
"Jangan beranjak, Perhatikan apa yang aku kerjakan" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan mata menatap komputer, Nna tidak menjawab nya dan hanya memperhatikan Ryhan yang sedang menyesaikan tugas mereka. Ryhan memang selalu saja datar dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah sedangkan Nana tidak mempermasalahkan hal itu karna dia juga sudah mengerti dan tau bagaimana sifat Ryhan.
"Itu" ucap Nana saat Ryhan tertinggal mengatur sesuatu. Ryhan tidak menjawab nya dan mengubah hal itu dan memperbaiki nya.
"Huh, Huh" Nana bisa mendengar jelas nafas lelaki nya itu sedikit ngos ngosan dan nafas itu juga sedikit panas di rambut nya karna dia bisa merasakan nya. Nana mendongakkan kepala nya dan melihat wajah lelaki itu sedikit pucat, Nana langsung menyentuh dahi lelaki itu dan dahi nya terasa panas.
"Kau sakit?" tanya Nana dengan menatap lekat wajah lelaki itu. Yura dan teman kelompok nya yang lain menatap ke arah nya.
"Kau ini, Ayo kita pulang" ajak Nana yang beranjak berdiri dari duduk nya dan menarik tangan Ryhan untuk pergi dari sana tapi Ryhan tidak mau.
"Aku tidak apa apa" jawab Ryhan dengan wajah datar nya.
"Tidak apa apa apanya, Jelas badan mu panas, Ayo pulang" ajak Nana lagi dengan menarik tangan lelaki itu.
"Tangan nya saja panas" guman Nana saat dapat menarik tangan lelaki itu.
"Terusakan pekerjaan ini" ucap Nana kepada kelompok nya.
"Tidak ingin di antarkan Na?" tanya Yura.
"Tidak usah" jawab Nana dan langsung berlalu dari sana dengan menarik tangan Ryhan.
"Mau kemana Nana?" tanya pak Asmawi kepada Nana.
"Pulang pak, Ryhan sakit" jawab Nana akan pertanyaan itu dan setelah itu langsung berlalu dari sana. pak Asmawi tidak menjawab nya dan langsung melanjutkan pengawasan nya.
"Kau tunggu di sini, Aku akan ke atas" ucap Nana karna dia berada di bawah, Ryhan tidak menjawab nya dan Nana pun langsung berlari menuju ke kelas dan dia mengambilkan tas dan barang barang nya dan juga Ryhan setelah itu dia kembali berlari ke bawah.
"Ayo" ajak Nana dengan nada rendah dan menggandeng tangan suami nya itu. Ryhan tidak menjawab nya dan hanya mengikuti nya dan setelah itu mereka keluar dari pekarangan sekolah itu. Nana menghentikan taxi yang melaju di hadapan nya.
"Masuklah, Aku akan membawa sepeda" ucap Nana kepada Ryhan. Nana menyebutkan kemana alamat tujuan nya kepada sopir tadi dan sopir tadi mengangguk mengiyakan nya dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang, Sedangkan Nana dia kembali masuk dan mengambil sepeda, Setelah itu dia langsung mengayuh sepeda itu menuju ke rumah nya.
Beberapa menit akhirnya dia sampai di rumah dan taxi yang ia singgahi tadi belum berlalu dari dekat rumah nya. Nana langsung menuju ke sana dan membayar taxi itu dan setelah itu kembali mengajak Ryhan berjalan masuk ke dalam rumah dengan diri nya yang membimbing suami nya itu. Nana membawa suami nya itu masuk ke dalam kamar nya meskipun selama ini Ryhan tidur di ruang tengah tapi tidak mungkin Nana membiarkan Ryhan yang sedang sakit itu berada di ruang tengah. "Duduk" ucap Nana kepada suami nya itu. Ryhan hanya mengikuti ucapan wanita itu dan mendudkkan tubuh nya di atas ranjang itu. Nana melepaskan almamater yang di kenakan oleh Ryhan dan setelah itu meletakkan nya di tempat nya.
Nana menjongkokkan tubuh nya di samping ranjang yang tidak terllau tinggi itu dan meletakkan sup buatan nya tadi di atas meja belajar nya. "Hey bangunlah, Aku sudah selesai membuatkan makanan untuk mu" ucap Nana dengan mengusap lembut kepala suami nya itu. Ryhan membuka mata nya perlahan dan melihat istri nya tegah tersenyum menatap nya. Nana yang sudah melihat mata suami nya terbuka pun langsung mengambilkan sup tadi. Nana langsung menggeserkan kursi ke dekat nya dan mendudkkan tubuh nya di sana, Nana menghembus sup yang lumayan panas yang sudah ada di sendok itu sedangkan Ryhan dia bersandar di sandaran ranjang itu.
Nana menyuapi sup yang sudah dingin itu ke mulut suami nya dan Ryhan menerima nya dan melahap nya. Wajah lelaki itu nampak sekali pucat dan membuat Nana hawatir akan itu. "Kita ke rumah sakit saja" ucap Nana saat sudah menyuapi beberapa sendok sup ke dalam mulut lelaki itu.
"Tidak usah, Besok aku akan sembuh" jawab Ryhan akan ajakan istri nya itu.
"Tapi kau..." ucap Nana yang terpotong oleh Ryhan.
"Tidak usah" potong Ryhan.
"Baiklah, Makanlah ini, Aku akan membelikan obat untuk mu" ucap Nana dan menyodorkan mangkuk sup tadi kepada Ryhan. Ryhan menerima nya dan Nana pun langsung berlalu dari sana dengan masih menggunakan pakaian sekolah. Nana masuk ke dalam apotrk yang baru saja ia pijaki itu.
"Mencari apa mbak?" tanya pelayan apotek kepada Nana.
"Obat demam untuk umur 19 tahun" jawab Nana akan pertanyaan itu. Nana selalu hapal akan tanggal dan umur suami nya itu karna dia menyayangi lelaki itu.
"Ini mbak" ucap pelayan itu dengan menyodorkan obat kepada Nana, Nana menerima nya dan langsung membayar nya setelah itu dia langsung berlalu dan sedikit berlari menuju ke rumah nya akibat terlalu hawatir akan Ryhan. Beberapa menit dia menempuh jalan akhirnya dia sampai, Dia langsung masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar nya.
"Sudah selesai?" tanya Nana kepada Ryhan yang sedang memainkan ponsel itu. Ryhan menoleh ke arah nya dan langsung menganggukkan kepala nya menandakan jika dia sudah selesai makan.
"Kenapa kau malah memainkan ponsel, Kau itu demam, Nanti kepala mu sakit jika memainkan ponsel" ucap Nana dan merampas ponsel itu dan langsung meletakkan nya ke sembarang arah. Nana membuka kresek yang berisi obat yang ia beli tadi dan langsung membuka nya.
"Minumlah" ucap Nana dan menyodorkan minuman dan obat kepada Ryhan, Ryhan menerima nya dan langsung meneguk obat itu dan setelah itu minum. Ryhan memeberikan gelas tadi kepada Nana dan Nana menrima nya setelah itu dia meletakkan gelas itu ke atas meja belajar nya.
"Aku akan keluar" ucap Nana kepada Ryhan dan langsung berlalu dari sana, Ryhan menatap kepergian wanita itu dan senyum yang jarang ia keluarkan pun langsung terlukis di wajah tampan nya itu.
"Aku sangat menyukai perhatian nya" guman Ryhan dengan tersenyum lebar menatap kepergian istri nya itu.
Nana membalikkan tubuh nya dan itu membuat Ryhan kembali memasang wajah datar nya. "Panggil aku jika membutuhkan sesuatu" ucap Nana yang ingat akan hal itu dan setelah itu dia kembali berjalan keluar dari kamar nya itu.