
"Hah? Aku tidak pernah merasa dulu aku pernah peduli terhadap siapapun" ucap Nana.
"Kau yakin?" tanya Ryhan dengan menatap tajam wajah wanita nya yang juga menatap nya saat ini.
"Em" Nana menganggukkan kepala nya mengiyakan pertanyaan dari suami nya tersebut.
"Coba kau ingat baik baik dan flashback masa lalu mu tentang keperdulian mu terhadap orang lain" ucap Ryhan. Nana nampak diam, Dia nampak mencoba mengingat kapan dia pernah perduli terhadap orang lain tapi percobaan nya tersebut gagal karna dia memang tidak mengingat nya sama sekali.
"Aku tidak ingat, Aku juga tidak pernah merasa perduli dengan siapapun" jawab Nana dengan wajah polos nya menatap suami nya tersebut.
Ryhan membuang nafas panjang. "Tidak apa apa tidak ingat, Mengingat hal tersebut juga bukan kewajiban, Mulai sekarang aku akan mengubah sedikit demi sedikit cara bicara mu dan isi hati mu supaya bisa senada" ucap Ryhan.
"Bagaimana cara nya?" tanya Nana.
"Dengan membiarkan kau selalu marah marah dan melupakan emosi mu di hadapan ku perlahan kau akan mulai berbicara jujur nanti nya tanpa marah marah lagi" jawab Ryhan. Nana nampak diam, Dia tidak mengerti dengan ucapan suami nya tersebut dan hal tersebut bisa di ketahui oleh Ryhan.
"Sudah jangan di pikirkan lagi, Ayo istirahat" ucap Ryhan saat melihat istri nya yang nampak berpikir. Ryhan langsung menenggelamkan wajah wanita nya di dada nya dan memeluk erat tubuh itu seakan akan tidak ingin kehilangan nya ataupun jauh dari nya.
Nana memejamkan mata nya dan mengistirahatkan tubuh nya yang kelelahan itu saat ini saat jam masih menujuk pukul sembilan pagi.
"Pak Ryhan dan juga Nana sungguh sangat akrab hingga memarahi satu sama lain saja berani, Apa hubungan kedua nya?" tanya Fany yang sedang sedang memikirkan hal yang sedari tadi di pikirkan nya dengan tubuh yang tengah duduk di atas kursi kerja nya.
"Apa mereka memiliki hubungan khusus? Atau hanya berteman?" tanya Fany lagi yang masih saja memasang wajah bingung nya.
"Bukankah sangat aneh?" tanya Fany lagi.
"Apa nya yang aneh?" tanya Jony yang sudah cukup lama berdiri di hadapan Fany.
"Eh pak Jony" ucap Fany yang langsung tersadar akan Jony saat mendengarkan suara nya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Jony dengan wajah datar nya.
"Ah t-tidak memikirkan apa apa pak" jawab Fany dengan senyum nya mencoba baik baik saja padahal pikiran nya entah kemana.
"Di mana Ryhan?" tanya seseorang hingga hal tersebut membuat Fany dan juga Jony menoleh ke arah nya. Wanita cantik dengan berpenampilan sangat anggun dengan barang barang yang nampak mahal menandakan wanita itu adalah wanita berkelas dengan senyum tipis ramah nya menandakan wanita itu memiliki hati lembut saat awal bertemu dengan nya.
"Pak Ryhan sedang tidak ada di kantor, Ada erlu apa anda mencari nya?" tanya Jony yang sama sekali tidak tertarik dengan wanita yang tengah berdiri di hadapan nya saat ini.
"Saya perlu bertemu dengan nya" jawab wanita itu.
"Perlu apa? Apa sudah membuat janji atau semacam nya dengan pak Ryhan?" tanya Fany yang juga ikut bingung menatap wanita nya tengah berada di hadapan nya saat ini.
"Saya ingin membahas tentang kerja sama yang seharus nya di bahas beberapa waktu lalu, Tapi waktu itu asisten saya yang datang" ucap wanita itu hingga Jony dan juga Fany menatap ke lelaki yang tadi belum sempat kedua nya lihat.
"Ah iya saya baru ingat, Tentang kerja sama beberapa waktu lalu ya, Mari ikut kami ke ruangan meating bu" ajak Jony dengan sopan nya. Wanita itu menganggukkan kepala nya dan mengikuti Jony dan menuju ke ruang meating yang terletak di lantai bawah.
"Papa kita hari ini ke apartemen Ryhan" ajak Merri kepada suami nya yang tengah duduk santai sambil menikmati kopi.
"Bukankah mereka bekerja hari ini?" tanya Andra dan menurunkan cangkir yang berisi kopi tadi.
"Kan ada Nana di apartemen, Mana tau dengan cuma Nana di rumah mama bisa berbicara dengan nya" jawab Merri dengan senyum nya mencoba membujuk suami nya tersebut.
"Hah?" Merri nampak terdiam saat mendengar ucapan suami nya tersebut.
"Kenapa dia bekerja? Bukankah dengan hanya Ryhan bekerja sudah bisa menghidupi kedua nya?" tanya Merri yang nampak memasang wajah tidak senang akan hal tersebut.
"Dia tidak mengetahui tentang keuangan keluarga kita dan ingin bekerja makanya Ryhan memasukkan nya di perusahaan, Orang perusahaan juga tidak ada yang tau siapa itu Ryhan ma" jelas Andra.
"Bagaimana bisa kau membiarkan nya? Bagaimana kita akan cepat memiliki cucu jika kau membairkan nya kelelahan? Kau ini bodoh sekali" ketus Merri yang nampak marah saat mendengar ucapan suami nya.
Andra belum menjawab ucapan istri nya tersebut dan menatap lekat wajah nya. "Sudah cepat hubungi Ryhan, Suruh dia membawa Nana ke sini agar dia tidak bekerja" perintah Merri kepada suami nya yang malah menatap tajam ke arah nya.
"Cepat pa" ketus Merri kembali. Andra mengambil ponsel nya dan langsung menghubungi anak nya tersebut.
Drittt
Ryhan yang merasakan getaran di bagian paha nya langsung mengambil apa yang bergetar itu dan ternyata itu adlaah ponsel nya. "Aku sudah bilang kau urus semua pekerjaan di kantor, Aku menemani istri ku saat ini" ucap Ryhan yang mengira orang itu adalah Jony akibat tidak melihat nama siapa yang tertera di ponsel nya tersebut.
"Nana kenapa hingga kau menemani nya nak?" tanya Andra saat mendengar ucapan Ryhan.
Ryhan yang bingung saat mendengar ucapan dari sebrang telpon pun langsung menatap ke layar ponsel nya. "Papa" nama yang tertera di layar ponsel nya.
"Shit aku pikir Jony" umpat Ryhan saat melihat yang menelpon adalah ayah nya.
"Halo pa, Ada apa?" tanya Ryhan yang sedikit menjauhkan wajah nya dari istri nya dengan tangan yang masih memegang bahu wanita itu.
"Papa bertanya Nana kenapa hingga kau menemani nya?" tanya Andra kembali saat tidak mendapatkan jawaban dari anak nya tersebut.
"Delina tidak enak badan makanya aku menemani nya" jawab Ryhan dengan nada datar nya dan tangan yang mengusap kepala istri nya yang menggeliat takut istri nya terbangun
"Hah? Tidak enak badan? Dia sakit?" tanya Andra yang nampak hawatir akan menantu nya tersebut.
"Em" jawab Ryhan yang cukup malas.
"Nana sakit pa?" tanya Merri yang juga ikut hawatir. Andra menganggukkan kepala nya mengiyakan pertanyaan dari istri nya tersebut.
"Berikan aku berbicara kepada Ryhan" ucap Merri dengan tangan yang menengadah meminta ponsel kepada Andra sang suami.
Andra tidak menjawab nya dan memberikan ponsel yang masih terhubung telpon dengan Ryhan kepada istri nya. "Halo Ryhan, Kenapa Nana bisa sakit?" tanya Merri dengan nada hawatir nya.
.
.
.
.
.