
"Rendi menjodohkan kalian?" tanya Anggi yang tidak percaya. Nana langsung menganggukkan kepala nya menandakan iya perkataan Anggi itu.
"Di usia mu semuda ini?" tanya Anggi lagi yang tidak percaya akan Rendi yang menjodohkan Nana yang masih sekolah itu dengan lelaki yang belum ia ketahui siapa itu.
"Kak Rendi menyuruh nya menjaga ku, Tapi..." ucap Nana terpotong akibat ragu ingin mengatakan nya atau tidak.
"Tapi apa hem?" tanya Anggi yang sedari tadi menunggu penjelasan dari wanita itu.
"Tapi tadi saat aku masuk rumah sakit..." ucap Nana yang terpotong oleh Rendi.
"Kau masuk rumah sakit? apa yang terjadi?" tanya Anggi dan beranjak berdiri untuk melihat kondisi Nana.
"Aku hnya jatuh pingsan tadi karna takut akan ketinggian makanya Ryhan membawa ku ke rumah sakit" jawab Nana saat melihat Anggi yang hawatir dengan nya.
"Ryhan itu siapa?" tanya Anggi yang merasa tidak asing akan nama itu.
"Lelaki tadi" jawab Nana akan pertanyaan itu. Dahi Anggi mengerut sungguh nama itu sangat tidak asing di telinga nya.
"Mau aku lanjutkan cerita tadi?" tanya Nana karna Anggi sedari tadi berbicara.
"Ah iya, Lanjutkan" ucap Anggi yang sadar akan diri nya yang sedari tadi memotong ucapan Nana.
"Tadi saat di rumah sakit saat semua orang meninggalkan ku sendiri di ruangan mama Ryhan masuk dan menghampiri ku, Dia menyuruh ku untuk tidak lagi mendekati Ryhan karna dia tidak menyukai ku dan membenci ku, Dia juga melempar uang ke wajah ku supaya aku menjauhi Ryhan, Dia juga mengatakan jika aku ini anak tidak jelas dan anak pelacur, Apa maksud nya itu? aku sedari tadi bingung akan ucapan nya dan hati ku hancur saat mendengar nya, Apa benar aku anak pelacur?" tanya Nana dengan mata yang sudah berlinang air mata menatap Anggi. Anggi terdiam dan menatap lekat wajah adik sahabat nya itu yang tidak pernah sedih sekarang dia sedih dan malah nampak sangat sedih.
"Apa benar aku anak pelacur? apa benar aku ini anak jalang? jika bukan di mana ibu ku?" tanya Nana kembali dengan menatap lekat wajah Anggi. Anggi bingung ingin menjawab apa karna setau nya Nana bukanlah anak pelacur ataupun jalang tapi dia jug tidak tau di mana keberadaan ibu Nana dan juga Rendi.
"Hey kau ini anak ayah Reky bukan anak jalang atau sebagai nya, Wanita itu saja yang bodoh tidak tau jika kau anak ayah Reky yang tampan itu" jawab Anggi yang mencoba menenangkan anak itu.
"Tapi kenapa ibu Ryhan mengatakan nya seperti itu? dan di mana memang nya ibu ku?" tanya Nana lagi dengan menatap lekat wajah Anggi.
Anggi menatap lekat wajah wanita itu sungguh dia kebingungan ingin menjawab apa. "Apa yang harus aku jawab tuhan" guman Anggi saat melihat wajah sedih Nana jujur dia tidak bisa melihat wajah itu karna dia sangat menyayangi Nana seperti adik nya sendiri.
"Ibu mu ada, Tapi kita belum menemukan nya, Nanti kita akan mencari ibu ya" ucap Anggi dengan mengusap kepala anak itu.
"Aku sudah tidak memilik siapapun di dunia ini Hikss" ucap Nana yang langsung menangis, Anggi langsung beranjak berdiri dari duduk nya dan menghampiri Nana.
"Astaga kenapa malah menangis hey, Jngan menangis, Kakak ini adalah keluarga mu" ucap Anggi dengan mengusap kepala adik nya itu. Nana masih belum menjawab nya dan mengeluarkan air mata yang sudah ia tahan sejak tadi itu di sana dengan memeluk Anggi.
"Apaan mama berbicara seperti itu dengan nya" guman Ryhan yang kesal dan dia pun langsung berlalu dari sana dan kembali ke rumah nya.
"Ryhan kau kenapa kasar sekali dengan Dira?" bentak Merri kepada Ryhan yang mendorong Dira.
"Mama kenapa mengatakan hal yang tidak pantas kepada Del?" tanya Ryhan langsung dengan wajah datar nya dan itu membuat Ferisa yang ada di kamar nya pun keluar dari kamar nya.
"Ryhan" ucap Ferisa saat melihat adik nya itu.
"Apa maksud mu nak? siapa itu Del?" tanya Merri kepada Ryhan.
"Mama tidak usah berpura pura, Mama tau karna ucapan mama dia menangis dan sedih, Dia sudah tidak memiliki siapa siapa lagi dan mama enak sekali berbicara seperti itu" ucap Ryhan lagi dengan wajah masih datar dan masih bisa menahan emosi nya. Merri masih menatap bingung akan anak nya itu begitupun dengan Dira yang tidak tau siapa itu Del.
"Ryhan, ada apa? kenapa kau memarahi mama?" tanya Ferisa yang sudah berada di bawah dan memegang adik nya yang nampak emosi itu sedangkan Andra dan Kevin masih berada di kantor menyelesaikan urusan kantor.
"Mama jawab" bentak Ryhan lagi yang belum mendapatkan pengakuan dari ibu nya itu.
"Mama saja tidak tau siapa Del, Mana mungkin mama berbicara buruk tentang nya" jawab Merri dengan memegang tangan anak nya supaya anak nya kembali stabil emosi nya.
"Mama tidak usah berpura pura" ucap Ryhan dengan wajah sedikit memerah akibat marah.
"Aku membenci orang yang menyakiti orang sekitar ku" bentak Ryhan lagi sungguh dia emosi akan kelakuan ibu nya itu.
"Sekali lagi mama menyakiti nya dan berbicara yang tidak baik kepada nya, Aku tidak akan pernah menginjak rumah ini lagi" ucap Ryhan dan langsung menendang apa yang bisa di tendang di sana dan langsung berlalu dari sana.
"Anak itu bisa marah kepada mama karna Nana?" guman Ferisa yang tidak percaya akan adik nya yang bisa marah dengan ibu nya. Merri langsung terduduk kembali di atas sofa sungguh dia sangat syok melihat amarah anak nya itu. Ferisa menatap ke arah ibu nya itu dan setelah itu dia menatap ke arah Dira. Ferisa langsung mendudkkan tubuh nya di samping ibu nya itu.
"Memang nya mama mengatakan apa kepada Nana hingga Ryhan bisa semarah tadi?" tanya Ferisa dengan menatap lekat ibu nya.
"Dia tadi bilang Del" ucap Merri.
"Del itu adalah nama panggilan Ryhan untuk Nana, Memang nya mama mengatakan apa hingga Ryhan marah seperti tadi?" tanya Ferisa lagi dengan menatap lekat ibu nya itu.
Ryhan baru saja sampai di halaman rumah istri nya dan dia melihat pintu rumah terbuka dan ada mobil yang terparkir di halaman depan. Ryhan langsung masuk ke dalam rumah itu tapi dia tidak menemukan siapa siapa di dalam tapi dia melihat pintu kamar terbuka. Ryhan berjalan masuk ke dalam nya dan terlihat Anggi sedang menemani istri nya tertidur. "Siapa kau?" tanya Ryhan yang belum mengetahui siapa itu Anggi. Anggi menoleh ke belakang dengan tangan yang masih mengusap kepala adik nya yang sudah terlelap itu.
"Diamlah, Suara mu akan membangunkan adikku nanti" ucap Anggi dengan wajah sedih nya mengingat cerita yang di ceritakan oleh Nana tadi di tambah lagi saat dia melihat dengan nyata kehidupan wanita itu. Hati nya sangat hancur saat melihat Nana menangis entah karna menginginkan sesuatu ataupun di sakiti oleh orang dia sangat menyayangi Nana bahkan mungkin lebih menyayangi Nana dari Dira karna Dira sangatlah tidak sopan dan sifat nya juga tidak baik.
"Kakak jangan meninggalkan ku" ucap Nana dengan sedikit isakan nya dan memeluk Anggi.
"Kakak tidak akan meninggalkan mu, Tidurlah dengan nyenyak" jawab Anggi dan kembali mengusap kepala wanita itu. Ryhan hanya memperhatikan nya dan tidak berlalu dari sana karna dia takut jika Anggi macam macam kepada Nana.