
"Jangan ikuti aku" ucap Nana tanpa menatap Ryhan yang ingin duduk di samping nya lagi itu. Ryhan tidak menjawab ucapan wanita itu.
"Duduklah kalian di sini" ucap Ryhan dengan wajah datar nya kepada kedua lelaki yang ingin menuju ke belakang, Ryhan langsung membawa tas nya dan menuju ke belakang dan mendudukkan tubuh nya di tempat nya dahulu. Qori juga kembali ke tempat nya yang berjarak dua meja dari meja Nana itu.
"Kenapa kau duduk di depan? bukannya kau tidak suka duduk di depan?" tanya Yura yang baru saja sampai bersama dengan Weny.
Nana tidak menjawab nya dan memilih untuk diam di tempat nya. "Selamat pagi anak anak" sapa guru yang baru saja masuk ke dalam kelas itu. Yura dan Weny langsung berlalu dari sana dan mendudukkan tubuh mereka di tempat mereka di belakang dan Nana masih diam dan tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Tumben sekali kau duduk di depan Na" ucap bapak itu kepada Nana. Nana tidak menjawab nya dan hanya memilih untuk diam karna orang sekolah itu tidak mengetahui tentang kematian kakak nya dan dia juga tidak ingin memberitahu nya kepada siapapun. Semua orang menoleh ke arah Nana yang sama sekali tidak merespon apa lagi Ryhan dan Qori yang memang sedari tadi memperhatikan wanita itu.
"Ah baiklah anak anak, Kita mulai saja pelajaran hari ini" ucap bapak itu dan langsung memulai pelajaran dan Nana juga membuka buku belajar nya.
"Ada apa dengan anak itu? tumben sekali dia diam" guman bapak tadi yang merasa ada yang aneh akan Nana. Bapak itu memulai pelajaran nya dan begitupun dengan para murid yang juga mulai belajar termasuk Nana tapi tidal dengan Qori yang malah memperhatikan wanita itu.
"Aku tidak suka diam mu" guman Ryhan dan Qori secara bersamaan tanpa ada yang mengetahui nya dan mata mereka selalu memperhatikan Nana. Weny memperhatikan Ryhan dan melihat mata Ryhan sedari tadi tertuju kepada Nana dan dia juga ikut menoleh ke depan.
"Kapan kalian kenal dan kapan kalian menikah?" guman Weny dengan menatap Nana dan juga Ryhan secara bergantian.
Kringg
Bel istirahat berbunyi dan seluruh siswa keluar dari kelas itu begitupun dengan Nana yang kelaur terakhir. "Aku merindukan mu kak" guman Nana dan memejamkan mata nya. Ryhan tidak keluar dari kelas dan menoleh ke arah istri nya yang duduk di depan itu.
"Ayo kita ke kantin" ajak Weny kepada Nana. Nana tidak menjawab nya dan menundukkan kepala nya, Dia langsung membaringkan kepala nya di atas meja nya itu dan langsung memejamkan mata nya.
"Na" panggil Yura kepada Nana yang sama sekali tidak menjawab itu. Nana masih belum menjawab sungguh wanita itu sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari Nana yang sebelum nya dan lebih tepat nya sebelum dia di tinggal oleh Rendi sang kakak.
"Na" panggil Weny lagi dengan menggoyang tangan sahabat nya itu.
"Jangan mengganggu ku" ucap Nana tanpa menjawab perkataan kedua sahabat nya itu. Weny tidak bisa memaksa begitupun dengan Yura yang juga tidak bisa memaksa Nana yang tidak ingin ke kantin dan mereka berdua pun langsung berlalu dari sana dan menuju ke kantin.
Ryhan yang memang tidak pernah keluar dari kelas pun bisa melihat wanuta nya yang sama sekali tidak bersemangat dan sifat yang berubah drastis itu dan dia pun beranjak berdiri dari duduk nya dan berjalan menuju ke arah wanita nya itu. Ryhan mendudukkan tubuh nya di samping istri nya itu tapi itu tidak membuat Nana menoleh ke arah nya ataupun mengeluarkan suara. "Makanlah, Aku membawakan makanan ini untuk mu" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan menyodorkan bekal yang ia bawa tadi kepada istri nya. Nana tidak menjawab ataupun menoleh ke arah lelaki itu dan masih menundukkan kepala.
Di kantin.
"Eh kau tau tidak, Kakak Nana meninggal kemarin" ucap salah satu siswa kepada siswa lain.
"Nana jurusan teknologi?" tanya wanita lain.
"Iya" jawab wanita tadi. Safha bisa mendengar jelas ucapan itu karna dia duduk di depan para wanita itu, Safha pun beranjak dari duduk nya dan mendudukkan tubuh nya di samping wanita tadi.
"Apa yang terjadi?" tanya Safha yang sudah duduk di samping wanita itu dengan salah satu kaki yang di angkat. Kedua wanita tadi menoleh ke arah Safha.
"Tidak terjadi apa apa" jawab salah satu wanita tadi dengan sedikit ketakutkan akan Safha yang sudah duduk di samping nya.
"Jawab pertanyaan ku" bentak Safha yang membuat semua orang menoleh ke arah nya.
"I-iya kakak Nana memang meninggal kemarin dan aku dengar dari orang kakak nya itu meninggal karna penyakit paru paru" jawab wanita itu karna dia melihat kemarin makanya dia tau. Semua orang yang ada di kantin bisa mendengar jelas ucapan wanita itu dan banyak yang berbisik bisik kasihan akan Nana tapi tidak dengan Safha yang tersenyum lebar saat mendengar itu.
Safha langsung beranjak berdiri dan langsung berlalu dari sana. "Ah" ucap Weny yang di senggol oleh Safha. Safha menghentikan langkah kaki nya saat mendengar itu dan menoleh ke belakang.
"Di mana teman jalang mu hah?" tanya Safha kepada Weny dan juga Yura.
"Kami tidak memiliki teman jalang seperti mu" jawab Yura akan pertanyaan itu dan langsung mendudukkan tubuh nya di atas salah satu meja yang ada di kantin itu.
"Tidak penting juga mereka" ketus Safha dan kembali melanjutkan langkah kaki nya menuju ke kelas Nana karna dia yakin akan Nana yang berada di kelas. Sedangkan kedua teman Safha mengikuti nya dari belakang.
"Na makanlah" ucap Ryhan lagi kepada wanita itu. Nana masih belum menjawab nya dan juga masih belum bergerak dan itu membuat Ryhan hawatir akan Nana yang kenapa kenapa.
"Na" panggil Ryhan dengan memegang bahu istri nya itu. Nana masih belum menjawab ataupun merespon ucapan itu dan itu membuat Ryhan langsung memegang kedua bahu wanita itu dan mengangkat nya hingga menampakkan wajah sembab wanita itu.
Menangis, Itu yang di lakukan oleh Nana. "Kenapa kau menangis?" tanya Ryhan dan mengusap wajah wanita itu yang basah akibat air mata. Nana belum menjawab nya dan masih diam dan menatap lekat lelaki yang ia cintai dan sudah menjadi suami nya itu, Air mata nya kembali menetes deras saat mengingat Rendi di tambah mengingat ucapan Ryhan yang menagtakan tidak mencintai nya.
"Jangan menangis" ucap Ryhan lagi dan kembali mengusap air mata yang membasahi pipi istri nya itu.
"Aku merindukan kak Rendi" ucap Nana dengan isakan nya menatap Ryhan, Ryhan menghentikan tangan nya yang sedang mengusap wajah wanita nya itu dan menatap lekat wajah wanita nya itu.
"Aku merindukan kak Rendi" ucap Nana lagi dengan air mata yang kembali menetes. Ryhan belum menjawab dan menatap lekat wajah dan mata wanita itu, Sungguh sangat terlihat kesedihan di mata cantik itu di tambah genangan air yang ingin tumpah itu.
"Kenapa kak Rendi meninggalkan ku?" tanya Nana dengan menatap lekat wajah Ryhan dengan air mata yang terus menerus mengalir. Ryhan masih terdiam membisu melihat wajah yang selalu ceria dan tertawa setiap saat itu sekarang sedang menangis di hadapan nya.
"Aku sangat iri dengan Ryhan yang bisa berada di dekat nya saat dia sedih" guman Qori yang sedari tadi ada di dekat pintu dan memang ingin masuk ke dalam kelas karna dia sudah selesai makan di kantin tadi.
"Tapi aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mu dan Ryhan supaya kalian bahagia dan kau tidak lagi menangis seperti itu" guman nya kembali yang bisa mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Nana itu. Qori menoleh ke depan dan terlihat Safha dan kedua teman nya tengah berjalan ke dekat nya, Safha ingin masuk ke dalam kelas itu tapi dengan segera Qori menghalangi nya.
"Mau apa kau? ini bukan kelas mu" ucap Qori dengan wajah datar nya menatap Safha.
"Aku ingin bertemu dengan wanita yang sudah membuat mu jatuh cinta itu" jawab Safha yang berusaha ingin masuk ke dalam kelas itu dan meneroboh Qori, Qori yang jauh lebih kuat pun langsung mendorong tubuh wanita itu hingga terjatuh.
"Kau tidak apa apa?" tanya kedua sahabat Safha dan langsung menolong Safha untuk kembali berdiri seperti semula. Safha kembali berdiri tegak seperti semula dan menatap kesal ke arah Qori dan ingin meneorobos masuk lagi.
"Safha" teriak Grenli yang tak lain adalah kekasih Safha. Safha menoleh ke arah lelaki itu dan mata nya langsung membulat saat melihat lelaki itu meskipun kekasih nya tapi dia malas bertemu dnegan nya karna setiap bertemu kekasih nya itu selalu meminta berhubungan dengan nya biarpun itu di sekolah sekali pun.
"Shht lelaki ini" umpat Safha kesal saat melihat kekasih nya itu.