Dear D

Dear D
Episode 61



"Hikss" Nana terus saja menangis, Dalam tidur nya pun dia menangis. Hati nya begitu lembut hingga masih menangis saat tertidur, Dia bukanlah wanita kuat yang bisa menahan tangis dan emosi tapi dia bisa menyembunyikan tangis nya dari banyak nya orang kecuali Ryhan.


Dia sama sekali tidak bisa menahan tangis dan emosi nya saat berada di dekat Ryhan begitupun dengan perasaan nya dan juga detak jantung nya yang juga tidak bisa di tahan.


Jika hati nya sakit atas perkataan orang lain pasti dia akan menangis sendiri ataupun jika Ryhan bisa menemani dia akan menangis dan melampiaskan emosi nya kepada Ryhan yang tidak tau apa apa. Tapi dia melampiaskan emosi dengan cara mengomel dan mengeluarkan semua isi hati yang tidak pernah ia keluarkan kepada siapapun.


Nana nampak sudah tenang, Tangis nya mulai mereda tapi pelukan nya tetap erat memeluk tubuh Ryhan. Ryhan mencoba melepaskan dengan sangat pelan tubuh wanita itu hingga terlepas. Saat terlepas dia memilih untuk berlalu dari kamar dengan membawa kotak obat.


"Berantakan sekali" ucap nya saat melihat rumah yang sangat berantakan. Ryhan meletakkan kotak obat dan setelah itu memilih untuk membersihkan rumah yang sangat berantakan. Buku yang berserakan terlebih dahulu di bersihkan oleh nya dan setelah itu baru menyapu dan mengepel rumah yang cukup kotor dan ada bercak darah tangan istri nya.


Di sekolah.


"Loh Nana dimana?" tanya pak wali kelas yang tidak menemukan Nana dan Ryhan di lapangan. Yura dan Weny yang mendengar itu langsung mendekat dan melihat ke bawah dan benar saja Nana dan juga Ryhan tidak ada di bawah.


"Kemana Nana?" tanya Yura.


"Ayo" Weny menarik tangan wanita itu dan berlari kembali ke atas ke kelas mereka untuk melihat apa peralatan Nana masih ada atau tidak.


"Tas nya ada" ucap Weny.


"Tas Ryhan juga ada, Kemana mereka?" tanya Yura yang menemukan tas Ryhan dan juga Nana.


"Di kantin?" tanya Qori. Kedua wanita itu langsung berlari dan menuju ke kantin.


"Tidak ada juga, Kemana mereka?" ucap Weny dan Yura secara bersamaan karna tidak menemukan Ryhan dan juga Nana.


"Coba hubungi mereka" ucap Yura. Weny mengangguk mengiyakan nya dan mengambil ponsel nya untuk menghubungi Nana tapi nomor nya tidak aktif.


"Shit pasti Ryhan pergi bersama wanita murahan itu" umpat Dira yang kesal dan itu terdengar oleh Yura dan juga Weny.


"Apa yang kau katakan tadi?" bentak Yura dengan menarik rambut wanita itu.


"Lepaskan" teriak Dira yang kesakitan.


"Berani nya kau berbicara seperti itu kepada saudaraku, Mau apa kau hah?" bentak Yura dengan wajah kesal nya menatap Dira.


"Saudara apanya? Dia itu hanya wanita jalang, Dia itu anak haram tidak memiliki orang tua" jawab Dira.


Plaak


Weny geram akan itu dan langsung menampar wajah wanita itu hingga tangan Yura terlepas dan wajah Dira memerah. "Hey apa yang kalian lakukan?" tanya guru yang melihat kejadian itu.


"Jaga ucapan mu, Mau aku robek mulut mu hah?" bentak Weny yang tidak terima akan ucapan Dira.


"Robek saja jika berani" tantang Dira akan Weny.


"Weny sudah" tegas guru dengan menjauhkan Weny dari Dira sedangkan Yura di jauhkan oleh Qori dari Dira.


"Sekali lagi kau berbicara seperti itu tentang Nana akan aku pastikan mulut mu tidak akan seperti sekarang" ketus Yura dan menepis kasar tangan Qori dan langsung berlalu dari sana begitupun dengan Weny yang juga langsung berlalu dari sana dengan wajah datar nya tanpa mengeluarkan suara apapun kepada guru yang memperhatikan nya.


"Cukup lelah membereskan seluruh nya" ucap Ryhan dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi. Rumah nampak sudah bersih dan kembali seperti semula sedangkan Nana masih tertidur di dalam kamar.


"Hikss" suara tangisan wanita nya kembali terdengar dan itu membuat Ryhan langsung berdiri dari duduk nya dan masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu rumah yang terbuka.


Ryhan nampak kembali hawatir akan istri nya yang tiba tiba menangis. "Kenapa lagi kau menangis?" tanya Ryhan dengan mengusap kepala nya.


"Hikss" Nana tidak menjawab nya dan memeluk tangan yang mengusap kepala nya itu.


Ryhan mendudukkan tubuh nya di samping wanita itu dan membiarkan tangan nya di pegang oleh istri nya.


Beberapa menit dia termenung akhirnya kantuk datang Ryhan menguap akibat kelelahan. "Aku sedikit lelah, Bisa kau melepaskan tangan ku?" tanya Ryhan dengan nada pelan. Bukannya melepaskan nya Nana malah mempererat pelukan nya kepada tangan lelaki nya.


Ryhan membuang nafas panjang dan tidak memaksa entah Nana sadar atau tidak dia tidak perduli akan itu yang penting wanita nya tenang. "Tidur bersama tidak apa bukan?" guman lelaki itu dengan menatap ke arah Nana.


"Tidak apa toh aku juga menikah dengan nya" guman nya kembali dan memposisikan tubuh nya untuk berbaring tepat di samping wanita nya. Cukup susah untuk lelaki itu berbaring tepat di samping istri nya hingga tubuh nya sudah berbaring tapi belum dengan kepala nya.


Ryhan melepaskan tangan Nana pelan dari tangan nya dan meletakkan tangan Nana beralih memeluk pinggang nya setelah itu dia mengangkat sedikit kepala Nana dan menjadikan lengan nya sebagai bantal kepala wanita nya. "Em" Nana bergerak merasa ada yang menyentuh nya.


"Shut, Shut" Ryhan mencoba menenangkan Nana seperti anak kecil yang terganggu dari tidur dan hendak membuat nya kembali tertidur. Nana mendekat ke arah Ryhan dan mengusapkan kepala nya di dada bidang lelaki itu.


Senyum wanita itu nampak mengembang entah karna nyaman atau dia sadar akan Ryhan yang berbaring di dekat nya. Ryhan ikut tersenyum melihat istri nya yang nampak nyaman, Dia menenggelamkan kepala wanita itu di dada nya dan tangan yang mengusap kepala wanita nya dan ikut istirahat bersama wanita nya.


"Jika aku tau senyaman ini mungkin dari dulu aku sudah tidur bersama nya selalu" guman Ryhan dengan mata yang tertutup dan senyum yang mengembang.


Weny masuk ke dalam kelas dan mengambil tas Nana di dalam kelas. "Tas Ryhan?" tanya Yura.


"Untuk apa membawa tas lelaki itu?" tanya Weny dengan nada meninggi.


"Tapi tidak apa bukan jika kita bawa?" tanya Yura dan mengambil tas Ryhan. Weny tidak menjawab nya dan langsung berlalu dengan membawa tas nya dan juga tas Nana sedangkan Yuta membawa tas nya dan juga tas Ryhan entah kenapa wanita itu membawa tas Ryhan.


Weny dan juga Yura masuk ke dalam mobil Yura dengan Weny yang menyetir dan Yura duduk di samping nya.


Tit


Weny memencet klakson agar satpam membuka pintu tapi satpam tidak membuka pintu membuat Weny harus mengeluarkan kepala nya untuk mengatakan nya. "Pak bukakan pagar" teriak Weny.


"Mau kemana kalian? Mau kabur?" tanya satpam dengan melototkan mata nya.