Dear D

Dear D
18. sentuhan



"VEY!!"


"Kak Dean..." Vey terlonjak kaget. Matanya membulat lebar, akibat saking terkejutnya karena kedatangan sang suami yang sangat tiba-tiba.


Untung saja Vey tidak sampai menjatuhkan ponsel milik Kris.


"Kalo mau kabur tuh bilang dulu! Biar gue gak repot nyariin!!" Suara bentakkan Dean membuat para pengunjung kedai lainnya mengarahkan perhatian mereka pada Dean dan juga Vey.


"Gausah pake teriak-teriak bisa kan?" Bisik Vey, sungguh rasanya Vey malu menjadi pusat perhatian seperti ini.


"Brisik!!! Ayo pulang!!!" Dean meraih pergelangan tangan Vey, lalu menariknya kasar. Vey meringis kesakitan karena ulah Dean, apa lelaki itu tidak bisa bersikap sedikit lebih lembut padanya?


Vey tau, disini ia bersalah. Harusnya ia tidak pergi tanpa ijin dari Dean. Tapi haruskah Dean bersikap kasar begini? Dean selalu saja begini, bersikap kasar ketika Vey melakukan kesalahan.


Dean hendak membawa Vey keluar dari kedai ddeokpokki, namun terlebih dahulu ditahan oleh Kris. Kris menarik pinggang Vey, menjauhkan gadis itu dari Dean, "gue gak suka lo main kasar sama cewek."


"Lo siapa hah?!" Gertak Dean, ia kembali mengambil gadisnya, dan menyembunyikan Vey dibalik punggungnya.


Dean tidak suka jika ada pria lain yang menyentuh Vey.


"Gue Kris, temennya Vey," jawab Kris santai, dengan tangan kanan yang terulur.


"Jadi lo yang ngajak Vey kabur? Hahaha kurang jauh bro!!" Sumpah, Dean sekarang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Kenapa gak sekalian lo bawa balik rumah, gue udah males sama nih bocah!!" Lanjut Dean lagi.


Mendengar ucapan Dean, mata Vey rasanya memanas. Segitu tidak berhargakah ia dimata Dean?


"Oke, makasih. Karena sikap lo ini, gue sekarang jadi punya alasan buat memperjuangin Vey lagi. " Balas Kris, yang semakin memancing emosi Dean.


Dean meraih kerah baju Kris, dan mendaratkan satu pukulan keras tepat ke wajah tampan Kris.


"Kak! Lo gila ya?!!" Teriak Vey histeris, ia berniat menolong Kris, namun Dean mencegahnya.


"Awas! Gue mau nolongin Kris," Vey mencoba melepaskan genggaman tangan Dean, namun gagal, lelaki itu terlampau kuat.


Kris mengusap ujung bibirnya sendiri yang mengeluarkan cairan berwarna merah, kemudian menyunggingkan smirknya pada Dean, "munafik..."


"Kris..." Lirih Vey, khawatir.


Tangan Dean terkepal kuat, urat-urat disekitar matanya sudah tercetak jelas. Dean sangat marah, ia ingin sekali memukul pria berketurunan China itu lagi, namun Vey terus saja menghalanginya, "udahh kak... Jangan pukul Kris lagi."


"Kris kita pulang dulu ya, maafin kak Dean ya..." Ucap Vey, lalu cepat-cepat membawa Dean keluar dari kedai ddeokpokki.


Tidak lupa, Vey juga meminta maaf pada pemilik Kedai karena telah membuat keributan, "miyanne ahjumma..."


***


Pagi ini Seoul diguyur hujan deras, Vey dan Dean memilih untuk tetap bertahan di apartement, dan menunda jadwal honeymoon mereka yang kemarin juga tertunda, karena menghilangnya Vey.


"Kak bosen..." Ujar Vey pada sang suami yang tengah duduk di balkon apartement.


Dean melirik ke arah Vey sebentar, lalu kembali fokus dengan ponselnya.


"Ihh kak Dean, aku bosen," rengek Vey lagi, namun tetap tidak di pedulikan oleh Dean.


"Kak Dean ihh!" Vey mengambil benda berbentuk persegi panjang itu dari tangan Dean.


Dean memutar jengah bola matanya, "ya trus gue harus apa?"


"Main lah, gue bosen disini terus," ucap Vey.


"Ujan sayaaaaang," jawab Dean dengan menekankan dan memanjangkan nada suaranya saat mengucapkan kata 'sayang'.


Pipi Vey bersemu merah, "a-apasih k-kak."


Dean melingkarkan tangannya di pinggang kecil milik Vey. Dean sempat berpikir, apakah istrinya itu kurang gizi? Atau mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan?


Mengapa tubuh Vey begitu ringan dan kecil?


"Vey berat lu berapa?"


"47, berat ya kak?" Vey berniat untuk menyingkir dari pangkuan Dean, namun Dean menahannya.


"Enggak, lu terlalu ringan." Dean kemudian meletakkan dagunya di atas bahu Vey, sesekali ia juga menciumi aroma rambut Vey yang sanggup melemahkan imannya sebagai pria normal.


Vey hanya diam bagai patung, karena saking nerveous nya. Mau menyingkir pun Vey merasa berat hati, toh ini momen yang bagus, jarang-jarang bukan Dean bersikap manis seperti ini?


"Sorry, gue gak bisa janji bisa jadi suami yang baik buat lu Vey. Tapi gue bakalan berusaha..."


"Gue juga kak, maaf sering bikin lu susah," balas Vey.


Dean mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Vey, Dean merasa sangat nyaman dan tenang.


"Dan maaf kalo gue gak bisa menjamin pernikahan kita bakal selamanya," mendengar kalimat yang mencuat dari bibir Dean, Vey merasa ada yang hancur didalam dirinya.


"Kenapa? Kenapa gak bisa?" Vey butuh penjelasan, tapi Dean malah hanya menggelengkan kepala, yang tandanya ia tidak mau menjawab pertanyaan Vey.


"Ujannya udah reda..." Desis Dean, mengalihkan pembicaraan. Saat ini Dean belum ingin membicarakan perihal maksud ucapannya tadi.


Sungguh, Dean belum ingin Vey mengetahui suatu kebenaran yang sedang ia sembunyikan.


Tidak, bukan berarti Dean ingin membohongi dan tidak jujur pada Vey.


Hanya saja, Dean belum siap dengan resiko yang akan ia dapatkan nanti.


"Kak kenap/.." Dean buru-buru memotong ucapan Vey, "Ayo ke Namsan tower."


"Kak jangan ngalihin pembicaraan," protes Vey.


Dean kemudian meraih dagu Vey, ia menggerakkannya perlahan agar wajah Vey menghadap ke wajahnya.


Dean mendekatkan bibirnya ke bibir ranum milik Vey, "gue gak suka pertanyaan lu."


Vey memundurkan kepalanya, "ta/.."


Hmmphh


Dean ******* lembut bibir Vey, sangat lembut namun tetap nampak bergairah dan panas. Vey yang awalnya hanya diam, kini mulai mengikuti ritme yang Dean ciptakan.


Sadar akan kegiatan mereka yang semakin memanas, Dean kemudian menggendong Vey ala brydal style tanpa melepaskan tautan bibirnya, ia menidurkan gadisnya di atas ranjang berwarna full putih.


Dean membelai lembut surai indah milik Vey, "siap?"


"Siap apa?" Tanya Vey polos.


Dean menatap lekat mata Vey, membuat Vey merasa terhipnotis dan terjebak didalam pesona Dean.


Vey mendesah, "akhh sakit kak..."


"Kak..."


"Kenapa? Belum siap?" Dean kembali menaikkan rok bermotif bunga-bunga itu.


"Pengen pipis..." Ucap Vey.


Duhh kenapa harus sekarang sih? Momennya lagi bagus juga. Batin Dean.