
"Mengerti ppak" jawb mereka bersamaan.
"Baiklah kembali ke tempat kerja masing masing, Del, Ah Nana ini tempat untuk mu" ucap Ryhan yang sngat tidak nyaman memanggil istri nya dengan sebutan Nana.
"Ah, B-baik, Terima kasih pak" ucap Nana dengan sedikit membungkukkan tubuh nya ke suami nya. Ryhan tidak menjawab ucapan istri nya dan berjalan masuk ke dalam ruang di hadapan tempat bekerja istri nya.
Dia meminta ruangan sendiri kepada ayah nya agar dia bisa melihat perilaku orang terhadap istri nya yang masih baru. Nana mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang ada di depan ruangan suami nya. "Dia pasti kebingungan memulai dari mana kerja nya" guman Ryhan saat memperhatikan istri nya yang masih melihat sekeliling tempat nya.
"Hey" sapa pegawai perempuan yang duduk tidak jauh dari Nana. Nana langsung menoleh ke arah pegawai tersebut.
"Saya?" tanya Nana dengan wajah bingung nya tapi mencoba untuk berusaha tersenyum ramah.
"Iya, Kenalkan nama ku Fany" ucap pegawai yang cantik, Putih dan di sukai banyak lelaki di kantor itu dengan menyodorkan tangan nya ingin berkenalan dengan Nana.
Nana menatap tangan Faniya dan setelah itu menatap wajah Fany yang nampak tersenyum menatap nya. "Nana" ucap Nana pula dengan menerima tangan Fany dan berjabat tangan kedua nya.
Faniya tersenyum dan melepaskan tangan nya. "Kau jika memiliki kendala dalam pekerjaan katakan kepada ku, Aku bisa membantu mu" ucap Faniya dengan tersenyum ramah terhadap Nana.
"Ah iya terima kasih" jawab Nana yang masih belum bisa berbasa basi terhadap orang baru.
"Kau umur berapa?" tanya Fany.
"Umurku baru delapan belas tahun" jawab Nana dengan tersenyum.
"Ah masih sangat muda, Jika umur ku sudah dua puluh tahunan" ucap Fany dengan tersenyum.
"Seumuran dengan Ryhan" guman Nana dengan tersenyum tanpa membelalak kemana mana.
"Kenapa kalian malah mengobrol bukannya bekerja?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya yang tiba tiba muncul di hadapan kedua wanita itu dengan mata nya yang terus saja menatap istri nya.
"B-baik pak" jawab Fany dan kembali ke tempat duduk nya sedangkan Nana mulai melakukan tugas nya.
"Jika kesusahan bertanya kepada ku" ucap Ryhan dengan nada pelan kepada istri nya. Nana langsung mendongakkan kepala nya dan hanya menatap datar ke arah lelaki itu dan setelah itu kembali pokus ke pekerjaan nya.
Ryhan tersenyum menatap istri nya dan saat kembali berdiri seperti semula dia langsung memasang wajah datar nya kembali dan kembali masuk ke dalam ruangan nya. Ryhan mulai mengerjakan pekerjaan nya sedangkan Nana yang merasakan suami nya sudah pergi menatap ke depan. Wajah yang serius sat bekerja sangat terlihat oleh nya di wajah suami nya, Wajah tampan itu membuat nya tiba tiba tersenyum.
"Pak ini berkas berkas yang bapak minta" ucap Fany yang tak lain dan tak bukan adalah asisten Ryhan, Bukan asisten melainkan wakil asisten sedangkan asisten sesungguh nya adalah lelaki.
"Terima kasih" jawab Ryhan dengan wajah datar nya tanpa menatap Fany. Faniya tersenyum saat mendengar ucapan terima kasih dari Ryhan dan dia langsung berlalu dari sana.
Nana menatap tanya dan terlihat Fany berjalan menghadap nya dengan tersenyum. "Apa ada yang terjadi?" tanya Nana kepada Fany yang sekarang berada di hadapan nya.
"Hem?" Fany menatap ke arah Nana dengan masih tersenyum.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Nana kembali saat tidak mendapatkan jawaban dari Fany.
"Ah tidak ada terjadi apa apa" jawab Fany dengan tersenyum lebar menatap Nana seperti orang ramah.
"Ah baiklah" balas Nana dan kembali melanjutkan pekerjaan nya. Fany menganggukkan kepala nya dan langsung berlalu dari sana kembali ke tempat nya.
"Iya kau duluan saja, Aku akan menyelesaikan ini sebentar" jawab Nana dengan tersenyum.
"Kau ini rajin sekali, Pantas saja di umu ini kau sudah di terima" ucap Fany dan langsung berlalu dari sana.
"Selesaikan itu nanti, Mari makan dahulu" ucap Ryhan yang tiba tiba muncul kembali seperti tadi.
Nana mengangkat kepala nya dan ternyata yang mengajak nya makan itu adalah suami nya. "Em baik" jawab Nana dan berdiri dari duduk nya. Mereka berdua berjalan bersamaan menuju ke kantin kantor.
"Kau manager tidak apa apa makan di kantin bersama pegawai lain?" tanya Nana kepada suami nya.
"Aku dulu juga pegawai biasa sama seperti mu" jawab Ryhan dengan tersenyum menatap istri nya. Nana tidak menjawab nya lagi akibat sudah sampai di kantin dan dia tidak mungkin mengobrol lagi dengan Ryhan.
"Na? Kau bilang masih mau menyelesaikan tugas mu" ucap Fany saat melihat Nana datang ke kantin bersamaan dengan Ryhan atasan nya.
"Ah itu aku sedikit lapar makanya ke kantin" jawab Nana dengan tersenyum menatap Fany.
"Baiklah, Duduk di sini bersama ku jika kau mau" ucap Fany dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang tidak jauh dari tempat Nana berdiri sedangkan yang lain memang tidak ada yang terlalu dekat dengan Ryhan.
"Bapak juga boleh duduk di sini jika bapak mau" ucap Fany saat melihat Ryhan menatap tajam ke arah Nana.
"Terima kasih" jawab Ryhan dan berlalu menjauh dari dekat Fany dan juga istri nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi di samping tempat duduk istri nya.
Nana mulai memakan makanan nya begitupun Ryhan yang duduk di meja di sebelah meja istri nya dan Fany. "Boleh duduk bersama pak?" tanya salah satu pekerja lelaki kepada Ryhan karna tidak menemukan tempat duduk kosong kecuali di dekat Ryhan.
"Silahkan" jawab Ryhan dengan datar nya tanpa menatap lelaki itu dan terus saja memakan makanan nya dengan mata yang sedari tadi memperhatikan istri nya.
Pekerja lelaki tadi juga memperhatikan Nana bukan Fany, Ten nama lelaki tersebut, Lelaki yang memiliki sifat pendiam dan tertutup terhadap perempuan, Dia memiliki wajah yang cukup tampan dan banyak wanita di perusahaan tersebut mengincar nya tapi setelah kehadiran Ryhan seluruh wanita malah menyukai Ryhan dan terus berusaha untuk dekat dengan Ryhan tapi itu tidak masalah untuk Ten karna dia juga tidak menyukai mereka.
"Perempuan itu cukup cantik" guman Ten saat sedari tadi memperhatikan Nana.
Ryhan menatap tajam lelaki yang ada di hadapan nya dan terlihat lelaki itu tersenyum menatap istri nya. "Aku ingin berkenalan dengan nya, Tapi apa dia mau berkenalan dengan ku?" guman Ten yang merasa tidak percaya diri ingin berkenalan dengan Nana.
.
.
.
.
.
.
.