
"Hati hati sayang sayang mama" teriak Rania yang menyayangi setiga orang itu.
Nana melambaikan tangan nya kepada Rania, Crish dan juga Yura dengan di balas lambaian dan juga senyum tukus dari ketiga nya dan Ryhan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang untuk kembali ke kediaman nya.
"Kita langsung pulang ke rumah?" tanya Nana kepada suami nya.
"Jelas saja sayang, Ini sudah cukup larut tidak boleh berbelok kemana mana" jawab Ryhan dengan senyum yang mengembang menatap wanita nya tersebut.
"Tumben ramah sekali" ucapan yang tidak di sangka oleh Nana akan keluar dari mulut wanita itu tanpa sadar.
"Kau mengatakan apa tadi sayang? Aku tidak mendengarkan nya" ucap Ryhan dengan senyum dan menatap tajam wanita nya. Nana langsung tersadar akan apa yang ia katakan tadi dan langsung menggelengkan kepala nya.
"A-aku....."
"Kau bilang apa tadi?" tanya Ryhan kembali melebarkan senyuman nya menatap wanita nya tersebut dengan wajah yang mendekat ke arah nya.
Nana menatap ke sembarang arah dan terlihat dia dan suami nya saat ini sudah sampai dan terlihat butik juga sudah tutup. "Ah sayang kita sudah sampai, Ayo turun" ucap Nana dengan senyum nya dan memegang wajah lelaki nya tersebut mencoba mengalihkan pembicaraan tadi.
Ryhan membuang nafas panjang saat melihat istri nya nampak sedikit takut. "Baiklah ayo" jawab Ryhan dan membukakan pintu bagian nya dan turun dari mobil tersebut.
"Ah syukurlah dia tidak memperpanjang" guman Nana yang lega akan hal tersebut dan turun dari mobil.
Kedua nya berjalan masuk menuju ke rumah dengan pintu di bukakan oleh penjaga. "Tuan maaf tadi ada yang datang mencari anda dan juga nona" ucap penjaga kepada Ryhan.
"Mencariku? Siapa?" tanya Ryhan dengan memasang wajah bingung nya sedangkan Nana memperhatikan penjaga tersebut menunggu jawaban dari nya.
"Nama nya Ferisa tuan, Dia mengaku sebagai kakak anda" jawab penjaga tersebut.
"Kak Ferisa datang kemari? Apa dia sudah berada di indonesia saat ini?" tanya Nana dengan mata sedikit membulat.
"Mungkin saja, Dia menghubungi ku pagi tadi" jawab Ryhan yang langsung mengambil ponsel nya dan langsung menghubungi kakak nya.
"Terima kasih sudah memberitahu tentang ini" ucap Ryhan dengan senyum nya dan melangkahkan kaki menuju ke kamar nya dengan menggandeng pinggang wanita nya.
"Halo kak, Penjaga rumah bilang jika kau kemari, Apa itu benar?" tanya Ryhan dengan mengusap kepala wanita nya layak nya anak kecil.
"Shit" Nana menepis tangan itu dan memilih untuk mengganti pakaian nya dengan pakaian santai sedangkan Ryhan mengikuti nya dari belakang.
"Iya kakak ke rumah kalian, Tapi kalian tidak ada di rumah, Kurang ajar sekali kalian ini" teriak Ferisa dari sebrang telpon hingga membuat Ryhan menjauhkan telpon dari telinga nya membuat Nana menoleh ke arah nya.
"Kau ini kebiasan sekali masuk saat aku....."
"Shutt" Ryhan meletakkan telunjuk nya di hadapan bibir nya agar istri nya tidak berteriak sebab saat ini telpon masih terhubung dengan kakak nya.
Nana mengurungkan niat nya untuk berteriak dan Ryhan mendudukkan tubuh nya di depan meja rias dengan mata yang memperhatikan wanita nya dan telinga mendengar ucapan kakak nya begitupun dengan mulut yang menjawab ucapan kakak nya dan bibir yang tersenyum menatap wanita nya hingga membuat Nana tidak nyaman dan sesegera mungkin mengenakan seluruh pakaian nya.
"Kau dengar tidak ucapan ku Ryhan?" teriak Ferisa kembali dari sebrang.
"Iya kak, Aku dengar" jawab Ryhan dengan wajah malas nya sedangkan Nana dia sudah selesai mengenakan baju nya dan berlalu dari sana tapi Ryhan langsung menggapai pinggang nya membuat langkah kaki wanita itu terhenti dan Ryhan membawa nya duduk di atas pangkuan nya.
"Lepaskan" ucap Nana yang memberontak tidak terlalu garang akan suami nya.
"Nana bersama mu saat ini?" tanya Ferisa.
"Jelas saja, Dia sellu bersama ku, Kau kan tau jika dia adalah istriku pertanyaan bodoh yang pertama kali aku dapatkan dari orang pintar" ucap Ryhan dengan nada datar namun tersenyum menatap istri nya membuat Nana memasang wajah geli nya dan langsung membuang pandang nya tanpa berniat untuk lepas dari sana.
"Ah baiklah jika sedang bersama mu, Besok kalian ada di rumahkan? Aku ingin ke sana bertemu keponakan ku" ucap Ferisa.
"Shit kau ini tidak bisa di ajak berbicara dengan benda yang tidak nyata" jawab Ferisa.
"Apa nya yang tidak nyata? Anakku sedang berada di kandungan wanitaku, Apakah itu tidak nyata bagimu?" tanya Ryhan yang memasang wajah datar nya dengan mengusap perut wanita nya sedangkan Nana mendengarkan nya saja.
"Ah sudahlah yang jelas kau besok tidak ada di rumah" ucap Ferisa yang mengakhiri perdebatan.
"Tidak, Aku dan Delina ada urusan di luar jadi kau tidak bisa ke rumah besok" jawab Ryhan dengan nada tegas nya.
"Mau kemana?" tanya Ferisa dengan nada sedikit meninggi.
Ryhan menjauhkan ponsel nya dari mulut nya dan menutup spiker nya. "Kemana kita besok akan pergi?" tanya Ryhan kepada istri nya yang tengah duduk di pangkuan nya.
"Tidak pergi kemana mana" jawab Nana dengan wajah polos nya sambil menggelengkan kepala nya.
Tingg
Ponsel Nana berbunyi membuat wanita itu langsung mengambil nya dan melihat notif apa itu.
"Papa dan mama menyuruh mu ke rumah besok dan itu tidak boleh di tolak, Kau sudah berjanji beberapa kali hendak kemari tapi kau belum juga kemari jadi besok kau harus dan harus datang ke rumah titik" isi pesan yang di kirimkan oleh Weny kepada nya.
"Dari siapa?" tanya Ryhan.
"Kau ingat kita pernah berjanji ingin ke rumah Weny dan juga Yura? Tapi kita sudah selesai mengunjungi rumah Yura dan rumah Weny......"
"Delina besok ada urusan ke rumah teman nya jadi kau tidak bisa datang ke rumah karna kami sudah berjanji" jawab Ryhan dengan wajah datar nya.
"Shit, Yasudah" ketus Ferisa dengan kesal dan merajuk akan kedatangan nya yang tidak terlalu di sambut dan langsung mematikan telpon nya yang masih terhubung dengan Ryhan itu.
"Terima saja ajakan nya, Aku juga sudah menyuruh kak Ferisa untuk tidak kemari besok" ucap Ryhan dengan senyum nya membuat Nana menatap tajam ke arah lelaki nya tersebut dengan wajah sedikit bingung.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Ryhan dengan wajah bingung nya menatap wanita nya tersebut.
"Tidak kenapa kenapa" jawab Nana.
"Baik aku akan ke rumahmu besok bersama dengan Ryhan, Tapi belum pasti jam nya, Mungkin sore" balas Nana akan pesan Weny tadi.
"Siang atau pagi tidak bisa?" balas Weny pula.
"Kau tidak bekerja besok?" tanya Nana kepada suami nya.
"Sebentar" jawab Ryhan dan mengambil ponsel nya untuk melihat jadwal nya besok dan terlihat jadwal nya sedang kosong.
"Tidak" jawab Ryhan dengan senyum tulus nya.
.
.
.
.
.