
"Wahhh keren banget!!" Vey tidak henti-hentinya berdecak kagum, pandangannya mengarah ke luar jendela, ini adalah pertama kalinya ia naik pesawat setelah 18 tahun hidup di dunia.
"Kak liat deh, lautnya serem banget ya?" Dean hanya berdeham sembari terus memejamkan mata, sebuah headset tersumpal di kedua lubang telinganya, ia sedang malas meladeni istrinya yang katro dan kampungan itu.
"Kak, Korea masih jauh gak sih?" Tanya Vey.
Dean melepas satu headset, "apa?"
"Korea masih jauh gak sih?" Vey mengulang kembali ucapannya.
"Masih" Jawab Dean datar.
"Kak..." Vey ragu dengan apa yang akan ia katakan.
Dean membuka matanya, memiringkan sedikit posisi tubuhnya ke arah Vey. Ia menatap heran wajah Vey yang terlihat gelisah, "kenapa?"
"Mama bilang dia pengin cucu" Ucap Vey, ragu-ragu.
"Yaudah nanti bikin." Sahut Dean. Tanpa Vey mengatakannya pun Dean sudah tau keinginan mamanya itu. Dean sudah sangat paham apa maksud sang mama memberinya obat kuat kemarin lusa.
Namun Dean masih ragu, ia takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan jika Vey hamil di usia terlalu muda. Tapi ia juga kasian pada Vey karena selalu ditekan perihal cucu oleh mamanya.
Wajah Vey berubah menjadi pucat, tidak... Bukan karena Vey tidak mau, hanya saja Vey belum terlalu siap. Pengetahuan Vey tentang **** masih sangat awam, ia tidak tau bagaimana cara melakukannya.
Vey pernah tidak sengaja membaca cerita NC di *******, dan yang terjadi selanjutnya adalah ia mual-mual tidak jelas. Ia merasa jijik dengan adegan yang dilakukan tokoh di ******* tersebut, apalagi saat tau wanita akan merasakan sakit ketika kehilangan kegadisannya, itu benar-benar membuat Vey takut.
Seperti bisa membaca pikiran Vey, Dean tertawa kecil lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Vey. Ia membisikkan sesuatu yang berhasil membuat Vey gemetaran, "gue beringas kalau diranjang, gue harap lu bisa mengimbangi permainan gue ya?"
"K-kak..../"
Dean meletakkan jari ditelunjuknya didepan bibir Vey, dan Vey pun mendadak bungkam, "ssstttss emang awalnya sakit, tapi lama-lama bakalan nikmat."
Menggoda Vey, itulah hobi baru Dean sekarang. Ia senang membuat Vey salting atau bahkan ketakutan seperti ini, benar-benar menyenangkan. Apalagi saat pipi gadisnya itu mulai memerah, ia terlihat begitu menggemaskan dimata Dean.
"Gak mau ah" Vey menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan, kepalanya menggeleng cepat, dan kedua kakinya terus ia hentak-hentakkan di lantai pesawat.
Dean terkikik geli, "gue cuma becanda kali Vey, lagian lu masih kecil, gue gak tertarik."
Kalimat terakhir Dean terasa menyentil hati Vey, segitu tidak menarikah ia dimata Dean? Ukuran tubuhnya saja bahkan sedikit lebih besar dari Rena, tapi kenapa Dean terus mengatai Vey 'masih kecil
"Awas aja kalau lu sampai tertarik ke gue!" Ketus Vey seraya melengoskan matanya ke arah jendela pesawat.
"Emang lu mau apa, hah?" Sahut Dean, yang terdengar seperti menantang.
"Gue gak mau melayani lu lah" Sinis Vey.
"Itu namanya istri durhaka Vey." Dean terkekeh, Dean tidak tau istrinya itu sedang pura-pura bodoh atau memang bodoh. Harusnya Vey berpikir, jika Dean tidak tertarik padanya, mana mungkin Dean mau mencium dan membuat kissmark di lehernya?
Dan mana mungkin, Dean meminta bantuan Vey untuk membuatnya jatuh cinta? Vey bodoh, sangat bodoh, dan lebih bodohnya lagi Dean menyukai itu.
"Biarin!" Vey menekuk kedua tangannya didepan dada, pandangannya terus terpusat pada luar jendela.
Dean merangkul bahu Vey, mendekatkan tubuh Vey ke dada bidangnya, sedangkan sebelah tangannya ia gunakan untuk menoel gemas hidung kecil istrinya itu. "Kadar jatuh cinta gue ke lu, baru aja dimulai. Baru 5%, gue tunggu kenaikannya."
Jantung Vey langsung berdegup tak karuan karena perkataan Dean. Vey sangat senang bisa membuat Dean jatuh cinta, yah walau baru 5%.
Ckck, bodoh memang, mana mungkin kadar cinta bisa diukur? Tapi ya sudahlah, Vey memilih untuk mempercayainya saja, dan kembali bertekad untuk segera membuat Dean cepat-cepat mencintai ia sepenuhnya.
.
.
Mereka telah tiba di hotel pada malam harinya, Vey sekarang tengah melakukan siaran langsung di instagram. Sedangkan Dean sedang rebahan santai di atas ranjang sembari sibuk dengan ponselnya.
Setelah mengakhiri siaran langsungnya, Vey langsung menjatuhkan diri di atas ranjang, memeluk erat tubuh Dean dan menjadikan bisep suaminya itu sebagai bantalan kepala. "Kak lu wangi banget sih."
"Iya lah" Ucap Dean, acuh.
Vey tersenyum manis, ia mengeratkan pelukannya. "Ngantuk kak." Titahnya pada Dean yang masih asyik bermain game ponselnya.
"Tidur."
"Gimana mau tidur? Orang suara game lu berisik gitu." Vey mengkode Dean.
"Yaudah gue matiin volumenya." Dean mengganti pengaturan ponselnya menjadi mode senyap.
Maksud Vey adalah ia ingin Dean mematikan gamenya dan menemani Vey tidur, namun sepertinya Dean tidak peka dan tetap asyik bermain game. Vey mengerucutkan bibir merah mudanya,"gak peka deh."
Pipi Vey tiba-tiba memanas, karena Dean mengecup lama keningnya dan mengusap lembut punggungnya. "Siapa suruh main kode-kodean."
"Gue selesaiin ini dulu, nanggung bentar lagi menang" Dean melanjutkan kalimatnya, sedangkan Vey hanya mengangguk dan menyembunyikan wajahnya di cengkurak ketiak Dean untuk menutupi pipinya yang sudah semerah strowbery.
"Kak, tadi gue dapat tawaran jadi model. Boleh gak?" Vey merubah posisinya menjadi tengkurap.
"Model dimana?" Dean menatap Vey sebentar.
"Majalah Adultporn, boleh ya kak? Bayarannya lumayan gede."
"Kagak ih, tapi kata fotografernya, pemotretan gak sampe buka-buka baju gitu kak, cuma sekedar foto mesra dan gue---/"
"Gue bilang enggak ya enggak! Gue gak rela ada yang nyentuh lu selain gue." Begitulah Dean, ia bukanlah orang yang suka berbagi, ia tidak akan membiarkan apa yang sudah menjadi miliknya disentuh oleh orang lain.
"Kak... Tapi bayarannya gede" Vey menghela nafas berat, kapan lagi ia bisa mendapatkan uang 100 juta? Ini peluang yang sangat menggiurkan dan Vey tidak mau membuangnya begitu saja.
"Gue bisa kasih lu uang yang lebih banyak dari bayaran yang majalah itu tawarin buat lu. Lu butuh berapa? 500 juta? 1 miliyar? 1 triliun? Gue bisa kasih seberapa pun yang lu minta." Rahang tegas Dean mengeras, air mukanya berubah menjadi masam, dia terlihat sangat marah.
"Iyaa gue tau, tapi---/" Ucapan Vey kembali terpotong.
"Tau arti kata 'ENGGAK BOLEH' kan?" Tanya Dean, dengan penekanan saat mengucapkan 'enggak boleh'.
Vey mengangguk kecewa, "iya tau."
Dean meletakkan ponselnya di atas meja disamping ranjang. Kemudian menarik bahu Vey, agar posisi gadisnya itu yang awalnya tengkurap menjadi terlentang.
Tanpa aba-aba, Dean langsung menindih tubuh kecil Vey.
Vey hanya diam saja, ia tau Dean sedang berusaha menggodanya agar tidak ngambek lagi. Vey memilih untuk memejamkan matanya, enggan menatap wajah suaminya itu.
Dean menyeka cairan bening putih yang mengalir dari sudut mata Vey. "Jangan nangis."
Vey mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar, namun gagal. Vey ingin menangis, namun ia malu jika harus menangis di depan Dean. "Kak, awas dulu. Gue mau ke kamar mandi." Desis Vey.
"Maaf udah bikin lu nangis, maaf kalau gue over protektif"
"Jahat... Lu jahat." Vey menangis sesenggukan. Kedua tangannya yang tertindih tubuh Dean, membuatnya mau tidak mau membiarkan air matanya mengalir deras.
Dean mengelap pipi Vey yang basah dengan ibu jari, "maaf, tapi gue tetep gak akan ijinin lu buat ikut foto majalah."
Tangisan Vey semakin mengeras, namun sebuah benda kenyal yang mendarat dibibir Vey secara tiba-tiba, membuat tangisan Vey berhenti.
Dean mencium bibir Vey, melumatnya lembut dan sangat hati-hati. Butuh waktu sekitar 5 menit, hingga akhirnya Vey membalas lumatan Dean.
Ciuman Dean turun ke leher jenjang milik Vey, seperti biasa Dean membuat gigitan-gigitan kecil, menandai bahwa Vey adalah miliknya seorang.
Desahan yang keluar dari mulut Vey, semakin memancing nafsu Dean.
Dean meraba dada Vey, melepaskan satu persatu kancing baju tidur yang Vey kenakan. Dean melemparkan baju tidur berwarna pink dengan motif bunga-bunga itu ke lantai setelah berhasil melepasnya dari tubuh Vey.
Dean kembali mencium dan ******* bibir Vey yang rasanya sangat manis, bibir Vey bagaikan candu yang memabukkan.
Tangan Dean beralih ke punggung mulus Vey, ia mencari kaitan bra dan melepaskan kaitannya. "Berhenti kak..." Dean menghentikan semua aktivitasnya, "kenapa? Mau punya baby kan?"
Vey mendorong dada Dean agar menyingkir. Lalu menutupi tubuhnya yang hampir telanjang dengan selimut tebal, "bukannya lu gak tertarik sama gue?"
***
POV Vey
Hari ini gue rasanya kesel banget, penyebabnya siapa lagi kalau bukan Dean Brilliand Gerando, suami gue yang ketampanannya bagai Arjuna. Gimana gak kesel? Ini sudah jam 9 pagi, dan kak Dean masih molor.
Padahal gue sudah gak sabar pengin mengeliling kota Seoul. Gue tarik paksa selimut yang kak Dean pakai, omaygat.... Gue sempat kaget karena dia cuma pakai celana boxer.
Dada nya telanjang bulat, bikin gue menelan ludah saking terpukaunya dengan abs abs ukiran Tuhan, yang begitu sempurna. "Kak ayok bangun!" Pekik gue.
Kak Dean mengulet sambil melenturkan otot-otot tangannya. Sekali lagi! Gue cuma bisa menelan ludah. "Hmm yaya." Jawab kak Dean lesu. Setelah itu,kak Dean masuk ke dalam kamar mandi.
Gak sampai 5 menit kak Dean keluar dari kamar mandi, gue menghela nafas lega karena kali ini kak Dean sudah pakai kaos, ya walaupun tubuh bagian bawahnya masih dililit handuk. "Kak gue belum sarapan."
"Nanti." Kak Dean masuk kedalam kamar mandi lagi, mungkin dia mau pakai celana.
Semua sudah siap, tapi gue bingung karena kak Dean cuma diam saja sambil mengamati tubuh gue dari atas sampai bawah, bikin gue meriding sekaligus salah tingkah. "Ganti baju Vey."
Gue melongo heran, ya kali gue suruh ganti baju? Gue sudah cantik, dengan mini dress warna putih, dan gue juga suka sama dress pemberian mama Hana ini. "Kenapa? Gue cantik kok." Gue memandang dress yang gue pakai.
"Baju lu terlalu terbuka. Cepet ganti."
"Gue gak mau." Sarkas gue, lagian tuh suami ribet amat. Istrinya tampil cantik malah disuruh ganti, giliran jelek di nistakan terus. Huh, sabar Vey.
"Ganti." Kak Dean memolototi gue, tapi gue cuma melengos gak peduli.
Demi celana dalamnya Spongebob! Gue terkejut bukan main, kak Dean tiba-tiba menggendong gue ala karung beras dan menghempaskan tubuh gue di atas ranjang. Gue buru-buru membenarkan dress gue yang tersingkap, untung aja gue pakai celana pendek. "Paan sih kak?!"
Kak Dean membuka koper gue, mengambil celana jeans dan sebuah jaket tebal berwarna krem, melemparnya ke arah gue yang masih duduk diatas ranjang. "Pakai ini."
"Gak mau!" Tolak gue.
Kak Dean menyeringai iblis, tatapannya berubah menjadi predator dan gue adalah mangsanya. "Kalau gitu, biar gue yang gantiin."
Gue langsung meraih baju yang Kak Dean pilih dan lari menuju kamar mandi, oke gue beneran takut. Gue masih belum berani menghadapi keganasan kak Dean, walau sebenarnya gue mau.
Mau apa? Yang mau itu lah.