
"Hah? Bagaimana bisa kau menemukan nya?" tanya Ryhan yang nampak bingung dengan tatapan tajam menatap istri nya yang dapat mengambil saos yang sudah di sembunyikan nya di dalam lemari dan kunci lemari sudah ia sembunyikan menurut nya.
"Aku memiliki banyak cara untuk bisa mendapatkan nya dan kau tidak berhak melarang ku memakan nya" ketus Nana dan memasukkan saos yang ia dapatkan tadi ke dalam makanan nya.
"Jangan terlalu banyak" ketus Ryhan dan merampas saos tersebut dari tangan istri nya.
"Terima kasih" ucap Nana dengan senyum nya akibat merasa sudah pas dengan saos yang ia masukkan tadi.
"Aneh sekali kau ini, Biasa nya tidak memakan pedas tapi sekarang malah menyukai pedas" ketus Ryhan dan ikut melahap makanan yang di masak oleh istri nya untuk nya tadi.
Seminggu telah berlalu. Ryhan yang tidak pernah lagi ke kantor begitupun dengan Nana membuat seluruh orang kantor keheranan akan kedua nya. "Sayang kau sedang apa?" tanya Ryhan dengan menundukkan sedikit tubuh nya dan meletakkan dagu nya di bahu istri nya yang sedang duduk di meja yang beberapa hari lalu ia berikan kepada istri nya beberapa hari yang lalu.
"Kau itu tidak buta jadi jangan bertanya hal yang bisa kau lihat" ketus Nana dan kembali melanjutkan menggambar nya.
Ryhan tersenyum saat mendengar jawaban tersebut karna itu memang salah nya yang bertanya hal yang bisa ia lihat. Ryhan menarik kursi yang satu nya lagi dan mendudukkan tubuh nya di atas sana. "Seluruh gambaran mu bagus, Apa kau siap memulai usaha mu?" tanya Ryhan dengan menatap beberapa desain baju yang ada di hadapan istri nya tersebut.
Nana menghentikan tangan nya yang tengah menggambar saat ini dan menatap suami nya dengan tatapan kosong hingga menbuat Ryhan yang tadi tersenyum jadi kebingungan. "Kenapa wajah mu seperti ini?" tanya Ryhan dengan menyentuh wajah istri nya menggunakan telunjuk nya.
"Apa aku akan berhasil?" tanya Nana dengan tatapan penuh harapan akan jawaban Ryhan.
Ryhan terdiam beberapa detik hingga akhir nya dia langsung tersenyum mencoba menyemangati wanita yang sedikit kehilangan semangat itu. "Ah jelas saja berhasil jika kau sudah memulai nya" jawab Ryhan dengan senyum nya dan mencubit pipi istri nya tersebut.
Nana langsung memukul tangan itu hingga terlepas dan mengusap pipi nya tersebut yang sedikit sakit. "Apakah benar?" tanya Nana yang menambah ekpresi sedih nya menatap suami nya.
Ryhan membuang nafas panjang dan langsung memegang kedua bahu istri nya tersebut. "Kau tidak percaya dengan ku?" tanya Ryhan. Nana diam dia tidak merespon apapun dari pertanyaan suami nya tersebut.
"Kau ingat ini, Orang yang sudah berusaha pasti akan menikmati hasil usaha nya tersebut, Gagal bukan menjadi masalah besar untuk mereka yang kuat memperjuangkan keinginan mereka, Mereka tetap yakin dengan tekad mereka yang menginginkan keinginan mereka menjadi nyata hingga sukses dan kau juga harus seperti itu, Aku selalu ada berasa mu, Aku selalu mendukung mu kau tidak usah takut gagal, Cobalah" jelas Ryhan dengan tersenyum lebar menatap istri nya.
Nana masih belum menjawab dan mencerna ucapan yang keluar dari mulut suami nya tersebut. "Semangat" ucap Ryhan mencoba kembali membangkitkan semangat istri nya tersebut dengan tangan membentuk semangat dan wajah yang tersenyum hangat.
Wanita yang awal nya tidak yakin ingin memulai usaha nya langsung tersenyum lebar saat mendapatkan semangat dari lelaki nya. "Iya aku harus semangat" jawab Nana yang kembali girang saat sudah dapat mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut suami nya.
"Jika seperti ini baru Delina yang aku kenal" ucap Ryhan dengan mengacak acak rambut wanita nya tersebut yang kembali bersemangat.
"Besok kita akan pulang ke rumah kan?" tanya Nana yang baru ingat akan Ryhan yang berjanji akan hal tersebut.
Ryhan langsung tersenyum. "Iya" jawab lelaki itu dengan masih mengacak acak rambut wanita nya itu.
"Terima kasih banyak sudah menjadi orang yang berarti di hidup ku" guman Nana saat melihat senyum yang menyenjukkan hati nya keluar dari wajah suami nya.
"Memang nya masih lama menggambar mu?" tanya Ryhan akan istri nya dengan mata yang menatap gambaran yang di gambar oleh wanita nya.
"Belum" jawab Nana. Ryhan menatap ke arah jam yang ada di hadapan nya dan terlihat jam sudah menunjuk pukul dua belas menandakan sudah waktu makan siang.
"Hentikan dahulu ya pekerjaan mu ini, Ini sudah waktu nya makan siang, Ayo kita keluar mencari makan" ajak Ryhan dengan menutup perlahan buku desain istri nya dan meletakkan pensil dengan hati hati.
"Iya, Ayo cepat" jawab Ryhan saat mendapatkan pertanyaan yang beberapa hari ini di tanyakan istri nya.
Nana menganggukkan kepala nya dan menuju ke ruang ganti untuk mengganti baju dan mengenakan sepatu nya sedangkan Ryhan sudah siap makanya dia langsung mengajak. Setelah Nana selesai kedua nya langsung keluar dari apartemen yang mereka tempati dan turun ke bawah.
Saat sampai di bawah Ryhan berhenti tepat di depan mobil tapi tidak dengan Nana yang menghentikan Ryhan yang hendak masuk ke dalam mobil itu. "Kenapa?" tanya Ryhan saat melihat istri nya menarik tangan nya.
"Kita jalan kaki saja bagaimana?" tanya Nana dengan menatap lekat wajah suami nya berharap suami nya menyetujui keinginan nya.
"Hem. Nanti kau kelelahan jika jalan kaki" ucap Ryhan dengan sedikit bingung dengan istri pemalas nya yang ingin berjalan kaki.
"Tidak apa apa, Aku bukan pemalas yang tidak bisa berjalan kaki kemanapun" balas Nana.
"Kau yakin?" tanya Ryhan memastikan nya.
"Iya, Ayo" ajak Nana kembali dan menarik tangan suami nya tersebut dan membawa nya keluar dari area apartemen. Ryhan tidak menjawab nya dan hanya mengikuti istri nya yang memimpin jalan saat ini.
Sudah ada tiga puluh menit kedua nya berjalan akhir nya Nana membawa Ryhan masuk ke dalam salah satu restoran yang cukup jauh dari apartemen mereka. "Aku dengar makanan laut di sini enak enak" ucap Nana dengan wajah girang nya menatap suami nya.
"Sejauh ini kenapa kau mau jalan kaki?" ketus Ryhan.yang cukup kelelahan.
"Tidak terlalu jauh, Duduk" ucap Nana dan memundurkan kursi agar suami nya duduk. Setelah suami nya duduk dia pula yang duduk dan langsung memanggil pelayan dengan wajah girang.
Nana memesan makanan yang dia inginkan. "Kau mau apa?" tanya Nana kepada suami nya yang hanya diam.
"Sama" jawab Ryhan.
"Ini semua nya dua ya" ucap Nana dengan senyum nya.
"Baik silahkan di tunggu" jawab pelayan dengan senyum menyuruh kedua nya untuk menunggu dan langsung berlalu dari sana.
"Ini meja terlalu besar untuk kita berdua" ucap Ryhan yang cukup tidak nyaman berada di meja makan yang cukup besar untuk orang berdua.
.
.
.
.
.