
"Panas sekali" ucap Nana yang kepanasan karna mungkin suhu tubuh Ryhan kembali naik. Nana mengibas ngibas tangan nya untuk menghilangkan panas dan setelah itu dia melihat jam dinding yang baru menunjuk pukul dua pagi dan dia tidak sadar akan Ryhan yang tertidur memeluk nya itu.
"Kenapa Ah" ucap Nana yang ingin bertanya kepada diri sendiri tapi malah kaget saat melihat Ryhan tidur di samping nya dengan memeluk nya.
"Kenapa dia bisa tidur dengan memelukku?" guman Nana saat sadar akan dia yang tidur bersama suami nya itu.
"Ah tidak jangan sampai aku membangunkan nya" guman Nana dan menggerakkan tangan nya dan memindahkan tangan suami nya itu menjauh dari tubuh nya dengan sangat pelan supaya tidak membangunkan lelaki itu. Setelah berusaha cukup dia akhirnya terlepas dari Ryhan, Nana langsung turun dari tempat nya itu dan langsung menuju ke dekat kipas angin yang ada di dalam kamar nya itu.
Nana langsung menyalakan kipas itu dan hanya menghadap ke diri nya bukan keliling karna takut Ryhan akan kembali sakit. "Ah enak sekali" ucap Nana saat sudah lega mendapatkan kipas angin. Nana kembali berdiri saat tubuh nya sudah tidak kepanasan dan menatap dahi Ryhan.
"Kenapa panas tubuh nya tidak kunjung turun" ucap Nana yang sadar akan suhu tubuh Ryhan yang tidak kunjung turun itu. Ryhan mengigil dan itu sangat bisa di lihat oleh Nana.
"Kenapa?" tanya Nana kepada Ryhan.
"Dingin" jawab Ryhan akan pertanyaan itu padahal tubuh nya sedikit mengeluarkan peluh.
"Iya sebentar" ucap Nana dan langsung keluar, Dia langsung mengambilkan selimut yang ada di dalam rumah itu yang cukup tebal dan setelah itu kembali ke dalam kamar nya. Nana menyelimuti tubuh lelaki nya itu menggunakan lima selimut tebal karna Ryhan mengeluh kedinginan tadi.
"Masih dingin?" tanya Nana dengan memegang dahi lelaki itu saat dia sudah selesai menyelimuti tubuh lelaki nya itu. Ryhan menggelengkan kepala nya menandakan jika tidak dingin lagi meskipun masih sedikit dingin. Nana kembali beranjak keluar dari kamar itu dan mengambil handuk kecil, Dia menghangatkan air dan setelah selesai dia mencampurkan air yang cukup hangat dengan air biasa dan setelah itu dia kembali ke dalam kamar, Nana mendudukkan tubuh nya di samping Ryhan di atas ranjang dia mencelupkan handuk kecil tadi ke dalam air yang ia masukkan ke dalam baskom. Nana mengangkat handuk itu dan memeras hingga kering dan setelah itu dia meletakkan nya di dahi Ryhan yang cukup hangat itu. Setelah selesai dia mencari satu lagi untuk nya mengompres Ryhan dan kembali ke tempat duduk nya. Nana mengganti saat merasakan handuk tadi sedikit panas dan mengganti nya dengan handuk yang lain. Sudah satu jam wanita itu merawat Ryhan dan Ryhan belum tidur dan itu membuat diri nya tidak bisa istirahat. Tapi akhirnya saat lima menit Ryhan tertidur dengan mulut sedikit menganga karna susah bernafas. Nana menatap nya dan terlihat jelas lelaki itu tertidur tapi mulut yang menganga itu kembali tertutup.
"Istirahatlah" ucap Nana dan langsung beranjak dari sana untuk meliat pakaian.
"Huh" Nana mendengus kasar dan mendudukkan tubuh nya di atas lantai, Dia tidak menghidupkan lagi kipas angin meskipun dia kepanasan tapi dia takut Ryhan akan kembali kedinginan. Nana mulai melipat pakaian nya dan juga Ryhan.
"Dia tidur di kamar ini saja bersama ku nanti" guman Nana saat meletakkan baju milik Ryhan ke dalam lemari nya dan itu lemari yang sama.
"Tidak apa dia tidur bersama ku, Kasihan dia tidur di luar" ucap Nana lagi dan kembali melanjutkan aktivitas nya.
"Hua" Nana menguap karna mengantuk tapi dia harus menyelesaikan pekerjaan nya itu. Nana menatap ke samping dan terlihat Ryhan masih tertidur lelap.
Ayam sudah berkokok dan itu membuat Ryhan terbangun dari tidur nya karna sudah terbiasa bangun saat ayam berkokok. Ryhan tidak menemukan istri nya di smping nya ataupun di kamar itu. "Banyak sekali selimut nya" ucap Ryhan yang baru sadar akan selimut yang membaluti tubuh nya cukup banyak itu.
"Ah iya dia yang menyelimuti ku kemarin" ucap Ryhan yang baru ingat akan hal itu dan setelah itu dia langsung melihat jam dinding yang sudah menunjuk pukul enam pagi. Ryhan beranjak duduk dari tidur nya dan handuk kecil yang melekat di dahi nya terjatuh, Ryhan mengambil handuk itu dan menatap lekat benda itu dan setelah itu dia langsung menoleh ke samping.
"Dia mengurus ku dengan baik" guman Ryhan dengan tersenyum lebar dan merasa tubuh nya sudah enakan. Ryhan beranjak berdiri dari duduk nya dan langsung berjalan keluar dari kamar itu. Saat keluar dia langsung melihat istri nya tengah memasak di dapur, Ryhan berjalan mendekat ke arah wanita nya itu dan melihat apa yang di masak oleh sang istri.
"Kau memasak apa?" tanya Ryhan dengan kepala yang berada di atas bahu istri nya tapi bukan bersandar.
"Astaga" ucap Nana yang kaget akan itu dan untung saja makanan tidak tumpah.
"Maaf" ucap Ryhan dan menjauh dari sana. Nana tidak menajwab nya dan berjalan ke arah meja makan dan meletakkan makanan ke atas meja di sana.
"Kau sudah sembuh?" tanya Nana dan meletakkan punggung tangan nya ke atas dahi suami nya itu. Ryhan hanya menatap lekat wajah wanita yang sangat cantik berada di hadapan nya sekarang itu.
"Sudah mendingan" ucap Nana dan menurunkan tangan nya dari dahi suami nya itu dan mendudukkan tubuh nya di atas salah satu kursi di sana.
"Duduklah" ucap Nana mempersilahkan suami nya untuk duduk di atas kursi. Ryhan tidak menjawab nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang di persilahkan oleh istri nya tadi. Nana menyiapkan makanan untuk Ryhan dengan cepat dan setelah itu memberikan nya kepada Ryhan. Setelah selesai memberikan nya kepada Ryhan dia mengambil makanan untuk nya dan langsung melahap makanan milik nya itu. Ryhan yang melihat istri nya sudah melahap makanan pun ikut melahap makanan nya dengan lahap juga.
"Lapar sekali ya?" tanya Ryhan dengan mengusap bekas makanan yang ada di sudut bibir istri nya itu. Nana menghentikan makan nya dan menatap suami nya itu dengan mata sedikit membulat akibat kaget.
"Ah tidak" jawab Nana dan menepis tangan suami nya itu dari tangan.nya. Ryhan tidak menjawb nya lagi dan memilih untuk diam dan melanjutkan ucapan nya.
.
.
.