Dear D

Dear D
Episode 218



Sesampai di minimarket Nana langsung turun dengan Anggi menggendong Devan. Kedua nya langsung masuk ke minimarket itu dan membeli apa yang perlu di beli dengan Devan yang di letakkan Nana di dalam keranjang belanjaan.


"Sayang kau mau apa lagi?" tanya Nana kepada Devan yang belum tau apa apa.


"Hey bodoh sekali bocah ini bertanya dengan anak nya" ketus Anggi.


"Maaf, Yasudah ayo bayar" ajak Nana dan membawa keranjang menuju ke kasir dengan Devan yang sudah berada bersama Anggi.


"Eh Ryhan?" guman Nana saat melihat suami nya berada di sebrang jalan saat dia berada di luar minimarket.


"Rumah papa nya?" guman nya kembali saat sedikit mengenali pagar rumah tersebut.


"Kak titip Devan sebentar boleh?" tanya Nana kepada panggil yang mengikuti nya dan menemani nya ke minimarket.


"Kau mau kemana memang nya?" tanya Anggi dengan mengmbil alih Devan dari gendongan Nana dan Nana memberikan nya.


"Menghampiri Ryhan" jawab Nana dengan senyum nya dan melintangkan tangan nya menghentikan mobil yang melintas di jalanan yang cukup ramai tersebut dengan Anggi yang mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang tidak jauh dari sana dan terlindung dari sinar matahari.


"Mau minum sayang?" tanya Anggi dengan mengambilkan dot yang berisikan susu Devan dan membantu anak itu meminum. Devan yang tidak rewel membuat Anggi tidak kesusahan mengurus nya dan tersenyum menatap nya.


"Ryhan" teriak Nana yang saat ini sudah berada di pinggir jalan. Ryhan langsung menoleh ke arah suara dan terlihat itu adalah istri nya yang memanggil nya.


Dahi lelaki itu mengerut sedangkan Nana yang sudah mendapatkan kepastian jika itu suami nya langsung berlari dengan senyum yang lebar menghampiri wanita nya. Ryhan memperhatikan istri nya yang berlari mendekat ke arah nya tersebut dengan dia yang juga melangkahkan kaki perlahan mendekat ke arah wanita nya dengan senyum yang mengembang pula saat merasa seluruh masalah nya sudah selesai dan hanya harus berbahagia saja dengan wanita nya.


"Tidak akan aku biarkan kalian hidup bahagia"


Mobil langsung melaju dengan kecapatan tinggi hendak menabrak Nana yang berada sedikit di jalan. Ryhan yang sadar saat mendengar suara mobil yang melaju dengan kencang membulatkan mata nya saat mobil tersebut hendak menabrak wanita nya yang hanya beberapa meter berjarak dari nya.


"Delina" teriak Ryhan dan langsung berlari dan menggapai wanita nya agar tidak tertabrak.


Brakkkk


Tabrakan besar terhaji. Tabrakan yang mengakibatkan mobil yang menabrak Ryhan dan Nana tadi penyot bagian depan dengan Ryhan yang saat ini berada tepat di tengah jalan itu berarti dia terpental hingga ke belakang sedangkan Nana saat ini sudah tidk sadarkan diri dengan kepala yang tergeletak di atas pembatas jalan dan darah yang bercucuran keluar dari kepala wanita itu.


Banyak nya mobil yang melintas langsung berhenti hingga membuat Anggi yang menyaksikan kejadian tragis tersebut terdiam mematung, Tidak mengeluarkan suara apapun hingga Devan yang berada di pelukan nya hampir saja terjatuh. "Pak anak anda hampir terjatuh" ucap wanita yang menangkap Devan dan Devan langsung menangis histeris.


"N-nana?" ucap Anggi yang langsung terkejut melihat adik kesayangan nya saat ini mengalami kecelakaan.


Aooo


Devan terus saja menangis hingga membuat Anggi langsung tersadar akan keponakan nya tersebut. "Sayang" Anggi langsung mengambil Devan yang ada di pelukan wanita tersebut dan langsung membawa nya berlari menuju ke tempat kecelakaan.


"Ryhan?" ucap Merri yang juga menyaksikan kejadian tersebut tepat di hadapan mata nya. Menyaksikan anak nya yang melayang akibat di tabrak dan melihat darah yang berlumuran di tubuh anak bungsu nya membuat tubuh nya melemah.


Wanita itu langsung berlutut. "D-Delina" ucap Ryhan yang berusaha melihat istri nya yang tidak tau apa kabar nya saat ini.


"D-Delina" tubuh lelaki itu mencoba bangkit untuk menyelamatkan wanita nya namun tidak bisa akibat lemah nya tubuh itu membuat nya kembali terbaring.


"S-sayang" ucap Merri yang langsung meneteskan air mata nya dan memegang wajah yang berlumuran darah yang keluar dari kepala.


"S-selamatkan is-istriku" ucap Ryhan yang nampak tidak bisa berbicara dengan lancar saat ini.


Ambulance datang dan langsung mengangkut Ryhan sedangkan Nana sudah di bawa ambulance terlebih dahulu karna ambulance awal yang datang untuk membawa nya tadi. Mata Ryhan masih terbuka mencemaskan wanita nya yang sama sekali belum ia ketahui kabar nya dengan Merri yang sudah menangis histeris di samping nya tapi Ryhan sama sekali tidak memperdulikan itu dan hanya memperdulikan keselamatan wanita nya saat ini.


"Ah" Ryhan memegang dada nya yang sakit dan perlahan mata itu terpejam.


"Dokter, Anakku kenapa memejamkan mata?" teriak Andra yang juga sudah menangis melihat keadaan anak nya sedangkan Anggi dia berada di ambulance Nana dengan Devan yang di bawa oleh Ferisa.


"Tuan sabarlah kita sudah sampai" ucap perawat yang ikut dan langsung turun dan membawa roling yang membawa tubuh Ryhan keluar dan langsung masuk ke dalam ruang gawat darurat.


"Bagaimana Ryhan ma?" tanya Ferisa dengan menggendong Devan yang terus saja menangis.


"Shut, Shut sayang jangan menangis lagi" ucap Ferisa dengan mengusap wajah bayi tersebut dan menggoyangkan tubuh nya agar Devan tidak menangis lagi.


"Anakku" ucap Merri yang langsung terduduk di ruangan anak nya tersebut.


"Ah" Dokter langsung keluar dari ruangan Ryhan dengan memasang wajah datar nya.


"Bagaimana keadaan anakku?" tanya Andra dengan mata yang membengkak.


"Maaf tuan, Tuan muda mengalami patah tulang rusuk hingga hal tersebut membuat tulang rusuk tersebut menusuk ke jantung nya dan menyebabkan kerusakan di jantung nya, Hanya menunggu beberapa saat hingga ada pendonor jantung untuk tuan Ryhan, Jika tidak kemungkinan besar tuan Ryhan tidak akan selamat" jelas dokter.


Mata Andra membulat, Mulut nya menganga saat mendengar penjelasan tersebut. "Kau ambil jantungku saja, Selamatkan anakku, Aku mohon" ucap Andra yang memohon.


"Papa, Papa sedang tidak sehat jadi tidak bisa mendonorkan jantung untuk Ryhan" ucap Ferisa.


"Biarkan saja, Asalkan anakku tetap hidup, Aku mohon" ucap Andra.


"Maaf tuan tidak bisa, Untuk mendonorkan apapun harus di pastikan jika sang pendonor sehat mau di fisik ataupun di mental nya" jawab dokter.


"Bagaimana keadaan adikku?" tanya Anggi dengan wajah hawatir dan hanya dia sendiri saja yang berada di depan ruangan Nana saat ini.


Seluruh orang yang berada di depan ruangan Ryhan langsung menoleh ke arah nya. "Maaf pak, Kondisi nona tidak terlalu parah hanya saja beliau mengalami benturan yang cukup keras di bagian kepala dan untung nya hanya menyebabkan nona kehilangan darah saja dan untung nya lagi stok darah di rumah sakit yang bergolongan sama dengan nona masih ada dan....."


"Dia sudah sadar? Boleh aku melihat nya?" tanya Anggi.


"Ah iya silahkan pak" jawab dokter dengan mempersilahkan Anggi masuk ke dalam ruangan Nana.


"Nana? Apakah itu namaku?" tanya Nana.


"Nana" panggil Anggi dan langsung memeluk adik nya tersebut. Nana nampak langsung memasang wajah bingung dan masuklah Andra, Merri dan juga Ferisa ke dalam bersama dnegan Devano juga yang sudah tenang.


"Anda siapa?" tanya Nana dengan langsung melepaskan pelukan panggil dari nya.


.


.


.