelukan Febri.


"Apakah ini akan bertahan lama?" guman nya kembali.


"Ini adalah kamar kita" ucap Febri dengan senyum nya membawa Nana yang sama sekali tidak terikat apapun dengan nya ke kamar pribadi nya.


"Ah, Biasakah aku tidur sendiri saja?" tanya Nana yang nampak ragu membuat Febri dan juga Zea bingung menatap nya.


"Kau...."


"B-bukan apa apa, Aku hanya belum yakin dengan pernikahan ku sebelum om tadi menjelaskan nya dengan rinci" ucap Nana dengan menundukkan kepala nya sedikit ragu untuk berbicara tidak sopan seperti itu.


Febri terdiam saat mendengar itu namun dengan segera dia tersenyum kepada Nana. "Ah baiklah, Patut untuk mu ragu dengan ucapan ku, Kau saat ini sedang tidak mengingat apapun" jawab Febri dengan senyum nya membuat Nana kembali mengangkat kepala nya.


"Aku akan mengantar mu masuk ke kamar atas" ucap Febri dengan senyum nya dn mendorong kursi roda itu menuju ke kamar atas.


"Devan tidur bersama mama dan papa tidak apa apakan sayang?" tanya Zea kepada Nana dengan Devan yang berada di gendongan nya.


"Tidak apa apa" jawab Nana dengan senyum nya.


"Istirahat dengan baik ya sayang" ucap Nana dengan mencium Devan.


"Mama ke bawah dahulu sayang, Jika ada sesuatu tolong panggilan mama atau pelayan" ucap Zea dengan mengusap kepala nya hingga membuat Nana menganggukkan kepala nya mengiyakan ucapan Zea itu.


.


.


.


.


.


.


.


.