Dear D

Dear D
Episode 150



"Mulailah mencoba menghubungi nya melalui ponsel, Seperti videocall, mengirim pesan dan mengajak nya tertawa bersama, Bertelpon seperti biasa, Jika sudah terbiasa dengan itu dia perlahan akan melupakan seluruh hal buruk yang pernah terjadi......"


"Dia pernah mengalami hal buruk lainnya sebelum nya?" tanya Andra dengan memotong ucapan anak nya tersebut.


Ryhan terdiam saat mendapatkan pertanyaan tersebut. "Nak" ucap Merri yang menyadarkan anak nya yang melamun itu.


"Delina memiliki hati yang lembut, Dia mudah untuk melupakan masa lalu seiring kedekatan dan kebaikan yang di lakukan orang di masa lalu kepada nya, Tapi jika dia sudah menerima dan welcome terhadap mama Ryhan harap mama jangan pernah sekali kali menyakiti hati nya kembali" sambung Ryhan tanpa menjawab pertanyaan ayah nya.


"Ryhan mohon untuk tidak menyakiti nya lagi atau mencoba memisahkan kami berdua" Ryhan langsung berlutut di hadapan kedua orang tua nya membuat Andra terdiam. Anak yang selalu membantah ucapan nya saat ini tengah berlutut di hadapan nya meminta agar tidak menyakiti istri nya.


"Cih" Merri nampak kesal saat melihat anak nya tersebut yang berlutut di hadapan nya dan juga suami nya.


"Sayang kembali duduk di atas" ucap Merri dan membantu anak nya tersebut kembali duduk di atas sofa.


"Mama akan mencoba apa yang kau katakan tapi mama tidak memiliki nomor ponsel Nana" ucap Merri dengan menatap anak nya dengan tatapan begitu tulus hingga membuat Ryhan percaya akan tatapan tersebut.


"Nanti akan aku kirim melalui pesan" jawab Ryhan dengan wajah datar nya.


"Baiklah sayang, Mama kemari membawakan makanan ingin makan bersama dengan kalian" ucap Merri dengan meletakkan makanan yang ia bawa tadi ke atas meja.


"Delina tidak bisa makan bersama kalian" jawab Ryhan dengan wajah datar nya.


"Kenapa?" tanya Merri yang nampak kecewa saat mendengar jawaban dari anak nya tersebut.


"Dia masih takut terhadap mama, Bisa bisa nanti dia tidak makan akibat terus saja takut, Aku juga sudah bilang kepada mama, Mulai mendekati nya melalui telpon jika nanti dia sudah terbiasa baru mulai menunjukkan diri secara nyata di hadapan nya. Aku tidak ingin mengulang ucapan yang ketiga kali nya" jawab Ryhan dengan wajah datar memahami istri nya yang masih sangat takut terhadap ibu nya hingga kecil kemungkinan nanti Nana akan menghabiskan makanan jika makan bersama dengan ibu nya.


"Jadi bagaimana dengan makanan ini? Mama tinggalkan saja ya untuk makan kalian" ucap Merri dengan senyum nya.


"Tidak usah, Makanan di sini banyak" jawab Ryhan yang masih ada hal yang menjanggal di hati nya saat hendak menerima makanan dari ibu nya.


"Biarkan saja makanan ini tinggal di sini, Kau tidak kasihan melihat mama mu yang susah payah membawa nya kemari?" tanya Andra dengan menatap lekat wajah anak nya berharap anak nya menerima makanan yang di bawakan oleh istri nya.


Merri nampak melebarkan senyum nya dengan sangat berharap dengan Ryhan yang akan menerima makanan yang ia bawa tadi. "Tetap tidak" jawab Ryhan yang sudah tidak bisa menggugat keinginan nya.


"Shit" umpat Merri di hati nya saat tidak bisa memberikan makanan yang ia bawa kepada anak nya tersebut.


"Yasudah tidak apa apa nak" jawab Merri dengan senyum nya menandakan dia baik baik saja saat anak nya tidak mau menerima makanan dari nya.


"Mari aku antar" ucap Ryhan dan berdiri dari duduk nya. Mengusir dengan halus kedua orang tua nya yang masih duduk santai di kursi apartemen nya tersebut.


Merri tersenyum menganggukkan kepala nya mengiyakan ajakan suami nya tersebut dan berjalan menuju keluar apartemen. "Jangan lupa kirimkan nomor Nana ke mama" ucap Merri dengan senyum nya menatap anak nya.


Ryhan menganggukkan kepala nya tanpa tersenyum sama sekali dengan tangan yang memegang ganggang pintu hendak menutup pintu. "Papa dan mama permisi" ucap Andra.


"Hati hati" ucap Ryhan dengan wajah datar nya. Andra tersenyum dengan suara yang tidak terlalu di keluarkan nya saat mengobrol dengan anak nya akibat dia juga mengerti dengan keadaan Nana makanya dia tidak marah ataupun membantah ucapan anak nya tersebut.


Andra dan Merri langsung melangkahkan kaki mereka menjauh dari apartemen anak nya tersebut dengan Merri yang masih saja menenteng rantang yang ia bawa tadi akibat makanan nya yang di tolak. "Buang saja makanan ini. Jika aku yang makan nanti terjadi apa apa dengan ku" guman Merri saat melihat rantang yang ia bawa yang sudah ia masukkan obat sebelum nya.


Ryhan membuang nafas panjang dan berjalan ke arah kamar. "Sayang buka pintu nya" ucap Ryhan saat tidak bisa membuka pintu kamar dan itu menandakan jika kamar masih terkunci.


Nana yang sedang berada di belakang pintu langsung membuka pintu tersebut. Nana langsung melihat wajah istri nya saat pintu terbuka. "Mama dan papa mu sudah pulang?" tanya Nana saat tidak menemukan siapapun lagi di ruang utama.


"Em, Kau mau makan apa? Biar aku yang masak untuk mu" ucap Ryhan dengan senyum nya dan tangan yang mengusap kepala istri nya.


"Aku saja yang masak" jawab Nana dengan senyum nya pula.


"Baiklah, Akan aku temani" jawab Ryhan dengan senyum nya. Nana menganggukkan kepala nya menandakan tidak masalah suami nya jika ingin menemani nya.


Nana langsung menuju ke dapur begitupun dengan Ryhan yang mengikuti dari belakang. Nana langsung mengambil alat masak dan bahan makanan yang akan di masak dan mulai memotong apa yang perlu di potong. Ryhan yang baru saja selesai mengenakan celemek melihat istri nya tidak menggunakan celemek. Dia mengambil celemek yang tergantung di samping nya dan mengenakan nya ke tubuh istri.


"Baju mu akan kotor jika tidak mengenakan ini" ucap Ryhan dengan mengikat tali belakang. Nana tersenyum saat di perhatikan oleh suami nya saat ini.


Ryhan mencium leher istri nya sekilas dan setelah itu kembali memundurkan tubuh nya hingga hal tersebut membuat Nana tersenyum melihat tingkah nya. Nana membalas ciuman tersebut dengan mencium wajah istri nya dan hal tersebut membuat Ryhan tersenyum pula. Nana yang masih malu malu kembali pokus ke potongan nya. "Aku yang memotong kau yang memasak" ucap Ryhan dengan menyalakan kompor dan berpindah ke arah berlawanan dari posisi sebelum nya.


Nana tidak menjawab nya dan menggeserkan tubuh nya hingga berada tepat di hadapan kompor. "Saus ku kemarin kau letakkan di mana?" tanya Nana dengan menatap tajam suami nya yang tengah memotong bahan makanan yang harus di masak.


"Masih ingat saja dengan saos nya" guman Ryhan yang cukup kesal akan istri nya yang masih saja mengingat saos.


.


.


.


.


.