
"Terima kasih tumpangan nya teman" ucap Anggi dengan senyum nya dan langsung turun dari mobil itu.
"Anggi tunggu, Aku belum mengerti penjelasan mu" ucap Febri yang menghentikan Anggi yang baru saja keluar.
"Kau bukanlah orang bodoh yang tidak memahami sendiri penjelasan ku tadi, Kau itu pintar tidak seharus nya kau tidak mengerti dengan ucapan ku tadi, Aku tidak ingin mengingat hal itu, Itu akan sangat menyakiti hati ku, Nana adalah adikku jadi kau harus mengerti kenapa aku tidak terbuka tentang nya kepada mu" jawab Anggi dan masuk ke dalam rumah nya tanpa menunggu kepergian Febri.
Febri terdiam beberapa saat hingga akhir nya dia berpindah duduk dan langsung melajukan mobil nya menuju ke apartemen nya.
"Sayang" panggil Ryhan dan mendudukkan tubuh nya di samping wanita nya dengan makanan yang di bawa nya di letakkan di samping ranjang.
Nana menoleh ke arah suami nya tersebut. "Apa mama sudah pulang?" tanya Nana saat melihat makanan yang ada di samping ranjang.
"Em, Dia sudah pulang sejak tadi bersama kak Ferisa" jawab Ryhan.
"Mama, Aku harap ucapan Ryhan tadi tidak mama masukkan ke dalam hati" ucap Ferisa.
"Jelas saja tidak, Ryhan adalah anak mama tidak mungkin mama dengan sangat mudah memasukkan ucapan nya ke dalam hati mama" jawab Merri dengan senyum nya.
"Kau masuklah ke kamar mu ya sayang" ucap Merri dengan mengusap kepala anak nya.
"Iya" jawab Ferisa dan masuk ke dalam kamar nya tersebut. Merri ikut masuk ke dalam kamar nya saat Ferisa sudah masuk.
"Dari mana saja kau?" suara terdengar tegas saat dia masuk ke dalam kamar nya. Merri langsung menoleh ke arah suara dan terlihat suami nya tengah duduk dengan kaki yang berada di atas kaki lain dan tangan yang memegang kopi nya.
"Aku dari...."
"Jangan berani lagi kau berbohong kepada ku, Jawab dengan jujur pertanyaan ku" ucap Andra dengan wajah datar nya.
"Aku dari rumah Ryhan" jawab Merri jujur.
"Apa yang kau lakukan di sana? Kau masih ingin mencoba memisahkan mereka hah?" bentak Andra.
Merri yang menundukkan kepala nya langsung mengangkat kembali kepala nya. "Apa maksud ucapan mu itu?" tanya Merri dengan menatap datar ke arah suami nya tersebut.
"Merri kau tidak usah berpura pura baik di hadapan ku dan yang lain nya, Sikap keras mu itu tidak akan pernah berubah, Kau akan selalu mencoba memisahkan Ryhan dan juga Nana" bentak Andra.
Merri terdiam saat mendengar bentakan tersebut, Dari mana suami nya tau rencana nya?.
"Butik di pindahkan ke tempat lain bagaimana?" tanya Ryhan.
"Aku tidak mau, Biarkan saja butik tetap di sini" jawab Nana.
Beberapa hari berlalu.
"Itu letakkan di sana saja" ucap Nana yang tengah memindahkan barang barang lain merombak isi butik nya yang sempat sepi beberapa waktu lalu.
"Jika berkenan mampirlah ke butik ini" ucap Ryhan dengan menyodorkan brosur kepada orang yang lewat di hadapan nya di tepi jalan hendak masuk ke butik ataupun perumahan nya.
Kerja sama yang bagus di antara suami dan istri itu membuat para pekerja yang beberapa waktu sempat down akibat kejadian yang menimpa butik kembali semangat, Melihat semangat Nana yang ingin mengembalikan butik ramai seperti dahulu dan semangat Ryhan yang membagikan brosur butik istri nya tersebut menambah lebih semangat para pekerja butik itu hingga tepat hari ini mereka merapikan toko yang di rombak isi dalam nya namun tidak dengan tata butik yang masih tetap sama dengan dahulu hanya barang barang saja yang di pindahkan tepat di hari ini mereka tengah merapikan tempat tersebut untuk kembali bangkit dan memulai semua nya dari awal.
Sedangkan Devan dia nampak tidak rewel bersama dengan mama Hanah yang menggendong nya meskipun seperti itu mama Hanah juga tetap sedikit membantu apa yang di bisa nya dengan menggendong Devan akibat Devan yang sedari tadi ingin berada di gendongan nya. "Awas" ucap Hanah saat hampir saja Nana tertimpa barang yang di bawa oleh orang dari luar.
"Terima kasih ma" ucap Nana dengan senyum nya dan langsung berlalu keluar dari butik untuk menemui suami nya.
"Datanglah ke butik kami"
"Datanglah ke butik kami" Nana ikut menyebar brosur butik nya hingga membuat Ryhan menghentikan aktifitas nya dan menoleh ke arah istri nya.
"Kenapa kau ikut kemari?" tanya Ryhan sambil menyebarkan brosur di tangan nya.
"Membantu mu" jawab Nana yang juga sambil membagikan brosur tersebut.
"Tapi hari ini cukup panas nanti kau kelelahan, Lebih baik kau mengurus yang ada di butik" ucao Ryhan pula.
"Di dalam butik selesai" jawab Nana.
"Ah shit akukan sudah tau jika Nana memang tidak bisa aku dapat masih saja memperhatikan mereka" guman Febri dengan memukul kepala nya dan melanjutkan membagi brosur yang tersisa di tangan nya begitupun dengan Anggi yang juga membagikan brosur.
"Kemarilah" ucap Ryhan dan menarik tangan istri nya yang sudah kosong dan membawa nya duduk di tempat duduk yang ada di pinggir jalan itu.
"Lihatlah kau benar benar kelelahan" ucap Ryhan dan menghapus keringat yang membasahi wajah wanita nya.
"Hanya sedikit berkeringat, Kau jangan cerewet seperti ini" jawab Nana.
"Minum ini" ucap Ryhan dengan menyodorkan air nya.
"Kau saja minum, Aku belum terlalu haus" jawab Nana dengan mendorong minuman itu. Ryhan tidak menjawab nya dan membuka minuman itu dan setelah itu langsung meminum nya.
Nana yang sudah melihat suami nya selesai meminum mengambil minuman tersebut dan meminum nya pula. Febri menghentikan minum nya juga saat melihat Nana meminum bekas Ryhan. "Astaga mereka suami istri sudah sepatut nya minum bekas satu sama lain" guman Febri yang masih nampak berhadap banyak dengan Nana.
"Kau ini juga kelelahan, Apa kau tidak sadar?" tanya Nana yang mengusap dahi suami nya yang mengeluarkan keringat dan terlihat baju nya juga basah.
"Jika aku tidk apa apa asalkan jangan kau" jawab Ryhan.
"Nona semua nya sudah selesai" ucapn bodyguard.
"Baiklah terima kasih atas hari ini" ucap Ryhan sedangkan Nana hanya memperhatikan nya.
"Lihatlah sayang mama dan papa mu sedang berpacaran di luar tanpa ingat dengan mu" ucap Hanah dan mencium wajah bayi itu.
Nana dan juga Ryhan yang tengah duduk di kursi di jalanan itupun langsung menoleh ke arah suara dan terlihat Hanah menghampiri mereka bersama dengan Devan di gendongan nya. "Telinga mu kelelahan mendengar ocehan nenek ya sayang?" tanya Nana tanpa mengambil anak nya tersebut.
"Mama kenapa kemari? Ini cukup jauh dari butik" ucap Ryhan.
.
.
.
.
.
.