
"Baiklah ayo" ajak Nana dengan semangat dan menggandeng tangan suami nya itu dan kedua nya keluar dari rumah.
"Keluarga kecil yang begitu bahagia" ucap pelayan saat melihat senyum yang mengembang di kedua wajah pasangan itu.
Butik yang tutup hari ini membuat kedua nya memiliki waktu bersama setelah satu ini Nana sibuk dengan butik yang selalu ramai dan sekarang dia sudah mempekerjakan beberapa orang di butik nya dan tugas nya hanyalah menggambar apa yang di inginkan oleh kostumer dan masalah menjahit pekerja nya yang mengatur itu dan dia hanya mengawasi nya saja dan itu adalah permintaan Ryhan yang tidak boleh di tolak.
Saat kedua nya sampai di rumah sakit kedua nya langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit tersebut dan langsung menuju ke ruangan khusus ibu hamil. Pemandangan yang sama ia lihat saat pertama kali ke sana yakni ramai di depan ruangan tersebut.
Ryhan yang melihat istri nya tidak enak untuk mengambil posisi langsung awal menutupkan mata nya agar tidak ada yang bisa di lihat oleh istri nya dan membawa nya masuk ke dalam ruangan tersebut. "Tuan, Nona" sapa dokter yang sama saat pertama kali datang.
Ryhan melepaskan tangan nya dan mendudukkan tubuh nya dengan santai di atas kursi yang di sediakan di sana. "Sudah satu minggu lebih tidak bertemu nona, Apa anda memiliki keluhan?" tanya dokter tersebut dan berdiri dari duduk nya.
"Tidak ada dok" jawab Nana yang hamil nya lancar lancar saja dan tidak meminta keinginan aneh ataupun muntah terlalu sering di waktu kapan pun.
"Kemarilah nona saya akan periksa" ucap dokter dengan mendekat ke arah ranjang. Nana menganggukkan kepala nya mengiyakan nya dan mendudukkan tubuh nya di atas ranjang tersebut sedangkan Ryhan dia memindahkan tempat duduk nya di samping istri nya untuk melihat buah hati nya di layar.
"Itu kaki nya?" tanya Ryhan dengan nada terdengar gembira membuat Nana ikut tersenyum saat melihat pertumbuhan buah hati nya dan menatap dokter.
"Iya tuan, Itu baru proses awal dan tubuh anak anda belum terlalu terbangun" jawab dokter dengan senyum nya saat melihat senyuman Ryhan.
"Wah, Anakku sudah menampakkan wujud" ucap Ryhan dengan senyum nya dan mengusap layar tersebut.
Dokter berlalu dari sana dan mengambil poto tadi dan memberikan nya kepada Ryhan agar Ryhan bisa melihat nya kapan saja. "Perkembangan bayi anda dan nona sangat baik tuan, Masa masa lemah nona dan kandungan nya juga sudah di lewati dengan baik, Sekarang bayi anda dan nona sangat sehat dan kuat tapi biarpun seperti itu nona harus tetap rajin meminum vitamin dan tidak boleh sampai kelelahan" jelas dokter yang kembali memberikan vitamin kepada Nana.
"Terima kasih banyak sudah memeriksa kondisi anak ku" ucap Ryhan yang menerima vitamin tersebut dengan senyum yang mengembang menatap dokter.
"Sudah menjadi kewajiban saya tuan" jawab dokter tersebut dengan senyum nya.
"Yasudah jika begitu aku dan Delina pamit" pamit Ryhan dan berdiri dari duduk nya. Ryhan membantu wanita nya tersebut turun dari ranjang dan berlalu keluar bersamaan dengan banyak nya ibu ibu hamil menatap tajam ke arah mereka.
"Shit pantas saja ada keanehan di sosial media Ryhan, Ternyata lelaki itu membuka usaha sendiri?" guman Merri saat melihat postingan anak nya.
"Tapi seperti nya ini adalah alamat rumah wanita jalang itu" ucap nya melihat alamat yang tertera di sana.
"Apakah wanita itu yang membuka butik?" tanya kembali.
"Usaha baru kalian berjalan dengan lancar, Tidak sia sia Ryhan mengahabiskan tenaga beberapa hari untuk mempromosikan butik ini hingga butik ini akhir nya ramai, Sukses dan bahagia selalu untuk kalian sayang" guman Andra dengan senyum nya melihat perkembangan butik beberapa hari terakhir.
Empat bulan berlalu.
"Perut mu mulai membesar sayang kau tidak boleh kemana mana" ucap Ryhan saat istri nya hendak menuju ke butik.
"Tapi aku harus melihat bagaimana keadaan di sana" jawab Nana.
"Seluruh pekerja mu dapat di percaya, Jika kau membantah kau tidak boleh lagi menggambar dan butik akan aku tutup selama nya" ancam Ryhan dengan wajah datar nya.
"Shit berani nya kau mengancam ku" ketus Nana dan berlalu dari sana dengan menghentakkan kaki nya dan menuju ke dapur.
"Aku hanya tidak mau kau dan bayi kita kenapa kenapa" ucap Ryhan yang menyusul wanita nya yang marah itu.
"Jelas saja tidak" jawab Ryhan.
"Jadi kenapa kau mengurungku di rumah saja? Bagaimana aku bisa bergerak jika hanya duduk di atas kursi menggambar" ketus wanita itu kembali.
"Besok aku akan membawa mu jalan jalan ke taman untuk menikmati udara segar dan menggambar nya di sana saja bagimana?" tanya Ryhan.
"Seharus nya kau membawaku ke kelas yoga ibu hamil hukan ke taman bodoh" ketus Nana.
"Astaga pasangan ini" guman pelayan yang menggelengkan kepala nya saat melihat tingkat kedua nya yang kadang romantis dan kadang bertengkar.
"Baiklah aku akan membawa mu ke sana besok, Jangan marah lagi ya?" ucap Ryhan dengan senyum nya membujuk wanita nya tersebut.
"Hem" Nana membuang pandang nya dari suami nya tersebut dan melahap makanan nya.
Setelah selesai makan kedua nya menuju ke ruang utama dengan Ryhan yang menggandeng wanita nya dan Nana tidak menolak akan hal itu dan seperti nya kedua nya sudah baikan pula. "Kau mau jalan jalan hari ini?" tanya Ryhan kepada istri nya dengan tangan yang mengusap perut buncit wanita nya tersebut.
"Boleh, Sekalian melihat bagaimana tempat kelas yoga nya" jawab Nana dengan senyum nya.
"Baiklah ayo" ajak Ryhan dengan senang hati dan membawa wanita nya tersebut keluar dari rumah. Ryhan membukakan pintu untuk wanita nya dengan keadaan sedikit ramai di depan butik nya dan Ryhan langsung masuk ke dalam mobil.
"Ambil alih butik hingga istri ku melahirkan dan dia hanya boleh menggambar desain saja, Dia tidak akan ke butik lagi" isi pesan yang di kirimkan oleh Ryhan kepada manager butik tersebut dan langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke kelas yoga yang cukup jauh dari sana.
"Cucuku akan segera lahir" guman Andra yang nampak bahagia melihat beberapa poto yang selalu di berikan oleh dokter kepada nya tanpa sepengetahuan Nana dan juga Ryhan.
"Dia berjenis kelamin laki laki, Itu pasti akan mirip dengan ku" ucap nya dengan tawa bahagia nya memikirkan cucu nya yang akan lahir beberapa bulan lagi.
"Penjagaan harus di perketat jangan sampai Merri mencelakai mereka, Jika terluka sedikit saja menantu anak dan juga cucu ku dia akan menanggung semua nya lebih dari itu" guman nya dengan rahang yang mengeras mengingat beberapa kali percobaan mencelakai menantu nya tanpa ada bukti sedikitpun mengarah kepada nya tapi Andra bukanlah bodoh dan tau jika itu adalah istri nya.
"Tante" panggil Dira.
"Eh sayang, Kau kemari?" tanya Merri yang langsung merangkul nya.
"Tante aku ingin mengatakan sesuatu" ucap Dira dengan wajah sedikit takut.
"Mengatakan apa sayang?" tanya Merri dengan senyum nya dan tangan mengusap kepala anak itu.
.
.
.
.
.