
"Kenapa aku tidak yakin dengan ucapan nya? Dia sangat asing bagi ku dan malah lelaki yang meninggal kemarin terasa sangat dekat dengan ku, Apakah mereka semua membohongi ku?" guman Nana dengan wajah masih bingung menatap Febri yang nampak mencoba meyakinkan nya.
"Kapan memang nya rencana pesta pernikahan akan di adakan?" tanya Nana.
"Jika kau sembuh besok lusa akan langsung di laksanakan" jawab Febri.
"Kau bisa memberikan waktu untukku meyakinkan diri ku sendiri jika kau suami ku?" tanya Nana.
"Kau membutuhkan waktu berapa lama?" tanya Febri pula dengan wajah bingung.
"Entahlah, Tapi saat aku siap aku akan mengatakan nya kepada mu" jawab Nana dengan memasang wajah sedih nya.
"Tapi...."
"Kitakan juga sudah menikah jadi tidak apa apakan jika pesta nya di lakukan kapanpun? Saat Devan berumur empat atau lima tahun itu seperti nya akan lebih baik" potong Nana.
"Tapi pernikahan sangat perlu di adaan pesta" jawab Febri.
"Apakah kita memang tidak pernah menikah hingga kau menolak untuk melaksakan pesta nya saat Devan balita?" tanya Nana kembali dengan mengerutkan dahi nya.
Febri membuang nafas panjang mencoba tenang agar tidk ketahuan. "Baiklah aku menerima keputusan mu, Istirahatlah dengan baik nanti aku akan kemari lagi" ucap Febri dan mencium dahi wanita tersebut.
"Baik" jawab Nana dan kembali memposisikan tubuh nya untuk istirahat kembali.
"Dia seperti tidak yakin dengan Febri" guman Zea ibu Febri.
"Jika beginikan sangat enak, Tidak ada yang mendapatkan Ryhan, Tapi kenapa......"
"Kenapa Ryhan malah meninggal? Aku ingin membuat wanita jalang itu yang menemui tuhan bukan Ryhan lelaki ku, Ahhh"
Pranggg
Benda berbahan kaca terpecah belah akibat di banting oleh nya. "Jika sudah tidak ada Ryhan sudah di pastikan jika wanita jalang itu tidak bahagia, Tapi itu bukan lagi urusan ku" guman nya dengan tangan yang menggepal geram.
"Aku...."
"Aku tidak dapat mencium lelaki untuk terakhir kali nya sedangkan wanita jalang itu yang tidak ada guna nya seenak nya mencium lelaki ku" teriak nya kembali.
"Wanit jalang tidak akan aku biarkan kau tenang"
"Kesempatan ini seharus nya aku jadikan untuk mencari tau identitas ku bukan?" guman Nana.
"Devan nampak benar benar anakku, Dia terus memanggil ku mama namun aku tidak pernah mendengarkan nya memanggil Febri papa" guman Nana yang masih saja tidak yakin dengan apa yang di dengar nya.
"Anggi" panggil Yeri ibu Anggi.
"Ada apa?" tanya Anggi dengan wajah datar nya.
"Apakah Nana anak dari Aditiya?" tanya Yeri. Anggi terdiam, Dia yang awal nya sibuk dengan urusan nya sendiri langsung menoleh ke arah ibu nya.
"Mama tau dari mana nama ayah Rendi dan juga Nana?" tanya Anggi dengan wajah datar nya.
"Kau baik dengan keluarga mereka karna kau taukan jika ibu ini adalah ibu mereka?" tanya Yeri yang nampak ragu.
"Sudah aku duga, Pantas saja saat Rendi pertama kali ke sini menatap mu terus menerus ternyata kau adalah ibu mereka, Heh" ucap Anggi dengan tertawa kecil akan pertanyaan ibu nya.
"Aku harap kau tidak pernah lagi menganggu Nana, Anggap saja ibu Nana sudah pergi bersama dengan ayah nya dan kau wanita yang buta akan uang jangan pernah mengaku sebagai ibu Nana di hadapan nya, Jangan berani kau menganggu nya" ucap Anggi dengan wajah datar nya dan membawa komputer lipat nya menuju ke kamar nya.
"Anggi memang tidak pernah tulus menerima ku sebagai ibu pengganti nya namun anakku sekarang dia sudah sukses dan keluarga ini sudah patut aku tinggalkan untuk kembali ke keluarga ku yang sebenar nya" guman Yeri dengan bibir yang membentuk sebuah senyuman.
"Aku juga dengar bahwa dia sedang tidak mengingat apa apa" ucap Yeri.
"Aku harus menemui nya sekarang" ucap Yeri dan langsung mengambil kunci mobil nya dan berlalu dari sana.
"Wanita jalang itu berani berencana ingin menyakiti Nana?" guman Febri yang bisa mendengar ucapan Yeri.
"Tidak akan aku biarkan kau menyentuh sehelai rambut saja dari adikku itu" guman nya kembali dengan tangan yang menggepal dan rahang yang mengeras.
"Jika ada mama tiriku datang ke rumah mu ingin bertemu dengan Nana kau jangan membiarkan nya" pesan yang di kirimkan oleh Anggi kepada Febri.
"Kenapa Anggi mengirimkan pesan seperti ini?" guman Febri saat melihat isi pesan itu.
"Permisi tuan, Ada yang datang mencari nona" ucap pelayan kepada Febri.
"Pasti tante Yeri" guman Febri dan berjalan ke arah pintu utama untuk menemui tamu yang datang tanpa menjawab ucapan pelayan.
"Apakah Nana ada di sini?" tanya Yeri.
"Nana? Siapa?" tanya Febri.
"Nana anak Aditiya" jawab Yeri.
"Ah maaf tan, Febri tidak tau siapa dia, Apa tante memiliki urusan lain?" tanya Febri yang malas sekali melayani siapapun berbicara saat ini.
"Tapi....."
Drittt
"Ah maaf tan, Febri memiliki urusan lain dan tidak ada siapapun di rumah, Jadi Febri pamit" pamit Febri dengan sopan dan langsung menutup pintu rumah nya.
"Kenapa kau melarang mama mu bertemu dengan Nana?" tanya Febri dan berjalan kembali ke atas.
"Wanita jahat itu memiliki niat buruk kepada Nana, Kau tidak boleh membiarkan Nana bertemu dengan nya" jawab Anggi dan langsung mematikan telpon tersebut.
"Kalian bekerja di rumah ku saat ini" ucap Andra kepada banyak nya pelayan dan bodyguard dari rumah Nana.
"Tapi tuan bagaimana dengan nona...."
"Dia sudah tidak akan tinggal dan kembali ke tempat itu dari pada kalian tidak bekerja lebih baik bekerja di sini" jawab Andra dan langsung berjalan kembali menuju ke kamar nya.
Beberapa tahun berlalu.
"Astaga tuhan, Aku sudah mencari identitasku kemana pun tapi aku tidak menemukan apa apa" guman Nana dan menghempaskan tubuh nya di atas ranjang. Identitas nya yang selalu di cari nya beberapa tahun ini sama sekali tidak membuatkan hasil.
"Mama" teriak Devano.
"Iya sayang" jawab Nana dan menggendong anak nya naik ke atas ranjang.
"Besok adalah ulang tahun ke empat Devano, Papa bilang ingin merayakan nya" ucap Devano. Nana langsung menoleh ke arah Febri yang sama sekali tidak menyentuh nya ataupun satu ranjang bersama selama hidup beberaoa tahun ini bersama.
"Sayang kau keluar sebentar ke dekat nenek tidak apa apa?" tanya Febri dengan mengusap kepala anak nya.
"Tidak apa apa papa, Berbicaralah dengan mama aku ke bawah" teriak Devano dan langsung keluar dari kamar Nana.
"Bagaimana keputusan mu? Apa kau mau merayakan pesta pernikahan saat ulang tahun Devano nanti?" tanya Febri.
"Aku tidak memiliki alasan lagi untuk menolak nya, Aku juga sudah mencari identitasku namun aku tidak menemukan apa apa, Mungkin dia benar benar suami ku hanya saja ingatan ini membuatku jauh dari nya" guman Nana.
"Hem, Aku menerima pesta pernikahan kita" jawab Nana.
"Kau benar benar...."
"Iya aku sudah percaya jika kau benar benar suamiku, Maaf aku sudah tidak mempercayai mu beberapa tahun ini" potong Nana saat Febri hendak bertanya lebih lagi.
"Baiklah akan aku siapkan pesta nya" ucap Febri dengan senyum nya dan tangan yang mengusap kepala Nana.
Hari H.
"Ini tidak masalah melaksanakan pesta pernikahan, Aku tidak menemukan identitas ku jadi tidak mungkin keluarga sebaik ini berbohong kepada ku" guman Nana dengan senyum nya menatap bayangan nya di kaca di hadapan nya.
Plakkkk
"Ah" Nana langsung menundukkan kepala nya saat kepala nya terkena dengan alat rias yang ada di ruang dandan tersebut dan benturan nya cukup keras mengenai kepala nya.
.
.
.
.
.
.
.