
"Tapi kau...."
"Sudahlah kami memiliki urusan lain tidak hanya melayani jawab pertanyaan kalian, Ayo sayang kita pulang" potong Ryhan saat melihat Weny yang hendak berbicara panjang lagi.
Kedua nya langsung masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan Yura dan juga Weny yang masih berdiri tegak di depan mobil nya.
Titt
Ryhan membunyikan klakson saat kedua sahabat istri nya yang masih termenung di depan mobil nya. "Eh Na, Kau belum menjawab pertanyaan kami" teriak Weny yang masih belum percaya dengan jawaban Nana.
"Datang saja ke rumah nanti...."
"Besok" potong Ryhan dengan kesal nya.
""Datang saja ke rumah besok, Aku akan kembalu ke rumah nenek dan...."
"Sudah selesai" potong Ryhan kembali dan menutup jendela arah istri nya dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang keluar dari area rumah sakit.
"Shit aku belum selesai berbicara" umpat Weny yang kesal.
"Kau ini buru buru mau kemana? Aku belum selesai berbicara dengan Weny dan juga Yura" ketus Nana dengan kesal nya terhadap suami nya tersebut.
"Kita akan ke rumah papa" jawab Ryhan dengan wajah datar nya.
"Hah?" Nana nampak kaget saat mendengar jawaban tersebut.
"A-apa yang k-kau katakan?" teriak Nana yang belum menyiapkan diri bertemu mertua nya.
"Kita akan ke rumah papa memberitahu tentang kehamilan mu ini, Kau menyiapkan kotak itu untuk di berikan kepada mereka juga kan?" tanya Ryhan dengan senyum nya menatap istri nya tersebut.
"Em, Bagaimana kau tau?" tanya Nana kembali dengan wajah langsung biasa saja ada pula tatapan takut di mata nya tersebut.
Ryhan menghentikan mobil tepat di halaman rumah nya dengan gerbang yang sudah di buka sejak awal. "Aku tau, Kau masih sedikit takut terhadap mama? Kau tidak perlu terlalu hawatir, Aku akan menjaga mu dari nya untuk pertemuan awal" ucap Ryhan dengan senyum nya dan menggenggam tangan istri nya tersebut.
"Maafkan aku belum bisa terlalu berani terhadap mama mu" ucap Nana dengan menundukkan kepala nya.
"Kenapa kau malah minta maaf? Ayo turun kita sudah sampai" ajak Ryhan yang tidak mau berlama lama.
"B-baik" jawab Nana dan ikut turun bersamaan dengan suami nya tersebut.
"Ini rumah papa dan mama mu?" tanya Nana saat tidak percaya melihat rumah besar dan mewah di hadapan mata nya saat ini.
"Iya, Kenapa? Terlalu kecil? Atau terlalu jelek?" tanya Ryhan dengan menatap wajah istri nya yang nampak memasang wajah yang tak biasa saja.
"Terlalu kecil kepala mu, Rumah hampir sama dengan istana negara yang di tempati pak Presiden masih kau bilang kecil? Rumah yang sangat mewah seperti ini kau bilang jelek?" ucap Nana dengan wajah bingung memikirkan apa yang di pikirkan suami nya saat ini.
"Aku kira pikiran mu seperti itu makanya aku bertanya seperti tadi takut kau tidak nyaman" jawab Ryhan dengan senyum nya.
"Tuan, Nona" sapa penjaga yang menjaga pintu rumah.
"Yasudah ayo masuk" ajak Ryhan kepada istri nya.
"Sebentar" jawab Nana dan memasukkan dua amplop tadi ke dalam kotak yang sama dengan testpack.
"Sudah selesai?" tanya Ryhan dengan nada rendah.
"Em" Nana menganggukkan kepala nya dan Ryhan langsung menggandeng tangan wanita nya tersebut dan masuk ke dalam rumah.
"Tuan, Nona" banyak nya pelayan di rumah itu langsung datang menyambut saat Ryhan dan Nana masuk hingga membuat Nana yang tidak pernah di sambut oleh banyak orang seperti menjadi kaget dan berlindung di belakang suami nya.
"Mereka ada di atas tuan" jawab salah satu pembantu.
Ryhan tidak menjawab nya dan kembali melangkahkan kaki nya lebih masuk lagi ke dalam rumah nya. "Wah orang ini benar benar kaya ya?" guman Nana yang takjub saat melihat isi rumah yang hampir di penuhi oleh emas seluruh nya.
"Pa, Ma" panggil Ryhan saat sudah berada di dekat mama dan papa nya dengan Nana sengaja di lindungi nya dari pandangan kedua orang tua nya.
Andra dan Merri yang tengah asik mengobrol langsung menoleh ke arah suara dan terlihat itu adalah anak nya. "Ryhan" teriak Merri dan langsung berdiri dan memeluk anak yang sangat lama ia nantikan untuk pulang ke rumah sedangkan Andra juga ikut berdiri tapi pandangan nya teralih ke kaki Ryhan yang nampak empat dengan sepatu yang berbeda.
"Apa kau membawa Nana kemari nak?" tanya Andra saat merasa jika kaki yang jauh lebih besar dari kaki Ryhan itu adalah kaki Nana.
"Nana ayo bisa" guman Nana dan menarik nafas panjang. sedangkan Ryhan hanya menunggu kapan istri nya keluar begitupun dengan Merri yang nampak berharap jika itu benar benar menantu nya.
"Om, T-tante" sapa Nana yang sudah memutuskan kekuar dari persembunyian nya. Ryhan tersenyum saat istri nya menunjukkan diri di hadapan kedua orang tua.
"Sayang akhirnya kau datang" ucap Merri dan langsung menghamburkan pelukan nya terhadap menantu nya tersebut.
"Mama jangan memeluk nya terlalu erat" ucap Ryhan dan memisahkan ibu nya yang memeluk istri nya terlalu erat seperti tadi.
Andra nampak membuang nafas panjang. "Untung saja aku segera kembali" guman nya yang bersyukur akan diri nya yang sudah berada di rumah sebelum Nana dan Ryhan ke rumah.
"Kenapa kau melarang mama memeluk nya? Mama hanya ingin memeluk nya bukan menyakiti nya nak" ucap Merri yang nampak kecewa saat Ryhan melepaskan pelukan nya dan menantu nya tersebut.
"Kandungan nya masih lemah jadi jangan memeluk nya terlalu erat" jawab Ryhan dengan masih saja memasang wajah datar nya.
"Hah? A-apa maksud mu?" tanya Merri yang memasang wajah kaget meskipun dia sudah menduga sebelum nya.
Ryhan menatap ke istri nya begitupun dengan Nana yang juga menatap ke arah nya. Ryhan menganggukkan kepala nya agar istri nya itu memberikan barang bawaan nya tadi yang di hadiahkan untuk kedua orang tua nya.
"Ini tante" ucap Nana dan menyodorkan kotak yang di siapkan nya tadi kepada Merri.
Andra langsung menerima kotak tersebut hingga membuat Nana menoleh ke arah nya. "Apa ini sayang?" tanya Andra.
"Duduk sini sayang" ucap Merri kepada menantu nya tersebut agar duduk di samping nya.
Nana menganggukkan kepala nya tapi Ryhan tidak menyetujui nya dan menarik tangan wanita nya hingga berhenti mendekat ke ibu nya. "Kau duduk di samping ku" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan mendudukkan tubuh nya di atas sofa begitupun dengan Nana yang terpaksa menolak keinginan Merri.
"Hadiah untuk papa dan mama ini nak?" tanya Andra saat tidak mendaptkan jawaban dari pertanyaan awal nya.
"Iya pa" jawab Ryhan.
Andra tidak melanjutkan omong kosong nya lagi dan membuka kotak tersebut.
"Papa, Nana memberikan nya kepadaku tadi kenapa malah kau yang membuka nya?" ketus Merri saat melihat suami nya pula yang hendak membuka kotak yang di berikan menantu nya.
.
.
.
.
.
.