
"Kalau gak biasa minum ya jangan minum dong bocah! Bikin repot gue aja sih" Ketus Dean seraya membopong tubuh Vey ala bridal style, menuju apartementnya.
"Kak... Lu kok ganteng banget sih hahaha..." Vey menciumi rahang Dean sembari terus meracau tidak jelas.
"Jangan tinggalin gue ya... Awas aja kalau lu sampe balikan sama si Rena..."
Dean sontak kaget saat Vey menyebut nama Rena, bagaimana Vey bisa tau tentang Rena? Bahkan Dean belum pernah dan sama sekali tidak berniat menceritakannya pada Vey tentang masa lalunya bersama Rena.
Dean mendudukkan Vey disisi ranjang, lalu melepas high heels berwarna hitam yang Vey kenakan. "Kalau lu sampe balikan sama tuh pelakor. Gue jamin lu gak bakalan nemuin gue lagi.... Tau gak gue akan pergi kemana?" Vey kembali meracau.
"Kemana?" Jawab Dean acuh.
Vey tiba-tiba tertawa dan membuat Dean mengernyitkan alisnya. "Rahasia hahaha, intinya lu gak akan bisa nemuin gue"
"Lagian siapa juga yang mau nyariin lu" Sahut Dean, kemudian ia pergi ke dapur dan beberapa menit selanjutnya kembali dengan sebaskom air hangat.
Dean memasukkan handuk kecil kedalam air hangat, memerasnya perlahan sebelum mengelapkannya pada wajah, tangan dan kaki Vey. Hal itu semata-mata Dean lakukan agar tubuh sang istri tidak lengket dan tidak berbau alkohol.
Karena sebenarnya Dean juga tidak suka dengan aroma alkohol yang menurutnya terlalu menyengat dan bisa membuat hidungnya sakit.
"Makasih" Ucap Vey seraya membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Tidur, gue mau mandi dulu" Dean menutupi tubuh Vey dengan selimut tebal hingga sebatas perut. Lalu berlalu menuju kamar mandi setelah memastikan Vey benar-benar sudah tertidur.
Berendam di malam hari, mungkin itu sudah menjadi kebiasaan Dean. Baginya dengan berendam dapat membuatnya merasa lebih tenang dan nyaman. Dean menyandarkan punggungnya di ujung bathub berukuran besar. Tangannya sibuk mengotak-atik ponsel, entah apa yang sedang ia tonton hingga membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum.
Semoga saja Dean tidak menonton sesuatu yang bisa membangkitkan juniornya.
Setelah selesai berendam, Dean berdiri dibawah guyuran shower, membersihkan sisa-sisa busa yang masih menempel di tubuhnya.
ceklek..
Grep!
Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di perut sixpack milik Dean. Dean terkelonjak kaget, ia sontak menepis tangan tersebut dan membalikkan tubuh polosnya menghadap sang empunya tangan.
"Lu ngapain kesini Vey?" Dean buru-buru menutup mata Vey seraya mengambil handuk yang ada di balik pintu dan melingkarkannya disebatas pinggang.
"Mau ikut mandi" Jawab Vey dengan mata yang masih terarah ke bagian bawah milik Dean yang sekarang sudah tertutup handuk putih. Ah Shit! Bagaimana Dean bisa lupa tidak mengunci pintu saat mandi? Dean hanya bisa berharap, semoga saja besok Vey sudah lupa dengan apa yang dilihatnya malam ini.
Dean menggiring Vey keluar dari kamar mandi, menyuruh gadis kecil itu untuk kembali berbaring diatas ranjang. "Lain kali jangan asal masuk kamar mandi, untung lu lagi mabuk, kalau enggak...dah gue abisin lu"
"Abisin aja" Tantang Vey.
"Lu nantangin gue? Tapi sorry aja yah, se pengin-penginnya gue sama lu. Gue gak akan nglakuin hal itu pas keadaan lu lagi mabuk gini, gue bukan cowok brengsek" Final Dean, sedangkan Vey hanya mengangguk lalu memejamkan mata.
Gadis kecil itu benar-benar aneh saat mabuk.
.
.
"Kyaaa....!" Suara super melengking bagai knalpot rancing itu membuat Dean terbangun dari tidurnya. Dean segera berlari menuju sumber suara, didapatinya Vey yang hanya mengenakan bra dan cd tengah berjongkok disamping bathub.
Melihat keadaan Vey yang setengah telanjang itu membuat Dean merinding, ia tidak menyangka bahwa gadis kecil itu mempunyai tubuh yang sangat indah, kulitnya putih bersih tanpa noda. Dadanya tidak terlalu besar, namun tetap terlihat berisi dan menggembul.
Vey, jangan pancing Dean!
"Mau mandi, tapi takut" Ucap Vey dengan tatapan sayup. Gadis kecil itu sepertinya masih dalam pengaruh alkohol. Bau alkohol yang menyengat masih tercium setiap kali Vey membuka mulut.
"Udah jam 1 malem nih, lu bisa sakit. Besok aja mandinya ya" Dean merangkul pundak Vey, menyuruhnya berdiri untuk kembali ke kamar.
"Mandi bareng yuk" Erang Vey dengan nada bicara yang manja dan terkesan bertujuan untuk menggoda Dean. Vey menekuk tangannya kebelakang, meraih kaitan bra dan berniat untuk membukanya.
Kaitan bra sudah terlepas, Vey mengganti posisinya menjadi bertekuk lutut menghadap Dean. Ia mengalungkan tangannya di leher Dean, menciumi bibir suaminya itu dengan lembut.
Tidak mau menjadi pihak yang didominasi, Dean pun mulai mengambil alih kuasa atas ciuman panas itu. Dean mendudukkan Vey diatas pangkuannya, dan secara spontan Vey langsung melilitkan kakinya pada pinggang Dean.
Dean memasukkan lidahnya kedalam mulut Vey, mengabsen tiap inci rongga mulut gadis itu dan sesekali menautkan lidahnya pada lidah Vey.
Vey mendesah lemah saat tangan Dean mulai meraba perut ratanya, dan memberi gigitan-gigitan kecil pada leher dan bahunya.
Vey menurunkan tali bra yang masih menggantung di kedua bahunya, berniat untuk melepaskannya. Namun Dean segera menghentikannya, "jangan, gue belum akan melakukan lebih dari ini. Gue tau lu belum siap".
Dean menaikkan tali bra ke posisi semula dan mengaitkankannya kembali, "seandainya lu udah siap. Gue juga tetep gak akan nglakuin kalau kondisi lu lagi mabuk gini, ini gak adil buat lu" Desis Dean seraya menuntun Vey menuju wastafel.
"Sikat gigi dulu, biar gak bau" Dean menyerahkan sebuah sikat gigi yang sudah ia beri pasta gigi pada Vey. Namun gadis itu hanya diam saja dengan pandangan yang terus terpaku pada Dean.
"Buka mulut" Vey mengikuti perintah Dean, dengan sangat hati-hati Dean membantu sang istri menggosok gigi, lalu memberinya segelas air untuk kumur.
Glek...
"Jangan diminum ******" Dengus Dean.
Vey tersenyum manis dengan wajah polosnya, membuat Dean gemas dan gatal ingin mencubit pipi chubby nya. "Jangan pernah senyum kayak gitu di depan cowok lain, cuma gue doang yang boleh lu senyumin".
"Kenapa?" Vey menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya seperti orang linglung.
"Ya pokoknya jangan, entar gue bisa marah. Lu mau tanggung jawab kalau gue marah?" Vey hanya menggeleng sembari menatap Dean dan dirinya sendiri dari pantulan cermin wastafel.
Dean mengambil piyama berwarna hitam miliknya yang tergantung di sisi dinding, lalu memasukkan satu persatu tangan Vey ke dalam lengan piyama. Setelah itu ia melingkarkan tali piyama di perut Vey dan mengikatnya. "Awas aja kalau sampai senyam-senyum ke cowok lain" Ancam Dean.
Vey menguap lebar dengan salah satu punggung tangannya mengucek mata. "Ngantuk".
Sebenarnya Dean sedikit merasa kesal, kerena Vey tidak merespon ucapannya. Tapi bukankah itu lebih baik? Mungkin jika dalam kondisi sadar, sekarang Vey sudah berjingkrak karena saking senangnya mendapatkan perhatian manis dari Dean. Dan satu lagi, mungkin Vey akan mengira Dean juga mencintainya karena ia melarangnya tersenyum pada lelaki lain.
Entahlah, karena pada kenyataannya saat ini Vey sedang mabuk, mungkin ia tidak akan mengingat apapun yang terjadi dan apapun yang Dean katakan padanya.
***
Hari Minggu. Seperti biasanya, hanya Vey isi dengan rebahan-rebahan santai di ranjang sambil berkutat dengan laptop barunya, yang tak lain adalah milik Dean. Sudah 2 hari ini Vey menghakmilik laptop berwarna putih itu dan lagipula Dean juga tidak mempermasalahkannya.
Malahan Dean menawari Vey untuk membeli laptop baru, tapi Vey menolaknya. Alasannya masih sama, ia tidak mau boros. Pepatah dalam hidup Vey : Jika yang lama masih bisa dipakai, kenapa harus beli yang baru?
Vey membenarkan posisi kaca mata yang menangkring di hidung mungilnya.
Jari jemari Vey terlihat begitu lihai menari-nari diatas keyboard, tampak sesekali ia mengetuk-ketukan jari telunjuk nya pada dagu dengan pandangan yang menerawang langit-langit apartement. Vey butuh inspirasi!
Vey mengetik sesuatu pada aplikasi *******, namun kemudian menekan tombol backspace lagi untuk yang kesekian kalinya, ini sudah 3 jam lamanya dan ia baru menulis satu paragraf itu pun pada akhirnya ia hapus lagi.
Vey mengacak-acak frustasi rambutnya sendiri, "Aahh! Gue harus menulis apa?"