
Membuat Dean jatuh cinta, Vey tengah merenung seraya memikirkan bagaimana cara membuat suaminya itu jatuh cinta. "Apa gue ikutin saran dari Artha aja ya?" Gumam Vey.
Vey membuka lemari bajunya, mencari pakaian seksi sesuai saran Artha. Vey hampir saja menendang tong sampah yang ada di samping lemari baju, saking emosinya karena tidak juga menemukan pakaian yang ia harapkan.
Masa iya Vey harus memakai gaun hitam yang dikenakannya saat acara reuni beberapa hari yang lalu? Ah tidak, pasti nanti Dean akan menertawainya dan menyebutnya 'salah kostum'.
Karena merasa gerah, Vey melepas kaos bergambar doraemon yang ia pakai dan melemparkannya asal ke ranjang. Tubuh mungilnya kini hanya dibalut tengtop dan celana pendek diatas lutut. Siang ini, cuaca di kota Jakarta sangat panas bahkan AC sekalipun tidak berhasil mengusir uap-uap panas yang membuat kening Vey dialiri peluh keringat.
"Ishh masa gue harus beli baju baru, cuma biar bisa tampil menarik dimata kak Dean? Baju dilemari aja belum kepake semua... Huft" Vey menjatuhkan kasar bokongnya diatas sofa dengan salah satu telapak tangan ia kibas-kibaskan di depan wajah.
"Au ah" Vey membaringkan tubuhnya diatas sofa, matanya mengamati langit-langit ruangan yang lama kelamaan membuatnya mengantuk dan akhirnya terlelap.
Lelaki berperawakan tegap, berwajah super tampan dengan kharisma luar biasa yang seolah keluar tiap kali ia berbicara itu langsung membuat bungkam dan kagum para klien di ruang meeting. Lelaki bernama lengkap Dean Brilliand Geraldo itu terlihat begitu ahli dalam menjelaskan dan memaparkan keunggulan produk yang dihasilkan Geraldo Corp pada pada para klien.
Geraldo Corp sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang industri barang elektronik itu memang digadang-gadang sebagai perusahaan elektronik terbesar di dunia. Walau sempat diragukan kejayaannya setelah Geraldo meninggal, belum lagi saat itu yang menggantikan posisi Geraldo adalah seorang lelaki muda berusia 20 tahun.
Banyak yang berpendapat jika Geraldo Corp akan bangkrut, namun hipotesis itu salah besar. Karena ternyata Dean, lelaki yang saat itu masih berusia 20 tahun memiliki kemampuan sangat hebat dan bisa mempertahankan kejayaan Geraldo Corp atau malah bahkan membawa Geraldo Corp menjadi perusahaan terkemuka didunia.
"Very impressive Mr Dean. We are interested in partnering with Geraldo Corp". Ucap seorang pria bermanik biru seraya menjabat tangan Dean.
Dean tersenyum, "Thank you Mr Ergan, we will do our best."
Dean berjalan menuju ruangannya dengan langkah lunglai, ia lelah. Namun ia belum bisa pulang karena sore ini masih ada meeting penting. Sekarang jam baru menunjukkan pukul 14.00, itu artinya ia masih punya waktu 1 jam untuk beristirahat.
Tok tok tok
Baru saja akan memejam mata, suara ketukan pintu yang dibarengi dengan munculnya Frans membuat Dean membatalkan niatannya untuk tidur. "Maaf bro gue ganggu waktu istirahat lu, ada kiriman barang nih."
Dean dan Frans memang lebih terlihat seperti sahabat karib ketibang boss dan bawahan. Mereka sudah lama saling mengenal, bahkan sebelum Dean menggantikan posisi sang ayah.
Mereka sudah berteman sejak di bangku kuliah, namun tidak seakrab sekarang karena dulu mereka berbeda jurusan. Dean mengambil jurusan pendidikan matematika sedangkan Frans mengambil jurusan management.
Dan Dean, sangat melarang keras Frans memanggilnya dengan embel-embel "Pak" atau sejenisnya.
"Dari siapa?" Dean mengambil paperbag berwarna hitam yang Frans letakkan di meja persegi panjang di samping sofa.
"Dari nyokap lu, eh iya lu suruh pulang dan cepet-cepet bawa Vey ke rumah nyokap lu."
"Entarlah, sore ini gue juga masih ada meeting" Jawab Dean.
"Urusan meeting, gue aja yang ngurus. Lagian meetingnya sama klien dalam negeri, gue bisa kok. Gimana?" Frans merasa kasihan pada Dean, bos nya itu nampak begitu kelelahan.
Mendengar tawaran Frans, Dean pun segera bangkit dari sofa. Lalu merapikan jasnya yang sedikit berantakan. "Oke, gue serahin ke lu. Gue mau balik dulu."
Frans adalah orang yang bertanggung jawab dan berkompeten, jadi Dean tidak sekalipun merasa ragu menyerahkan urusan perusahaan pada Frans. Jujur saja, Dean malah lebih ikhlas jika yang memimpin perusahaan saat ia honeymoon nanti adalah Frans bukan Artha.
"Oke lahh, jangan lupa tuh paperbagnya dibawa" Ucap Frans, mengingatkan.
Dean hanya mengangguk, lalu segera keluar dari kantor dengan sebelah tangannya menenteng paperbag. Setelah berada didalam mobil, Dean membuka paperbag berwarna hitam itu, dan betapa terkejutnya ia dengan isi paperbag pemberian sang mama.
"****, obat kuat? Ah gilaa, buat apa coba? Tanpa minum ginian, gue juga udah kuat kok. Kuat banget malah" Dean menyeringai, tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada tubuh milik Vey yang dilihatnya malam itu.
Menjadikan tubuh istri sendiri sebagai bahan fantasi liar, bukan sesuatu yang jahat kan?
.
.
"Lu kenal Vey?" Tanya seorang wanita berambut pirang pada pria berwajah oriental yang tengah melukis di salah satu sanggar kesenian, pria itu keturunan China, nampak dari keduanya matanya yang sipit dan kulitnya yang putih.
"Kenal, dia temen sekelas gue di SMP" Jawab pria bernama Kris itu sembari membubuhkan kuas pada kanvas yang ada dihadapannya.
"Kata temen gue, dulu lu naksir sama Vey, bener gitu?" Rena sudah menggali semua informasi tentang Vey, termasuk masa lalu gadis itu sewaktu di SMP.
Vey adalah korban bullying, ia di bully karena sang ayah terjerat kasus korupsi dan pada akhirnya mendekam di penjara. Kehidupan Vey berbalik 180°, orang-orang yang dulu mengaguminya berubah menjadi membencinya.
Ia sering mendapatkan perlakukan tidak senonoh dari teman-temannya, entah itu diancam, dijadikan babu dan disiksa. Kejadian yang paling mengerikan adalah Vey pernah hampir diperkosa oleh beberapa kakak kelasnya, dan bukannya mendapatkan pembelaan, Vey malah dihujat dengan kata-kata yang begitu menyakitkan.
"Apa urusannya sama lu?" Kris menatap sinis Rena.
Kris memang menyukai Vey, perasaannya masih sama seperti 4 tahun lalu. Ia memutuskan kembali ke Indonesia karena Vey, ia merindukan Vey. Namun seketika perasaan itu dihancurkan oleh kabar menyakitkan, kabar jika gadis yang ia cintai ternyata sudah menikah.
"Lu gak pengin dapatin Vey?"
Kris menghela nafas berat, "dia udah nikah, gue bisa apa selain merelakan? Vey pasti sekarang juga udah bahagia dan lupa sama gue."
Rena memiringkan ujung bibir marunnya, membentuk sebuah smirk. "Mereka nikah karena dijodohin, gue yakin mereka gak bahagia. Lu masih punya kesempatan buat dapetin Vey."
"Kalau mereka udah saling cinta gimana? Gue gak mau mengusik kebahagiaan Vey."
Rena tertawa, "nikah aja belum ada sebulan, mana mungkin saling cinta. Hmm gini, gue mau ngasih penawaran buat lu."
Kris menautkan sebelah alis tipisnya, "penawaran apa?"
"Kita kerjasama buat misahin Vey sama Dean. Jadi sebenernya gue tuh mantan pacar suaminya Vey, dan gue pengin balikan sama Dean."
Rena melanjutkan kalimatnya. "Disini kita saling menguntungkan. Kalau Dean balikan sama gue kan, entar lu bisa dapetin Vey. Gue yakin lu masih suka sama Vey. Gimana? Setuju?"
Kris mengedikkan bahu, "entahlah, gue akan pikirin tawaran lu lagi."
***
Dean menelan kasar salivanya. Ia tidak tau harus menyebut ini sebagai rejeki atau godaan setan, seorang gadis tengah tertidur pulas dengan pakaian minim yang membuat beberapa bagian tubuh gadis itu terekpos jelas.
Disuguhkan pemandangan indah seperti ini setelah pulang dari kantor, tentu saja membuat Dean senang. Dean membelai wajah halus Vey dengan telapak tangannya, "Vey bangun."
Vey menggeliat, lalu menarik tangan Dean untuk dijadikan guling. Dean mendadak gemetar, jantungnya serasa sedang bermarathon, karena lengannya menempel di payudara lembut milik Vey yang masih tertutup tengtop berwarna putih. "Vey bangun, lu sekarang harus kerumah mama." Lanjutnya, sambil menarik lengannya dari pelukan Vey.
Vey mengubah posisinya menjadi terduduk, ia menatap Dean dengan tatapan lesu khas orang yang baru bangun tidur. "Lho kak Dean udah pulang ya? Maaf gue gak tau."
"Baru aja pulang. Cepet siap-siap gih, mama suruh gue bawa lu kerumah" Dean bangkit dari posisi jongkoknya, lalu melepas jas hitam dan dasi yang ia kenakan.
"Aku bantu lepasin" Titah Vey. Ia cepat-cepat menyambar dasi Dean, karena tubuh Dean yang yang terlampau tinggi, ia pun sontak berjinjit.
Dean menoyor pelan kepala Vey, "paan sih? Gue bisa sendiri."
Vey kesal, kenapa suaminya cepat sekali berubah? Kadang manis, kadang juga menyebalkan. Padahal Vey kan hanya ingin membantu, tapi malah dibalas ketus. Vey menendang keras tulang kering Dean, Dean yang sedang dalam kondisi tidak siap pun langsung terhuyung kebelakang.
Gedebughh
Dean memeganggi kakinya sembari mengerang kesakitan. "Gila lu Vey! Sakit banget ****."
"Maaf kak, gue gak sengaja." Vey buru-buru membantu Dean duduk diatas sofa. Ia memang tidak sengaja, itu hanya bagian refleks dari rasa kesalnya.
Vey mengamati kaki Dean yang membiru karena ulahnya. Ia menyentuhnya perlahan dan membuat Dean kembali mengerang, "akh.. Sakit."
Vey mengambil sebaskom air dingin untuk mengkompres memar biru di kaki Dean. Vey benar-benar ceroboh, jika sudah begini Dean akan membencinya, itu artinya akan semakin sulit pula ia membuat Dean jatuh cinta. "Maaf kak... Gak sengaja, tadi cuma refleks." Rintih Vey, dengan raut wajah menyesal.
Dean hanya berdeham singkat.
"Jangan diem kak, serem tau. Kalau mau marah, marah aja gak apa-apa." Vey menatap Dean dengan kedua maniknya yang sudah berkaca-kaca.
Dean mendengus kesal, "sini lu agak deketan. Gue mau ngasih lu hukuman."
Vey mengangguk, ia menggeser bokongnya mendekati Dean yang masih nampak kesal. "Hukum aja kak, yang penting lu jangan marah lagi."
Dean mencondongkan kepalanya ke arah leher Vey, ia mencium dan menggitnya hingga meninggalkan bercak merah.
Vey melenguh pelan, "ahh."
Setelah membuat kissmark di leher mulus milik Vey, Dean kemudian mencium singkat bibir merah muda Vey yang rasanya seperti leci, sangat manis. "Lu nakal lagi, gue bakal bikin yang lebih banyak dari ini." Ancam Dean.